Apakah kita masih ingin menjadi bayi?

“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5:14

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kaum remaja berkomunikasi? Di zaman serba digital ini, media sosial digunakan kaum remaja untuk membagikan berbagai hal. Mulai dari kisah, kesuksesan, dan bahkan kenakalan dirinya sendiri. Mungkin Anda heran mendengar bahwa pada zaman sekarang mereka membanggakan kenakalannya di media sosial. Namun faktanya ada yang sengaja membuat film tentang kenakalan atau kejahatan yang dilakukan mereka (semperti mencuri mobil atau menganiaya sesama remaja) untuk di pamerkan di media.

Sebenarnya kenakalan dikalangan remaja banyak sekali jenisnya. Di Australia, penggunaan narkoba, pencurian mobil dan perampokan adalah beberapa kejahatan remaja yang akhir-akhir ini menjadi pokok pembicaraan. Mirisnya sebagian remaja ini bangga atas apa yang mereka perbuat. Malahan seakan ada perlombaan tentang siapa yang paling hebat dalam melakukan kejahatan dan mengelabui polisi. Mereka merasa lebih unggul jika berhasil melakukan kenakalan yang lebih dibandingkan dengan yang lain.

Kejadian seperti ini merupakan bukti kesalahan berpikir dikalangan remaja. Tetapi, dalam banyak kejadian, ini disebabkan karena tidak adanya figur orang tua yang bisa mendidik mereka. Dengan demikian, lingkungan menjadi salah satu faktor utama perubahan pola pikir remaja, yang diperkuat dengan maraknya media sosial yang berisi hal-hal yang tidak baik. Kaum remaja yang sedemikian mungkin tidak pernah bisa menjadi dewasa, karena secara rohani dan moral mereka masih tetap seperti bayi.

Menarik sekali bahwa ayat di atas membicarakan tentang makanan orang dewasa. Ketika seorang anak masih sangat kecil, mereka hanya bisa mengonsumsi susu. Makanan yang lebih padat berada di luar jangkauan mereka; mereka hanya dapat memproses sesuatu yang khusus ditujukan untuk bayi. Demikian pula, mereka yang belum dewasa secara rohani hanya dapat menangani hal-hal rohani yang sederhana. Mereka mungkin belum mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. Mereka hanya bisa melihat segala sesuatu dari segi kemudahan, kenyamanan dan keindahan dari luar.

Hal kurang mampu membedakan apa yang baik dan buruk adalah umum dalam hidup kekristenan, terutama bagi seorang yang baru bertobat. Namun, jika seseorang tetap berada dalam keadaan bayi rohani ini, padahal seharusnya mereka sudah cukup dewasa untuk menerima makanan rohani yang lebih padat, maka mereka sendirilah yang harus disalahkan (Efesus 4:11-15). Menurut penulis Kitab Ibrani, pembacanya akan kehilangan beberapa makna yang lebih dalam yang akan ia uraikan (Ibrani 5:11), karena mereka “lamban dalam hal mendengar.” Dalam konteks ini, “lamban” tersebut berarti kemalasan dan apatis, atau dengan kata lain, pengabaian.

Sebagaimana seorang anak harus dilatih untuk bertumbuh, bukan hanya susu, tetapi juga makanan padat, demikian pula kedewasaan rohani seorang Kristen harus bertumbuh melalui usaha dan pengalaman. Ayat sebelumnya menggunakan istilah apeiros untuk menggambarkan bayi-bayi rohani ini, yang berarti mereka belum berpengalaman atau belum terampil. Kedewasaan rohani tidak ada hubungannya dengan usia, karena kita bisa saja tetap menjadi orang Kristen yang belum dewasa untuk waktu yang sangat lama. Sebaliknya, proses pendewasaan melibatkan pengembangan kemampuan untuk menerapkan iman kita secara praktis selama kita hidup di dunia.

Dalam konteks kitab Ibrani, hal ini berkaitan erat dengan upaya yang sungguh-sungguh. Hal ini menuntut seseorang untuk “lebih giat lagi” dalam beriman (Ibrani 2:1). Artinya, orang Kristen harus mengikuti kehendak Allah tanpa rasa ragu-ragu (Ibrani 4:11). Kedewasaan menuntut seseorang untuk belajar menggunakan alat rohani terbesar kita, Firman Allah (Ibrani 4:12), untuk membantu kita dalam membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Ini lebih dari sekadar dilema moral—tetapi juga merujuk pada pemahaman akan perbedaan antara ajaran teologis yang benar dan saleh dengan ajaran teologis yang keliru.

Dalam kenyataannya, tidak hanya kaum remaja yang senang menikmati hidup dalam kebebasan duniawi. Banyak orang yang sudah dewasa secara jasmani, tetapi secara rohani mereka masih belum bisa membedakan apa yang baik dan buruk. Apa yang terasa nikmat bagi mereka mungkin dipandang baik. Jadi, kesuksesan, kenyamanan, dan kekayaan mungkin dipandang sebagai bukti kebenaran iman dan cara hidup mreka.

Memang ada banyak orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi hidup mereka bertolak belakang dengan harga penebusan yang sudah dibayar Kristus di kayu salib-Nya. Cara hidup seperti itu hanya akan berakhir pada kehancuran rohani. Mereka memikirkan hal-hal duniawi dan tidak melayani Allah. Hidup mereka hanya untuk memuaskan keinginan diri sendiri. Mereka melakukan segala macam hal yang memalukan, bahkan merasa bangga atas semuanya itu. Mereka mungkin merasa yakin bahwa karunia Tuhan akan membenaskan mereka dari tanggung jawab atas dosa mereka.

Hari ini, ayat di atas mengajak setiap orang percaya untuk terus bertumbuh secara rohani. Mereka yang lebih dewasa seharusnya membimbing mereka yang kurang dewasa.Yang penting dalam hal ini, kita tidak boleh mundur dari tingkat kedewasaan rohani yang sudah kita capai, sebab semakin lama kita menjadi orang percaya, seharusnya kita menjadi semakin dewasa dan semakin dekat kepada Dia.

Doa Penutup:

Ya Tuhan Bapa kami yang mahakasih. Ampunilah kami jika kami mengaku sebagai umat-Mu, tetapi masih hidup menurut cara kami sendiri. Kami sering ingin menjadi umat-Mu tanpa mau terikat pada hukum dan firman-Mu. Kami tidak mau melaksanakan apa yang kami pandang sulit untuk dilakukan, dan karena itu kami kurang bisa menjadi dewasa dalam iman. Kami bertingkah laku seperti bayi, yang hanya tahu makanan yang lunak. Kami mau disebut sebagai orang Kristen tanpa harus hidup menurut Firman.

