Pertobatan adalah karunia Tuhan

”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 15

Di sepanjang Kitab Suci, Allah memanggil orang berdosa untuk bertobat dan percaya. Pertobatan dan iman adalah tanggapan yang diperlukan terhadap janji-janji Allah dan pesan Injil. Iman adalah memercayai Allah yang dijanjikan dan merangkul Tuhan Yesus Kristus sebagaimana Ia ditawarkan secara cuma-cuma kepada orang berdosa dalam Injil. Dari catatan paling awal tentang karya Allah dalam sejarah penebusan, kita menemukan bahwa iman adalah pusat kehidupan umat Allah.

Dari ayat di atas, kita dapat melihat bahwa iman dan pertobatan adalah adalah tindakan yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan. Saat orang percaya hidup dengan iman dan pertobatan, mereka tetap berada di jalan sempit yang menuntun pada kehidupan. Ketekunan mereka dalam iman Kristen ditopang oleh anugerah Allah yang memelihara, membekali mereka dengan pembaharuan Roh Kudus untuk iman dan pertobatan yang dituntut oleh Allah.

Saat Abraham percaya, dia dibenarkan di hadapan Allah. Imannya bukanlah lompatan buta atau harapan yang tidak rasional. Sebaliknya, Kitab Suci mengungkapkan bahwa iman Abraham didasarkan pada kepastian janji-janji Allah dan pertimbangan yang masuk akal tentang karakter Allah (Ibrani 11:19). Iman dan akal tidak bertentangan satu sama lain (Ibrani 11:1). Iman yang dengannya Allah membenarkan umat-Nya adalah iman yang sama yang dengannya mereka dikuduskan saat mereka melanjutkan hidup Kristen. Iman memiliki berbagai tindakan yang dengannya ia dijalankan. Dalam pembenaran, iman bersifat pasif – yaitu, iman yang membenarkan hanya menerima.

Iman yang membenarkan adalah iman yang menerima dan bersandar pada Yesus Kristus saja sebagaimana Dia ditawarkan kepada kita dalam Injil. Iman bukanlah pekerjaan yang kita lakukan yang dengannya kita pantas atau bisa memperoleh kesalehan. Iman itu sendiri tidak membuktikan adanya kebenaran; itu adalah tangan terbuka yang menerima kebenaran Kristus yang menyelamatkan. Hakikat kehidupan Kristiani adalah “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6). Kitab Suci mengajarkan bahwa mereka yang bebar-benar diberi karunia iman yang menyelamatkan oleh Allah akan tetap percaya kepada Kristus sampai akhir hayatnya karena Ia memelihara mereka dalam iman (Filipi 1:6).

Kitab Suci juga menyoroti peran pertobatan dalam kehidupan orang percaya. Pertobatan adalah tindakan manusia yang berpaling dari dosa kepada Allah dengan harapan menerima belas kasihan yang Dia sediakan dengan cuma-cuma di dalam Kristus. Doa pertobatan Daud dalam Mazmur 51 mencontohkan sifat pertobatan sejati dalam kehidupan orang percaya. Perumpamaan tentang anak yang hilang mengajarkan bahwa pertobatan mencakup pemulihan kepekaan rohani (Lukas 15:17). Rasul Paulus membedakan antara pertobatan sejati dan pertobatan palsu dalam 2 Korintus 7:10,

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.”

Dengan demikian, tidak semua ducacita dan penyesalan manusia akan menuju ke arah pengampunan Tuhan. Banyak dukacita dan penyesalan manusia yang justru membuat mereka membenci Tuhan dan sesamanya; dan karena mereka mengingkari kedaulatan Tuhan, sering berakibat fatal secara rohani maupun jasmani.

Pertobatan yang menyelamatkan, atau pertobatan untuk hidup baru, didorong oleh penyesalan (kesedihan sejati karena menyinggung Tuhan) atas dosa di hadapan Allah yang baik dan kudus bersamaan dengan pengakuan bahwa Dia telah menyediakan jalan pengampunan melalui pengorbanan Kristus. Seperti halnya iman, pertobatan adalah anugerah Allah yang menyelamatkan. Manusia tidak dapat bertobat kepada Tuhan, jika ia tidak diberi pengenalan akan Tuhan. Pertobatan kepada kehidupan adalah anugerah yang menyelamatkan, di mana orang berdosa, dari kesadaran yang sebenarnya akan dosanya dan pemahaman akan belas kasihan dari Allah di dalam Kristus, dengan kesedihan dan kebencian akan dosanya, berpaling kepada Allah, dengan tujuan penuh, usaha keras, dan ketaatan baru.

Seperti halnya iman, pertobatan memiliki tempat yang terus-menerus dalam kehidupan orang Kristen. Orang percaya tidak hanya bertobat dari dosa-dosa mereka pada awal hidup baru mereka, tetapi juga bertobat dari dosa-dosa baru yang terjadi sesudahnya. Itu karena manusia yang sudah diselamatkan adalah manusia yang belum sempurna selama hidup di dunia. Tidak mengheranlan, Martin Luther pernah menyatakan, “Tuhan kita Yesus Kristus menghendaki seluruh hidup orang percaya menjadi satu pertobatan.”

Kabar baik dari Injil Kristus adalah bahwa Allah membenarkan mereka yang menerima janji-Nya hanya dengan iman. Bagaimana sesuatu yang abstrak seperti itu bisa diterima manusia? Hanya karena kasih karunia, Allah Bapa menganugerahkan kebenaran Yesus Kristus kepada orang percaya. Melalui iman, orang percaya dipersatukan dengan Kristus dan mengambil bagian dalam kebenaran Kristus, yang terdiri dari ketaatan-Nya yang sempurna terhadap semua yang dituntut oleh hukum Allah. Karena itu manusia bisa dibenarkan sekalipun tidak bisa taat kepada hukum Allah secara sempurna.

Banyak yang memahami istilah pertobatan (bahasa Ibrani: teshuva) sebagai “berpaling dari dosa.” Menyesali dosa dan berpaling darinya berkaitan dengan pertobatan, tetapi bukan arti sebenarnya dari kata tersebut. Definisi alkitabiah singkat tentang pertobatan adalah “perubahan pikiran yang menghasilkan perubahan tindakan.” Alkitab memang memberi tahu kita bahwa pertobatan sejati akan menghasilkan perubahan tindakan (Lukas 3:8–14; Kisah Para Rasul 3:19). Bertobat bukan hanya dalam pikiran, tapi harus dinyatakan dalam tindakan. Dalam meringkas pelayanannya, Paulus menyatakan, “mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” (Kisah Para Rasul 26:20).

Pertobatan melibatkan pengakuan bahwa kita telah salah berpikir di masa lalu dan memutuskan untuk berpikir secara benar di masa depan. Orang yang bertobat memiliki “pikiran kedua” tentang pola pikir yang dianut sebelumnya. Ada perubahan watak dan cara berpikir baru tentang Tuhan, tentang dosa, tentang kekudusan, dan tentang melakukan kehendak Tuhan. Pertobatan sejati didorong oleh dukacita yang dikehendaki Allah, dan itu menghasilkan keselamatan.

Pertobatan bukanlah pekerjaan yang bisa kita lakukan untuk memperoleh keselamatan. Tidak ada yang bisa bertobat dan datang kepada Tuhan kecuali Tuhan menarik orang itu kepada-Nya (Yohanes 6:44). Pertobatan adalah sesuatu yang Allah berikan—itu hanya mungkin karena kasih karunia-Nya (Kisah Para Rasul 5:31; 11:18). Tidak ada orang yang bisa bertobat kecuali Tuhan mendorong ke arah pertobatan. Semua aspek keselamatan, termasuk pertobatan dan iman, adalah hasil dari Allah yang menarik kita, membuka mata kita, dan mengubah hati kita. Kepanjangsabaran Allah menuntun kita pada pertobatan (2 Petrus 3:9), demikian pula kebaikan-Nya (Roma 2:4).

Sementara pertobatan bukanlah pekerjaan manusia yang menghasilkan keselamatan, pertobatan untuk keselamatan memang menghasilkan perbuatan. Tidak mungkin untuk benar-benar mengubah pikiran Anda tanpa mengubah tindakan Anda dengan cara tertentu. Dalam Alkitab, pertobatan menghasilkan perubahan perilaku. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis memanggil orang-orang untuk “menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:8). Seseorang yang benar-benar telah bertobat dari dosa dan menjalankan iman kepada Kristus akan memberikan bukti kehidupan yang diubahkan (2 Korintus 5:17; Galatia 5:19–23; Yakobus 2:14–26). Pertobatan Zakheus adalah salah satu contoh yang ada dalam Alkitab (Lukas 19).

“Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ‘Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lukas 19: 8

Pagi ini firman Tuhan menyatakan bahwa pertobatan diperlukan untuk keselamatan. Pertobatan yang datang dari Tuhan pasti akan mengubah pikiran Anda tentang dosa Anda – dosa bukan lagi sesuatu untuk dipermainkan; itu adalah sesuatu yang harus ditinggalkan saat Anda “melarikan diri dari murka yang akan datang” (Matius 3:7). Itu juga mengubah pikiran Anda tentang Yesus Kristus – Dia tidak lagi dicemooh, diremehkan, atau diabaikan; Dia adalah Juruselamat untuk dilekati; Dia adalah Tuhan yang harus disembah dan dipuja d dalam hidup kita.

