Pentingnya hati nurani dalam hidup

“Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” 1 Timotius 1:19

Ayat di atas melanjutkan tulisan Paulus kepada Timotius dari ayat sebelumnya yang berisi himbauan agar Timotius “memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.” Ini mengandung pengertian berpegang teguh dan tidak melepaskan iman. Timotius harus melakukan perjuangannya dengan “hati nurani yang baik”. Pasangan iman dan hati nurani juga terlihat dalam 1 Timotius 1:5 dan 3:9. Iman (faith) dan hati nurani (conscience) mempunyai hubungan yang erat.

Paulus memperkenalkan dirinya dan menekankan hubungan positif yang ia miliki dengan Timotius. Misi khusus Timotius di Efesus adalah menentang pengajaran palsu. Beberapa orang di Efesus menolak pentingnya hati nurani dan berusaha mengajar tanpa memiliki pengetahuan yang diperlukan. Akibatnya, mereka bertengkar tentang hal-hal yang tidak berguna dan menyalahgunakan hukum yang diberikan Tuhan. Paulus yang menyadari kebutuhan akan pengampunan dan keselamatan, menyemangati Timotius dengan mengingatkan bahwa mereka memiliki Juru Selamat yang sama.

Dalam ayat berikutnya, Paulus memberikan dua contoh spesifik tentang orang-orang yang merusak iman mereka dengan mengabaikan hati nurani mereka yang bersih. Paulus menanamkan pengertian akan urgensi dari misi yang diberikan kepada Timotius, untuk ia berjaga-jaga terhadap ajaran-ajaran palsu yang telah Paulus uraikan. Kunci dari upaya ini adalah menjaga keyakinan yang telah diwariskannya selama ini. Sebagai contoh tandingan, Paulus mengacu pada dua pria yang mengesampingkan hati nurani yang baik dan mendapati iman mereka hancur (ayat 20).

Hal iman mengarisbawahi himbauan Paulus, tetapi ia juga memperingatkan tentang bahaya berpaling dari hati nurani yang baik. Paulus menggunakan kata Yunani apōsamenoi, yang menyiratkan penolakan yang kuat, bersifat pribadi, dan disengaja. Ini bukan kesalahan biasa atau kebetulan—Paulus merujuk pada orang-orang yang dengan sengaja tidak mau menjaga hati nurani mereka tetap bersih.

Apa itu hati nurani? Diskusi tentang hati nurani kembali muncul di kalangan umat Kristiani. Selama beberapa tahun terakhir, istilah hati nurani semakin banyak dirujuk dalam perdebatan yang terjadi baik di gereja (misalnya, seruan kepada hati nurani jemaat dalam menghadapi isu-isu moral /seksual zaman ini) dan dalam masyarakat umum (misalnya, seruan untuk berpegang pada hati nurani). Kita sering mendengar tentang hati nurani, tapi apa sebenarnya maknanya? Konsep umum tentang hati nurani dapat ditemukan di hampir setiap kebudayaan manusia, namun memiliki makna yang unik dan khas bagi umat Kristiani. Istilah Yunani untuk hati nurani (suneidesis) muncul lebih dari dua lusin kali, dan mempunyai konsep yang penting, khususnya dalam surat-surat Paulus. Jika kita memeriksa cara Kitab Suci berbicara tentang hati nurani, kita akan menemukan lima tema umum:

  1. Hati nurani adalah kapasitas rasional internal yang menjadi saksi sistem nilai kita. John MacArthur menggambarkan hati nurani sebagai “sistem peringatan bawaan yang memberi sinyal kepada kita ketika sesuatu yang kita lakukan salah.”Hati nurani bagi jiwa kita sama dengan sensor rasa sakit bagi tubuh kita: hati nurani menimbulkan kesediha, dalam bentuk rasa bersalah, setiap kali kita melanggar apa yang menurut hati kita benar.”
  2. Hati nurani adalah pedoman yang dapat dipercaya hanya jika hati nurani tersebut diisi dan diatur oleh Tuhan. Melanggar hati nurani yang benar memang merupakan dosa. Namun yang membuat sesuatu menjadi dosa bukan hanya karena tidak selaras dengan nilai-nilai kita, namun karena memilih kehendak kita dan bukannya kehendak Allah. R.C. Sproul menjelaskan, kita harus ingat bahwa bertindak berdasarkan hati nurani terkadang juga bisa merupakan dosa. Jika hati nurani mendapat informasi yang salah, maka kita mencari alasan di balik informasi yang salah tersebut. Apakah salah informasi karena orang tersebut lalai mempelajari Firman Tuhan? Ya!
  3. Hati nurani harus tunduk dan diinformasikan oleh Firman Tuhan yang diwahyukan.
    Hati nurani tidak dapat menjadi otoritas etis kita yang final karena, tidak seperti Firman Allah yang diwahyukan, hati nurani dapat berubah dan bisa salah. Namun, sering kali orang Kristen membalik aturan tersebut dan berupaya menggunakan hati nurani mereka untuk menghakimi Allah dan Firman-Nya. Saat kita mendapati diri kita berpikir, “Benarkah Tuhan berfirman seperti itu?” ketika Kitab Suci dengan jelas menyatakan hal itu, maka kita tahu bahwa yang berbicara kepada kita adalah iblis.
  4. Bertindak dengan sengaja melawan hati nurani selalu merupakan dosa. “Hati nurani orang Kristen wajib dan terikat hanya pada apa yang diperintahkan atau dilarang oleh Alkitab,” kata Sam Storms, “atau oleh apa yang secara sah dapat disimpulkan dari prinsip alkitabiah yang jelas.” Hati nurani kita harus selalu diinformasikan oleh apa yang Tuhan katakan. Itu adalah prinsip yang sangat penting. Luther benar ketika mengatakan, “Tidaklah benar dan tidak aman untuk bertindak melawan hati nurani.” Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang tergoda untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan suara hati nurani mereka.
  5. Hati nurani bisa ditekan oleh dosa. Jika kita ingin mengembangkan kebiasaan positif, kita perlu melakukan suatu tindakan berulang kali, seiring berjalannya waktu, hingga menjadi refleks otomatis. Proses yang sama terjadi ketika kita jatuh ke dalam dosa. Ketika kita berdosa, kita menolak otoritas Allah. Jika kita mengulangi dosa kita, lama kelamaan penolakan terhadap otoritas Allah akan menjadi refleks otomatis. Mereka pikir mereka bijaksana, tapi dosa mereka menjadikan mereka bodoh. Pada akhirnya, Tuhan menyerahkan mereka ke dalam pikiran mereka yang sudah rusak (Roma 1:24), Orang-orang percaya juga berada dalam bahaya terjerumus ke dalam pola yang merusak ini. Terkadang dosa kita membuat kita meragukan realitas Allah. Ketika kita menyangkal otoritas Allah, kita mulai meragukan keberadaan-Nya sehingga kita bisa menenangkan hati nurani kita terhadap penghakiman-Nya, dalam hidup yang sekarang maupun ketika kita berjumpa dengan Dia.

