Apa yang Anda persembahkan?
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Ada ajaran agama yang menyatakan bahwa persembahan untuk Tuhan dan sesama manusia adalah perlu untuk mendapatkan tempat yang baik di surga. Dengan demikian, jika ada sesorang yang meninggal dunia, mereka yang ditinggalkan akan mendoakan agar Tuhan memertimbangkan amal ibadah si almarhum semasa hidupnya, dan memberikan apa yang baik baginya di dunia akhirat. Ini bukanlah apa yang diajarkan dalam agama Kristen.
Agama Kristen mengajarkan bahwa tidak ada apa pun yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan untuk membeli keselamatan kita ataupun memilih tempat yang baik di surga. Keselamatan hanya datang melalui penebusan Yesus, dan apa yang kita terima di surga adalah sepenuhnya menurut kehendak Tuhan. Kalau begitu, apakah ada insentif bagi umat Kristen untuk memberi persembahan dan melalukan amal ibadah? Ada, karena umat Kristen percaya bahwa di bumi maupun di surga, Tuhan akan memberi apa yang sesuai dengan jerih payah mereka dalam melayani Tuhan. Tetapi, umat Kristen umumnya tidak menganggapnya sebagai sesuatu pendorong utama untuk melakukan amal ibadah, karena persembahan umat Kristen adalah pernyataan syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan kepada umat-Nya.
Bagaimana dengan prosedur memberi persembahan dalam agama Kristen? Jika dulu persembahan berupa uang dimasukkan kedalam kantung kolekte atau amplop khusus di gereja, sekarang persembahan dapat dilakukan dengan cara elektronik atau bank transfer. Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar.
Apa prinsip-prinsip utama dalam persembahan umat Kristen?
Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi pemberian yang terbesar.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16
Persembahan kita merupakan pernyataan kasih dan syukur kita secara pribadi kepada Tuhan kita.
“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6: 4
Melalui persembahan kita memuliakan nama Tuhan.
“Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku” Mazmur 50: 23
Persembahan kita dapat menjadi penyaluran kasih Tuhan kepada sesama manusia.
“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” 1 Yohanes 3: 17
Dengan persembahan kita memperkuat iman kita.
“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22
Apa yang keliru:
Tuhan membutuhkan persembahan kita: Ini adalah kesalahan besar. Tuhan adalah pemilik segala sesuatu (Mazmur 50:7-15), termasuk pemilik harta yang ada di tangan kita. Tuhan adalah sumber dan pemberi berkat (Mazmur 127:2; Amsal 10:22; Ulangan 8:17-18; 2 Korintus 4:7).
Persembahan materi, perbuatan baik, dll. hanya menunjukkan manusia yang kuang yakin akan keselamatannya: Ini juga kesalahan yang sering terjadi di beberapa gereja, karena penekanan atas kedaulatan Tuhan yang terlalu ekstrem sehingga ada perasaan bahwa jika orang sudah yakin diselamatkan, tidak perlu lagi berusaha keras untuk melakukan amal ibadah.
Kesombongan: Kalau pemberian kita didasari keinginan untuk dihormati orang, jelas motif kita keliru. Bagaimana kalau pemberian seseorang membuat seisi gereja bangga? Sama saja. Jika bukan nama Tuhan yang dipermuliakan, itulah kesombongan. Persembahan sebaiknya dilakukan secara pribadi dan hasil persembahan jemaat sebaiknya tidak dijadikan simbol kesuksesan gereja. Memberi bukan untuk mendapatkan penghargaan manusia. Pemberian juga tidak boleh dijadikan usaha mempengaruhi gereja.
Ketamakan: Memberi dengan mengharapkan balasan Tuhan yang berupa materi yang berlipat ganda adalah kekeliruan besar. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, karena itu jika kita memberikan sebagian kepada-Nya kita tidak boleh mengharapkan bahwa Ia akan mengembalikan dengan bonus. Begitu juga dengan ajakan agar jemaat memberi yang disertai “janji” bahwa Tuhan akan mengembalikan “hutangNya” dengan “bunga” yang besar. Kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu memberi dan bukan karena menginginkan balasan. Dalam hal ini, Tuhan menghargai persembahan yang sekalipun kecil tapi sesuai dengan kemampuan kita. Bagaimana kalau gereja hanya menghargai jemaat yang mampu dan persembahan yang besar saja? Bacalah Yakobus 2:1-9.
Rasa bersalah: Ada orang yang memberi karena merasa kuatir. Apalagi jika ada nazar yang pernah diucapkan di masa lalu. Walau ini kelihatannya baik, Tuhan mengingini persembahan nazar yang disertai syukur dan kerelaan, bukannya dengan rasa takut atau bersalah. Bagaimana kalau gereja menganjurkan jemaat untuk memberi dengan cara menakut-nakuti mereka? Jelas itu keliru. Bacalah 2 Korintus 9:7.
Persembahan harus berupa uang: Uang adalah salah satu bentuk persembahan. Yang lain bisa berupa barang, tenaga, waktu, pelayanan, perhatian, dll. Memang kita ingin untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita, tetapi kita harus sadar bahwa kasih mempunyai banyak ragam.
Hanya untuk orang seiman: Banyak orang berpikir bahwa Tuhan hanya mengasihi anak-anak-Nya dan karena itu persembahan kita hanya untuk kalangan sendiri. Ini keliru. Yang benar adalah Tuhan mengasihi seisi dunia. Karena itu kita wajib menolong siapa pun yang memerlukan bantuan.
Persembahan yang terbaik:
Seandainya kita diundang ke acara perjamuan pesta makan malam di istana kepresidenan saat presiden berulang tahun, kira-kira hadiah apa yang hendak kita berikan? Tentu saja, kita tidak akan memberikan hadiah yang sembarangan, melainkan kita pasti akan memikirkan dan berusaha memberikan yang terbaik. Jika untuk seorang presiden kita bisa memberikan yang terbaik, bukankah sudah semestinya bila kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan?
Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Dengan kata lain, jika kita benar-benar ingin membawa persembahan untuk Allah, kita harus memakai seluruh hidup kita sebagai persembahan yang membawa kemuliaan bagi Allah dan bukannya untuk kemuliaan diri sendiri.
Persembahan bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap orang percaya. Memberi persembahan bukan berarti bahwa kita memberi sumbangan kepada Tuhan atau gereja. Memberi persembahan juga bukan bertransaksi atau berdagang dengan Allah, sehingga kita harus menghindari sikap seperti pedagang atau penagih hutang, debt collector. Apakah Anda telah bertekad untuk mendedikasikan hidup Anda sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, termasuk mendedikasikan harta dan kemampuan jasmani yang Anda miliki?
Haruskah kita memikirkan dosa-dosa kita?
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Di kalangan Kristen injili dewasa ini, sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita untuk menyatakan bahwa adanya dosa membuat setiap manusia tidak berbeda di hadapan Allah. Semua orang sudah berdosa adalah kehilangan kemuliaan Allah.
Jika ada kebenaran dan ketidakbenaran, kebenaran (kesempurnaan) bagi Allah adalah mutlak. Dengan demikian, secara umum semua dosa adalah sama di hadapan Allah, dalam arti bahwa semua dosa menurut definisinya “tidak benar” dan “tidak sempurna”. Segala sesuatu yang kurang suci adalah tidaklah kudus bagi Allah yang mahakudus. Karena itu, banyak orang yang menolak perlunya penekanan moralitas dalam iman Kristen, sebab tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan karena kesucian hidupnya.