Tuhan tidak mencari-cari kesalahan kita

“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Efesus 1:7-8

Adalah suatu kenyataan, terutama jika Anda berada dalam posisi kepemimpinan, Anda akan senang mendengarkan komentar orang lain tentang kekuatan dan kemampuan Anda. Tapi mungkin Anda kurang senang mendengar kritik orang lain tentang kelemahan Anda. Dalam hal ini, ada nasihat untuk para pemimpin agar mereka mempunyai “muka yang tebal”, alias tahan kritik dan kecaman; karena semakin mereka dikenal publik, sepertinya lebih banyak perhatian orang lain yang menyoroti kesalahan dan kelemahan mereka.

Sebagai orang Kristen, sebenarnya kita adalah orang yang seharusnya sangat menyadari kekurangan kita di hadapan Tuhan. Tetapi, dalam hidup sehari-hari kita mungkin sering berfokus pada hal-hal yang kurang baik dalam hidup kita. Kita menganggap Tuhan pasti tidak senang karena kita masih belum bisa menjalankan semua perintah-Nya dengan benar. Kita menganggap bahwa Tuhan berfokus pada kesalahan kita sama seperti kita, dan ini bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang.

Pada kenyataannya, sudut pandang ini tidak sesuai dengan dasar kekristenan, maupun dengan pribadi Tuhan yang kita ikuti. Allah membenci dosa. Dia membencinya karena Dia membenci apa yang bertentangan dengan kebenaran, keindahan, kehendak kasih-Nya dan keinginan-Nya untuk melindungi ciptaan-Nya. Namun kebencian Allah terhadap dosa hanyalah sebagian dari karakter-Nya. Bagian lainnya, tentu saja, adalah kasih-Nya yang tak tertandingi bagi kita – yang begitu dalam dan meliputi segalanya, sehingga Dia mau tidak mau membuat jalan bagi kita untuk lepas dari belenggu dosa.

Ayat di atas beralih ke pembayaran yang dilakukan Yesus bagi kita “melalui darahnya”. Paulus mengacu pada kematian Kristus di kayu salib sebagai pembayaran yang cukup untuk dosa semua orang yang percaya. Apa yang dicakup oleh penebusan ini? Membayar untuk membebaskan kita dari hukuman kekal dan kekuatan duniawi dari dosa-dosa kita sendiri. Kebebasan ini bukanlah hal mudah dicapai karena harus dibayar dengan kematian Kristus. Dengan demikian, bagi orang beriman harga tertinggi telah dibayar. Ini adalah kasih karunia: kemampuan kita untuk menjadi anak Allah adalah karena Allah sendiri memberikan secara cuma-cuma sebuah jalan untuk mengenal Dia dengan iman.

Anugerah Tuhan disebutkan dalam kaitannya dengan uang dengan gagasan bahwa anugerah itu sangat berharga. Anugerah adalah apa yang dibutuhkan untuk menjadikan manusia putra dan putri Allah. Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan-Nya (Roma 3:23). Hanya melalui Yesus kita memiliki jalan (Yohanes 14:6) untuk memperoleh keselamatan (Kisah Para Rasul 4:12).

Sementara kita mengira kita mengetahui makna di balik kematian Yesus, ujian iman yang sebenarnya datang dengan tanggapan kita terhadap dosa. Jika kita hanya sibuk dengan keburukannya, menundukkan kepala dalam kecemasan dan rasa malu, kemungkinan besar kita tidak akan menyerap kebenaran bahwa kita lebih dari sekadar anak yang hilang. Kita lupa bahwa kita adalah anak yang hilang yang sudah kembali kepada ayahnya, seorang anak yang sudah mengakui segala dosanya dan disambut dengan tangan terbuka oleh sang ayah.

Jika Kristus benar-benar telah mengambil dosa-dosa kita, maka penyesalan akan dosa lama yang terus-terusan bukanlah hal yang menyenangkan Tuhan. Ketika kita merasa perlu untuk menghukum diri kita sendiri, kita sebenarnya meremehkan pengorbanan Yesus – bahkan meninggikan kemampuan kita yang dirasakan perlu untuk menebus diri kita sendiri atau untuk menyelesaikan misi penyelamatan-Nya. Kitab Suci berkata, “Tanpa iman, tidak mungkin menyenangkan Allah.” (Ibrani 11:6). Jadi kita harus bisa mengizinkan diri kita sendiri untuk melepaskan tekanan batin kita, dan kita bisa menyerah untuk percaya bahwa pekerjaan Yesus sudah genap.

Penyerahan diri inilah yang membukakan kemungkinan bagi kita untuk mengalami apa yang menjadi tujuan kita: kedamaian dalam Tuhan. “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”” (Galatia 5:1). Kita harus mengingat kenyataan ini dan belajar mempercayainya makin hari makin dalam. Daripada menggunakan kesalahan kita sebagai kesempatan untuk menghukum diri kita sendiri, mungkin kita dapat mengingatnya sebagai undangan untuk tidak hanya menjalankan iman kita, tetapi juga untuk memahami kasih Allah yang kuat. Memang, dengan habisnya gelap terbitlah terang.

Tuhan tidak mengidentifikasi kita dengan dosa-dosa kita. Dia melihat hal-hal sebaliknya – sementara kita mungkin memperbesar kesalahan kita, Tuhan mengagungkan keindahan yang diberikan kepada kita. Dia tidak terintimidasi oleh kelemahan kita, seperti yang sering kita alami. Ketika kita merasa bersalah dan menganggap Tuhan dengan tegas menunjukkan kesalahan kita, mungkin kita dapat mengenali bahwa itu sebenarnya hanya suara kita sendiri atau suara musuh. Sebaliknya, kita dapat memilih untuk mendengarkan suara-Nya yang lebih tenang yang dengan lembut mengulangi, “Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus” (Roma 8:1). Kita harus dapat mengenali bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih sayang.

Apakah ini berarti kita harus mengabaikan dosa-dosa kita? Sama sekali tidak. Sebagian orang Kristen memang sering mendengungkan ajaran bahwa kita tidak perlu berusaha untuk memperbaiki cara hidup kita yang salah. Sebaliknya, ketika kita melihat masalah dalam hidup kita, kita diminta untuk menanggapinya dengan serius, untuk menghadirkannya kepada Roh Kudus yang mampu membantu kita, mengajar kita dan menumbuhkan kita menjadi serupa dengan-Nya. Lagi pula, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9).

Kita harus mengerti bahwa Tuhan memeluk kita terlepas dari beratnya dosa kita, sehingga kita tidak mundur karena malu, tetapi datang kepada-Nya dengan perasaan damai. Kita harus memahami bahwa Tuhan tidak mencari-cari dosa kita, dan karena itu kita juga tidak seharusnya melakukan hal yang sama. Jiwa kita bisa merasa sangat lelah dengan beban yang kita bebankan pada diri kita sendiri. Kita mungkin bosan dengan kritik dan penilaian atas diri sendiri. Untuk bisa hidup baik, kita mungkin mencoba memotivasi diri sendiri dengan rasa takut dan malu – gagasan bahwa kita adalah orang jahat sampai kita berubah. Tapi taktik itu tidak akan bisa efektif.

Tetap berada dalam rasa malu membuat kita terjebak. Itu seperti Adam dan Hawa yang menyembunyikan diri setelah melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah terlarang. Dan Tuhan tahu hal ini. Jadi Dia memilih untuk mencari dan memotivasi kita dengan memberi kita pengetahuan tentang siapa kita sebenarnya, dan kesadaran akan kebaikan-Nya yang tak bersyarat. Dia tahu bahwa hanya kasih-Nya yang yang bisa memberi kita kesembuhan dan kemampuan untuk menyadari bahaya dosa; sehingga kita mau mengasihi diri kita sendiri dengan menghindari dosa. Roh Kudus memberi kita kekuatan untuk melepaskan diri dari ikatan dosa yang masih ada, dan kita bisa bergerak maju dengan harapan.

Pagi ini, ada kebenaran yang berharga dan membebaskan yang Tuhan ingin kita terima di lubuk hati kita. Dia sudah menerima kita, anak yang hilang, kembali ke dalam pelukan-Nya. Artinya, Dia menganggap kita sebagai seorang anak yang tidak bercacat dan Dia senang dengan kita. Semoga kita bersedia menerima pesan ini. Semoga itu membawa kita lebih dekat kepada-Nya, dan berfungsi sebagai air yang sejuk bagi kita yang dulu hilang dan sekarang kembali menjadi anak-Nya.

“Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Lukas 13:24

Pentingnya etika dan moralitas Kristen selama hidup di dunia

“Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil.” Mazmur 119: 104-106

Semua orang Kristen tentu percaya bahwa selama hidup di dunia mereka harus melakukan hal-hal yang baik dan menghindari hal-hal yang jahat. Tetapi, untuk menjalankan hidup yang berkenan kepada Tuhan, mereka tidak hanya memerlukan bimbingan dari Alkitab, tetapi juga pedoman moral dan etika Kristen. Etika Kristen, juga dikenal sebagai teologi moral, adalah sistem etika yang bisa berbentuk etika kebajikan, yang berfokus pada pembangunan karakter moral, atau etika normatif (deontologis) yang menekankan kewajiban. Itu dibangun di atas keyakinan bahwa kodrat manusia – yang diciptakan menurut gambar Allah dan kemudian sudah dilahirkan kembali – mampu bermoral, bekerja sama dengan rasionalitas untuk membedakan hal yang baik dan hal yang buruk.