Sekarang kami mohon agar Engkau tetap sudi memimpin kami dalam hidup, karena kami masih sering memilih apa yang paling mudah untuk dilakukan. Biarlah Roh Kudus-Mu memimbing kami untuk bisa membedakan apa yang baik dan buruk, dan menguatkan kami dalam memilih jalan yang sempit untuk menuju ke arah kebenaran. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Membisu vs Mengakui

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkal dia di depan Bapa-Ku di sorga.” Matius 10:32–33

Dalam sistem hukum modern, khususnya di Amerika Serikat, ada hukum yang memberikan hak bagi setiap orang untuk “remain silent” (berdiam diri) ketika menghadapi interogasi hukum. Tujuannya sederhana: agar seseorang tidak dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang dapat memberatkan dirinya.

Secara yuridis, tinggal diam dalam konteks ini adalah tindakan perlindungan diri. Ini sangat masuk akal dalam sistem hukum sekuler. Bahkan para pengacara sering menasihati klien mereka untuk tidak berbicara apa pun sebelum ada penasihat hukum, demi mencegah kesalahan fatal.

Jadi, dalam logika hukum negara, diam adalah hak, diam tidak dianggap kebohongan, diam dapat menyelamatkan posisi hukum seseorang. Dengan kata lain, hukum dunia membolehkan — bahkan mendorong — warganya untuk melindungi diri melalui keheningan.

Namun dalam terang iman Kristen, diam tidak selalu netral. Dalam banyak situasi, diam dapat menjadi bentuk penyangkalan, jika keheningan itu dilakukan untuk menghindari pengakuan akan Kristus. Ayat di atas tidak hanya bicara tentang “penyangkalan lisan” seperti Petrus. Ayat itu juga menyangkut hal diam padas saat kita seharusnya bersaksi atau menyatakan bahwa kita adalah pengikut Kristus.

Dalam hukum dunia, diam untuk melindungi diri. Dalam hukum Kristus, diam dalam saat bersaksi bisa berarti kita tidak berdiri untuk Dia.

Penyangkalan aktif vs penyangkalan pasif

Pada waktu Yesus sedang diadili pada saat menjelang disalibkan, Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Ia berkata:

“Aku tidak kenal orang itu!” (Matius 26:70, 72, 74)

Itu adalah penyangkalan aktif — kebohongan yang disengaja untuk melepaskan diri dari keterlibatan dengan Yesus. Namun mari kita renungkan sebuah kemungkinan hipotetis. Bagaimana jika Petrus saat itu tidak berkata apa-apa, alias membisu? Apakah diamnya akan dianggap “tidak bersalah”? Jawabannya tergantung motivasinya.

Jika Petrus diam untuk menghindari pengakuan dan agar orang berpikir ia bukan murid Yesus → itu tetap penyangkalan, meskipun pasif. Jika Petrus diam karena takut, tapi tidak bermaksud menyangkal dalam hati, itu bukan kebohongan aktif, tapi tetap kegagalan untuk bersaksi. Petrus bisa saja memilih untuk membisu demi melindungi dirinya, tetapi Yesus melihat hati di balik tindakan Petrus, bukan sekadar kata-kata. Ia tentu merasa sedih bahwa Petrus sudah menyangkali Dia secara pasif. Ia tahu apa yang ada dalam hati Petrus.

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” — 1 Samuel 16:7

Karena itu, kalau Petrus diam karena ketakutannya untuk mengakui Yesus, ia sudah berdosa.

Bagaimana dengan keadaan kita di zaman sekarang? Dalam hubungan sosial sehari-hari, kita mungkin sering diam dan “menyembunyikan” iman kita jika dihadapkan pada suasana yang membuat kita ragu-ragu: takut menyinggung orang lain, takut di tolak teman, takut di kritik atau ditertawakan oleh orang yang tidak menyenangi Yesus. Demi kenyamanan, kita mungkin memilih untuk bergaul dan berkomunikasi secara “netral” , tanpa menunjukkan bahwa kita adalah orang Kristen.

Yesus sendiri “diam” — tapi bukan untuk menyangkal

Menariknya, Yesus sendiri juga berdiam diri dalam persidangan di depan imam besar dan Pilatus.

“Tetapi Yesus tetap diam.” (Matius 26:63)

Apakah Yesus berdosa karena diam? Tentu tidak. Diam Yesus memiliki pendekatan teologis yang sangat dalam, yaitu untuk menggenapi nubuat Yesaya 53:7, untuk tidak melawan dengan kebohongan apa pun, dan karena Ia tahu siapa diri-Nya dan rencana Bapa.

Namun, saat pertanyaan menyentuh identitas-Nya secara langsung: “Apakah Engkau Mesias, Anak Allah?” Ia menjawab: “Engkau telah mengatakannya.” (Matius 26:64). Yesus tidak tetap berdiam diri dalam momen pengakuan iman. Ia berbicara — meski jawaban itu akan membawanya ke kayu salib.

Orang percaya tidak dipanggil untuk “berdiam diri” demi kenyamanan diri sendiri

Dalam kehidupan modern, banyak orang Kristen memilih berdiam diri jika menghadapi orang-orang yang anti Yesus dengan alasan:“tidak ingin berdebat”, “tidak ingin mempermalukan diri”, “tidak ingin bikin suasana canggung” atau “tidak mau kehilangan sahabat”. Tetapi jika keheningan itu berarti kita menyembunyikan iman kita, maka diam bukan lagi kebijaksanaan — melainkan bentuk penyangkalan halus.

Hidup Kristen bukan sekadar iman dalam hati, melainkan berani menyatakan imannya kepada siapa saja dan berani menghadapi kecaman.

“Karena itu janganlah kamu malu bersaksi tentang Tuhan kita…” 2 Timotius 1:8

Gereja mula-mula: tidak ada “hak untuk diam”

Dalam sejarah gereja mula-mula, banyak murid Kristus dipaksa menyangkal iman atau mati. Tidak ada kesempatan untuk berdiam diri. Dan yang luar biasa — banyak dari mereka memilih berbicara dan bersaksi, meski tahu akibatnya adalah kematian. Inilah yang membuat kesaksian gereja mula-mula begitu kuat. Para martir tidak mau diam demi menyelamatkan diri; mereka berdiri teguh di hadapan kuasa dunia dan berkata seperti Stefanus:

“Sebab dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10:10

Stefanus tidak diam. Ia bersaksi — dan batu pun menghujani tubuhnya. Namun surga menyambutnya.

“Lihat, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Kisah Para Rasul 7:56

Diam bukan berarti salah, tapi harus ditempatkan pada konteks yang benar

Dalam kehidupan iman, diam tidak selalu dosa. Ada saatnya kita:

  • Diam untuk tidak terpancing emosi.
  • Diam agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
  • Diam untuk memberi ruang bagi Roh Kudus bekerja.

Namun kita tidak boleh diam jika:

  • Iman kita dipertaruhkan,
  • Nama Kristus dihina, atau
  • Kita diminta menyangkal siapa Dia.