Kita dapat membayangkan upaya manusia untuk mencapai kebenaran sebagai sekelompok orang yang mencoba melompati jurang. Beberapa mulai berlari; beberapa mencoba lompat galah; yang lain mencoba untuk terbang dengan mengepakkan tangan mereka untuk menyeberang – tetapi tidak ada yang bisa mencapai sisi lain. Tidaklah ada bedanya jika mereka jatuh pada jarak dua centimeter, dua meter, atau dua kilometer dari sisi lain, mereka semua jatuh ke jurang. Serupa dengan itu, semua dosa adalah sama bagi Tuhan. Tidak ada bedanya berapa besar dosa kita, kita semua akan jatuh ke dalam kematian kekal jika tidak ditebus oleh darah Kristus.
Sekarang, setelah kita menetapkan bahwa secara umum semua dosa pada dasarnya sama di hadapan Tuhan, kita perlu menambahkan beberapa detil yang membuat dosa berbeda. Bukan dari segi hukum dunia atau etika sosial, tapi menurut pandangan Alkitab.
Kita tahu bahwa nafsu dan perzinahan adalah dosa (Matius 5: 28), ini bukan berarti keduanya sama dalam segala hal. Memiliki nafsu seksual di dalam hati akan mempunyai konsekuensi di dunia ini, tetapi konsekuensi itu tidak akan separah melakukan perbuatan zina secara fisik. Melakukan satu perzinahan tidaklah sama dengan berkali-kali berzinah. Hal yang sama berlaku untuk menyimpan dendam jika dibandingkan melakukan pembunuhan. Mengingini sesuatu memiliki efek yang lebih rendah daripada mencuri. Dosa adalah dosa, tetapi tidak semua dosa menanggung hukuman atau menyebabkan akibat yang sama dialam kehidupan orang Kristen selama di dunia. Dalam pengertian ini, beberapa dosa lebih buruk daripada yang lain karena bertalian dengan apa yang kemudian terjadi sebagai buahnya.
Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen merasa segan untuk mengutik-utik masalah dosa, apalagi dosa lama, dalam hidupnya. Mereka lebih senang untuk tidak memikirkannya. Mungkin mereka pernah merasa tersinggung dengan kecenderungan generasi sebelumnya untuk mengidentifikasi satu atau dua dosa sebagai dosa yang sangat berat. Karena itu, sebagian gereja ingin mencari cara yang lunak untuk menarik anggota baru yang mungkin alergi terhadap gagasan dosa. Dengan demikian, banyak pendeta yang hanya menekankan kutukan universal Alkitab atas keberdosaan manusia. “Semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Namun mereka tidak menyerukan perlunya pertobatan seperti apa yang dikumandangkan para penginjil dari abad yang lalu.
Semua dosa sama di hadapan Allah dan setiap dosa akan menjauhkan seseorang dari surga. Alkitab menyebutkan bahwa mereka yang hidup dalam kekudusan akan masuk ke surga. “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.” (Wahyu 22:15). Pada saat penghakiman terakhir, tampaknya ada tingkat hukuman di antara para “anjing”, yaitu orang yang tidak diselamatkan: “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”” (Lukas 12:48). Jadi tidak semua dosa manusia memiliki bobot hukuman yang sama di neraka.
Kita tentu ingat bahwa Yesus pernah menjungkir balikkan begitu banyak meja di pelataran bait suci. Dia juga membalikkan pandangan kita bahwa semua dosa adalah sederajat. Meskipun Yesus memperingatkan kita untuk tidak membuat kesimpulan yang tergesa-gesa dan sederhana tentang siapa “orang-orang berdosa yang lebih buruk” (Lukas 13:1–5), dia juga memperingatkan kita bahwa beberapa orang berdosa, jika mereka tidak bertobat, akan menghadapi “hukuman yang lebih besar” ( Lukas 20:47). Dia mengajarkan bahwa sebagian orang akan menerima “pukulan ringan” pada hari terakhir sementara yang lain akan menerima “pukulan hebat” (Lukas 12:47–48). Dia berbicara tentang penghakiman terakhir yang “lebih dapat ditoleransi” untuk beberapa kelompok daripada yang lain, meskipun keduanya menuju ke neraka. Singkatnya, dia memberi tahu kita bahwa tidak semua dosa itu sama, dan neraka akan lebih buruk bagi sebagian orang.
Mungkin Anda berpendapat bahwa semua perbedaan derajat dosa hanya relevan untuk orang yang tidak dipilih Allah untuk ke surga. Itu benar. Dan untuk orang percaya, ada satu segi lain di mana semua dosa sama di mata Allah: semua dosa, tidak peduli seberapa besar atau kecilnya, dapat diampuni di dalam Kristus. Kitab Suci mengatakan bahwa “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20). Tidak ada satu dosa pun yang bisa mengalahkan anugerah Tuhan. Kita semua sama-sama berdosa di hadapan Allah. Tetapi, di dalam Kristus, kita dijadikan benar. Kita “oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus ” (Roma 3:24–25). Dengan iman kepada Kristus, kita dilahirkan kembali dan karena itu menang atas dosa: “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1 Yohanes 5:4). Masalahnya, siapakah orang yang sudah lahir dari Allah? Mereka yang benar-benar sudah lahir baru, pasti tidak akan tetap hidup dalam dosa yang lama, apa pun bentuknya.
Alkitab menyatakan dosa seksual sebagai apa yang memiliki konsekuensi yang lebih buruk daripada jenis dosa lainnya: “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” (1 Korintus 6:18). Dalam hal ini, perbuatan maksiat dianggap terpisah dari dosa lain seperti ketidakjujuran, kesombongan, iri hati, dll. Semua dosa akan berdampak negatif pada pikiran dan jiwa seseorang, tetapi maksiat seksual akan segera dan langsung memengaruhi cara hidup seseorang. Jika tubuh umat percaya adalah rumah Roh Kudus, kehancuran yang ditimbulkan oleh percabulan akan berdampak secara nyata. Peringatan Tuhan terhadap dosa seksual dipeluas dalam peringatan ini: “Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri.” (Amsal 6: 32). Tidak mengherankan, perzinahan bisa mengakibatkan timbulnya banyak dosa lain, seperti yang terjadi pada raja Daud yang menyebabkan kematian suami Batsyeba. Kehancuran seperti ini bisa terjadi pada hidup setiap orang Kristen.
Haruskah kita bersikeras bahwa beberapa orang yang kita kenal telah berbuat dosa lebih buruk dan jatuh lebih dalam? Dalam kenyataannya, semua orang memiliki tendensi untuk berpikir bahwa orang-orang tertentu “tidak pantas” untuk ke gereja mereka. Ini ada benarnya, dan karena itu banyak gereja mempunyai peraturan ekskomunikasi dan peringatan untuk jemaat yang hidup dalam dosa. Tetapi orang-orang yang bagaimana? Dan siapa yang ada dalam pikiran Yesus ketika dia memperingatkan tentang tingkat terendah di neraka? Mungkin kita berpikir tentang orang-orang yang kejam di abad-abad pertama atau pemimpin negara seperti Hitler dan Stalin. Tetapi, kita akan heran jika menyadari bahwa Yesus menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang religius yang terhormat. Pada zaman sekarang, orang-orang sedemikian mungkin menyukai kita dan kita berteman dengan mereka.