Tugas etis tertinggi seorang Kristen sama dengan hukum Tuhan yang terbesar: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Kitab Suci adalah otoritas Kristen untuk etika, sama seperti teologi. Ini karena Tuhan adalah otoritas dan standar tertinggi kita, karena Dia sendiri adalah kebaikan. Sementara orang Kristen mengetahui karakter Tuhan melalui membaca Kitab Suci, orang yang tidak percaya dapat memahami sebagian dan secara tidak sempurna, apa yang baik melalui tatanan ciptaan dan hati nurani mereka (Roma 1:19-20). Dan sementara orang Kristen pada akhirnya memperoleh etika mereka dari Alkitab dengan bimbingan Roh Kudus, bagian-bagian berbeda dari Alkitab (seperti hukum Musa) harus dibaca dalam konteks sejarah orang Israel dan tidak hanya diterapkan dari satu budaya jauh ke budaya lain.

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.”  Roma 1: 19-20

Sistem filosofis yang mencoba memberikan norma etika dapat membantu pemikiran Kristen tentang etika, tetapi Kitab Suci harus tetap menjadi otoritas untuk upaya etis Kristen apa pun. Akhirnya, meskipun ada banyak isu dewasa ini yang tidak dibicarakan secara langsung oleh Alkitab, ada prinsip-prinsip alkitabiah yang dapat diandalkan untuk membuat penilaian moral yang benar.

Tugas etis tertinggi orang percaya adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi mereka. Tugas etis tertinggi kedua mereka adalah mengasihi sesama seperti diri mereka sendiri. Bagi seorang Kristen, memenuhi kewajiban moral ini terjadi dalam ketaatan pada Hukum Kristus dan tunduk pada ajaran Firman Tuhan. Tujuan utamanya adalah untuk memuliakan Tuhan dalam segala hal yang dikatakan, dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan. Tujuan etis luas lainnya termasuk menjadi berkat bagi orang lain dan tumbuh sebagai orang yang berbudi luhur.

Mengingat visi positif ini, cukup menyedihkan bahwa banyak orang – baik Kristen maupun non-Kristen – cenderung memandang orang Kristen sebagai legalistik dan suka menghakimi orang lain. Hal ini khususnya terjadi sebagai reaksi terhadap etika deontologis yang menekankan kewajiban. Selain itu banyak orang Kristen memandang moralitas adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan lagi jika mereka sudah dibenarkan oleh darah Kristus. Tetapi, Alkitab menyatakan bahwa di dunia yang memberontak melawan Allah, mereka yang menjunjung tinggi standar moral Allah harus menyinari kegelapan dan harus menentang praktik-praktik dosa yang mungkin diterima secara luas dalam masyarakat. Perlu dicatat, Alkitab PB mempunyai banyak ayat yang dimulai dengan kata “hendaklah” dan “janganlah” yang jelas berlaku untuk orang Kristen zaman kini.

Alkitab tidak hanya menyajikan kode etik yang hanya terdiri dari larangan. Memang ada hal-hal yang harus dihindari, tetapi ada juga banyak kewajiban moral positif yang dituntut oleh Kitab Suci. Jika kita dengan benar membentuk pandangan etis kita dari Alkitab, kita akan menemukan bahwa kita harus menjauhi kejahatan dan melakukan perbuatan baik. Ada perbedaan kategoris antara yang baik dan yang jahat, dan antara yang benar dan yang salah. Karena itu, kehidupan Kristiani dapat menjadi “perlombaan” yang menyenangkan dalam melakukan kebaikan. Etika Kristen seharusnya menyenangkan karena orang yang memegangnya tahu bahwa Tuhan akan senang dengan ketaatan umat-Nya kepada perintah-Nya.

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibraani 12:1

Orang Kristen Injili seharusnya tidak merasa ragu untuk mengatakan bahwa Alkitab – Firman Allah – adalah otoritas dan standar etika kita, sama seperti teologi. Ini karena Tuhan adalah otoritas dan standar tertinggi kita. Tidak mungkin ada standar etika yang lebih tinggi kebenarannya dari Tuhan, bukan karena Dia mahakuasa, tetapi karena Dia adalah sumber kebaikan itu sendiri. Kebaikan moral ditentukan oleh sifat Tuhan, dan semua yang Dia perintahkan adalah sesuai dengan kebaikan-Nya yang sempurna dan benar.

Kita harus menaati setiap firman Tuhan karena setiap firman yang Dia berikan kepada kita mengalir dari karakter-Nya, dan karakter-Nya adalah kesempurnaan moral yang tidak terbatas dan mutlak. Tuhan tidak mengukur diri-Nya dengan standar kebaikan yang abstrak; Dia tidak berkonsultasi apa pun selain sifatnya sendiri ketika Dia mengeluarkan perintah dan aturan moral. Perintah moralnya tidak sewenang-wenang dan tidak bisa lain dari apa adanya, karena itu didasarkan pada kebaikan moral Tuhan yang tidak berubah. Karena perintah Allah ditemukan dalam Kitab Suci, Alkitab adalah otoritas kita untuk etika.

Walaupun demikian, pengetahuan tentang tuntutan moral Allah tidak hanya datang dari membaca Kitab Suci. Meskipun wahyu khusus ini bersifat definitif, setiap orang di bumi memiliki beberapa pengetahuan tentang standar moral Allah melalui wahyu umum. Memang kita perlu berhati-hati dalam menyamakan apa yang “alamiah” dengan apa yang benar-benar baik, tetapi Tuhan telah menciptakan dunia sedemikian rupa sehingga ada kesesuaian umum antara kebenaran moral dan apa yang secara alami adalah baik bagi manusia.

Orang sering dapat melihat apa yang terbaik untuk dilakukan (atau tidak dilakukan) ketika mereka menerapkan alasan mereka pada fakta-fakta dari situasi yang mereka hadapi. Tuhan juga telah menciptakan manusia untuk beroperasi dengan rasa dasar hukum moralnya melalui hati nurani mereka. Nalar dan hati nurani tidak dapat diandalkan atau otoritatif seperti ajaran yang ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi keduanya merupakan sumber pengetahuan moral yang berguna. Etika Kristen menafsirkan wahyu umum melalui wahyu khusus tetapi menggunakan kedua sumber tersebut untuk mendapatkan wawasan tentang etika.

Terlepas dari kesepakatan di kalangan injili tentang pentingnya dan otoritas Kitab Suci bagi etika Kristen, ada perdebatan tentang peran Hukum Musa dalam moralitas Kristen. Walaupun demikian, dapat dikatakan bahwa orang Kristen tidak secara langsung dan tidak menyeluruh tetap berada di bawah otoritas Hukum Musa. Penggenapan perjanjian baru oleh Kristus telah membawa perubahan dalam hukum, seperti yang dijelaskan dalam Kitab Ibrani 10.

Gereja bukanlah suatu teokrasi, dan Kristus telah mengakhiri – melalui penggenapan – sistem pengorbanan Perjanjian Lama. Namun demikian, karena seluruh Kitab Suci diilhami Allah dan berguna, banyak hukum khusus dalam Hukum Musa masih dapat diterapkan dewasa ini baik di gereja maupun di masyarakat. Larangan pembunuhan dan pencurian, misalnya, adalah hukum yang mencerminkan karakter moral Allah yang abadi. Dua perintah terbesar yang diidentifikasi oleh Yesus diabadikan dalam Taurat dan berlaku untuk semua murid Kristus. Akan tetapi, kadang-kadang, ada faktor-faktor budaya yang mengharuskan umat Kristiani untuk memahami prinsip hukum daripada menerapkannya secara literal. Prinsip di balik hukum, bagaimanapun, adalah bahwa kita mengambil tindakan pencegahan yang wajar untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, dan itu adalah ide etis yang berlaku di setiap budaya. Prinsipnya sama, meski beberapa bentuk penerapannya dalam budaya tertentu bisa berbeda.

Ada ruang dalam etika Kristen untuk semua pertimbangan yang disebutkan dalam paragraf di atas. Tak satu pun dari sistem itu yang dapat berdiri sendiri; mereka perlu dibangun di atas dasar kebenaran Tuhan. Alkitab memperjelas bahwa segala sesuatu itu benar atau salah dalam hubungannya dengan karakter Allah. Jadi, moralitas itu objektif, dan kita harus menaati perintah Tuhan. Namun, ini tidak berarti bahwa konsekuensi sama sekali tidak relevan. Meskipun moralitas suatu tindakan tidak didasarkan pada konsekuensi saja, ada banyak peringatan dan dorongan dalam Kitab Suci yang menunjukkan konsekuensi positif atau negatif dari menaati atau tidak menaati Allah.