Pagi ini kita belajar bahwa sebagai orang Kristen, hati nurani kita mempunyai peranan penting dalam hidup orang Kristen sekalipun bukan untuk memperoleh keselamatan. Barangkali kita sering mengabaikan suara hati nurani kita yang mengingatkan bahwa kita harus menaati firman Tuhan, dan mungkin juga kita sering menolak kenyataan bahwa kehendak Tuhan harus terjadi dan bukan kehendak kita. Karena itu, hidup kita bisa menjadi kacau dan tidak mengalami kedamaian. Hari lepas hari, iman kita tidak bertumbuh, tetapi sebaliknya makin mengecil karena kita menempatkan kemauan dan kepentingan kita di atas kehendak dan kemuliaan Tuhan. Apakah Anda masih mau mendengarkan suara hati nurani Anda yang dibimbing oleh Roh Kudus?

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Adakah rasa malu karena dosa?

“Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6:20-22

Pernahkah anda merasa malu? Tentunya setiap orang pernah mengalami peristiwa yang memalukan dalam hidupnya. Mungkin itu hanya soal kecil seperti memakai pakaian yang kurang sesuai ke pesta, atau hal yang lebih besar seperti lupa mengerjakan tugas penting yang diberikan atasan.

Untuk hal yang kecil, biasanya orang lebih mudah melupakan rasa malunya, tetapi ada hal-hal lain yang signifikan yang membuat rasa malu sulit hilang dari pikiran. Dalam hal ini, ada hal yang sekalipun terasa kecil untuk seseorang, merupakan hal yang besar untuk orang lain. Walaupun demikian, ada orang yang tidak pernah merasa malu sekalipun ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain merasa sangat malu. Tidak tahu malu, istilahnya. Tetapi rasa malu karena dosa adalah soal pribadi, dan tiap orang agaknya mempunyai kesadaran yang berbeda.

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Hal ini menyebabkan rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus membawa kita menjadi seperti Yesus dan hidup kekal. Kita harus mengabdi pada kebenaran, bukannya dosa. Ini adalah ciri orang Kristen yang sejati.

Roma 6:15–23 menanyakan mengapa kita tidak boleh terus berbuat dosa setelah kita beriman kepada Kristus dan tidak lagi berada di bawah hukum Musa. Paulus menjawab bahwa kita dapat terus menjalani hidup dalam perbudakan dosa secara sukarela, sesuai dengan kodrat lama kita, jika kita tidak melawan dosa. Sebaliknya, jika kita benar-benar orang pilihan, kita akan hidup seolah-olah kebenaran adalah majikan kita, dan dalam arti tertentu, memang demikianlah kebenaran menentukan cara hidup kita. Kita harus menaati kebenaran dibandingkan keinginan kita yang berdosa, karena kita sekarang memahami konsekuensi dosa. Daripada malu dan mati, kita harus mengabdi pada Tuhan yang memberikan hidup kekal sebagai anugerah.

Paulus hanya mengemukakan dua realitas yang mungkin terjadi pada umat manusia. Pada awalnya, kita semua adalah budak dosa, yang berarti kita berada di bawah paksaan untuk menuruti keinginan dosa kita. Sebaliknya, mereka yang menyatakan iman yang menyelamatkan dalam Kristus adalah “budak kebenaran,” yang berarti kita begitu dekat dengan Kristus sehingga sudah menjadi sifat kita untuk melayani kebenaran.

Hal ini tidak memberikan ruang bagi pilihan ketiga. Manusia tidak bisa mandiri secara moral atau netral. Orang Kristen tidak boleh mengabaikan dosa karena merasa sudah diampuni Tuhan. Tidak ada pilihan moral selain melayani dosa atau melayani kebenaran. Hal ini konsisten dengan ayat-ayat Alkitab lainnya, yang menggambarkan hanya dua kategori kemanusiaan yang kekal: orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia hanya melalui iman (Efesus 2:8; Wahyu 22:1–5), dan orang berdosa yang menolak Allah dan terpisah dari Allah untuk selamanya (Yohanes 12:48; Wahyu 20:11–15).

Kemudian Paulus mempertimbangkan keuntungan dari kedua pilihan tersebut. Seperti di bagian lain dari kitab Roma, ia berbicara dari sudut pandang orang percaya yang telah diselamatkan—kata “kita” yang ia maksudkan adalah mereka yang beragama Kristen, bukan semua manusia. Di sini Paulus menulis bahwa ketika kita masih menjadi budak dosa, sebelum percaya kepada Kristus dan menjadi Kristen, kita bebas dalam hal kebenaran. Karena kita tidak mempunyai identitas di dalam Kristus, kita tidak mempunyai mandat atau panggilan untuk melakukan apa yang benar. Itu adalah sebuah kebebasan, dalam arti tertentu, tulis Paulus. Dia akan menunjukkan dalam ayat-ayat berikut bahwa kehendak bebas manusia semacam itu harus dibayar mahal.

“Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya?” Dan bagaimana hasilnya? Itulah pertanyaan yang Paulus ajukan mengenai pernyataannya pada ayat 20. Di sana, ia menulis bahwa sebelum pembacanya menjadi Kristen, mereka bebas dari kebenaran. Artinya, mereka tidak mempunyai keharusan, tidak ada paksaan, untuk melakukan apa yang benar di mata Allah. Sebagian orang mungkin melihat kebebasan dari kebenaran ini sebagai hal yang berharga, namun Paulus segera menunjukkan bahwa hal ini selalu mengarah pada rasa malu dan kematian, jika dibandingkan dengan kehidupan masa depan penuh sukacita yang dapat kita bayangkan. Paulus menantang para pembacanya untuk menggambarkan apa yang sebenarnya mereka peroleh dari hidup bebas dari kebenaran. Buah apa yang dihasilkannya? Hasil apa yang didapat dari hal itu?