Di suatu tempat di tengah-tengah pelayanan-Nya, Yesus melihat kembali ke kota-kota Galilea “di mana sebagian besar pekerjaan hebat-Nya telah dilakukan” (Matius 11:20) – dan mulai mencela mereka. Mengapa begitu? Sejauh yang kita tahu, Khorazin, Betsaida, dan Kapernaum tidak terkenal karena kejahatannya. Ini adalah kota-kota kecil di Galilea, bertetangga dengan Nazaret. Kapernaum bahkan adalah “kota sendiri” Yesus selama pelayanannya (Matius 4:13; 9:1). Penduduk tempat-tempat ini kemungkinan besar adalah orang-orang Yahudi yang menghadiri sinagoga, menghafal Taurat, dan memelihara Sabat. Bagaimana mungkin mereka mengalahkan Sodom dalam hal dosa?
Para pendengar Yesus di Galilea memiliki rasa bersalah yang lebih besar bukan karena dosa-dosa mereka yang dianggap sangat keji. Orang-orang berdosa yang paling buruk di dunia ini, bukanlah mereka yang hidup dalam pesta pora, tetapi mereka yang terus berbuat dosa ketika mereka memiliki alasan dan kesempatan untuk bertobat. Tirus, Sidon, dan Sodom, dengan segala kejahatan mereka, hidup dan mati dalam kegelapan Injil. Chorazin, Bethsaida, dan Kapernaum melihat cahaya Injil yang menyala-nyala, tetapi mereka diam-diam menutupi dosa mereka. Para pendosa terburuk di dunia ini adalah mereka yang terus berbuat dosa ketika mereka memiliki alasan dan kesempatan untuk bertobat.
Tidak akan ada masalah pada hari terakhir jika kita telah hidup dekat Yesus sepanjang hidup kita. Warga Galilea dapat mengklaim hal yang sama: ” Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami”. Tetapi Yesus akan berkata kepada mereka: “Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Lukas 13:26–27). Pertobatan, bukan kedekatan, akan menjadi tanda para pengikut Yesus pada hari penghakiman.
Di sini Yesus tidak berbicara tentang orang-orang yang benar-benar percaya, benar-benar bertobat, namun iman mereka kecil, kekuatan mereka lemah, dan kebutuhan mereka akan belas kasihan sangat besar. Ia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai seperti itu, ataupun memadamkan sumbu yang padam seperti itu (Matius 12:18-21). Dia berbicara tentang orang yang mengaku Kristen yang, meskipun akrab dengan Kristus dan mengenal Injil-Nya, belum mengikuti Yesus dengan sepenuh hati, belum membenci kejahatan mereka, belum meninggalkan dosa-dosa mereka yang tersembunyi.
Pagi ini, kita harus merenungkan sebuah pertanyaan penting. Apakah ada kemungkinan bahwa kita yang mendengar Injil Kristus, dan menyaksikan karya agung-Nya dalam kehidupan baru orang-orang di sekitar kita, dan mengucapkan pengakuan iman, dan dibasuh dalam air pembaptisan, dan mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan, dan menghadiri gereja sepanjang hidup kita – tetapi tidak benar-benar bertobat?
Iman yang suam-suam kuku, tanggapan setengah-setengah terhadap perintah Yesus akan memperburuk, bukan meredakan, murka Allah pada hari terakhir. Yesus sudah berkata bahwa lebih baik kita tersesat dalam api Sodom daripada mendengar, dan menyaksikan, dan mengulangi, dan mengambil bagian dalam hal-hal yang terlihat Kristen sepanjang hidup kita, namun tanpa pertobatan.
Mungkin beberapa dari kita membutuhkan dorongan untuk akhirnya bertobat dengan tulus, sementara yang lain membutuhkan bantuan untuk terus bertobat setiap hari. Jika demikian, kita hanya perlu terus percaya akan kasih Yesus. Kemarahan Yesus terhadap Khorazin, Betsaida, dan Kapernaum segera digantikan oleh salah satu undangan terhangat yang pernah Ia ucapkan.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Matius 11:28–30
Datanglah padaku. Tidak peduli berapa tahun seseorang hanya mencoba-coba Injil, tidak peduli berapa banyak kesempatan untuk bertobat yang telah mereka injak-injak, tidak peduli berapa banyak khotbah dan nasihat yang mereka hina, Yesus berkata, “Datanglah kepadaku.” Dia mengundang mereka yang terang-terangan membencinya sepanjang hidup mereka, dan Dia juga mengundang mereka yang secara diam-diam menolaknya. Yesus lemah lembut dan penuh kasih. Dia tidak senang dengan kematian orang fasik (Yehezkiel 33:11). Sebaliknya, Dia senang ketika orang jahat, setelah bertahun-tahun menolak dia, akhirnya datang, siap untuk bertobat dan menemukan peristirahatan mereka di dalam Dia.
Tidak semua dosa, dan tidak semua pendosa, adalah sama. Tetapi semua pendosa seperti kita memiliki obat yang sama: Juruselamat kita sudah datang, mati, dan bangkit sehingga tidak seorang pun yang mengakui dosa mereka dan bertobat akhirnya harus pergi ke neraka.
Aku akan memberi kelegaan kepadamu
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28

Obat penenang secara umum digunakan untuk mengurangi gangguan kecemasan atau stres yang berlebihan. Jika seseorang mengalami susah tidur yang disebabkan oleh depresi atau gangguan kecemasan, dokter mungkin akan meresepkan obat antidepresan yang memiliki efek penenang. Meski demikian, obat jenis ini tidak semata-mata langsung dapat digunakan untuk mengobati gangguan tidur, seperti insomnia atau susah tidur. Beberapa obat penenang dalam dosis rendah dimanfaatkan sebagai perangsang kantuk (hipnotik sedatif) yang dapat membuat seseorang tertidur. Namun, tidak berarti semua jenis obat penenang dapat dimanfaatkan sebagai obat tidur.
Setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu, obat penenang dapat menyebabkan ketergantungan obat. Upaya menghentikan penggunaan obat penenang pada kondisi tersebut dapat menyebabkan susah tidur, gelisah, kejang, dan perubahan suasana hati atau mood. Selain itu, ketergantungan secara psikologis dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya tanpa obat penenang yang dikonsumsi. Banyak pecandu obat semacam ini adalah orang-orang yang terkenal, yang pada mulanya mungkin ingin mengurangi kelelahan hidup yang dideritanya. Tetapi, karena sering dipakai, lambat laun dosis obat ini makin meningkat karena tubuh menjadi kebal, dan tanpa disadari mereka menjadi pecandu obat keras.
Di dunia ini, kelelahan memang bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi, karena situasi dunia yang tidak menentu, banyak orang yang merasa sangat lelah (fatigue) secara jasmani maupun rohani. Sebagai manusia, naluri manusia mungkin mengingatkan bahwa saat ini nasib mereka ada di tangan sendiri. Mereka mau berusaha untuk mengatasi persoalan yang ada. Dalam keadaan terdesak, pikiran sehat diganti dengan segala usaha (legal atau tidak, terbukti efektif atau tidak) untuk mempertahankan eksistensi. Mereka mungkin siap dan bersedia untuk ikut mencoba obat-obatan yang ada.