Kita harus melihat konsekuensi dari ketidaktaatan, dan kita harus juga melihat upah untuk mengikuti jalan Tuhan. Ini bukan saja menyangkut hubungan vertikal kita dengan Tuhan, tetapi juga berkenaan dengan hubungan horisontal, antar manusia. Kita juga harus bertindak untuk menghargai dan mendorong orang lain, dan ini membutuhkan penilaian atas konsekuensi dari kata-kata dan tindakan kita. Tuhan tidak menghendaki kekacauan.

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14:33

Allah menghasilkan buah rohani dalam kehidupan anak-anak-Nya—ia membentuk karakter bajik dalam diri mereka yang mencerminkan karakter Putra-Nya. Jadi, bertindak dan bertumbuh dalam kebajikan merupakan komponen penting dari etika Kristiani. Orang Farisi mungkin mengesankan orang lain dengan perbuatan keagamaan mereka, tetapi Tuhan melihat hati. Bahkan berdoa dan memberi hadiah kepada orang miskin tidak menyenangkan Tuhan jika motif hati kita salah.

Tentu saja ada sejumlah besar masalah etika praktis yang dihadapi orang Kristen saat ini. Beberapa masalah di masyarakat tertentu relatif baru, seperti kasus aborsi dan pernikahan sesama jenis. Masalah lain lebih universal dan abadi, seperti masalah kebebasan seksual atau perang untuk membela bangsa. Kadang-kadang Tuhan telah berbicara dengan jelas dan langsung tentang masalah etika (misalnya jangan mencuri atau korupsi), tetapi ada topik lain yang tidak dapat secara langsung dibahas dalam Alkitab (misalnya masalah yang memerlukan teknologi kontemporer, seperti rekayasa genetika, kecerdasan buatan, atau fertilisasi in vitro). Bahkan ketika Alkitab tidak secara khusus berbicara tentang suatu masalah, ada prinsip-prinsip alkitabiah yang dapat diandalkan untuk membuat penilaian moral yang terinformasi. Dengan demikian adalah keliru untuk memandang agama Kristen sebagai agama yang tidak mementingkan moralisme.

Pagi ini, kita belajar memahami pentingnya etika dan moral dalam kehidupan orang Kristen di dunia. Etika dan moral yang baik adalah perlu agar kita bisa memuliakan Tuhan dan memancarkan terang-Nya bagi seisi dunia. Etika dan moral bukanlah Injil, dan bukan sarana untuk memperoleh keselamatan di surga, tetapi adalah pedoman untuk hidup dalam ketertiban dan ketenteraman di dunia. Etika dan moral bukanlah cara untuk menjadi orang berbudaya yang terpandang, tetapi adalah keharusan bagi umat Kristen untuk menjadi hamba Tuhan yang setia.

Berilah contoh yang baik kepada orang lain

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

Timotius dan Paulus

Salah satu pepatah yang saya ingat sampai sekarang adalah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Pepatah yang dikenal di Indonesia dan Malaysia ini mengandung makna bahwa murid akan mencontoh perilaku gurunya. Karena apa yang disinggung adalah perbuatan yang tidak pantas, maka jelas itu berarti mereka yang lebih muda akan meniru perbuatan buruk orang yang lebih tua dan bahkan akan melakukannya secara lebih buruk. Oleh karena itu, jika orang tua menginginkan anak yang baik, tentunya mereka perlu menjadi teladan yang baik. Begitu juga seorang pemimpin harus memberikan contoh yang baik bagi orang bawahannya.

Ayat-ayat dalam 1 Timotius 4 memberikan perspektif penting sebelum instruksi Paulus berikutnya. Setelah memberikan detail kepada Timotius tentang bagaimana memilih pemimpin gereja, dan perilaku yang tepat dari anggota gereja, bab ini sebagian besar berfokus pada pilihan rohani pribadi Timotius sendiri. Secara khusus, Paulus menginstruksikan dia untuk rajin, setia, dan siap. Taruhannya tinggi – baik bagi Timotius maupun mereka yang dipanggil untuk memimpin. Bab ini menekankan pentingnya melatih rohani yang baik, yang merupakan kunci ketika mempertimbangkan nasihat Paulus dalam perikop sebelum dan sesudah kata-kata ini.

Ayat 1 Timotius 4:11–16 berfokus pada perilaku pribadi Timotius sendiri sebagai pemimpin gereja Kristen. Paulus menekankan ide-ide seperti ketekunan, keyakinan, dan kesetiaan. Yang sangat penting adalah bahwa Timotius hidup sebagai teladan bagi orang percaya lainnya. Di antara hal yang paling kuat untuk melawan ajaran palsu adalah hasil positif yang dapat dihasilkan oleh ajaran yang benar. Ayaran yang benar tidak hanya menyatakan ajaran lain adalah salah, tetapi juga menganjurkan dan bahkan menyuruh orang untuk melakukan apa yang benar, supaya menghasilkan apa yang baik. Ayaran yang baik bukan hanya teori, tetapi harus mencakup praktik nyata. Bersamaan dengan mengajarkan kebenaran, Timotius harus menghidupinya. Dengan mengabdikan dirinya pada prinsip-prinsip ini, Paulus meyakinkan Timotius bahwa dia dapat menjadi pengaruh positif yang kuat bagi orang lain.

Ayat di atas sering dikutip untuk pelayanan pemuda dan pemimpin muda. Meskipun Timotius mungkin berusia awal 30-an ketika surat ini ditulis, kata-kata tersebut berlaku untuk setiap pemimpin gereja, tanpa memandang usia. Ayat ini juga berlaku bagi kepala keluarga atau orang tua yang harus memberi contoh yang baik bagi seluruh anggota keluarga, dan bahkan berlaku bagi setiap orang Kristen agar bisa menjadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Mereka yang memberi contoh yang tidak baik, mereka yang tidak mengajarkan apa yang baik, dan mereka menentang apa yang baik, akan membuat orang lain untuk berbuat tidak baik.

Paulus menulis bahwa Timotius tidak boleh membiarkan siapa pun memandang rendah dirinya karena usianya. Sepanjang sejarah manusia, ada kecenderungan generasi yang lebih tua untuk mengabaikan mereka yang lebih muda, hanya karena mereka masih muda. Untuk mengatasi hal ini, pengaruh seorang pemimpin muda harus datang melalui teladannya. Dalam konteks khusus ini, “teladan” diberikan kepada orang Kristen, bukan untuk orang yang tidak percaya. Meskipun keduanya penting (Matius 5:16), Paulus berfokus pada kepemimpinan dalam kalangan umat Kristen dalam ayat ini. Nasihat ini berlaku di antara mereka yang sudah lahir baru dan mendapat karunia Roh Kudus yang memimpin hidup mereka.

Paulus memberikan lima bidang khusus di mana Timotius harus menjadi teladan. Pertama adalah kata-katanya. Kedua perbuatannya, yang harus mencerminkan teladan kesalehan. Ketiga, kasih dan imannya harus menjadi teladan. “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” (1 Timotius 1:5). Kelima, teladan Timotius adalah memasukkan “kemurniannya”, baik secara fisik dalam perilakunya di sekitar wanita muda (1 Timotius 5:2) maupun dalam kerohaniannya (1 Timotius 5:22).

Pagi ini, kita wajib bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah kita pernah membayangkan bahwa dalam hidup kita adalah seperti Timotius di antara orang-orang yang masih mencari jalah untuk hidup sebagai umat Tuhan? Mereka sudah dibebaskan dari perhambaan dosa, tetapi masih belajar untuk mengabdikan diri kepada Tuhan. Apakah Anda pernah memikirkan adanya kemungkinan bahwa apa yang Anda perbuat dalam hidup sehari-hari mungkin ditiru oleh orang lain dan membuat hidup mereka tidak atau lambat berubah dari apa yang ada dalam hidup yang lama? Ingatlah bahwa setiap orang Kristen adalah Timotius bagi orang lain, dan bertanggung jawab untuk mengajarkan dan mempraktikkan apa yang baik, yang sesuai dengan firman Tuhan, agar nama Tuhan dipermuliakan.

Berusahalah untuk menguasai diri sendiri

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1:5-7

Dalam ayat di atas, rasul Petrus menganjurkan umat Kristen untuk bersungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan berbagai hal yang baik kepada iman mereka. Di antara hal-hal yang menjadi kewajiban umat Kristen untuk diusahakan dengan sungguh-sungguh adalan penguasaan diri. Jika iman datang dari Tuhan, penguasaan diri (self control) yang tertulis dalam ayat di atas adalah salah satu dari buah-buah Roh yang diberikan Tuhan kepada semua orang percaya.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Kata penguasaan diri dalam bahasa Yunani adalah ἐγκράτεια (enkráteia), yang bermakna “mempunyai kuasa atas” (kata dasar “krat-” seperti pada kata “demokrat”, yang berarti “pemerintahan”), atau “kepemilikan atas kelakuan sendiri.” Bagaimana orang Kristen bisa menguasai dirinya sendiri sesudah diselamatkan? Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4 menjelaskan:

“Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.”

Salah satu definisi dosa adalah “memenuhi kebutuhan yang sah melalui cara yang tidak sah.” Tanpa kuasa Roh Kudus, kita tidak mampu mengetahui dan memilih cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan kita. Bahkan jika kita tahu apa yang terbaik, seperti tidak merokok, tidak melakukan perbuatan amoral, dan tidak mengejar kenyamanan, tanpa Roh Kudus semua itu akan diutamakan dan memperbudak kita lagi.