Akibat jangka panjang dari hidup bebas dari kendali kebenaran adalah rasa malu. Kita semua yang pernah menuruti keinginan untuk bebas dari kebenaran sebelum kita percaya kepada Kristus mungkin merasa malu dengan konsekuensi yang timbul karena menuruti keinginan kita yang berdosa. Ini adalah semacam “rasa malu”, sebuah evaluasi yang tepat atas rasa sakit yang ditimbulkan oleh pilihan-pilihan kita yang penuh dosa. Memang ada banyak dosa yang bisa menghancurkan hidup kita di dunia. Yang lebih parah lagi bagi mereka yang terus hidup bebas dari kebenaran adalah kematian rohani. Semua dosa pada akhirnya mengarah pada kematian kekal dan keterpisahan dari Tuhan di neraka. Ini adalah “buah” utama dari kehidupan yang bebas dari kendali kebenaran Tuhan.

Hari ini, marilah kita menganalisa hidup pribadi kita. Marilah kita memikirkan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita sampai sekarang. Apakah kita sudah memakai segala apa yang kita punyai untuk memuliakan Tuhan dalam segala kesempatan yang diberikan-Nya? Apakah kita merasa puas dengan pujian orang lain atas hidup kita yang terlihat indah di depan umum? Ataukah kita secara pribadi mengakui bahwa kita masih sering mementingkan apa yang kita senangi saja dan melupakan rasa malu kepada Tuhan yang sudah mencurahkan kasih-Nya yang sungguh besar kepada kita? Semua itu hanya bisa dijawab oleh setiap orang percaya secara pribadi sesuai dengan panggilan Tuhan dan bukannya dengan mendengarkan pendapat dunia. Semoga pencerahan Roh Kudus bisa kita rasakan dan sadari dalam hidup kita.

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Jika orang lain tidak peduli

“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” Mazmur 27:10

Mazmur 27:7–14 mengungkapkan bahwa Daud, meskipun ia menyerahkan imannya kepada Tuhan, tidak kebal dari rasa takut. Pada bagian awal mazmur ini, Daud menyatakan alasannya untuk yakin kepada Tuhan. Namun di sini, David tampaknya memohon perlindungan Tuhan yang dibutuhkannya. Mengapa demikian? Seperti orang lain, David mengalami kecemasan dan terombang ambing di antara iman dan masalah kehidupan. Namun, bukannya menyerah pada rasa takut, Daud memilih untuk memercayai Tuhan, mengingatkan dirinya akan perlindungan Tuhan, dan datang kepada Tuhan dalam doa. Mazmur ini diakhiri dengan ekspresi lain dari kepercayaannya kepada Tuhan.

Apa maksud Mazmur 27:10? Daud tidak menyatakan dalam ayat ini bahwa orangtuanya telah benar-benar menelantarkannya. Menurut 1 Samuel 22:3–4, ketika Daud melarikan diri dari Saul, orang tuanya ada bersamanya. Karena khawatir terhadap keselamatan mereka, Daud menyerahkan mereka kepada raja Moab. Permintaannya kepada raja adalah, “Izinkanlah ayahku dan ibuku tinggal padamu, sampai aku tahu, apa yang dilakukan Allah kepadaku.” Pada ayat ini, Daud sebenarnya menggunakan ekspresi puitis untuk menunjukkan betapa yakinnya dia akan penyelamatan Tuhan. Doanya sekadar mencatat bahwa pemeliharaan Tuhan terhadap dirinya melebihi pemeliharaan orangtuanya. Nada kalimat ini, dalam konteksnya, seperti mengatakan “Meskipun…”.

Daud memaparkan alasan mengapa ia harus yakin akan perlindungan Tuhan. Daud kemudian beralih, hampir secara tiba-tiba, ke dalam permohonan yang tulus agar Tuhan menyelamatkan dia dari musuh-musuhnya. Kesan yang kita peroleh dari Mazmur 27 ini adalah Daud mengalami kesepian dan kegelisahan alamiah manusia dan menyikapinya dengan mengingatkan dirinya sendiri akan kebaikan Tuhan. Mazmur ini diakhiri dengan kepastian yang sama seperti yang diungkapkan ketika Mazmur itu dimulai.

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!” Mazmur 27:13-14

Memang masalah kesepian dan kekuatiran itu masalah yang sangat umum di kalangan apa pun. Mereka yang muda mungkin kesepian karena hidup jauh dari orang tua  atau karena ditinggal teman atau sanak saudara. Mereka yang  sudah tua mungkin kesepian setelah ditinggal atau dilupakan oleh suami, istri, saudara, atau anak tersayang. Dalam kesepian, seseorang mungkin hidup di tengah keramaian, tetapi tetap merasakan bahwa  hati dan pikirannya serasa kosong dan karena itu hidup serasa tidak ada artinya.

Sungguh, Tuhan mengasihi dan memelihara anak-anak-Nya. Rasul Petrus memerintahkan kita untuk menyampaikan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa Dia peduli pada kita.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.1 Petrus 5:7

Lebih lanjut, Ibrani 13:5–6 meyakinkan kita bahwa kita dapat mengandalkan Tuhan sebagai penolong kita karena Dia telah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan atau mengabaikan kita.

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ”Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13:5-6

Kesepian dan kekuatiran adalah salah satu musuh besar manusia modern. Manusia yang makin individualis. Tiap orang, tua maupun muda, harus bisa menangani hidupnya sendiri. Teman, anak dan keluarga tidak dapat lagi diharapkan untuk memberi dukungan. Kekecewaan mungkin datang silih berganti dan segala aktivitas pelarian ternyata hanya memberi kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Hanya satu yang tidak pernah berubah: Tuhan itu ada dan Ia tetap mengasihi umatNya. KepadaNya kita berharap, didalam Dia kita menemukan kedamaian.