Dalam suasana chaos, manusia mudah lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas kehidupan seluruh umat manusia di dunia.Dengan demikian, manusia mudah kehilangan tujuan hidup dan harapan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Bagi sebagian orang, jalan yang termudah untuk mengatasi segala penderitaan ini adalah meminum obat-obatan yang bisa, untuk sementara, menghilangkan rasa sakit dan memberi ketenangan. Bagi orang beriman, mungkin doa permohonan kepada Tuhan masih bisa membawa sebuah harapan. Tetapi doa yang bagaimana?
Dalam keadaan yang sangat menekan, adalah mudah bagi orang untuk berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua hal yang buruk dari hadapannya. Walaupun demikian, doa semacam itu bukanlah doa yang benar karena penderitaan manusia sebenarnya adalah bagian dari bumi yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia mana pun tidak bisa menghindari datangnya kesulitan, penyakit ataupun malapetaka, jika itu harus terjadi dalam hidupnya. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan Yesus adalah Tuhan yang selalu ada beserta kita dan tahu apa yang terjadi dalam hidup kita. Sekalipun begitu banyak persoalan yang terjadi di dunia, Ia mau mendengarkan doa kita dan memberi kita ketabahan dan kekuatan.
Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anda mengalami penderitaan yang besar dalam hidup. Mungkin itu penderitaan jasmani yang tidak disadari orang yang terdekat, atau penderitaan rohani yang sudah berlangsung lama. Kemana anda harus lari? Adakah obat yang bisa membawa ketenangan dan kedamaian? Anda sudah mencoba berbagai cara, tetapi penderitaan dan kekuatiran yang ada tidak juga berkurang. Anda sudah berdoa memohon kelepasan, tetapi semua itu tetap anda derita.
Ayat diatas mengandung satu-satunya harapan bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Yesus yang penuh kasih akan memberi kekuatan kepada mereka yang lelah, dan menambah semangat kepada mereka yang tiada berdaya. Sekalipun beban kita sangat besar, Tuhan Yesus adalah mahakasih dan sanggup memberi kita ketabahan dan kesabaran.
Rasul Paulus adalah salah satu rasul yang pernah mengalami pergumulan hidup yang berat di masa tuanya. Kita tidak tahu pasti apa yang dideritanya, tetapi itu adalah suatu masalah yang sering membuat dia merasa sangat lemah. Walaupun demikian, Paulus justru merasakan bahwa Tuhan itu dekat ketika ia mengalami kesengsaraan. Ia tetap berdoa, tetap berharap, tetapi ia juga mau menerima apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Seperti rasul Paulus, kita pun bisa merasakan kekuatan yang datang dari Tuhan jika kita bertekun dan berserah di dalam Dia.
Aku memohon kepada Tuhan tiga kali untuk mengambil masalah itu dari aku. Tetapi Tuhan berkata kepadaku, “Anugerah-Ku cukup bagimu. Apabila engkau lemah, kuasa-Ku menjadi sempurna di dalam engkau.” Jadi, aku sangat senang atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus hidup di dalam aku. Aku senang di dalam kelemahan, di dalam hinaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan, dan di dalam kesengsaraan karena Kristus. Dan aku senang dengan hal itu sebab apabila aku lemah, aku sungguh-sungguh kuat. 2 Korerintus 12: 8-10
Apakah Tuhan penyebab dosa kita?
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1: 13-15

Dari manakah datangnya dosa manusia? Apakah Adam dan Hawa dibuat jatuh oleh Tuhan? Pengakuan Westminster Bab 3 Poin 1 menyatakan:
“Allah, dari kekal, telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi, melalui rencana kehendak-Nya sendiri yang berhikmat sempurna dan mahakudus, dengan bebas dan tidak dapat diubah-ubah. Namun, dengan demikian Allah tidak menjadi Penyebab dosa, kehendak makhluk tidak diperkosa, dan kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder tidak dihapuskan, malah diteguhkan.“
Dosa terjadi karena manusia mempunyai kemampuan dan kebebasan untuk memilih. Dosa terjadi bukan karena Tuhan yang membuat manusia jatuh. Hal ini karena Tuhan tidak mau melanggar kebebasan makhluk-Nya yang merupakan agen bebas. Tuhan tidak mau memanipulasi hati atau kehendak manusia. Manusia mempunyai tanggung jawab moral atas pilihan dan kehendaknya. Keputusan dan tindakan agen bebas tersebut bergantung pada penyebab sekunder, yang terkadang terlihat kebetulan, yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.
Kehendak manusia tergantung pada penyebab sekunder yang ada di sekelilingnya, yang menentukan untuk menjadi apa yang paling menarik dan menentukan pada saat manusia mengambil keputusan. Tuhan tidak melanggar kehendak bebas manusia. Jadi, ketika seorang manusia bertindak sebagai agen bebas yang secara rasional berbuat dosa, dia bertanggung jawab penuh atas dosanya. Pengakuan Westminster ungkapkan gagasan ini dengan indah: “Allah tidak menjadi Penyebab dosa, kehendak makhluk tidak diperkosa, dan kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder tidak dihapuskan, malah diteguhkan”.
Tuhan menetapkan segala sesuatu melalui rencana dan kehendak-Nya. Itu adalah sebuah kebenaran. Namun, pengakuan Westminster berhati-hati untuk memagari doktrin ini dari segala jenis fatalisme. Kita harus yakin bahwa Allah itu kudus dan suci pada saat memungkinkan adanya dosa. Dia yang mahasuci tidak bisa menciptakan dosa, berbuat dosa, juga tidak membujuk siapa pun untuk berbuat dosa (Yakobus 1:13). Tetapi Allah menggunakan orang-orang berdosa sebagai alat di tangan-Nya yang berdaulat untuk mencapai tujuan-Nya yang baik dan benar (Yesaya 10:5-7, 15).
Seperti yang tertulis di atas, penetapan mutlak Tuhan tidak berarti bahwa “kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder dihapuskan, tetapi justru diteguhkan.” Apakah penyebab sekunder itu? Penyebab sekunder adalah ‘sarana’ atau kejadian-kejadian lain di dunia untuk mencapai suatu tujuan. Allah telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi. Tapi secara umum, apalagi di alam fisik, Dia tidak langsung mewujudkan apa yang ditetapkan-Nya secara langsung melalui intervensi.
Pengakuan Westminster juga mengajarkan bahwa meskipun ketetapan Tuhan adalah penyebab primer atau utama mengapa segala sesuatu terjadi, masih ada penyebab sekunder atau kedua yang Tuhan gunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-Nya. Allah memutuskan bahwa Putra-Nya akan mati, namun Ia melakukannya melalui tangan orang-orang jahat. Bahkan dalam beberapa hal seperti hasil lemparan dadu yang benar-benar acak atau prediksi super komputer yang bergantung pada kemampuan manusia, Tuhan masih mengontrol hasilnya (Amsal 16:33).
Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak mau melakukan intervensi? Sesungguhnya mujizat adalah peristiwa atau perbuatan yang ditimbulkan langsung oleh kuasa Tuhan, yang bertentangan dengan hukum alam dan di luar pengaruh penyebab sekunder. Ini masih bisa terjadi sampai sekarang. Tetapi keajaiban yang asli jarang terjadi, karena Tuhan secara umum memilih untuk mewujudkan apa yang Dia kehendaki melalui sarana atau penyebab sekunder. Allah melakukan intervensi di alam spiritual dalam tindakan seperti kelahiran baru; tetapi secara fisik dan alami itu jarang dilakukan kecuali selama periode ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya melalui mukjizat, seperti selama pelayanan Tuhan Yesus di bumi. Meskipun adanya penyebab sekunder juga telah ditetapkan Tuhan, kita harus melihat itu telah ditetapkan menurut kodratnya.