Ketika kita diselamatkan oleh pengorbanan Kristus, kita dibebaskan (Galatia 5:1). Kebebasan itu mencakup, antara lain, kebebasan dari dosa. “Manusia lama kita telah disalibkan bersama Dia agar tubuh dosa dihapuskan, sehingga kita tidak lagi menjadi hamba dosa” (Roma 6:6). Sekarang, ketika Roh memberi kita pengendalian diri, kita dapat menolak dosa. Itu jika kita mau menurut suara Roh Kudus, karena Roh Kudus tidak memaksa kita.

Di sini kita mendapat pengertian bahwa setiap orang yang sudah diselamatkan diberi kemampuan oleh Tuhan agar mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik. Ini berarti bahwa mereka akan dapat menguasai diri untuk tidak melakukan apa yang jahat dalam pandangan Tuhan. Walaupun demikian, orang Kristen bukanlah orang yang sempurna selama hidup di dunia. Karena itu ia terkadang masih jatuh ke dalam dosa karena ia tidak dapat sepenuhnya menguasai diri.

Buah Roh adalah perubahan karakter kita yang terjadi karena pekerjaan Roh Kudus di dalam kita. Kita tidak menjadi orang Kristen dengan usaha sendiri, dan kita tidak dapat bertumbuh dengan sendirinya. Filipi 2:13 mengatakan bahwa “… Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Setiap hal baik yang mampu kita lakukan adalah buah karya Roh dalam hidup kita.

Pengendalian diri tentu saja, adalah kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri. Itu melibatkan moderasi, paksaan, dan kemampuan untuk mengatakan “tidak” pada keinginan dasar dan nafsu daging kita. Memang, salah satu bukti karya Tuhan dalam hidup kita adalah kemampuan untuk mengendalikan pikiran, perkataan, dan tindakan kita sendiri.

Orang percaya membutuhkan pengendalian diri karena dunia luar dan kekuatan internal masih menyerangnya (Roma 7:21-25). Seperti kota yang rentan, kita harus memiliki pertahanan. Seperti tembok di sekeliling Yerusalem dirancang oleh Nehemia untuk mencegah musuh. Para penjaga gerbang menentukan siapa yang boleh masuk dan siapa yang harus tetap berada di luar. Tentara dan gerbang menegakkan keputusan itu (Nehemia7:1-3).

Dalam hidup kita, pertahanan ini mungkin termasuk menghindari hubungan dekat dengan orang dunia, bersekutu dengan orang percaya lainnya, menghindari kegiatan yang bisa menjerumuskan kita ke dalam dosa, dan merenungkan Firman Tuhan yang memberi hidup. Kita tidak menunjukkan pengendalian diri kalau terus-menerus bermain-main dengan apa yang bisa memperbudak kita lagi.

Pengendalian diri secara alami mengarah pada ketekunan (2 Petrus 1:6) karena kita menghargai kebaikan jangka panjang daripada kepuasan dunia yang instan. Pengendalian diri adalah karunia yang membebaskan kita. Ini membebaskan kita untuk menikmati manfaat dari tubuh jasmani dan rohani yang sehat. Itu membebaskan kita untuk bisa beristirahat dalam kedamaian dan penatalayanan yang baik. Itu membebaskan kita dari hati nurani yang bersalah. Pengendalian diri membatasi pengutamaan keinginan bodoh kita, dan kita menemukan kebebasan untuk mencintai dan hidup yang diberikan Tuhan sebagaimana seharusnya.

Doa orang yang beriman, besar kuasanya

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5:16

Dalam doa, kita memiliki Tuhan Yang Mahakuasa di pihak kita. Kitab Suci berjanji kepada kita bahwa ketika Tuhan ada di pihak kita, tidak ada seorang pun atau tidak ada yang dapat melawan kita (Roma 8:31). Tidak ada seorang pun di planet ini yang lebih kuat dari Tuhan kita. Tidak ada kebutuhan yang terlalu besar untuk dipenuhi oleh Tuhan. Tidak ada permintaan yang terlalu sulit bagi-Nya untuk dijawab. Tuhan ingin kita datang kepada-Nya dan meminta apapun yang kita butuhkan agar Dia dapat menyediakan bagi kita menurut kekayaan-Nya yang mulia. Ketika kita memahami bahwa datang kepada Tuhan dalam doa adalah hak istimewa, kita akan melakukannya setiap hari dengan penuh sukacita.

Doa adalah cara yang telah Allah tetapkan untuk menguduskan kita. Dalam doa, kita belajar apa yang Allah sukai. Saat kita berdoa, kita menemukan apa yang Dia pedulikan. Melalui doa, kita tahu apa yang Tuhan perkenan. Roh Kudus menggunakan pengetahuan ini untuk mengubah kita. Kita belajar tentang Tuhan sedemikian rupa sehingga kita menjadi seperti Dia dalam prosesnya. Semakin banyak kita berdoa, semakin kita mencintai apa yang Tuhan cintai. Saat kita menghabiskan waktu di hadirat Tuhan, kita mulai peduli tentang apa yang Dia pedulikan. Kita menumbuhkan hati Tuhan di dalam hati kita.

Orang yang jarang berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan tidak akan merasakan karakter-Nya. Doa tidak dapat dibatasi oleh kapan, di mana, dan berapa lama. Kita berdoa kapan saja, di mana saja, dan selama kita perlu mencurahkan isi hati kita. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan bahwa doa yang sungguh-sungguh dari orang benar sangat bermanfaat. Doa yang tulus tidak hanya melibatkan pikiran kita, tetapi juga melibatkan hati dan kasih sayang kita. Dalam doa yang sungguh-sungguh dan efektif, hati kita sepakat dengan Tuhan. Kita bersyafaat untuk apa yang Allah senangi dan pedulikan. Kita mengembangkan karakter cinta dan kasih sayang Tuhan.

Saat kita semakin dekat dengan Tuhan dalam doa, kita mulai bertindak lebih seperti anak-anak-Nya, dan bukannya tetap tinggal sebagai anak-anak dunia. Dengan kata lain, semakin banyak kita berdoa, semakin kita mengenal apa kehendak Tuhan. Saat kita mengabdikan hidup kita untuk berdoa, kita akan mrnyadari kedaulatan dan kuasa Tuhan. Pada akhirnya, sebagai anak-anak Allah bersama Yesus Kristus, kita bisa hidup dalam kebenaran dan mewakili Bapa Surgawi kita dalam menunjukkan kekudusan, kasih dan kuasa-Nya selama hidup kita di dunia.

Perbuatan baik muncul setelah pertobatan

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 1-10

Cerita tentang Zakheus sangatlah terkenal, terutama di antara anak-anak sekolah Minggu. Kita sering membaca tentang pemungut cukai yang datang kepada Kristus; tetapi di sini Zakheus adalah kepala pemungut cukai telah mengumpulkan harta yang banyak. Kristus sebelumnya telah menunjukkan betapa sulitnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah, namun kisah Zakheus adalah sebuah contoh tentang satu orang kaya yang telah hilang, dan ditemukan, dan bukan sebagai anak yang hilang yang bertobat karena kekurangan. Bagi Kristus tidak ada hal yang mustahil.

Zakheus memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk melihat Yesus, untuk menari tahu orang macam apakah Dia, setelah mendengar banyak pembicaraan tentang Dia. Ini mungkin seperti mereka yang ingin melihat orang-orang yang ketenarannya telah memenuhi media, setidaknya agar mereka akan dapat mengklaim pernah melihat orang-orang hebat itu.

Zakheus bertubuh rendah sehingga dia tidak dapat melihat Yesus. Karena dia tidak ingin mengecewakan keingintahuannya, dia melupakan kedudukannya sebagai kepala pemungut cukai, dan seperti anak laki-laki, ia memanjat pohon ara, untuk melihat Yesus. Memang, mereka yang dengan tulus ingin melihat Kristus akan menerobos banyak kesulitan dan halangan, dan rela bersusah payah untuk itu.

Bagaimana Yesus mengundang dirinya sendiri ke rumah Zakheus, dan tidak meragukan sambutan Zakheus yang hangat di sana, menyatakan bahwa Ia tahu siapa Zakheus dan apa yang ada dalam hatinya. Yesus pasti sudah membuka hati Zakheus, dan mendorongnya untuk menerima-Nya. Zakheus datang untuk melihat Kristus, dan memutuskan untuk naik kepohon, tetapi ia tidak berharap untuk diperhatikan oleh Kristus. Yesuslah yang melihat ke atas ke pohon, dan Ialah yang menemukan Zakheus.

Bagi Zakheus, perhatian Yesus adalah suatu hal yang sulit dipercaya. Itu adalah kehormatan yang terlalu besar, dan terlalu jauh di atas kemampuannya untuk dipikirkan. Seperti itulah, mereka yang datang ke gereja, seperti yang dilakukan Zakheus, hanya karena ingin tahu, kemudian sadar bahwa firman-Nya melebihi apa yang mereka pikirkan, membuat hati nurani mereka terbangun dan berubah.