 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Mengatasi persoalan hidup bersama Yesus

“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:12-13

Tahukah Anda apa arti hidup Anda? Jika Anda tahu, apakah Anda sudah mencapai segala yang Anda ingini? Ataukah Anda masih mendambakan adanya kelimpahan, kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup?

Memang selama hidup  di dunia, semua orang umumnya ingin mencapai apa yang disadari sebagai tujuan hidup. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia bukannya hanya hidup untuk makan dan berkembang biak, tetapi juga hidup untuk berbagai hal yang lain. Walaupun demikian, banyak orang yang memandang hidup adalah untuk mencapai segala yang nikmat dan terlihat indah secara jasmani. Mereka membenci kelaparan, kekurangan dan penderitaan karena semua itu dianggap kegagalan dalam hidup. Sebaliknya mereka percaya bahwa orang yang benar-benar beriman akan hidup dalam kelimpahan berkat Tuhan.

Sebenarnya, memang penderitaan di dunia berasal dari kegagalan manusia dalam menaati perintah Tuhan. Ketika Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, mereka harus menerima hukuman Tuhan. Firman Tuhan kepada mereka:

“Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:17-19).

Jadi adalah lumrah dan memang seharusnya, bahwa hidup manusia di dunia penuh dengan perjuangan.

Adalah wajar jika hidup manusia di dunia ini penuh dengan sesuah payah dan penderitaan. Apa yang sebaliknya, seperti kenikmatan, kekayaan dan kejayaan yang dialami seseorang, seharusnya disadari sebagai sesuatu yang tidak “normal”, tetapi adalah kemurahan Tuhan yang harus digunakan secara bijaksana untuk kemuliaan-Nya dan untuk menolong orang lain. Orang Kristen yang merasa Tuhan sudah membebaskan mereka dari hukuman dosa Adam dan Hawa selama hidup di dunia, haruslah sadar bahwa pikiran itu tidak sejalan dengan Alkitab. Karena itu, mereka tidak boleh sombong karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di hari depan. Setiap orang harus bijaksana, berjaga-jaga dan rajin berdoa.

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Mazmur 90:10-12

Untuk orang Kristen sejati, kebahagiaan selama hidup di dunia bukanlah bergantung kepada hal-hal yang jasmani. Banyak orang yang hancur karena penderitaan, tetapi banyak juga yang hancur dalam kejayaan mereka. Karena itu, Paulus mengatakan dalam ayat pembukaan di atas bahwa ia tidak dipengaruhi oleh hal kenyang maupun hal kelaparan, oleh hal kelimpahan maupun hal kekurangan. Apa yang paling penting dalam hidupnya adalah kekuatan dari Tuhan yang membuat ia bisa menanggung semuanya itu. Kekuatan dari Tuhan yang mana?

Kita ingat bahwa sewaktu Tuhan menjatuhkan hukuman kepada Adam dan Hawa, Ia sudah menyatakan bahwa manusia boleh bergantung pada janji-Nya:

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3: 15

Allah menjanjikan Adam dan Hawa bahwa Yesus akan datang untuk menyelamatkan umat manusia. Dan sebagai orang beriman kita boleh percaya bahwa dalam keadaan apa pun Tuhan tetap mengasihi dan menyertai kita, sehingga pada akhirnya kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan kekal bersama Tuhan di surga.

Filipi 4:10–20 menjelaskan bagaimana orang Kristen dapat mengatasi kekhawatiran dan keinginan duniawi, apa pun keadaan mereka. Dengan membuat keputusan yang bertujuan untuk merasa puas, orang percaya dapat mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita yang sebenarnya, dan tidak termakan oleh materialisme atau kecemasan. Paulus telah mempelajari keterampilan ini melalui banyak pencobaan dan pengalaman pelayanannya. Paulus juga mengucapkan terima kasih kepada jemaat di Filipi atas kemurahan hati mereka, dan mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah akan memberkati mereka atas kemurahan hati mereka.

Paulus secara khusus meminta dua wanita Kristen, Euodia dan Sintikhe, untuk menyelesaikan perselisihan pribadi mereka. Orang-orang Kristen lainnya didorong untuk bertindak sebagai orang-orang yang bijak dan dipenuhi Kristus. Paulus menyatakan bahwa pengalamannya telah mengajarinya untuk merasa puas dengan berkat materi apa pun yang ia miliki. Ketergantungan pada kuasa Kristus tidak hanya membuat orang percaya merasa puas, namun juga menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya, tanpa merasa sombong, iri atau sakit hati. Hal ini adalah pilihan yang disengaja untuk mengarahkan perhatian kita pada hal-hal positif.

Paulus melanjutkan pembahasannya mengenai tema rasa cukup yang dimulai di ayat 11. Ia secara spesifik menyebutkan berbagai pengalaman pelayanannya, termasuk kelimpahan dan kelaparan, kelimpahan dan kebutuhan. Paulus tidak berbicara berdasarkan teori dalam bidang ini, namun berdasarkan pengalaman pribadi. Dia telah menanggung banyak penderitaan dalam pelayanannya kepada Kristus.

“Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi d dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.” 2 Korintus 11:24-29

Komentarnya di Filipi 4 dimaksudkan untuk mencakup semua situasi ini, serta banyak situasi lainnya. Dalam tahanan rumah saat menulis surat ini, dia mengaku telah menemukan “rahasia” untuk bertahan dalam perjuangan ini. Rahasia orang Kristen dalam menghadapi gelumbang hidup. Seperti disebutkan sebelumnya, rahasia ini adalah pilihan setiap orang beriman yang disengaja untuk merasa puas, dalam kuasa Kristus yang sudah datang membawa keselamatan yang dijanjikan Allah. Kristus jugalah yang sudah menyertai Paulus dalam setiap keadaan, sehingga ia tetap teguh dalam iman.

Hari ini, firman Tuhan bertanya kepada kita: manakah yang kita pilih, hidup yang berkelimpahan secara jasmani, ataukah hidup yang berkelimpahan secara rohani? Kita harus memilih satu saja dengan penuh kesadaran karena itulah yang menentukan apakah kita akan bisa hidup dalam kedamaian di dunia ini dalam keadaan apa pun.