Apa yang dunia sebut sebagai “hak”, iman sebut “ujian”

Bagi dunia, hak untuk diam adalah alat melindungi diri. Bagi orang percaya, saat iman ditantang, diam adalah ujian keberanian dan kesetiaan. Yesus tidak memanggil kita untuk menjadi pahlawan hukum, tetapi menjadi saksi-Nya — dengan mulut, hidup, dan kasih. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata:

“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” 1 Korintus 9:16

Antara diam dan bersuara

Diam dapat menjadi bentuk hikmat, tetapi juga bisa menjadi bentuk penyangkalan. Dunia memberi hak untuk diam, tetapi Yesus memberi panggilan untuk bersaksi. Ketika orang bertanya siapa Yesus bagi kita, ketika nama-Nya dihina, atau ketika iman kita dipertaruhkan — kita tidak boleh berlindung di balik “lebih baik diam”. Kita dipanggil untuk berbicara, dengan kasih, bijak, dan berani.

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1:7

Pagi ini kita belajar bahwa dalam hukum negara, diam adalah hak kita. Tetapi, dalam iman Kristen, diam saat iman ditantang bisa menjadi penyangkalan. Murid Kristus dipanggil untuk bersaksi, bukan bersembunyi. Dunia menghargai hak pribadi, Kristus menilai kesetiaan kepada-Nya.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, ajarilah kami membedakan kapan harus diam, dan kapan harus bersaksi. Dalam dunia yang sering memberi kami alasan untuk bersembunyi, berikan kami keberanian untuk berdiri bagi nama-Mu. Teguhkan hati kami agar tidak menyangkal-Mu, bahkan dalam tekanan. Kiranya kesaksian kami menjadi terang di tengah dunia yang gelap. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Bagaimana Kita Bereaksi Ketika Nama Yesus Dihina?

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15:18

Suatu ketika, di tengah pertunjukan komedi di sebuah kapal pesiar, ada pelawak yang melontarkan candaan yang merendahkan nama Tuhan Yesus Kristus. Bagi sebagian besar pononton, itu mungkin dianggap gurauan biasa. Mereka menikmati semua itu sebagai sesuatu yang lucu. Namun bagi pengikut Kristus, momen seperti ini dapat terasa menyakitkan — karena mereka tidak sedang membicarakan hal kecil, melainkan tentang nama Tuhan dan Juruselamat manusia.

Jika dalam komedi, film dan pertunjukan umum lainnya, memakai nama Tuhan dan Yesus sebagai bahan gurauan adalah hal yang biasa di dunia Barat, kita mungkin jarang menemuinya di Indonesia. Tetapi, dalam lingkungan terbatas seperti chat group antar teman yang berbeda agama, hal yang serupa bisa terjadi.

Dalam hal ini, ketika seseorang Kristen merasa tersinggung atau terluka saat nama Tuhan dihina atau dihujat, orang lain dengan mudah berkata, “Jangan baper,” atau “Kita harus sabar, kan?” — seolah-olah reaksi emosi itu adalah bentuk kelemahan iman. Pertanyaannya: bagaimana seharusnyaorang Kristen menanggapi situasi seperti ini dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam ayat di atas, Yesus telah lebih dahulu memperingatkan murid-murid-Nya. Karena dunia tidak mengenal Kristus, hinaan dan ejekan akan selalu ada. Sebagai pengikut-Nya, kita tidak perlu terkejut, apalagi merasa takut atau khawatir.

Menghadapi keadaan yang serupa dalam hidup sehari-hari, reaksi setiap orang Kristen terhadap ejekan orang lain bisa berbeda. Ada yang diam saja dan ada yang berdoa. Ada yang memilih menegur dengan lemah lembut. Ada pula yang akhirnya pergi menjauh demi menjaga ketenteraman hati. Semua pilihan ini bisa dibenarkan — tergantung keadaan hati dan konteksnya.

  • Berdoa: Doa adalah bentuk kasih bagi mereka yang belum mengenal Kristus.
  • Bersaksi: Menyampaikan kebenaran dengan kasih bisa menyentuh hati yang keras.
  • Menarik diri: Bila hinaan terus-menerus terjadi, melangkah pergi bukan tanda kalah — tapi untuk menjaga hati dan semangat penginjilan. Yesus pun mengajarkan murid-murid-Nya untuk mengebaskan debu dari kaki jika penginjilan mereka tidak diterima (Lukas 9:5).

Menhadapi cemooh dunia, ada orang Kristen yang kurang peduli, ada yang peka, dan ada yang tersakiti karena membawa beban masa lalu yang dalam. Merasa sedih atau tersinggung bukan tanda iman lemah atau belum dewasa. Itu tanda hati yang menghormati Tuhan. Sebaliknya, mereka yang kurang peduli justru mungkin masih kurang mengenal siapa Yesus itu.

Dunia mungkin menganggap Yesus sebagai manusia biasa, dan mungkin guru yang bijaksana. Tetapi bagi orang percaya, nama Yesus adalah nama di atas segala nama. Karena itu, kita tidak boleh ikut larut dalam candaan atau kebisuan yang membiarkan penghinaan itu dianggap normal.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” (Roma 12:2)

Dengan demikian, merasa tersinggung ketika Yesus dihina bukanlah hal yang aneh, melainkan wujud kasih dan pengabdian kepada Sang Juruselamat.

Walaupun demikian, tugas kita bukan membalas ejekan dan melakukan kekerasan seperti yang dilakukan oleh sebagian pengikut agama lain, melainkan menjadi terang — dengan kasih, hikmat, dan keteguhan iman. Kekuatan kita bukan terletak pada argumen atau perdebatan, tetapi pada kuasa Kristus sendiri. Di tengah dunia yang penuh ejekan dan candaan terhadap Kristus, kita bisa berlindung di bawah kasih-Nya. Dan sebagai orang Kristen, kita harus saling menopang dalam menghadapi kebencian dunia.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, kuatkan kami untuk tetap teguh dalam iman ketika nama-Mu dihina. Ajari kami untuk merespons dengan kasih, bukan kebencian. Tolong kami memahami sesama saudara seiman yang mungkin bereaksi dengan cara berbeda. Jadikan kami saksi-Mu yang hidup, di dunia yang sering tidak menghargai-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Melatih Diri Menguasai Amarah

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Efesus 4:26

Satu hal yang harus saya akui adalah sulitnya bagi saya untuk menghindari kemarahan. Saya pernah bertanya bagaimana caranya kepada beberapa teman saya yang sepertinya tidak pernah marah. Kebanyakan jawaban yang saya terima adalah bantahan bahwa mereka tidak pernah marah. Siapa sih yang tidak pernah marah? Mereka juga marah pada saat mengalami sesuatu yang menyinggung perasaan; hanya saja, itu mungkin tidak terlihat karena mereka bisa mengendalikan emosi.