Bagi kita, kenyataan bahwa Kristus memanggil Zakheus dengan namanya, itu pasti karena Dia tahu siapa orang yang dipilih-Nya. Yesus bisa saja bertamu ke tempat orang lain, tetapi Ia memilih Zakheus. Dia menyuruhnya Zakeus bergegas, dan turun. Begitu juga, mereka yang dipanggil Kristus harus turun, harus merendahkan diri. Orang Kristen sejati tidak akan berpikir untuk bisa ke surga dengan kebenaran mereka sendiri.

Zakheus sangat gembira menerima kehormatan seperti itu datang dari Yesus. Ia bergegas, turun, dan menerimanya dengan gembira; dan ini merupakan indikasi dan tanda dia sudah menerima Yesus ke dalam hatinya. Seperti itu juga, ketika Kristus memanggil seseorang, ia harus segera menjawab panggilan-Nya; dan ketika Dia datang, orang itu harus menerima-Nya dengan gembira.

Zakheus tidak ragu-ragu, tetapi bergegas; dia tahu bahwa sekalipun tidak siap menjamu, dia harus menyambut Tamu Agung itu di rumahnya. Dia harus turun, karena Kristus bermaksud pada hari ini untuk mengunjungi rumahnya, dan tinggal satu atau dua jam bersamanya. Seperti itulah apa yang terjadi jika Yesus ingin menyelamatkan orang yang dipilih-Nya di zaman ini, Dia berdiri di depan pintu hati mereka dan mengetuk. Keputusan untuk membuka pintu hati harus dilakukan secepatnya, dan mereka tidak perlu memikirkan keadaan hidup mereka yang tidak layak, karena Tuhan sendiri yang memutuskan untuk datang.

Meskipun Zakheus adalah orang berdosa, itu tidak berarti bahwa dia adalah orang yang tidak dapat diperbaiki. Tuhan memberikan ruang bagi setiap orang untuk pertobatan, dan demikian pula bagi kita. Tapi mata Zakheus tidak puas dengan melihat Yesus dengan mata; lebih dari itu ia melihat Yesus dengan hatinya dan kemudian menyadari bahwa cara hidupnya harus berubah. Seperti itu, kita harus berusaha untuk melihat Yesus dengan mata iman, untuk melihat siapa Dia; agar kita bisa mempunyai hidup baru.

Bukti-bukti yang diberikan Zakheus di depan umum bahwa, meskipun ia pernah menjadi orang berdosa, ia sekarang adalah seorang yang bertobat, dan benar-benar bertobat. Ia tidak berharap untuk dibenarkan oleh perbuatannya sebagai orang Farisi yang menyombongkan apa yang telah ia lakukan, tetapi dengan perbuatan baiknya ia akan, melalui kasih karunia Allah, membuktikan ketulusan iman dan pertobatannya; dan di sini dia menyatakan apa tekadnya. Dia membuat pernyataan ini dengan berdiri, agar dia dapat dilihat dan didengar oleh mereka yang menggerutu kepada Kristus karena datang ke rumahnya. Dengan mulutnya keluar pengakuan yang terbuat dari pertobatan serta iman. Dia berdiri, yang berarti dia mengatakannya dengan sengaja dan dengan khidmat, dalam janji kepada Tuhan. Seperti itu juga, apa yang baik harus kita lakukan setelah pertobatan kita; kita harus berjanji untuk berbuat baik.

Zakeues menampakkan bukti perubahan dalam hatinya (dan itu adalah pertobatan), karena ada perubahan dalam jalan hidupnya. Keputusannya untuk melakukan apa yang baik adalah tugas yang dilakukannya karena Kristus, dalam segala kesempatan, memberikan tekanan besar pada dia. Zakheus tidak menghindari dorongan hati untuk membuktikan imannya kepada orang lain. Seperti itu juga, bagi kita yang sudah bertobat, dipanggil untuk melakukan apa yang baik sesuai dengan kondisi dan karakter kita, agar nyata bagi semua orang apa yang menjadi buah-buah pertobatan kita.

Mirip dengan Zakheus, Paulus pernah menganiaya gereja dengan kejam tetapi ia bertemu Yesus dalam perjalanannya ke Damaskus. Yesuslah yang menemukan Paulus. Alih-alih menyerang orang Kristen, Paulus kemudian menjadi orang percaya dan menyatakan buah-buah pertobatannya dalam bentuk pelayanan yang luar biasa. Seperti itulah, kita diajak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan kita.

“Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Kisah Para Rasul 26:20

Melalui doa kita mengenal sifat Tuhan

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya ..” Ibrani 1: 1-2

Banyak orang Kristen kurang berdoa karena mereka tidak mengerti bahwa doa adalah hak istimewa dari orang yang istimewa. Doa adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan bagi umat Tuhan. Orang yang tidak mengenal Yesus tidak memiliki hak isttimewa ini, karena sekalipun mereka berdoa, tidak ada yang mendengarnya. Mereka tidak mempunyai Yesus sebagai perantara antara diri mereka dan Allah yang mahakuasa.

Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk berdoa dalam nama Yesus. Kita berdoa sesuai dengan kebenaran Allah, Firman-Nya, karakter-Nya, dan kehendak-Nya. Ada jaminan besar dalam doa seperti itu. Alkitab memberi tahu kita bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan, kita akan mendapatkannya. Dia yang memiliki semua hikmat, semua kekuatan, dan selalu hadir telah mengundang kita dan telah memerintahkan kita untuk datang kepada-Nya dengan permintaan kita. Dia berjanji untuk menjawab doa-doa kita.

Kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab kita untuk berdoa. Kita bukanlah robot-robot ciptaan Allah. Sebaliknya, Tuhan yang berdaulat yang memegang kendali, dan Tuhan yang berdaulat ini telah memberi kita tanggung jawab untuk memohon apa pun kepada-Nya, dengan itu kita akan tahu lebih banyak tentang karakter dan kehendak Tuhan ini. Doa adalah ajakan bagi kita untuk membangun hubungan dengan Bapa Surgawi kita. Ketika kita melakukannya, doa kita seharusnya selaras dengan karakter-Nya dan mengakui kedaulatan-Nya.

Dalam doa, kita tidak berurusan dengan seseorang yang mungkin tidak mendengar kita. Tuhan mendengar kita. Kita tidak berurusan dengan seseorang yang tidak bisa berbuat apa-apa tentang permintaan kita. Tuhan memiliki semua kuasa atas alam semesta. Kita tidak berurusan dengan seseorang yang tidak peduli. Tuhan telah memerintahkan kita untuk datang kepada-Nya. Ini tidak harus dilakukan secara formal seperti di gereja, tetapi di setiap saat dan tempat, kita bisa berkomunikasi dengan Dia baik dengan mulut maupun di dalam hati.

Melalui doa, kita mencapai kesepakatan dengan Pencipta Alam Semesta tentang hidup kita. Doa bukanlah tentang mengubah pikiran Tuhan; ini tentang bagaimana membuat pikiran dan hati kita setuju dengan Dia. Jadi tujuan doa bukanlah untuk memaksakan kehendak kita pada Tuhan. Kita harus berdoa dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya dan memperhatikan saat Dia bekerja melalui sarana yang telah Dia tetapkan untuk melakukan apa yang telah Dia putuskan untuk capai.

Kuasa Allah harus menjadi penggerak kehidupan doa kita. Merupakan suatu kegembiraan untuk bersepakat dengan Pencipta Alam Semesta yang peduli pada kita dan memikirkan kehendak-Nya yang terbaik untuk kita. Tuhan yang mahakuasa telah memerintahkan kita untuk datang kepada-Nya dengan permohonan kita dan telah berjanji untuk bekerja melalui proses itu.

Ini mirip dengan hubungan anak-anak dengan orang tua mereka. Jika seorang anak diberi kesempatan untuk meminta sesuatu kepada orang tuanya, anak ini akan mempelajari sifat orang tua. Anak akan tahu apa yang harus diminta, setelah mempelajari hal-hal mana yang selaras dengan nilai, standar, dan kebajikan orang tua. Anak juga akan mempelajari kepribadian orang tua untuk memahami cara bertanya. Karena kita harus meminta apapun yang kita inginkan dari Tuhan sesuai dengan karakter-Nya, kehendak-Nya, dan standar-Nya, kita perlu mengenal Dia lebih baik.

Dengan kata lain, doa menjadi kesempatan yang kuat bagi kita untuk tidak hanya menjalankan tanggung jawab kita, tetapi juga untuk mempelajari karakter Allah dalam prosesnya. Saya dapat berkata, “Wow, Tuhanku yang Mahakuasa dan Mahakasih berjanji untuk memberi saya apa pun yang saya butuhkan. Tetapi saya perlu tahu bahwa apa yang saya minta sejalan dengan siapa Dia. Biarkan saya berpikir dengan hati-hati tentang apa yang saya minta dan alasan memintanya.” Di sinilah Roh Kudus membantu kita.

Pagi ini kita belajar bahwa jika kita mendekat kepada Allah dalam doa, kita akan mengenal Dia lebih baik. Kita belajar karakter Allah. Tapi itu bukan semua yang terjadi. Doa juga mengubah kita. Saat kita mencurahkan lebih banyak waktu untuk berdoa, kita menjadi orang yang lebih baik. Semakin banyak kita berdoa, semakin kita berubah menjadi gambar Allah.

Jika Tuhan berdaulat, untuk apa kita berdoa?