Memikirkan masa depan

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Mazmur 46: 1 – 3

Pagi ini saya membaca berita media tentang perkembangan teknologi ruang angkasa. Dijelaskan bahwa ruang angkasa saat ini penuh dengan satelit-satelit, baik yang masih bekerja atau yang sudah menjadi sampah karena tidak lagi dipakai. Karena aturan main di ruang angkasa belum ada, negara mana pun bisa mengirim satelit dalam bentuk dan fungsi apa pun ke ruang angkasa. Mereka tidak mempunyai batasan ruang kerja dan bisa saja mengirim satelit-satelit yang mampu mengacau satelit negara lain. Apa yang dikuatirkan adalah adanya kemungkinan bahwa di masa mendatang peperangan antar satelit akan membuat kekacauan di dunia, karena banyak negara saat ini hanya bisa berfungsi normal dengan bergantung pada satelit mereka. Ini adalah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup umat manusia.

Manusia manakah yang tidak pernah takut? Setiap manusia yang normal dan sehat pikirannya tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah mekanisme kehidupan yang membuat orang bisa mengatasi adanya bahaya, dan itu yang sering mendorong orang untuk berusaha membela diri, menyembunyikan diri atau lari dari bahaya. Walaupun demikian, keadaan sering kali membuat orang kehilangan harapan, karena mereka bisa melihat bahwa baik dengan melawan, bersembunyi ataupun melarikan diri, mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang ada. Sebagian orang juga merasa pasrah karena mereka percaya bahwa karena Tuhan sudah menetapkan segalanya, tidak ada yang dapat diperbuat manusia.

Sejarah menuliskan berbagai pengalaman manusia dalam menghadapi bahaya besar. Adanya banjir besar di berbagai negara baru-baru ini menunjukkan adanya orang-orang yang berani tetap tinggal di rumah mereka, tetapi ada juga yang mengambil keputusan untuk mengungsi selagi jalan masih bisa dilewati. Adakah orang yang berharap atas pertolongan Tuhan? Adakah orang yang merasa sudah ditolong Tuhan? Jika ada, bagaimana bentuk pertolongan itu? Kelihatannya, jika satu daerah kebanjiran semua orang, Kristen maupun bukan, tidak ada yang bebas dari banjir. Tidak ada orang yang mengalami apa yang dialami bani Israel ketika melarikan diri dari Firaun dan tangan Tuhan membelah laut menjadi dua sehingga mereka dapat lewat. Walaupun demikian, selalu ada orang yang bersyukur, entah karena bisa diungsikan, atau rumahnya yang tidak terlalu rusak karena banjir.

Bagaimana jika kita dihadapkan kepada bahaya yang besar dalam hidup kita? Bagaimana perasaan kita jika kita melihat adanya banyak orang yang saat ini mengalami kesulitan ekonomi dan kita pun mungkin mengalami hal yang serupa karena resesi dunia yang diramalkan mungkin akan terjadi? Jika kita tidak mempunyai harapan apa pun untuk bisa menghindari hal itu, mungkin kita terpaksa untuk hidup dan bekerja seperti biasa tetapi dengan lebih berhati-hati dan menjaga diri. Tetapi, bagaimana pula jika kita tidak yakin bahwa kita akan bisa menjaga diri sepenuhnya? Mungkin kita memutuskan untuk sebisa mungkin menghemat uang kita dan tidak membeli barang jika tidak benar-benar diperlukan. Tetapi, ini pun belum tentu 100 persen aman karena setiap orang tentunya perlu membeli bahan makanan dan sebagainya, yang naik harganya seiring dengan tingkat inflasi Indonesia yang sudah mencapai 5.71% selama setahun terakhir.

Mazmur 119 adalah bab yang terpanjang dari Alkitab karena mempunyai 176 ayat. Penulis mazmur ini kurang diketahui, tetapi diduga Ezra, Daud atau Daniel. Tetapi yang jelas adalah penulisnya mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar. Seluruh ayat yang ada menunjukkan pergulatan jasmani maupun rohani yang dialaminya. Walaupun demikian, dalam setiap kesempatan si penulis menyatakan kerinduan dan pujian kepada Tuhan, sumber pengharapannya. Ia juga menyatakan bahwa dalam Tuhan ia bisa menemukan tempat persembunyian dan perlindungan.

“Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 114

Mazmur 119 jelas menunjukkan perbedaan antara orang yang memiliki (atau lebih tepat, dimiliki) Tuhan dengan orang lain yang tidak mengenal Tuhan dalam menghadapi masalah kehidupan. Adanya Tuhan dalam hidup seseorang membuat perspektif hidupnya berubah sama sekali. Beruntunglah orang yang mengalami masalah tetapi masih mempunyai harapan. Malanglah orang yang mengalami penderitaan dan tidak mendapat penghiburan.

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa Tuhan itu bagi orang percaya adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Tuhan bukannya Tuhan yang hanya menonton apa yang terjadi, yang sudah direncanakan-Nya, tanpa meresponi doa-doa umat-Nya untuk memberi pertolongan dan penghiburan. Sebab itu orang yang beriman tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Itu karena Tuhan adalah Sang Pencipta yang berkuasa atas langit dan bumi dan segala isinya.

Hari ini, adakah rasa takut dan kuatir dalam diri anda? Adakah masalah yang besar yang seakan tidak akan dapat anda atasi atau hindari? Tuhan yang memiliki kita adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ia mau mendengarkan doa kita dan sanggup memberi kita keteguhan hati dalam menghadapi semuanya. Kasih-Nya tidak pernah berubah dalam keadaan apa pun, dan kepada-Nya saja kita boleh berharap akan datangnya pertolongan, perlindungan dan penghiburan.

Masihkah Anda mengenali Yesus?

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Peternakan domba adalah sarana pemasukan uang yang cukup besar untuk Australia. Dengan adanya teknologi modern, para peternak bisa menggunakan sepeda motor atau helikopter untuk menggiring ternaknya. Mereka memakai senapan untuk membunuh binatang buas seperti anjing liar, babi liar dan rubah yang sering menyerang domba-domba. Selain itu, karena ternak juga bisa dicuri secara besar-besaran, teknologi elektronik dipakai untuk menandai setiap hewan yang dimiliki oleh seorang peternak.