Pengakuan Westminster mengajarkan bahwa ketetapan Tuhan tidak meniadakan realitas kehendak manusia. Tuhan telah menentukan peristiwa sebelum terjadi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan mereka (Lukas 22:22). Pilihan manusia mengalir dari hati mereka sendiri (Amsal 4:23; Markus 7:21). Tetapi Alkitab juga menyatakan bahwa kehendak Tuhan bisa mengatasi hati manusia sehingga pilihan mereka, baik apa yang baik maupun apa yang jahat, bisa dipakai-Nya untuk memenuhi tujuan-Nya. “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.” (Amsal 21: 1). “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21).
Rencana Allah selalu konsisten dengan hikmat dan kekudusan-Nya yang tak terbatas. Ini adalah seperti yang dikatakan dalam Alkitab “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Maka Yusuf menjelaskan kepada saudara-saudaranya: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20).
Hari ini, kesadaran kita bahwa ketetapan Allah adalah kekal tidak boleh mendorong kita untuk malas dan ceroboh dalam menggunakan sarana yang tepat untuk berbuat baik. Penetapan mutlak Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi tidak melanggar kebebasan dan tanggung jawab makhluk-Nya. Karena itu Yakobus berkata, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Begitu pula Yudas dikutuk meskipun telah ditetapkan bahwa Kristus akan diserahkan olehnya: “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”” (Matius 26:24). Petrus, dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, dengan cara yang sama menuduh orang-orang Yahudi atas kejahatan mereka dalam membunuh Tuhan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” (Kisah 2 :23). Setiap orang percaya harus mau bertanggung jawab atas cara hidupnya.
Adanya kemalangan menunjukkan kedaulatan dan kasih Tuhan
“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45:7

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana.
Kemarin dulu, ada berita buruk yang muncul di media Australia. Sebuah bis sewaan yang mengangkut 35 penumpang yang baru menghadiri sebuah pesta pernikahan di daerah Hunter Valley, terguling di sebuah bundaran di persimpangan. Diperkirakan ada 10 penumpang yang tewas seketika, dan banyak lagi yang cedera. Mengapa ini bisa terjadi masih belum dapat dipastikan, tetapi ada dugaan bahwa supir bis itu ingin mempertunjukkan kemahirannya dalam menyetir bis pada kecepatan tinggi. Sekarang supir bis itu berada dalam tahanan polisi.
Kegembiraan mereka yang merayakan pesta pernikahan, secara tiba-tiba menjadi kesedihan yang besar. Bagi teman dan sanak dari mereka yang mengalami kecelakaan, tentunya ada pertanyaan mengapa ini harus terjadi. Untuk banyak orang lain, Kristen maupun bukan, memang sering muncul pertanyaan apakah Tuhan selalu dibalik semua bencana di dunia ini. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena Alkitab banyak menceritakan saat- saat dimana Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman kepada orang atau bangsa tertentu.
Mengapa bencana harus terjadi? Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan semua orang, terutama mereka yang mengalaminya. Namun ada beberapa pokok pemikiran yang bisa kita pelajari dari Alkitab.
- Tuhan adalah Sang Pencipta dan maha kasih. Sebagai Tuhan yang mencipta dan menghargai ciptaan-Nya, Ia tidak mungkin menjadi Tuhan yang senang merusak ciptaan-Nya sendiri. Lebih dari itu, Tuhan justru ingin agar umat-Nya hidup bahagia.
- Tuhan mahakuasa dan mahasuci, dan Ia ingin agar mereka yang dipilih-Nya untuk hidup sesuai dengan perintah-Nya. Karena itu, kadang-kadang Ia memberikan hajaran agar mereka bertobat.
- Manusia sudah jatuh dalam dosa dan dunia bukanlah Firdaus lagi. Sesuatu yang buruk terjadi karena yang baik sudah hilang. Dunia ini menjadi kacau dan iblis selalu berusaha menghancurkan manusia.
Dalam keadaan khusus, bencana bisa terjadi sebagai hukuman Tuhan. Ini terjadi karena kesalahan manusia sendiri, terutama jika pempimpin atau bangsa melakukan hal-hal yang jahat. - Tuhan tidak membuat manusia berbuat jahat atau berbuat dosa. Manusia berbuat jahat adalah karena kehendaknya sendiri, dan bahkan semua manusia adalah berdosa sejak lahirnya. Manusia harus bertanggung jawab atas moralnya. Jika supir bis mengambil keputusan untuk mengebut, itu bukan karena Tuhan yang membuatnya.
- Bencana bisa terjadi kepada siapapun juga. Jika seorang mengalami bencana, itu belum tentu sehubungan dengan dosanya. Belum tentu itu menunjukkan bahwa dosanya lebih besar dari dosa orang lain.
Lalu, mengapa Allah yang baik dan pengasih membiarkan tragedi seperti itu terjadi? Ini adalah pertanyaan yang juga sulit untuk dijawab.
- Pertama, kita harus ingat, “Karena sama seperti langit lebih tinggi dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:9). Mustahil bagi manusia yang terbatas untuk memahami jalan Allah yang tidak terbatas (Roma 11:33-35).
- Kedua, kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak bertanggung jawab atas tindakan jahat orang jahat. Alkitab memberitahu kita bahwa manusia dalam kebebasannya sangat jahat dan berdosa (Roma 3:10-18, 23).
- Ketiga, Allah mengizinkan manusia melakukan dosa karena alasan-Nya sendiri dan untuk memenuhi tujuan-Nya sendiri. Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita mengerti mengapa Tuhan melakukan sesuatu, hanya untuk mengetahui kemudian bahwa itu untuk tujuan yang berbeda dari yang kita pikirkan semula.
Satu hal yang juga harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.
Kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.
Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepada-Nya.
Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita.
Pagi ini, sebagai umat percaya kita diingatkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan agar bencana tidak terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara. Kita juga harus berdoa agar semua orang yang ada dalam hidup kita berjalan di jalan yang benar, untuk tidak menghujat nama Tuhan atau meninggikan diri sendiri. Lebih dari itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita di masa mendatang.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28
Menjalankan tugas yang diberikan Tuhan
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” 2 Timotius 4:7

Adakah tugas yang diberikan Tuhan kepada Anda? Anda mungkin menjawab bahwa sebagai anggota biasa dari sebuah gereja, tidak ada tugas khusus yang anda miliki. Anda bukan pendeta, anggota majelis atau pengurus gereja, dengan demikian mungkin Anda berpikir bahwa sekali seminggu ke gereja dan berdoa secara teratur setiap hari adalah tugas Anda.
Setiap umat Kristen sudah diubah dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran, hamba Tuhan. Tugas seorang hamba adalah melaksanakan tugas yang diberikan untuk keperluan sang majikan, bukan untuk kepentingan sang hamba. Dengan demikian, setiap orang Kristen tentunya harus melakukan sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Tidaklah cukup bagi orang Kristen untuk menjadi hamba yang pasif, yang hanya menikmati segala berkat Tuhan, tetapi tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas dari Tuhan.