Setiap orang tentu pernah marah. Amarah adalah emosi alami yang Tuhan tanamkan dalam diri manusia. Marah bukanlah dosa itu sendiri, karena bahkan Tuhan Yesus pernah menunjukkan kemarahan-Nya ketika melihat rumah Allah dijadikan sarang penyamun. Namun, yang menjadi masalah adalah bagaimana kita mengendalikan amarah itu. Jika tidak dikendalikan, amarah bisa melahirkan dosa. Sebaliknya, jika diarahkan dengan benar, amarah bisa menjadi tenaga untuk menegakkan kebenaran.

Firman Tuhan melalui Rasul Paulus dalam Efesus 4:26 mengingatkan kita dengan jelas: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Ayat ini seakan menegaskan dua hal penting:

1. Marah boleh, tetapi jangan jatuh ke dalam dosa. Marah harus segera dipadamkan, jangan dipelihara sampai berlarut-larut.

Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari, betapa mudahnya kita melupakan peringatan ini. Kita sering merasa wajar untuk menyimpan kemarahan, bahkan kadang kita memeliharanya berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Padahal, amarah yang dibiarkan bisa menjadi racun yang merusak jiwa kita dan menghancurkan hubungan kita dengan orang lain.

2. Marah Itu Mudah, Menguasai Amarah Itu Sulit

Mengapa kita begitu gampang marah? Karena amarah muncul secara spontan sebagai respon terhadap situasi yang tidak kita sukai. Marah ketika disakiti, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil adalah hal yang wajar. Namun, yang sulit adalah menguasai diri dalam kemarahan itu.

——————–

Kita bisa melihat betapa besar tantangannya. Menguasai amarah tidak terjadi secara otomatis. Sama seperti tubuh kita perlu dilatih untuk sehat melalui olahraga, begitu pula jiwa kita perlu dilatih untuk menguasai diri. Mengendalikan amarah membutuhkan latihan dan disiplin rohani. Tanpa itu, kita akan selalu dikuasai emosi, bukan menguasai emosi.

Lalu bagaimana kalau kita menghindari kemarahan dengan mengabaikan apa yang terjadi? Banyak orang yang berpikir bahwa ini adalah cara yang terbaik. Tetapi ini bukanlah pesan Alkitab. Alkitab tidak melarang kita marah atau menganjurkan kita untuk tidak marah. Sebab sebagai ciptaan Tuhan berdasarkan gambar-Nya, kita diberi kemampuan untuk marah. Jika kita tidak pernah marah, itu mungkin berarti kita sering mengabaikan adanya kejahatan kepada diri kita, kepada orang lain dan kepada bahkan Tuhan kita. Tuhan sendiri bisa marah, tetapi Ia tetap suci. Karena itu, masalahnya adalah bagaimana kita bisa marah dan tetap mempertahankan kesalehan.

Alkitab Menunjukkan Pentingnya Latihan Rohani

Paulus menulis kepada Timotius: “Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Kata “latihlah” di sini berasal dari kata Yunani gumnazo, yang berarti berlatih seperti seorang atlet. Seorang atlet tidak akan pernah berprestasi tanpa latihan terus-menerus, pengulangan, disiplin, dan pengendalian diri.

Demikian pula dalam hal mengendalikan amarah. Tidak cukup hanya tahu bahwa kita harus sabar. Tidak cukup hanya mendengar khotbah atau membaca ayat. Kita harus berlatih untuk sabar. Kita harus melatih diri untuk menahan diri ketika marah. Tanpa disiplin, kita akan jatuh lagi dan lagi ke dalam dosa yang sama.

Latihan Menguasai Amarah

Bagaimana cara melatih diri untuk menguasai amarah? Belajar mengenali pemicu amarah Setiap orang punya titik lemah yang berbeda. Ada yang mudah marah jika diremehkan, ada yang cepat emosi jika pekerjaannya dikritik, ada juga yang tersulut ketika menghadapi kemacetan. Dengan mengenali pemicu amarah, kita bisa lebih waspada sebelum emosi itu meledak. Sering kali, kita bisa menghindari kemarahan dengan menjauhkan diri dari suasana yang membuat kita marah – jika itu bisa dilakukan.

Mengambil jeda sejenak Amsal 14:29 berkata: “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa yang lekas naik darah membesarkan kebodohan.” Saat amarah mulai muncul, latih diri untuk berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai sepuluh, atau bahkan meninggalkan tempat yang kurang nyaman untuk sementara waktu bisa menjadi latihan praktis yang sederhana namun efektif. Ini termasuk meninggalkan grup chat yang tidak membawa kebaikan atau kedamaian.

Banyak orang yang menganjurkan kita untuk berdoa ketika kita marah. Tetapi, mengganti respon spontan dengan doa secara alami adalah sulit. Doa sendiri adalah latihan rohani yang mengubah hati, tetapi kita secara manusiawi adalah tidak mampu berdoa dengan benar. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengajarkan kita Doa Bapa Kami yang mengandung kalimat “ampunilah kami seperti kami mengampuni” dalam Matius 6:12. Ungkapan ini memiliki makna bahwa pengampunan dari Tuhan akan diterima sesuai dengan cara kita mengampuni orang lain, di mana kita mengakui dosa kita dan berharap akan pengampunan, seperti yang sudah kita berikan kepada orang lain.

Mengucapkan doa singkat, “Tuhan, tolong aku untuk tidak jatuh dalam dosa,” mungkin bisa membantu kita meredakan emosi. Semakin sering kita melatih doa spontan ini, semakin mudah kita menguasai diri ketika marah. Belajar mengampuni dengan cepat Paulus menekankan: “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Ini berarti kita harus melatih diri untuk menyelesaikan konflik dengan cepat, tidak menunda pengampunan.

Semakin lama kita menahan amarah, semakin sulit untuk padam. Sama seperti api kecil, lebih mudah dipadamkan sebelum membesar. Mengisi pikiran dengan firman Tuhan Pikiran yang dipenuhi firman akan lebih mudah dikendalikan. Mazmur 119:11 berkata: “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Melatih diri dengan merenungkan firman setiap hari membuat kita memiliki “filter rohani” ketika emosi ingin menguasai.

Disiplin Membentuk Karakter Kristus

Disiplin menguasai amarah bukanlah sekadar teknik psikologis, tetapi bagian dari proses pembentukan karakter Kristus dalam diri kita. Galatia 5:22-23 menyebutkan buah Roh, salah satunya adalah penguasaan diri. Buah Roh tidak muncul sekaligus, tetapi bertumbuh melalui latihan dan disiplin rohani setiap hari.

Sama seperti seorang murid belajar dari gurunya, kita pun belajar dari Yesus yang lemah lembut dan rendah hati. Semakin kita melatih diri meneladani-Nya, semakin nyata kesabaran dan penguasaan diri dalam hidup kita.