Pekerjaan menggembalakan domba yang dilukiskan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidaklah seperti zaman sekarang, walaupun prinsipnya adalah serupa. Di zaman dulu, pekerjaan itu sangat berat dan beresiko besar karena segala sesuatu harus dilakukan dengan tenaga manusia. Para gembala harus  berjalan di depan domba-dombanya untuk mencari tempat yang banyak rumputnya, dan dengan bersenjata tongkat mereka harus bisa melindungi domba-dombanya dari serangan binatang buas. Karena itu, gembala yang baik adalah orang-orang yang bersedia untuk berkurban untuk domba-dombanya.

Sungguh menarik bahwa Yesus memakai istilah “gembala yang baik” untuk diriNya dan memerintahkan Simon Petrus untuk menggembalakan domba-dombaNya (Yohanes 21: 15). Agaknya itu karena pada waktu itu banyak orang yang bekerja sebagai gembala domba, mirip dengan keadaan di pedesaan Indonesia saat ini.

Yesus memakai metafor “gembala” untuk mereka yang memelihara dan memimpin orang percaya. Karena itu, dalam bahasa Indonesia, istilah “menggembalakan” juga lazim dipakai untuk mereka yang bertugas memelihara dan menjaga keutuhan jemaat gereja.

Pembedaan apa yang harus dibuat antara gembala yang palsu dengan yang sejati?
Ujian yang Kristus berikan (Mat. 24:24) membuat kita mengenal gembala palsu, dan juga yang sejati, adalah praktis untuk semua zaman. “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka”. Alkitab menetapkan ciri-ciri “gembala palsu” sebagai berikut: Mereka hanya melayani diri sendiri, mempedulikan hal-hal duniawi, berpura-pura saleh dan suci, takut akan penganiayaan, mengindahkan orang-orang tertentu, pekerja yang membohongi, menubuatkan kedamaian palsu, berusaha memperalat ayat Alkitab, menyangkal bahwa Tuhan telah menebus mereka, lebih menyukai pertanyaan tentang filsafat sia-sia ketimbang kebenaran Alkitab.

Walaupun demikian, ada banyak “gembala asli” yang mengajarkan Firman yang mampu menyelamatkan dan membangun; dia waspada terhadap jiwa-jiwa, mencari yang tersesat, memulihkan dengan kasih orang-orang yang merasa ditolak oleh sikap yang tidak mengenal belas kasihan, bersedia mengurbankan diri, simpatik, setia memperingatkan dan menegur, lembut dalam memperlakukan orang-orang Kristen yang masih muda dan berbeban, gigih apabila dia sewaktu-waktu dapat menyelamatkan jiwa-jiwa. Dengan demikian, maka anugerah Tuhanlah yang menghasilkan karakter, bukan hanya penampilan, yang membedakan gembala yang asli dari yang palsu.

Ayat diatas menjelaskan bahwa Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik, mengenal kita satu persatu. Yesus adalah Anak Allah yang sudah mengubankan diri-Nya di kayu salib, tidaklah bermaksud untuk berkurban bagi semua orang, tetapi hanya untuk orang yang percaya kepada-Nya. Pengurbanan Yesus dengan demikian adalah spesifik untuk orang-orang tertentu saja yang Ia kenal. Dalam hal ini, sebagai domba-domba-Nya, seharusnya kita juga mengenal suara-Nya, sehingga kita selalu mengikut Dia, kemana saja Ia pergi. Itu jika kita adalah domba-domba-Nya.

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Yohanes 10: 4

Masalahnya, dalam hidup ini dari dulu sampai sekarang ada pencuri yang datang untuk mencuri dan membunuh domba-domba. Domba-domba yang mengenal suara gembalanya, tentunya tidak mau mendengarkan suara pencuri. Tetapi, pencuri dengan segala cara akan berusaha untuk menipu dan merampas domba-domba itu.

Iblis dan pengikutnya di dunia, dengan segala tipu daya memang selalu berusaha meyakinkan manusia bahwa mengikut dia adalah lebih baik dari mengikut Yesus. Mungkin iblis menjanjikan segala apa yang kita inginkan akan terjadi, mungkin juga ia berkata bahwa sebagai manusia yang merdeka kita bisa menjaga diri kita sendiri dan menikmati hidup semau kita.

Mungkin sudah lama kita tidak membaca firman-Nya, mungkin jarang-jarang kita berdoa dan berkomunikasi dengan Dia. Mungkin juga kita sudah jarang ke gereja. Barangkali hidup kita sudah terlalu sibuk? Ataukah ada sesuatu yang membuat kita lebih tertarik kepada hal-hal yang lain? Mungkinkah kita sebenarnya belum menjadi domba-Nya?

Pagi ini marilah kita meneliti hidup kita. Apakah kita masih mengenal suara Yesus? Seringkah kita mendengar suara-Nya? Karena jika kita jarang mendengar suara-Nya, lambat-laun kita akan lupa bahwa hanya Dialah gembala yang baik, yang patut kita ikuti. Yesus adalah gembala yang baik yang bisa melindungi kita, dan karena itu kita harus mau dan bisa mendengarkan suara-Nya.

Jaminan Tuhan kepada kita

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Kisah 16: 31-32

Bagi banyak orang non-Kristen, perasaan gundah karena tidak adanya jaminan keselamatan adalah disebabkan oleh pengertian yang keliru, bahwa manusia hanya bisa masuk ke surga setelah dapat sepenuhnya mengubah hidupnya, dari hidup yang mementingkan diri sendiri menjadi hidup untuk kemuliaan Allah. Dalam agama lain memang diajarkan bahwa karena Tuhan itu suci, Ia hanya dapat menerima mereka yang suci hidupnya atau yang telah bersedekah dengan murah hati. Oleh karena itu banyak orang yang tidak dapat yakin kalau mereka akan dinyatakan cukup baik oleh Allah setelah meninggalkan dunia.

Dalam agama Kristen pun ada banyak orang percaya yang tidak yakin akan keselamatan mereka, bukan karena mereka merasa belum cukup suci atau beramal, tetapi karena pikiran Tuhan yang sulit diduga. Apalagi mereka yang sangat menonjolkan aspek kedaulatan Tuhan mungkin percaya bahwa adalah hak Tuhan kalau Ia sudah memutuskan dari awalnya untuk mencampakkan orang-orang tertentu ke neraka. Mereka mungkin percaya bahwa apa pun yang mereka perbuat dalam hidup ini, atau bagaimana pun kuatnya iman mereka, adalah Tuhan yang sudah memutuskan siapa yang akan ke surga. Dengan demikian, Injil bagi sebagian orang Kristen adalah bukan kabar baik, tetapi kabar buruk; dan itu karena mereka tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka. Bukan happy ending, tapi sad ending.