Sebagian orang Kristen merasa bahwa karena ia sudah menerima keselamatan, tidaklah perlu baginya untuk berbuat sesuatu untuk keselamatannya. Itu benar. Tetapi, itu bukan berarti bahwa kita tidak mempunyai tugas-tugas tertentu, yang secara spesifik diberikan kepada tiap orang Kristen. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang merasa bersyukur kepada Tuhan yang menebusnya, dan mau menjadi hamba Kristus yang setia. Ia harus mencari tugas apa yang diberikan Tuhan kepadanya, dan tidak hanya berdiam diri menikmati hidupnya. Ia harus berdoa, berpikir dan berusaha dengan giat untuk mencari kehendak Tuhan dan setelah mengetahui tugasnya, ia akan berjuang untuk melaksanakannya untuk kemuliaan Tuhan.
Mereka yang merasa tidak mempunyai tugas mungkin belum sepenuhnya menjadi hamba Kristus atau belum mengenal Dia. Mereka yang menolak adanya tugas dari Tuhan, dapat dipastikan bukanlah orang Kristen, karena hanya Iblis dan pengikutnya yang secara terang-terangan tidak mau tunduk kepada Tuhan. Setiap orang Kristen yang sejati harus pernah bertanya kepada Tuhan: apakah tugas yang Engkau berikan kepadaku? Apakah perbuatan baik yang harus aku lakukan?
Jika orang Kristen sering bingung tentang apa yang harus dilakukannya sebagai hamba yang setia, Alkitab menyatakan adanya banyak perntah Tuhan yang perlu kita taati. Walaupun demikian, salah satu tugas yang harus kita lakukan dalam hidup kita adalah apa yang disebut sebagai “Amanat Agung” atau “The Great Comission“.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-29
Menurut ajaran gereja-gereja injili, perbuatan baik adalah konsekuensi dari keselamatan dan bukan pembenarannya. Mereka adalah tanda iman yang tulus dan bersyukur. Itu termasuk tindakan untuk melaksanakan Amanat Agung, pelayanan di gereja dan perbuatan amal. Jika kita mau melakukan tugas-tugas ini, itu menunjukkan bahwa iman kita bukanlah apa yang mati.
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17
Setiap orang Kristen seharusnya mau untuk melaksanakan tugas-tugasnya sampai Tuhan memanggilnya. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik” adalah anak kalimat kedua dari tiga ayat (6, 7, dan 8) yang ditulis oleh rasul Paulus kepada Timotius. Sang rasul menulis kata-kata ini menjelang akhir hidupnya. Ketiga pernyataan ini mencerminkan pergumulan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus dan kemenangannya atas pergumulan tersebut. Paulus mendapatkan tugas dari Tuhan untuk menjadi rasul dan mengajarkan Injil ke berbagai tempat. Kita juga mendapat perintah untuk mengajarkan Injil, sekalipun bukan sebagai rasul. Paulus berjuang mati-matian untuk melaksanakan tugasnya, dan kita pun harus demikian, di mana pun kita hidup dan bekerja. Paulus berjuang sampai saat ia dipanggil Tuhan, dan begitu juga kita harus menjadi hamba yang setia sampai mati.
Pada abad ke-1, orang Romawi merayakan Olimpiade dan Pertandingan Isthmian. Pesaing akan menghabiskan hingga sepuluh bulan dalam latihan fisik yang berat. Karena orang-orang Korintus sangat akrab dengan peristiwa-peristiwa ini, Paulus menggunakan pertandingan itu sebagai analogi dari kehidupan orang percaya yang setia. Dia menulis kepada jemaat di Korintus dengan mengatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (1 Korintus 9:24-25). Nasihat Paulus adalah bahwa orang percaya harus berfokus dan berdedikasi seperti para pelari kuno dalam pertandingan. Motivasi kita dalam melayani Kristus jauh lebih tinggi; kita “bertanding” bukan untuk mahkota sementara, tetapi untuk mahkota yang kekal.
Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus tidak memuji dirinya sendiri karena telah “berlari sejauh mungkin”; sebaliknya, dia hanya menggambarkan apa yang telah dimampukan oleh kasih karunia Allah untuk dia lakukan. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Paulus mengatakan kata-kata yang penuh kuasa ini: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” (Kisah Para Rasul 20:24).
Jadi, dengan menyatakan “Aku telah mencapai garis akhir”, Paulus memberi tahu Timotius bahwa dia telah mengerahkan segala upaya untuk memberitakan Injil keselamatan ke seluruh dunia. Dia telah menyelesaikan tujuan yang ditetapkan sebelumnya; dengan sepenuhnya, tanpa mengabaikan satu tugas pun. Dia siap melintasi garis finis menuju surga.
Komitmen Kristiani seperti perlombaan maraton, lari jarak jauh. Ada wajah-wajah segar dan bersemangat pada saat balapan dimulai, tetapi di sepanjang rute yang melelahkan sepanjang 42 km, satu demi satu pesrtanya keluar sebelum finis. Jika Anda tidak serius menghadapi panggilan Tuhan untuk Anda, itu adalah dosa dan tragedi yang menyedihkan. Kitab Suci mengatakan bahwa waktunya singkat. Tuhan telah memberi kita pintu terbuka, dan Dia telah memberi kita alat dan teknologi untuk menyentuh seluruh dunia jika Anda dan saya bersungguh-sungguh.
Mungkin sebagian di antara kita mengeluh bahwa sebagai orang yang sederhana ia tidak mampu untuk mengabarkan injil seperti seorang yang terlatih untuk itu, tidak bisa melakukan pelayanan di gereja karena usia dan lain hal, dan tidak mampu melakukan perbuatan amal karena ia justru membutuhkan bantuan orang lain. Tetapi Alkitab tidak membatasi perbuatan baik dalam tiga hal saja. Perbuatan baik yang memuliakan Allah dan yang dapat membawa orang lain ke dalam iman adalah apa saja yang kita lakukan dengan tanggung jawab sepenuhnya dalam hidup kita.
“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. 1 Korintus 10: 31-33
Dalam pertandingan, hanya satu pelari yang menang. Namun, dalam “pertandingan” Kristen, setiap orang yang membayar harga pelatihan yang waspada demi Kristus dapat menang. Kita tidak bersaing satu sama lain, seperti dalam permainan atletik, tetapi melawan pergumulan, fisik dan rohani, yang menghalangi kita untuk mencapai hadiah (Filipi 3:14).
Pagi ini kita diingatkan bahwa setiap orang percaya menjalankan pertandingannya sendiri (1 Korintus 9:24). Setiap orang Kristen dimampukan untuk menjadi pemenang. Paulus menasihati kita untuk “berlari sedemikian rupa untuk memperoleh hadiah,” dan untuk melakukan ini kita harus mengesampingkan apa pun yang dapat menghalangi kita untuk menjalankan dan mengajarkan Injil Kristus. Penulis Ibrani menggemakan kata-kata Paulus: “Kesampingkan setiap beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, memandang kepada Yesus, penulis dan penyelesaian iman kita. ” (Ibrani 12:1-2). Semoga kita rajin dalam “pertandingan” kita, semoga kita tetap berfokus pada tujuan yang benar, dan semoga kita, seperti Paulus, menyelesaikannya dengan kuat.
Apa arti kaum yang lebih lemah?
Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang. 1 Petrus 3:7

Ayat di atas adalah salah satu ayat Alkitab yang sering menimbulkan kontroversi di kalangan orang Kristen. Ayat itu menyebutkan bahwa kaum wanita adalah kaum yang lebih lemah dari kaum pria. Dalam Alkitab berbahasa Inggris, kaum wanita disebutkan sebagai “bejana” yang lebih lemah, yang lebih mudah pecah.
Sampai saat ini banyak wanita anggota gereja yang merasa bahwa ayat ini agaknya berbunyi janggal, untuk tidak dikatakan merendahkan derajat kaum wanita secara keseluruhan. Memang di zaman sekarang, tidak ada yang menghalangi kaum wanita untuk memilih pekerjaan apa pun, dan dalam banyak hal lebih bisa diandalkan jika dibandingkan dengan kaum pria. Bahkan di negara maju, kaum wanita bisa menjadi CEO, Presiden, menteri ataupun jendral. Dalam bidang olahraga, mereka bisa bertanding dalam bidang apa pun, termasuk tinju, gulat, angkat besi dan sepakbola.
Seringkali, kaum wanita Kristen yang merasa tersinggung dengan bunyi tulisan rasul Petrus, dihibur dengan alasan bahwa pada zaman Alkitab PB ditulis, kebudayaan saat itu masih didominasi oleh kaum pria. Emansipasi kaum wanita belum terjadi, jadi rasul Petrus agaknya menulis berdasarkan keadaan dunia pada saat itu yang belum menyadari bahwa wanita bukanlah makhluk lemah. Mungkin pada zaman itu wanita memang pantas dianggap kaum lemah, dan karena itu harus tunduk kepada kaum pria. Sekalipun ini kelihatannya masuk akal, ini bukanlah penjelasan yang benar.
Sebenarnya, konteks 1 Petrus 3:7 adalah petunjuk Rasul Petrus tentang hidup sebagai orang percaya, dalam hubungan satu sama lain yang dimulai dari hubungan dalam keluarga (1 Petrus 3:1-12). Istri harus dikasihi dulu, dan kemdian istri menghormati suami. Ini adalah urutan yang sama yang digunakan Rasul Paulus dalam Efesus 5:22-33. Memang seperti Tuhan mengasihi manusia, suami harus mengasihi istrinya. Suami juga harus mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5: 25-28).
Membandingkan pria dan wanita, mungkin tidak ada orang yang membantah bahwa pada umumnya pria lebih kuat fisiknya daripada wanita, sekalipun umur wanita secara umum lebih panjang dari kaum pria. Karena itulah, dalam olahraga, tim pria tidak bertanding melawan tim wanita. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa tidaklah keliru jika Petrus menyebut kaum wanita sebagai kaum yang lebih lemah, yang perlu dibantu oleh kaum pria dalam hal-hal tertentu. Dalam kehidupan rumah tangga, ini memerlukan kebijaksanaan suami sebab dia tidak dapat menganggap sang istri tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungannya, atau mengira istri selalu dapat menjalankan segala sesuatu tanpa perlu melibatkan sang suami. Pada pihak yang lain, adalah kenyataan bahwa banyak suami yang membutuhkan bantuan istrinya dalam berbagai hal.
Bahwa wanita biasanya lebih lemah secara fisik, tidak berarti dia kurang berharga (Efesus 1:6) atau bahwa dia tidak memiliki akses yang sama terhadap kasih karunia Tuhan (Galatia 3:28). Dalam hal kebijaksanaan, seorang istri membangun rumah tangganya (Amsal 14: 1). Dengan demikian, adalah penting bagi seorang suami untuk memperlakukan istrinya dengan pengertian, penghargaan, kelembutan, dan kesabaran. Ayat di atas menyatakan bahwa seorang suami harus menghormati istrinya sebagai teman pewaris dari kasih karunia Tuhan, yaitu kehidupan, supaya mereka dapat bersama-sama berdoa kepada Tuhan untuk bimbingan dan berkat-Nya.
Seorang pria membutuhkan seorang wanita sebagai seorang pendamping, dan itu diketahui Allah sejak mulanya. Tuhan Allah berkata: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Mengapa Allah mengatakan bahwa tidak baik bagi Adam untuk hidup seorang diri? Tentu Tuhan tahu bahwa Adam tidak mungkin menjadi manusia yang serba bisa dan sanggup mengelola segenap ciptaan Tuhan. Adam memerlukan seorang penolong yang sepadan. Apa arti kata sepadan? Sepadan bukan menunjuk kepada kesamaan dalam penampilan dan kemampuan, tetapi kecocokan dalam fungsi dan kedudukan. Pria dan wanita memang diciptakan untuk saling melengkapi.
Sebagai umat Kristen, kita memahami dinamika kehidupan orang percaya bertentangan dengan sudut pandang manusia dan “kebijaksanaan” duniawi. Dari segi emansipasi wanita, kata “kelemahan” ini dapat menyebabkan pertentangan besar padahal seharusnya tidak ada sama sekali. Justru karena wanita lebih lemah secara fisik, mereka perlu diperlakukan dalam masyarakat unum dengan pengertian dan rasa hormat. Dari situlah muncul istilah “ladies first” yakni memberi kesempatan pertama kepada kaum wanita untuk mengambil makanan, tempat duduk dll. Dalam lingkungan keluarga, seorang suami dapat menunjukkan kasihnya kepada sang istri dengan mengutamakan istrinya. Dengan demikian, jika seorang istri menolak perhatian yang penuh kasih dari suaminya, ia membuang kebahagiaan yang diberikan kepadanya. Serupa dengan itu, jika seorang wanita sering menolak mentah-mentah tawaran bantuan dari rekan-rekan prianya, ia menyia-nyiakan kesempatan untuk dihormati sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sepadan.
Cara seorang suami memberikan dirinya untuk istrinya adalah dengan menghormatinya secara khusus karena dia adalah istrinya. Tentu saja, ini idealnya dan bukan sesuatu yang bisa terjadi dalam semalam. Seorang pria dan seorang wanita memulai hubungan mereka ketika mereka menikah, tetapi apakah hubungan itu berhasil atau tidak berhubungan langsung dengan suami dan istri mengambil tempat mereka sesuai dengan perintah Tuhan dan ketundukan mereka dalam menaati Tuhan. Prinsip-prinsip di sini diberikan kepada orang percaya; namun, prinsip-prinsip ini berlaku baik pasangan itu beriman atau tidak atau bahkan jika hanya satu yang beriman.
Rasul Paulus menambahkan banyak bobot pada ide ini karena dia menulis bahwa suami adalah kepala keluarga seperti Kristus adalah kepala gereja (Efesus 5:23) dan karena itu suami harus mengasihi istrinya “seperti ” (membuat perbandingan) atau dengan cara yang sama Kristus mengasihi gereja dan memberikan diri-Nya untuk itu (Efesus 5:25). Itu berarti suami seharusnya mau memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam pernikahan daripada sang istri. Dia adalah pemimpin, dan seperti seorang dirigen dia harus bisa mengatur nada hubungan dalam keluarga agar bisa terdengar harmonis.
Hari ini kita belajar bahwa baik pria dan wanita adalah ciptaan Tuhan yang sepadan dan yang saling melengkapi. Baik pria maupun wanita adalah sederajat di hadapan Tuhan dan keduanya dapat memperoleh berkat dan karunia Tuhan. Walaupun demikian, adalah baik jika pria dan wanita saling menyadari fungsi, kelemahan dan keistimewaan masing-masing, terutama dalam hidup berumah tangga. Selain itu, dalam hal pekerjaan dan jabatan, pria dan wanita bisa memegang kedudukan yang sesuai dengan kemampuan fisik mereka. Perbedaan kemampuan fisik antara pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan agar mereka bisa saling melengkapi dan saling mengasihi dan saling menghormati.