Marah yang Benar vs Marah yang Berdosa

Kita juga perlu membedakan antara marah yang benar dan marah yang berdosa. Marah yang benar adalah marah terhadap dosa, ketidakadilan, atau penghinaan terhadap nama Tuhan. Marah jenis ini lahir dari kasih, bukan dari ego. Marah yang berdosa adalah marah karena ego terluka, gengsi dijatuhkan, atau keinginan pribadi tidak terpenuhi. Marah seperti ini harus segera dipadamkan. Latihan dan disiplin rohani membantu kita membedakan keduanya.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa marah itu manusiawi. Tetapi menguasai amarah adalah tanda kedewasaan rohani. Sama seperti tubuh memerlukan latihan fisik, jiwa kita pun memerlukan latihan dan disiplin untuk menguasai emosi. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dimampukan untuk tidak membiarkan amarah menguasai kita. Kiranya kita menjadi orang-orang yang terlatih dalam penguasaan diri, sehingga hidup kita memancarkan damai Kristus.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah selama ini saya membiarkan amarah menguasai hidup saya? Apakah saya mudah marah atas ha-hal yang sepele?
  • Apakah saya sudah melatih diri untuk menahan amarah, atau saya selalu membiarkannya meledak begitu saja?
  • Adakah orang yang masih saya benci atau simpan dendamnya sampai hari ini?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, aku sering gagal menguasai amarahku. Aku sadar bahwa aku perlu melatih diri, berdisiplin, dan membiarkan Roh-Mu bekerja dalam hidupku. Tolong aku agar tidak membiarkan amarah berlarut-larut, tetapi menyerahkannya kepada-Mu sebelum matahari terbenam. Bentuklah aku menjadi pribadi yang sabar, penuh kasih, dan memancarkan damai sejahtera-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Mengapa Tuhan Layak Disembah

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103:2

Banyak orang yang tidak percaya kepada Tuhan mengatakan, “Kalau Tuhan itu benar-benar ada dan Mahakuasa, mengapa Dia perlu disembah? Bukankah Tuhan itu Mahasempurna dan tidak membutuhkan apa pun dari manusia?” Pertanyaan serupa mungkin muncul dalam hati Anda berkenaan dengan berapa sering kita harus berbakti kepada-Nya. Mengapa, Tuhan memerintahkan kita untuk selalu ingat untuk menyembah Dia?

Sekilas, pernyataan ini terdengar logis. Orang bisa saja membayangkan penyembahan Tuhan seperti kewajiban untuk menyenangkan seorang raja yang haus pujian. Apalagi, ada agama-agama tertentu yang tidak menekankan penyembahan ilahi, tetapi mementingkan perbatan baik. Asal kita rajin berbuat baik, masa depan kita akan baik. Tetapi, konsep penyembahan Tuhan menurut Alkitab jauh dari itu. Ini bukan soal Tuhan “butuh” penyembahan kita, tetapi soal siapa kita di hadapan-Nya.

Tuhan tidak menciptakan manusia karena Ia kesepian atau kurang pujian. Dia adalah Allah yang self-sufficient — cukup dalam diri-Nya sendiri. Tetapi Ia menciptakan kita untuk hidup dalam relasi kasih dengan-Nya. Penyembahan adalah bagian dari relasi itu — ekspresi kasih, ucapan syukur, dan pengakuan atas kemuliaan dan kedaulatan-Nya.

Beberapa poin penting yang perlu kita ingat:

1. Tuhan Tidak Membutuhkan Kita — Tapi Kita Membutuhkan Dia

Alkitab dengan jelas menyatakan:

“Allah, yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil buatan tangan manusia, dan Ia juga tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Kisah Para Rasul 17:24–25

Tuhan tidak pernah meminta penyembahan karena kekurangan. Ia adalah sumber hidup. Justru sebaliknya, kitalah yang membutuhkan Dia. Seperti tanaman tidak bisa hidup tanpa matahari, demikian pula jiwa manusia tidak bisa hidup tanpa hadirat Allah. Ketika manusia menyembah, ia memilih untuk kembali ke posisi semula, sewaktu dia baru diciptakan — sebagai makhluk yang bergantung dan bersyukur kepada Penciptanya.

2. Penyembahan Menyembuhkan Jiwa Kita

Mazmur 103 dimulai dengan seruan pribadi Daud kepada dirinya sendiri: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Ia tidak sedang memerintah orang lain — ia sedang mengingatkan dirinya sendiri untuk bersyukur.

Penyembahan bukan untuk menyenangkan Tuhan, tetapi untuk menyelaraskan hati kita dengan Dia. Saat kita menyembah, kita mengingat kasih setia dan kebaikan-Nya, melepaskan beban kekhawatiran, menempatkan diri dalam posisi rendah hati di hadapan kemuliaan Allah,dan menyadari kembali siapa kita dan siapa Tuhan.

Penyembahan adalah terapi rohani bagi jiwa manusia yang mudah lupa. Dunia mengajarkan kita untuk memuja diri sendiri, tetapi penyembahan mengembalikan fokus kita kepada Tuhan yang layak dimuliakan.

3. Jika Kita Tidak Menyembah Tuhan, Kita Akan Menyembah yang Lain

Alkitab mengingatkan kita bahwa ketika manusia menolak menyembah Sang Pencipta, mereka akan menyembah benda atau makhluk lain yang diciptakan Allah. Ini adalah suatu kebodohan yang luar biasa.

“Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja serta menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya…” Roma 1:25

Ini berarti penyembahan bukan pilihan antara “ya atau tidak” — melainkan “kepada siapa.” Kalau bukan Tuhan, maka uang, kuasa, prestasi, kesenangan, tokoh yang dikagumi, atau diri sendirilah yang akan menjadi “allah” dalam hidup kita. Dan semua allah palsu itu tidak dapat menyelamatkan. Inilah suatu ironi karena banyak orang merasa “bebas” karena tidak menyembah Tuhan, padahal mereka sedang diperbudak oleh berhala yang mereka sembah secara tak sadar.

4. Penyembahan Adalah Respon Kasih, Bukan Kewajiban karena Terpaksa

Tuhan tidak memaksa penyembahan seperti diktator haus kuasa. Ia mengundang kita untuk mengasihi-Nya karena Ia terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Ketika kita mengingat salib Kristus — bahwa Yesus mati menggantikan kita yang berdosa — maka penyembahan bukan beban, tetapi kerinduan. Orang yang menyadari kasih karunia Allah akan secara alami menyembah-Nya. Seperti seorang anak kecil yang memeluk ayahnya karena diselamatkan dari bahaya, demikianlah penyembahan sejati lahir dari hati yang bersyukur.