Ayat mas kita di atas sebenarnya adalah sebuah contoh kabar baik dalam Alkitab. Bagaimana seseorang yang tidak mengenal Kristus sudah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat jalan kebenaran. Kepala penjara yang dulunya merasa bahwa hidupnya sudah tamat karena semua tawanan diduganya sudah melarikan diri, kemudian bisa melihat kebesaran Tuhan melalui Paulus dan Silas. Mengapa begitu? Tentunya semua itu terjadi karena Tuhan bermaksud untuk menyelamatkan dia, dan juga keluarganya. Mengapa begitu mudah bagi mereka itu untuk menerima “karcis” ke surga? Semua orang yang percaya kepada Kristus dapat menyadari dosa mereka dan perlunya penebusan dengan darah Kristus, ketika mereka mendapat bimbingan Roh Kudus yang membuat mereka sadar akan adanya satu-satunya jalan menuju keselamatan. Yesus menerima kepala penjara itu dan seisi rumahnya sebagaimana adanya. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa mereka sudah layak untuk diselamatkan, tetapi mereka yakin akan keselamatan dari Yesus.

Seperti kepala penjara itu, keselamatan kita bukan tergantung pada pengetahuan alkitab, perbuatan baik dan hidup saleh kita. Tidak ada seorang pun yang baik di hadapan Tuhan, dan tidak ada orang yang bisa diselamatkan jika Tuhan menuntut kesempurnaan hidup kita. Sekalipun kita sudah rajin ke gereja atau mempelajari firman Tuhan, itu tidak akan bisa membuat kita tergolong sebagai umat- Nya jika bukan Tuhan sendiri yang memilih kita dan membimbing kita sehingga kita mempunyai kesadaran bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahakasih. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi cukup layak untuk berdiri di hadapan Tuhan yang mahasuci, tetapi Tuhan yang mahakasih sudah memberikan Yesus sebagai jaminan untuk ganti dosa kita.

Pagi ini, jika kita mengharapkan jaminan keselamatan Tuhan, kita harus bisa berpikir positif – bahwa jika kita benar-benar percaya kepada Yesus, itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa kita adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang dengan Roh Kudus-Nya akan membimbing kita dalam menjalani hidup kita dan membuat kita ingat akan kasih-Nya. Dengan itu kita tidak ragu untuk melalui jalan kehidupan kita sebagai umat-Nya, dan pada waktunya menuju tempat tujuan akhir kita, yaitu surga.

Mengapa memberi belum tentu membawa kebaikan

”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10:23

Orang Kristen dianjurkan berulang kali dalam Alkitab untuk memberi. Pemberian kita kepada orang lain bisa menjadi ungkapan kasih kita, karena kita sendiri sudah menerima kasih Allah yang sangat besar. “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima”, begitu tulis rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 20 : 35. Dengan demikian, bagi banyak orang Kristen, memberi tentunya merupakan tindakan yang patut dipuji dan ditiru. Pandangan ini ada benarnya, tetapi bukannya selalu benar. Mengapa begitu? Sebab apa yang kita berikan kepada orang lain, belum tentu akan bisa diterima atau dipakai sebagai sesuatu yang baik oleh orang lain. Apa yang kita pandang baik, bisa saja justru membuat orang yang diberi mengalami masalah. Apakah ada ayat yang menjelaskan hal ini?

Kitab 1 Korintus 10:23-11:1 menunjukkan bahwa pertanyaan ”Apakah ini diperbolehkan?” adalah pertanyaan yang menyangkut perbuatan apa saja; dan dalam konteks “memberi”, kita bisa saja bertanya, “Apakah memberi adalah sesuatu hal yang selalu diperbolehkan?” Dari ayat di atas kita tahu bahwa jawabnya adalah “belum tentu”. Dengan demikian, jika kita mengemukakan pertanyaan itu saja, pertanyaan itu adalah keliru. Sebaliknya, kita harus melanjutkan dengan bertanya, ”Apakah itu akan memuliakan Allah?” dan ”Apakah itu akan membina sesama kita?”

Paulus memerintahkan orang Kristen untuk menolak makan daging yang mereka tahu telah dipersembahkan kepada berhala. Alasannya adalah agar tidak membuat orang berpikir bahwa orang Kristen tidak menentang penyembahan berhala. Sebenarnya, mereka bebas memakan daging apa pun jika mereka tidak tahu bahwa itu telah dipersembahkan kepada berhala, dengan hati nurani yang bersih, dan dengan rasa syukur kepada Tuhan. Pesan utama dari Paulus adalah bahwa niat kita, dan dampak tindakan kita terhadap orang lain, lebih penting daripada hal-hal fisik yang terlihat dari apa yang kita anggap sebagai perbuatan yang baik dari hati kita yang tulus. Dalam hal memberi, maksud kita mungkin baik dan pemberian kita terlihat indah, tetapi semua itu belum tentu membawa kebaikan bagi yang menerima.

Menjadi orang Kristen memang berarti menjadi orang yang mengasihi Tuhan dan sesama. Tetapi apa yang kita anggap kasih belum tentu akan berguna untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama kita di masa depan. Terlalu sering orang Kristen melakukan sesuatu secara spontan, dan tanpa berpikir panjang, mengambil tindakan dan keputusan yang bisa merugikan orang lain di masa depan. Misalnya, memberi pinjaman uang kepada orang yang membutuhkan dana memang tindakan yang terlihat baik, tetapi itu benar-benar bermanfaat jika itu bisa digunakan oleh orang yang diberi untuk memperbaiki keadaan ekonominya, dan bukan hanya membuat mereka makin banyak hutangnya. Membantu anak-anak kita dalam mengerjakan tugas sekolah adalah baik, sepanjang itu tidak membuat mereka malas atau kurang mau bertanggung jawab atas masa depan mereka.