”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7:7

Yesus berkata, “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” dalam Yohanes 16:24. Pernyataan serupa ditemukan dalam ayat di atas. Apakah ini janji tanpa syarat? Jika kita meminta sejuta dollar dikirimkan ke rumah kita, apakah Allah akan memberikannya kepada kita? Atau apakah kata-kata Yesus harus dipahami dalam terang ayat lain?

Jika kita berasumsi bahwa “mintalah dan kamu akan menerima” berarti “mintalah apa saja yang kamu inginkan dan Aku akan memberikannya kepadamu”, maka kita telah mengubah Tuhan menjadi jin yang melayani setiap keinginan kita. Ini adalah pesan teologi kemakmuran dan juga ada dalam agama lain. Sebagai contoh, ada doa sebuah agama yang berbunyi: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kemakmuran yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Anda mungkin mengerutkan kening mendengar doa seperti ini. Betapa mudahnya orang bisa menjadi makmur dan menjadi orang terkaya sedunia, kalau rajin berdoa!

Tetapi, dalam Khotbah di Bukit, Yesus memang berkata bahwa siapa pun yang meminta akan menerima, siapa pun yang mencari akan menemukan, dan siapa pun yang mengetuk akan menemukan pintu terbuka (Matius 7:7-8). Tetapi dengan ayat ini dan semua ayat lainnya kita harus memeriksa konteksnya. Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak akan gagal untuk memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anak-Nya. Hal yang baik menurut Dia, sebab kita sendiri tidak tahu apa yang benar-benar baik. Inilah yang sering ditafsirkan oleh banyak orang Kristen secara keliru karena mereka mengira apa yang diingini mereka adalah baik, dan semua yang mereka miliki adalah dari Tuhan sekalipun berasal dari tindakan yang melibatkan dosa.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:11

Jadi, salah satu syarat untuk janji “minta dan terima”: apa yang kita minta harus baik menurut penilaian Tuhan. Tuhan akan memberikan hadiah yang bermanfaat bagi anak-anak-Nya; Dia tidak akan memberi kita hal-hal yang buruk, yang mencelakakan, dan yang menjauhkan kita dari Dia, tidak peduli berapa sering kita menuntutnya. Contoh terbaik dari pemberian yang baik adalah Roh Kudus, menurut Lukas 11:13. Dengan adanya bimbingan Roh Kudus kita bisa melihat dua tujuan doa – untuk meningkatkan pemahaman kita tentang apa yang Allah sebut “baik” dan untuk memupuk hasrat dalam diri kita untuk menginginkan dan melakukan apa yang baik.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Lukas 11:13

Doa kita kepada Tuhan tidak seperti permintaan kita kepada seseorang. Doa kita didasarkan pada suatu hubungan, seperti yang Yesus tunjukkan dalam Matius 7:8. Jika seorang anak meminta kepada ayahnya sesuatu yang menurut sang ayah tidak baik, permintaan itu ditolak. Anak itu mungkin frustrasi dan tidak senang ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia minta, tetapi dia harus mempercayai ayahnya. Dalam hal ini, sang anak mungkin saja berhenti meminta karena tidak yakin akan kasih ayahnya. Tetapi, jika sang anak meminta sesuatu yang sang ayah tahu bermanfaat, sang ayah tentu akan memberikannya dengan penuh semangat karena ia sayang pada anaknya.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7:8

Ketika kita berpikir tentang kedaulatan Tuhan, kendali dan kekuasaan mutlak-Nya atas segalanya, muncul pertanyaan: mengapa Tuhan yang berdaulat, yang memiliki kehendak-Nya sendiri atas segala sesuatu, memerintahkan kita untuk berdoa? Bagaimana kita menyelaraskan doa kita dengan kedaulatan Allah? Dalam hal ini sudah tentu kita harus meminta apa yang terbaik, yang sudah jelas akan diberikan-Nya, yaitu bimbingan Roh Kudus. Kita harus mengerti bahwa tanpa bimbingan Roh, kita tidak bisa mempunyai hidup yang baik dan berkenan kepada-Nya. Tanpa bimbingan Roh, kita bisa saja merasa bahwa cara hidup dan keinginan kita yang kurang baik adalah apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Tanpa bimbingan Roh Kudus kita mungkin juga merasa bahwa Tuhan itu kejam karena tidak memenuhi permohonan kita.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” Roma 8:26-27

Doa adalah sarana yang Tuhan dalam kedaulatan-Nya memilih sesuatu untuk kita kerjakan. Misalnya, Tuhan yang berdaulat menyediakan makanan sehari-hari untuk dimakan keluarga kita. Namun demikian, kita harus pergi bekerja untuk mendapatkan uang untuk membayar makanan ini. Tuhan menyediakan makanan kita melalui pekerjaan kita. Dia beroperasi melalui orang-orang yang menanam ladang dan memanen tanaman. Dia juga telah memilih untuk bekerja melalui alam, sinar matahari, dan hujan untuk memenuhi ciptaan-Nya. Inilah cara Tuhan menyediakan. Tuhan 100% berdaulat atas alam semesta, tetapi kita 100% bertanggung jawab atas hidup kita, dan itu termasuk kewajiban kita untuk berdoa dan bekerja.

Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah berdaulat. Dia membimbing semua jalan dan tindakan manusia dengan pemeliharaan-Nya. Allah memegang kedaulatan-Nya untuk kebaikan umat-Nya dan ciptaan-Nya. Kamus mendefinisikan “berdaulat” sebagai memiliki kekuatan tertinggi atau tertinggi. Ini berarti bahwa Tuhan yang berdaulat memiliki kendali penuh atas ciptaan-Nya. Pada saat yang sama, Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa. Kitab Suci menjanjikan kepada kita bahwa Allah mendengarkan permintaan dan permohonan kita; Dia mendengar doa kita. Kitab Suci juga meyakinkan kita bahwa Allah akan bertindak pada saat yang tepat jika kita berdoa. Berdoa adalah perintah Tuhan. Yesus bahkan memberi kita contoh bagaimana berdoa.

Dengan cara yang sama, Tuhan bekerja dalam urusan manusia melalui doa. Doa adalah sarana melalui mana Tuhan bekerja dalam hidup kita. Inilah mengapa doa sangat penting. Kita dapat berkata, “Tuhan telah memutuskan untuk memberi saya makan.” Tetapi jika kita tidak pergi bekerja, tidak pergi ke pasar atau ke supermarket, dan tidak memasak makanan, kita akan kelaparan. Dalam hal ini, kita salah mengerti bagaimana Tuhan yang berdaulat telah memilih kita untuk bekerja dan hidup dengan baik dalam hidup kita.

Tanggung jawab kita bukan hanya soal jasmani, tetapi juga dalam hal rohani. Jika kita menjalani kehidupan tanpa doa, kita akan kelaparan secara rohani. Tuhan bertekad untuk bekerja dalam hidup kita melalui doa. Jadi jika kita ingin lebih mengenal Tuhan, kita perlu berdoa memohon hikmat dari Dia. Jika kita ingin Tuhan memberi kita cara hidup yang lebih baik atau melakukan apa yang baik dalam keluarga kita, kita perlu berdoa. Doa adalah sarana yang dipilih Allah untuk bekerja dalam hidup kita, melalui itu Ia mewujudkan kehendak-Nya yang berdaulat dalam hidup kita.

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Yakobus 1: 5

Adakah dosa kecil dan dosa besar?

“Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Yakobus 2:10

Apakah beda antara “bohong kecil” dan “bohong besar”? Sebagian orang berpendapat bahwa bohong kecil adalah kebohongan yang tidak terlalu merugikan orang lain, sedangkan bohong besar adalah apa yang bisa merugikan orang lain secara signifikan. Atau bohong kecil adalah kebohongan yang tidak melanggar hukum negara, sedangkan bohong besar bisa menyeret orang ke pengadilan. Benarkah begitu? Terelepas dari benar tidaknya, banyak orang Kristen yang berpendapat demikian. Lebih dari itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa sekali-sekali berbohong adalah aman, jika tujuan berbohong adalah “kebaikan” atau untuk “memuliakan Tuhan”.

Sebenarnya, berbohong secara dan dalam bentuk apa pun adalah salah satu dari berbagai dosa manusia terhadap Tuhan. Lalu perlukah kita mendefinisikan dosa kecil dan dosa besar di hadapan Tuhan? Pada umumnya, orang Kristen percaya bahwa semua dosa adalah sama bagi Tuhan; itu adalah apa saja yang tidak mencapai standar Kesucian Tuhan. Kata “dosa”, seperti yang muncul dalam Alkitab, berasal dari kata Yunani Hamartia atau kata Ibrani Hata, yang keduanya berarti “meleset” atau “cacat”. Kata itu digunakan dalam memanah dan melempar tombak. Ketika seseorang tidak mencapai pusat target (baik jauh atau dekat dengan pusat target), mereka sudah berdosa atau meleset dari kesempurnaan Tuhan yang suci dan benar. Tetapi, dalam hidup sehari-hari banyak orang Kristen mengukur besar kecilnya dosa dengan mengukur seberapa besar keberanian mereka untuk melanggarnya dan menerima konsekuensinya. Ini sudah tentu adalah tindakan yang bisa digolongkan sebagai “nekad”.