5. Penyembahan Membentuk Karakter Kekal

Di surga nanti, tidak akan ada dosa, tidak ada kesedihan, tidak ada perebutan kuasa — tetapi akan ada penyembahan yang kekal (Wahyu 7:9–12). Mengapa? Karena penyembahan adalah kehidupan manusia sebagaimana seharusnya: hidup dalam kasih, kekaguman, dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Saat kita belajar menyembah Tuhan di dunia ini, kita sedang dibentuk untuk kehidupan kekal itu. Penyembahan bukan tugas sementara, melainkan latihan untuk hidup dalam kekekalan. Mereka yang tidak pernah mau belajar menyembah Tuhan, pada akhirnya mungkin tidak akan berdiam bersama Tuhan di surga.

Refleksi Pribadi:

Banyak orang salah paham tentang penyembahan karena melihatnya sebagai “kewajiban religius.” Tapi penyembahan sejati bukan soal rutinitas, melainkan relasi. Ketika hati kita jauh dari Tuhan, penyembahan terasa berat. Tapi ketika kita mengenal kasih-Nya yang besar, penyembahan menjadi sukacita.

Mazmur 103 bukan hanya perintah, tetapi ajakan lembut: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku…” Ini adalah panggilan untuk mengingat semua kebaikan Tuhan — pengampunan, pemulihan, dan kasih setia yang tidak pernah berhenti. Dalam dunia yang penuh kebisingan, penyembahan mengarahkan hati kita kembali kepada Dia.

Doa Penutup:

Tuhan, Engkau tidak membutuhkan pujian kami, tetapi kami membutuhkan Engkau. Ajari kami untuk menyembah-Mu dengan hati yang bersyukur, bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih yang Kau curahkan kepada kami. Ampuni kami bila kami sering melupakan kebaikan-Mu. Pulihkanlah jiwa kami, dan jadikan hidup kami pujian bagi nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Apakah Tuhan mengasihi semua orang?

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Ayat di atas adalah satu ayat yang paling sering dipakai dalam acara kebangunan rohani, di mana orang yang belum mengenal Kristus diundang untuk percaya kepada-Nya. Salah satu pertanyaan teologis paling umum yang pernah saya terima mengenai ayat ini adalah seperti ini: Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Apakah Tuhan yang mahasuci sangat membenci dosa, tetapi mengasihi orang berdosa? Apakah Ia mengasihi mereka yang menolak-Nya sama seperti Ia mengasihi anak-anak tebusan-Nya? Dengan kata lain, apakah Ia mengasihi Adolf Hitler sama seperti Ia mengasihi Billy Graham?

Sering kali juga saya mendengar pesan “Yesus mengasihimu” atau “Tuhan memberkatimu” yang diucapkan oleh orang Kristen kepada sekelompok orang yang mungkin mencakup orang Kristen dan non-Kristen. Apakah alkitabiah untuk mengatakan ungkapan-ungkapan seperti itu kepada sembarang orang?

Terlalu sering saya mendengar jawaban yang terlalu sederhana untuk pertanyaan rumit ini. Secara historis, satu kelompok orang Kristen menjawab dengan “ya” tanpa syarat, sementara beberapa kelompok lain menjawab “tidak” tanpa syarat.

Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah memberikan karunia umum bagi semua orang, yang sering disebut anugerah umum, yang terlihat dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kemurahan hati bagi seluruh ciptaan dan umat manusia, seperti matahari dan hujan yang turun bagi orang benar maupun orang fasik. Namun, teologi Reformed juga mengajarkan bahwa Allah memiliki karunia yang khusus atau istimewa, yang secara eksklusif diperuntukkan bagi orang pilihan (mereka yang dipilih Allah untuk keselamatan) dan hanya ditemukan di dalam Kristus. Jadi, ada beda antara kasih-Nya yang umum dan kasih-Nya yang khusus.

Kasih Allah yang umum adalah keinginan yang penuh kemurahan hati untuk kebaikan seluruh umat manusia, bahkan mereka yang tidak percaya. Kasih ini ditunjukkan oleh pemeliharaan-Nya yang penuh kemurahan hati bagi semua orang, menyediakan makanan, tempat tinggal, dan kesempatan umum untuk bertobat dan datang kepada-Nya, seperti matahari dan hujan bagi semua orang, yang bukan hanya untuk orang percaya. Ini tentunya masuk akal karena semua orang di dunia ini hidup bersama dan berinteraksi satu dengan yang lain. Walaupun demikian, kasih umum bagi dunia ini sebenarnya bertalian dengan panggilan Injil, yang mengundang setiap orang untuk berdamai dengan Allah melalui Yesus Kristus. Hal ini tentu sulit diterima oleh mereka yang percaya bahwa alam semesta ada sejal mulanya untuk dinikmati setiap manusia dan segala hasil dalam hidup adalah jerih payah manusia sendiri. Bagi mereka, Tuhan itu tidak ada atau tidak relevan.

Kasih yang khusus atau istimewa adalah kasih Tuhan bagi umat pilihan-Nya saja, yaitu kasih yang unik dan menyelamatkan yang Allah miliki bagi mereka yang dipilih dan diangkat menjadi anak-anak-Nya melalui Kristus. Kasih Allah inilah yang menyelamatkan orang-orang yang tenggelam dalam dosa. Ditemukan di dalam Kristus, kasih yang mendalam dan mengubah cara hidup manusia ini dialami oleh mereka yang ada di dalam Kristus dan beriman kepada-Nya. Karena kekudusan-Nya, Allah tidak dapat mengaruniakan kasih yang menyelamatkan seperti ini bagi mereka yang menolak uluran tangan-Nya, karena Ia membenci dosa dan orang hidup dalam dosa.

Perbedaan utama antara dua jenis kasih ini terletak pada hakikat dan tujuan kasih tersebut. Meskipun Allah menunjukkan kebaikan umum kepada semua orang, hanya umat pilihan yang menerima kasih khusus dan menyelamatkan yang menebus dan mengubah mereka menjadi keluarga rohani-Nya.

Don Carson, dalam bukunya “The Difficult Doctrine of the Love of God” (Crossway, 2000) menjelaskan beberapa bentuk kasih Allah.

Kasih antara Allah Bapa, Putra dan Roh:
Kasih Allah Tritunggal tidak hanya membedakan monoteisme Kristen dari semua monoteisme lainnya, tetapi juga secara mengejutkan terkait erat dengan wahyu dan penebusan. Injil Yohanes khususnya kaya akan tema ini (misalnya, Yohanes 3:35; 5:20). Kasih intra-Trinitarian ini diungkapkan dalam hubungan yang sempurna antara Bapa dan Putra, yang tak ternoda oleh dosa di kedua belah pihak. Kasih intra-Trinitarian ini berfungsi sebagai model kasih antara Yesus dan para pengikut-Nya.