Orang Kristen tidak hanya harus bisa memberi, tetapi harus juga bisa memikirkan apa yang bakal diterima oleh orang yang kita beri. Apa yang kita beri kepada orang lain, belum tentu sama dengan apa yang mereka terima. Seorang teman saya pernah menemui seorang pengemis di jalan, yang meminta uang untuk membeli makanan. Tetapi, teman saya tahu bahwa pengemis itu adalah seorang peminum miras. Bukannya memberi uang, teman saya menjawab: “Ayuh kita ke warung itu untuk makan, jika memang engkau lapar. Aku akan bayar.” Terhadap jawaban teman saya, pengemis itu hanya diam saja.

Pagi ini, firman Tuhan mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam apa yang kita perbuat, apa yang kita katakan, dan apa yang kita perlihatkan kepada orang lain. Apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang baik dan benar, belum tentu akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Terlalu sering orang Kristen berusaha menjadi orang yang saleh dari sudut pandangan diri sendiri, tanpa memikirkan bahwa orang lain mungkin bisa salah menggunakan, salah mengartikan dan salah bertindak karena apa yang kita lakukan. Sebagai orang yang mau memberi apa yang baik, kita harus mau memikirkan masak-masak apakah orang yang kita beri pada akhirnya menerima sesuatu yang benar-benar baik.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 50:8

Bolehkah kita mengharapkan balasan Tuhan?

Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Efesus 6: 8

Hal mengharapkan balasan Tuhan atas perbuatan baik adalah sesuatu yang sering dipikirkan orang Kristen, tetapi jarang dinyatakan kepada orang lain. Mengapa begitu? Pertama-tama, jika orang berpikir bahwa ia sudah berbuat baik, itu belum tentu apa yang baik menurut pikiran Tuhan. Adanya perumpamaan tentang orang Farisi yang merasa bahwa ia sudah menjadi orang yang istimewa (Lukas 18:9-14), membuat orang Kristen tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Kedua, semua manusia sudah berdosa dan itu termasuk setiap orang percaya. Tetapi, Tuhan yang mahakasih sudah memberikan hadiah yang paling besar yaitu keselamatan kepada umat-Nya sekalipun mereka tidak berbuat apa-apa untuk itu. Karena itu, bagaimana kita masih mengharapkan pahala dari Tuhan sebagai hamba-Nya yang tidak berguna (Lukas 17:10)?

Banyak juga gereja dan pendeta yang segan untuk membahas hal pahala bagi umat Kristen baik dalam hidup di bumi maupun di surga, karena mereka berusaha menghindari pandangan teologi kemakmuran yang menyatakan bahwa Tuhan memberi berkat berupa kekayaan dan keberhasilan kepada umat-Nya, dan teologi pelagianisme yang menyatakan bahwa perbuatan baik manusia adalah salah satu syarat keselamatan. Walaupun demikian, ayat pembukaan di atas jelas-jelas menyatakan bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Apalagi, dalam Alkitab Perjanjian Lama kelihatannya orang-orang yang dikasihi Tuhan selalu menerima apa yang baik dari Tuhan dalam hidup mereka selama di dunia. Mereka mendapat kekuasaan, kekayaan, kebijaksanaan, banyak keturunan dan sebagainya.

Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Yeremia 17:10

Sebenarnya, apa yang dikatakan dalam Alkitab bahwa Tuhan memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan apa yang dilakukannya adalah benar. Tetapi, apa yang diberikan oleh Tuhan adalah apa yang sesuai dengan kehendak-Nya dan terjadi pada saat yang dipilih-Nya. Manusia tidak dapat menuntut pahala dari Tuhan sekalipun ia boleh mengharapkan dan meminta apa yang baik dari Tuhan karena Ia mahaadil, mahabijaksana dan mahakasih. Ia tahu apa yang baik untuk anak-anak-Nya (Matius 7:11).

Pahala yang akan kita terima belum tentu terjadi selama kita hidup di dunia. Segala sesuatu yang ada di bumi ini akan membusuk dan binasa. Yesus mendorong kita untuk tidak mengumpulkan harta di bumi karena “ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19). Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Paulus tentang untaian daun dari para atlet, yang segera akan berubah menjadi layu dan berguguran. Lain halnya dengan mahkota surgawi; ketekunan dari kesetiaan akan memenangkan pahala surgawi yang merupakan “suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu” (1 Petrus 1:3-5).

Sekalipun kita percaya adanya pahala dari Tuhan, salah satu hal yang sangat penting untuk kita ingat dalam hidup adalah motivasi kita dalam berbuat baik. Kita berbuat baik bukan untuk mendapat pahala, tetapi untuk membalas kasih-Nya yang sudah diberikan kepada kita. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Kita berbuat baik karena Tuhan memerintahkan kita, agar orang lain yang melihat perbuatan kita yang baik akan memuliakan Dia (Matius 5:16). Jelas, berbuat baik pada hakikatnya bukanlah untuk mencari keuntungan atau pahala bagi diri kita sendiri. Jika orang Kristen berlomba-lomba untuk berbuat baik guna keuntungan diri sendiri, itu pasti akan menimbulkan apa yang bertentangan dengan dua hukum yang utama yang mengharuskan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia.

Bagaimana kita bisa berbuat baik untuk Tuhan dan sesama? Perbuatan baik yang bagaimana yang akan membawa pahala bagi kita? Banyak orang yang kagum melihat orang lain yang nampaknya saleh, murah hati, dan mempunyai kemampuan besar untuk menolong orang lain. Apakah perbuatan baik semacam itu yang harus kita lakukan untuk menyenangkan Tuhan? Alkitab menyatakan hanya satu hal yang berkenan kepada Tuhan dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang Kristen sejati.

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ibrani 11: 6

Pagi ini kita membaca bahwa Allah itu benar dan membenci dosa, namun Ia setia menepati janji-janji-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia, dan memberikan pahala kepada orang-orang yang taat kepada-Nya. Tanpa iman mustahil kita bisa yakin akan keberadaan-Nya dalam hidup kita, baik dalam suka maupun duka. Tanpa iman kita tidak dapat menyadari dan mengakui bahwa perbuatan yang benar-benar baik bagi Tuhan asalnya dari Tuhan dan untuk Tuhan. Sebab itu, barangsiapa mau hidup baik untuk Tuhan harus yakin bahwa Dia itu ada bersama kita di mana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja. Dialah yang pada waktunya akan memberi pahala bagi orang-orang yang tekun dalam iman mereka.