Roma 8:28 yang sering disalahgunakan
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal dan sering dipakai untuk menghibur orang Kristen yang mengalami musibah. Walaupun demikian, ayat ini tidak dapat dipakai secara sembarangan. Mengapa begitu?
Pertama-tama, ayat ini hanya berlaku pada orang yang mengasihi Allah, yaitu orang yang sudah lahir baru. Allah ikut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan orang Kristen sejati. Bagaimana dengan mereka yang bukan umat-Nya yang sejati? Apakah Allah akan mendatangkan bencana kepada mereka? Belum tentu. Allah bisa saja membiarkan mereka untuk hidup semaunya seperti lalang di antara gandum, tetapi tetap memegang kontrol atas mereka, supaya apa yang sudah direncanakan-Nya tetap akan terjadi. Karena itu, jika kita ingin menyampaikan pesan ayat ini, kita harus mengerti bahwa tidak semua orang yang mengaku Kristen akan menerima apa yang dijanjikan Allah (1 Yohanes 2:19).
Kedua, ayat ini bukanlah ayat yang menyatakan bahwa Allah secara sepihak akan membuat hidup umat-Nya untuk menjadi baik melalui keajaiban. Allah turut bekerja bersama umat-Nya untuk membawa kebaikan bagi mereka. Ini berarti bahwa umat Tuhan tidak boleh menyerah atau mengharapkan bahwa kesulitan mereka akan berlalu secara otomatis. Umat Tuhan harus mau untuk terus berjuang, berdoa dan mencari kehendak Tuhan dalam menghadapi gelombang kehidupan. Allah sudah memberi umat-Nya iman, dan seandainya iman itu sekecil biji sesawi, itu seharusnya sudah cukup untuk memberi keyakinan akan penyertaan-Nya (Matius 17:20).
Ketiga, ayat ini tidak menyatakan bahwa musibah yang dialami umat Tuhan akan diganti dengan karunia yang menghilangkan dukacita mereka. Terlalu banyak orang Kristen yang memakai ayat ini dengan harapan agar orang yang mengalami bencana akan merasa terhibur dan dikuatkan. Tetapi, akibat yang berlawanan justru sering terjadi, karena banyak orang yang menyadari bahwa Tuhan membiarkan apa yang buruk terjadi pada mereka, akan merasa Tuhan itu kejam jika memakai penderitaan mereka untuk mendatangkan kebaikan. Bagaimana mungkin Tuhan menganggap kehilangan seorang anak misalnya, sebagai suatu cara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang tuanya? Karena itu kita harus berhati-hati dalam menggunakan ayat ini.
Keempat, pengertian mengenai “mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” bisa membuat sesorang merasa sedih jika ia mengalami kemalangan yang berkepanjangan, karena merasa bahwa ia tidak cukup baik sebagai umat-Nya. Memang tidak ada orang yang cukup baik untuk Allah, tetapi mereka yang terpanggil oleh-Nya sudah diterima-Nya sebagaimana adanya untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan rencana-Nya. Setiap umat Kristen sejati tidak perlu meragukan alan kasih Allah yang sudah mengurbankan Anak-Nya untuk menebus setiap orang percaya.
Kelima, ayat ini menjanjikan sesuatu yang baik untuk umat Kristen sejati, tetapi tidak menyatakan keberhasilan atau kegembiraan akan menggantikan apa yang sebelumnya sudah menjadi kegagalan atau kesedihan. Banyak orang Kristen yang mengharapkan Tuhan akan memberikan kedamaian setelah adanya kekacauan di dunia. Mereka mungkin membayangkan berkat Allah pada diri Ayub setelah terjadinya berbagai musibah yang dilakukan iblis. Memang Allah sudah menggantikan apa yang merupakan kehilangan Ayub dengan berbagai karunia yang melebihi apa yang sudah lenyap, tetapi apa yang diberikan Tuhan dan jauh lebih berharga dari itu adalah iman yang semakin besar setelah mengalami berbagai penderitaan. Ayub mendapatkan kemenangan rohani yang jauh lebih besar nilainya dari kekalahan jasmani yang dialaminya. Kemenangan rohani yang membuat penderitaan Ayub berakhir demgan kebaikan bagi Ayub karena ia pada akhirnya dipastikan sebagai umat Tuhan yang setia dalam keadaan apa pun.
Apa yang diharapkan kebanyakan orang Kristen ketika mereka mengalami musibah atau kegagalan adalah pertolongan Tuhan yang secara cepat mendatangkan kebaikan bagi mereka. Tetapi ini bukanlah apa yang dimaksudkan oleh ayat di atas. Tuhan turut bekerja dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sesuai dengan rencana-Nya, pada waktu yang ditetapkan-Nya. Itu mungkin terjadi sewaktu kita masih hidup dan aktif berjuang di dunia, tetapi mungkin juga setelah kita berumur, atau sesudah kita meninggalkan dunia ini. Kebaikan yang kita akan terima mungkin tidak berarti apa yang bersifat jasmani, tetapi juga apa yang rohani. Kedamaian, penyerahan, takut akan Tuhan, iman yang tak tergoncangkan bisa saja muncul sebagai karunia Tuhan selama kita hidup di dunia. Tetapi, kebaikan terbesar yang akan kita terima adalah persekutuan kekal antara kita dengan Tuhan dan sesama orang percaya setelah kita meninggalkan dunia ini.
Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Roma 10: 11
Menjadi bijak di masa depan
“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Sepandai-pandainya manusia, mereka hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi di masa depan, dan mencoba-coba mencari jalan keluar dari kesulitan yang sekarang ada. Dalam hal ini, mereka yang bijaksana akan mau belajar dari keadaan dan dari orang lain agar bisa mengambil keputusan yang terbaik. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.
Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.
Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain.
Mereka yang lebih muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyai mereka, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno di mana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segala hal.
Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman selama masih hidup di dunia.
Masa depan bagi kita adalah masa di mana kita masih dapat hidup untuk memuliakan Tuhan. Tetapi, setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16
Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang Kristen menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Tambahan lagi, mereka mungkin cenderung memilih firman yang dirasa bisa mendukung pandangan hidup sendiri. Dalam hal ini, ada orang Kristen yang segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dihalangi, atau tidak ingin diingatkan bahwa apa yang diperbuat mereka adalah tidak sesuai dengan firman Tuhan.
Mereka yang kurang mau menekankan pentingnya hidup baik sering kali adalah mereka yang sangat menekankan kenyataan bahwa Tuhan memilih umat-Nya semata-mata karena kehendak-Nya, bukan karena kebaikan manusia. Ini tentu saja adalah kebenaran karena tidak ada seorang pun yang layak di hadapan Tuhan. Walaupun demikian, kita harus sadar bahwa Tuhan yang menghendaki kita untuk diselamatkan, adalah Tuhan yang juga menghendaki kita untuk tunduk kepada hukum, firman dan bimbingan-Nya. Kehendak-Nya secara khusus sudah dinyatakan dalam Alkitab, dan kita tidak dapat mengingkarinya.
Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan adalah hidup yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan yang baik.
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan. Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Tesalonika 5:21-23