Kasih Allah yang Maha Pemurah atas semua ciptaan-Nya:
Meskipun Alkitab sebagian besar menghindari penggunaan kata “kasih” dalam konteks ini, temanya tidak sulit ditemukan. Allah menciptakan segala sesuatu, dan sebelum tercium sedikit pun dosa, Ia menyatakan segala sesuatu yang telah Ia ciptakan “baik” (Kejadian 1). Ini adalah hasil karya Pencipta yang penuh kasih. Yesus menggambarkan sebuah dunia di mana Allah menghiasi rumput di ladang dengan keindahan bunga-bunga liar yang mungkin tak disadari manusia, tetapi dinikmati oleh Allah.

Kasih Allah yang menebus dunia-Nya yang telah jatuh:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya (Yohanes 3:16). Beberapa orang mencoba mengartikan kosmos (“dunia”) di sini untuk merujuk pada orang-orang pilihan, tetapi itu sebenarnya tidak tepat. Semua bukti penggunaan kata tersebut dalam Injil Yohanes bertentangan dengan anggapan tersebut. “Dunia” dalam Injil Yohanes lebih merujuk pada kejahatan daripada kebesaran. Ini terutama merupakan tatanan moral dalam pemberontakan yang disengaja terhadap Allah. Dalam Yohanes 3:16, kasih karunia Allah patut dikagumi bukan karena ditujukan kepada hal sebesar dunia, melainkan kepada hal yang begitu buruk; bukan kepada begitu banyak orang, melainkan kepada orang berdosa, yaitu semua orang tanpa terkecuali.

Kasih Allah yang khusus, efektif, dan selektif terhadap umat pilihan-Nya:
Umat pilihan bisa berupa bangsa Israel dalam Perjanjian Lama atau gereja sebagai suatu badan atau individu. Dalam setiap kasus, Allah memberikan kasih sayang-Nya kepada umat pilihan-Nya dengan cara yang tidak Ia berikan kepada orang lain.

Hal yang mencolok dari ayat-ayat seperti Ulangan 7:7-8 adalah ketika Israel dikontraskan dengan bangsa-bangsa lain, ciri pembedanya tidak mencakup apa pun yang berkaitan dengan jasa pribadi atau nasional; itu tidak lain adalah kasih Allah. Kasih Allah ditujukan kepada Israel dengan cara yang tidak ditujukan kepada bangsa-bangsa lain. Dan ciri pembeda dari kasih Allah ini sering muncul dalam Alkitab. “Aku mengasihi Yakub, tetapi Aku membenci Esau,” firman Allah (Maleakh 1:2-3).

Demikian pula, dalam Perjanjian Baru kita membaca Kristus “mengasihi jemaat” (Efesus 5:25). Berulang kali Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa kasih yang khusus dari Allah ditujukan kepada mereka yang ada sebagai jemaat. Pilihan Allah ini adalah hak-Nya dan tidak dapat dibantah siapa pun.

Kasih Allah bagi umat-Nya ada dengan syarat ketaatan:
Ketaatan adalah bagian dari struktur rasional pengenalan akan Allah; hal ini tidak berkaitan dengan bagaimana kita mengenal-Nya, melainkan dengan hubungan kita dengan-Nya setelah kita mengenal-Nya. Yudas menasihati para pembacanya, “Jagalah dirimu tetap berada dalam kasih Allah” (Yudas 21), meninggalkan kesan yang jelas bahwa seseorang yang mengaku Kristen mungkin saja tidak tetap berada dalam kasih Allah karena kesalahannya sendiri.

Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk tetap berada dalam kasih-Nya (Yohanes 15:9), dan menambahkan: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tetap berada dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tetap berada dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:10).

Peringatan Penting

Kita harus menghindari penekanan eksklusif pada kasih Allah yang memilih umat-Nya dan yang mengabaikan orang lain, yang dapat mengarahkan kita pada hiper-Calvinisme yang dingin. Mereka yang merasa terpilih juga bisa merasa bahwa ia tidak perlu berbuat baik atau taat kepada Tuhan.

Pada pihak lain, kita harus meneliti klise-klise Injili yang sudah usang dengan pertimbangan Alkitab. Ajaran Kitab Suci yang lengkap tentang kasih Allah memberikan pencerahan yang dibutuhkan pada ungkapan seperti “Allah mengasihi semua orang dengan cara yang sama,” atau “Allah mengasihi kita tanpa syarat.” Mengapa? Di banyak bagian, Alkitab menggambarkan kasih Allah sebagai sesuatu yang dikondisikan oleh ketaatan. Di sisi lain, kasih Allah bagi umat-Nya tidak bersyarat—berkat karya Kristus.

Alasan bagi kita untuk bersukacita

Kasih Allah bagi orang berdosa seharusnya selalu mencengangkan dan merendahkan hati kita. Kasih Allah itu tidak boleh diperkecil menjadi sekadar hal yang selazimnya bagi Dia yang mahakasih. Pemazmur bertanya-tanya dengan tepat, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:4).

Pagi ini kita belajar bahwa Allah mengasihi umat-Nya, ciptaan-Nya, dan kosmos yang telah jatuh ini. Kebenaran yang tak terselami itu seharusnya menuntun kita untuk menyembah-Nya dengan sungguh-sungguh, berseru bersama rasul agung itu, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (Roma 11:36).

Memberi Kesempatan kepada Orang Lain

“Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Filipi 2:3–4

Di Indonesia mungkin frasa “ladies first” mungkin jarang di dengar, kecuali dalam kalangan orang yang terbiasa dengan budaya barat. Frasa ini dalam bahasa Inggris berarti “wanita lebih dulu”, sebuah ungkapan kesopanan yang mempersilakan kaum wanita untuk mendahului pria dalam situasi tertentu seperti masuk atau keluar ruangan, mengantre makanan dan sebagainya. Ungkapan ini bisa menandakan penghargaan terhadap wanita, meskipun ada juga perdebatan mengenai asal-usulnya yang konon berasal dari etiket kesatria abad pertengahan untuk melindungi wanita dari bahaya.

Pada zaman modern, wanita tidak dipandang sebagai makhluk yang lebih lemah dari pria. Tetapi, secara umum, “ladies first” tetap merupakan gestur sopan santun yang menunjukkan rasa hormat dengan mempersilakan wanita untuk mendahului pria. Tindakan ini sering kali dilakukan untuk membuat wanita merasa dihargai, didahulukan, dan diperhatikan. Sebaliknya, bagi kaum pria, ini dipandang sebagai etiket pergaulan yang baik yang seharusnya dimiliki oleh semua pria yang tahu sopan santun. Selain “ladies first”, terkadang frasa “ladies and children first” sekarang kadang-kadang masih ditemui sekalipun tidak ditetapkan hukum, untuk mendahulukan kaum wanita dan anak-anak pada situasi tertentu, seperti menaiki perahu atau kendaraan lain.