Bunyi ayat di atas berarti bahwa apa pun dosa yang kita lakukan, kita akan benar-benar bersalah atas semua hukum Tuhan. Oleh karena itu setiap dosa, kecil maupun besar, sama-sama memberatkan kita. Hal ini bukannya membuat orang segan untuk berbuat dosa sekecil apa pun, tapi justru membuat sebagian orang Kristen untuk tidak ragu untuk berbuat dosa yang besar karena adanya keyakinan bahwa Tuhan yang menganggap semua dosa sama besarnya, adalah Tuhan yang sanggup mengampuni dosa sebesar apa pun (Yesaya 1:18).

Pengertian bahwa semua dosa adalah sama belumlah lengkap karena mempunyai kelanjutan. Pertama, tidak semua orang akan terluka dengan cara yang sama oleh setiap dosa yang kita lakukan. Jika saya menembak mati si A sekarang, atau jika saya hanya meludahinya, keduanya adalah dosa yang sangat buruk karena Yesus menyebut kebencian sebagai pembunuhan. Tetapi, si A tidak akan mati jika saya hanya meludahi dia. Sebaliknya, jika saya menembak mati dia, keluarganya akan sangat berduka dan saya mungkin akan mendapatkan hukuman berat dari wakil Tuhan di dunia yaitu pemerintah.

Alkitab sebenarnya mengajarkan bahwa ada tingkatan hukuman bagi umat Tuhan di dunia. Jika Anda tahu apa yang benar dan tidak melakukannya, Anda mungkin dihukum dengan lebih banyak pukulan daripada jika Anda tidak tahu yang benar dan melakukan yang salah (Roma 2:12). Hukuman dosa bisa dijatuhkan Tuhan kepada si pembuat dosa dan mungkin juga kepada sanak keluarganya di dunia. Karena itu, adalah penting bagi semua orang tua untuk memberi pengertian yang benar kepada anak-anaknya, yaitu tentang apa yang ditulis dalam Alkitab: bahwa setiap orang, Kristen maupun bukan, harus mempertangung-jawabkan hidupnya kepada Tuhan.

Ketika seorang ayah memiliki gaya hidup dan cara bekerja yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, anak-anaknya cenderung memiliki hal yang serupa. Sekalipun sang ayah tahu akan apa yang benar, ia akan mengalami kesulitan untuk mengajarkannya, sebagai teori tanpa praktik, kepada anak-anaknya. Itulah mengapa adil bagi Allah untuk menghukum dosa hingga ke generasi ketiga atau keempat – karena mereka melakukan dosa yang sama seperti yang dilakukan para leluhur mereka. Sebenarnya mereka sedang dihukum karena dosa-dosa mereka sendiri, bukan dosa para leluhur mereka (Keluaran 20:5; 34:7; Bilangan 14:18; Ulangan 5:9). Walaupun demikian, jika ada perbedaan hukuman dan akibat dari dosa, berarti ada tingkat kesalahan, dan ini berarti bahwa beberapa dosa lebih tercela daripada yang lain.

Kita mungkin pernah mendengar tentang tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang pernah disebut dalam tradisi gereja di abad mula-mula. Sekalipun kita tahu bahwa di hadapan Tuhan semua dosa bisa membawa kematian kekal, dan karena pengampunan kita bisa diselamatkan dari murka Allah, angka tujuh menempati posisi yang unik dalam kehidupan umat Kristen di dunia. Ketujuh dosa utama yang bisa “diturunkan” kepada anak-cucu kita adalah:

  • Kesombongan (Pride, Superbia)
  • Iri hati (Envy, Invidia)
  • Kemarahan (Anger, Ira)
  • Ketamakan (Greed, Avaritia)
  • Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
  • Rakus (Gluttony, Gula)
  • Kemalasan (Sloth, Acedia)

Sebagian orang Kristen memang berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan semua dosa adalah sama. Selain itu, karena darah Kristus tidak ada dosa yang akan membawa kematian kekal bagi mereka yang beriman. Namun, dalam tradisi Kristen yang sudah lama ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia bisa melahirkan banyak dosa-dosa lainnya yang bisa membawa kesengsaraan kepada umat manusia selama hidup di dunia. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala).

Ketujuh dosa tersebut bersifat generatif, melahirkan dosa lain yang lebih besar. Membunuh istri tentu saja dosa yang berat, demikian pula di mata hukum, namun bagaimana dengan keserakahan (greed), satu dari tujuh dosa utama, yang melandasi tindakan membunuh tersebut, keserakahan karena mengingini uang asuransi kematian sang istri? Apakah memang pemerkosaan yang dilakukan seorang pria dewasa tidak berkorelasi dengan nafsu berahi orang itu saat ia masih remaja dan asyik-masyuk dengan gambar-gambar di majalah porno? Apakah kita mampu memahami pembasmian orang-orang Yahudi oleh Nazi tanpa mengaitkannya dengan kesombongan (pride) ras Aria?

Pada pihak yang lain, ada orang yang berpendapat bahwa tidak ada dosa yang bisa membawa kebinasaan kepada orang percaya. Orang yang sudah diselamatkan sudah dibasuh dengan darah Kristus dan karena itu tidak ada dosa yang bisa membatalkan penyelamatan itu. Sudah tentu pandangan ini ada benarnya, yaitu jika orang berdosa sudah menerima hidup baru dari Tuhan dan berubah dari hidup lamanya, ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Tuhan. Pada pihak yang lain, ini bukan berarti bahwa setiap orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap bergelimang dalam dosa, adalah orang yang sudah dipilih Tuhan.

Satu dosa lain yang saya rasa perlu ditanbahkan adalah ketidakpedulian (ignorance, agnoia) yang nampaknya sepele tapi dampaknya sangat serius. Ketidakpedulian, seperti apa yang tertulis di bawah ini, bisa menyebabkan banyak akibat yang serius.

Jika kita kembali ke Yakobus, alasan mengapa kita bersalah atas semua dosa jika kita melakukan suatu dosa adalah karena adanya satu Tuhan yang mahasuci, yang menentang semua bentuk dosa. Oleh karena itu, jika saya berkata kepada Tuhan, “Saya akan melakukan ini terhadap-Mu” – dosa kecil ini, katakanlah, meludahi seseorang; atau “Saya akan melakukan dosa besar ini terhadap-Mu”, dalam kedua kasus ini saya telah menentang Tuhan. Dalam kedua kasus ini, saya tidak mempedulikan kemahasucian Tuhan.

Sebagian orang Kristen mengambil cara yang mudah untuk memisahkan dosa besar yang membawa kematian dari dosa kecil yang tidak membawa kematian. Mereka mendefinisikan dosa yang tidak membawa kematian adalah dosa sebesar apa pun yang dilakukan oleh orang pilihan, sedangkan dosa sekecil apa pun jika dilakukan oleh orang bukan pilihan akan membawa kematian. Ini adalah pandangan yang secara teologis benar, tetapi dalam kenyataan hidup menjadi sebuah tanda tanya. Mengapa orang bisa merasa yakin bahwa Tuhan yang mahasuci sudah memilih mereka dan memberikan Roh-Nya, membiarkan mereka tetap hidup bergelimang dalam dosa? Jawaban yang lebih realistik adalah bahwa orang-orang yang nyata-nyata tidak mempedulikan firman Tuhan adalah bukan orang pilihan.

Pendapat bahwa orang pilihan tidak perlu memikirkan cara hidupnya biasanya disebabkan oleh kekeliruan teologi, terutama kedangkalan Kristologi, seperti apa yang dialami oleh sebagian orang Kristen di Roma yang pernah ditegur oleh rasul Paulus. Mereka yang menganut pandangan ini mengabaikan kenyataan bahwa Kristus menghendaki umat-Nya untuk hidup kudus (1 Petrus 1:14-16). Selain itu, pandangan keliru ini seolah menyatakan bahwa Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang mahakuasa dan mahabijaksana jika Ia membiarkan orang pilihan untuk terus berbuat dosa dan mempermalukan Dia. Keadaan yang sedemikian sudah tentu akan membuat banyak orang tidak mempedulikan panggilan Injill Kristus karena tidak dapat melihat apa yang baik dalam hidup umat Kristen.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6:1-2

Pagi ini, Tuhan ingin kita merasakan bahwa setiap dosa, dari yang terkecil sampai yang terbesar, adalah melawan Tuhan dan bukan hanya melawan hukum manusia. Tidak mempedulikan panggilan dan firman Tuhan adalah dosa. Apa yang tidak terdeteksi oleh hukum manusia, tidak akan bisa luput dari pandangan mata Tuhan. Dan dalam pandangan Tuhan, setiap dosa adalah sangat keji. Jadi kita hanya perlu ingat bahwa ketika Tuhan dinodai di dalam hati kita yang berisi dosa, kita melakukan kejahatan yang tak terbatas terhadap-Nya. Kita harus menyadari bahwa ketika umat manusia menghadapi pengadilan Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa menuduh Tuhan tidak adil karena menerima hukuman Tuhan yang tidak sesuai dengan kejahatannya. Bagaimana dengan cara Anda untuk berdalih tentang dosa kecil dan dosa besar Anda di hadapan pengadilan-Nya?

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” Roma 1:19-22