Bagaimana dengan konsep mendahulukan orang lain menurut Alkitab? Kita bisa belajar dari ayat-ayat di atas. Kehidupan jemaat di Filipi pada masa Paulus sebenarnya cukup baik. Mereka dikenal sebagai jemaat yang penuh kasih dan dermawan, bahkan membantu pelayanan Paulus ketika ia berada di penjara. Namun, di balik semangat itu, tersimpan benih-benih perpecahan kecil. Ada anggota jemaat yang merasa lebih penting, ada yang ingin diakui, dan ada pula yang berjuang mempertahankan pandangannya sendiri. Paulus, yang begitu mengenal jemaat itu dengan kasih pastoral, menulis dengan lembut tetapi tegas: “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.”

Konteks nasihat ini bukan hubungan dengan orang luar atau masyarakat umum, melainkan hubungan antar jemaat, antar sesama orang percaya yang sudah ditebus Kristus. Paulus tahu, jika tubuh Kristus di Filipi retak karena ambisi pribadi dan kebanggaan rohani, maka kesaksian mereka di hadapan dunia akan kehilangan maknanya. Kerendahan hati bukan sekadar sikap sopan atau etika sosial, melainkan cerminan kasih Kristus sendiri yang hidup di dalam umat-Nya.

Paulus menegaskan bahwa orang percaya dipanggil untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Kristus, yang memiliki segala kemuliaan dan kuasa, justru mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Inilah inti dari iman Kristen: kasih yang rela menanggalkan hak demi kepentingan orang lain. Bagi Paulus, kerendahan hati bukan kelemahan, melainkan kekuatan rohani yang lahir dari pengenalan akan kasih karunia Tuhan.

Jika kita merenungkan ayat ini dalam kehidupan jemaat masa kini, kita bisa melihat betapa relevannya pesan ini. Banyak gereja modern yang memiliki liturgi indah, pelayanan lengkap, dan aktivitas padat, tetapi di dalamnya kadang muncul persaingan halus — siapa yang lebih dihormati, siapa yang lebih “rohani,” siapa yang lebih didengar. Lebih dari itu, terkadang sebagian para pemimpin gereja mungkin ada yang merasa bahwa mereka seharusnya menerima penghormatan dan prioritas yang lebih besar dari orang lain. Dalam situasi seperti ini, nasihat Paulus bergema kembali: berilah kesempatan bagi orang lain.

Memberi kesempatan bukan berarti mengabaikan diri sendiri atau meniadakan kebutuhan pribadi. Paulus tidak meminta jemaat untuk hidup dalam ketimpangan, tetapi untuk menyeimbangkan kepentingan diri dan sesama dengan kasih yang tulus. Dalam gereja, memberi kesempatan bisa berarti mendengarkan sebelum menilai, berbagi kesempatan pelayanan tanpa iri hati, memberi dorongan ketika yang lain tampil di depan, dan menerima bahwa cara Tuhan bekerja melalui setiap orang bisa berbeda-beda dan setiap orang mempunyai kelemahan dan kekuatan tersendiri.

Kita sering melihat bagaimana perbedaan pendapat dalam pelayanan bisa menimbulkan luka. Selain itu, kita sadar bahwa setiap manusia umumnya cenderung menuntut perhatian dan penghargaan orang lain. Namun, jika kita meneladani Kristus yang tidak menuntut hak-Nya, maka kita akan belajar menundukkan diri bukan karena kalah, melainkan karena kasih. Kerendahan hati tidak membuat kita kecil, justru membesarkan ruang hati agar kasih Kristus dapat bekerja melalui kita. Kesediaan untuk mendahulukan kepentingan orang lain adalah kualitas kekristenan yang diajarkan Paulus.

Alkitab mengajarkan bahwa perbuatan baik kita seharusnya terlihat oleh orang di luar gereja sehingga mereka memuliakan Bapa di surga. Kutipan utama yang mendukung hal ini adalah Matius 5:16 yang menyatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”. Hal ini bertujuan agar kebaikan kita bukan untuk diri sendiri, melainkan sebagai kesaksian akan kehadiran Allah dan memimpin orang lain kepada kebenaran.

Pagi ini kita belajar bahwa kasih yang sejati tidak bersaing untuk menonjol, tetapi bersaing untuk melayani. Dan hanya kasih Kristus yang bisa menumbuhkan semangat itu. Ketika kita memandang orang lain melalui mata Allah, kita tidak lagi melihat saingan atau ancaman, melainkan sesama yang dikasihi Tuhan. Kita tidak lagi menghitung siapa lebih besar, tetapi bersyukur bahwa setiap orang mendapat bagian yang indah dalam rencana-Nya.

Kerendahan hati dan kasih dalam jemaat bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan karya Roh Kudus dalam hati yang telah dikosongkan. Maka doa kita hari ini kiranya sederhana tetapi dalam: “Ya Tuhan, tolong aku untuk mengosongkan diriku dan memberi ruang bagi sesamaku.” Dengan demikian, gereja bukan sekadar tempat beribadah, melainkan rumah kasih di mana setiap orang belajar melihat dan melayani dengan hati Kristus.

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:43-45

Berbahagia dalam Penderitaan karena Kristus

” Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Matius 5:11

Kata “berbahagialah” terdengar indah, tetapi ketika Yesus berkata, “Berbahagialah kamu yang dianiaya karena Aku,” banyak orang berhenti sejenak dan bertanya: “Bagaimana mungkin seseorang bisa berbahagia ketika disakiti, ditolak, atau difitnah?”

Memang pada saat Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit, penderitaan dan penganiayaan belum terjadi pada mereka yang mengikuti-Nya. Namun, berkat Yesus ini berfungsi sebagai peringatan dini bahwa pelecehan semacam itu akan datang (Yohanes 16:1-4). Dalam ayat berikutnya, Yesus akan melanjutkan penjelasannya mengapa mereka yang menderita karena terhubung dengan-Nya sudah diberkati di surga.

Sebenarnya dalam hidup setiap orang bisa disakiti, ditolak, atau difitnah, kapan saja dan di mana saja. Di rumah, sekolah, kantor, dan bahkan di gereja, kita bisa saja mengalami hal-hal yang membuat kita menderita. Apalagi, di zaman ini pergaulan bisa dilakukan di dunia maya, di mana hal-hal yang tidak baik bisa terjadi tanpa sanksi atau hukuman.

Namun Yesus tidak sedang berbicara tentang kebahagiaan duniawi. Ia tidak juga menyinggung penderitaan yang kita alami yang datang dari persoalan duniawi. Ia berbicara hanya tentang penderitaan yang kita alami karena iman kita dalam Yesus Kristus. Dalam hal itu, Ia berbicara tentang sukacita rohani yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang menyatu dengan Allah. Sukacita yang tidak tergantung pada situasi, melainkan pada kehadiran Kristus di dalam diri kita.

Mungkin ada yang bertanya: apakah baik jika kita berusaha mencari tantangan iman agar kita bisa lebih berbahagia? Jawabnya jelas: Tidak. Yesus tidak mengajar kita untuk mencari penderitaan. Tidak ada rasul yang sengaja mencari gara-gara supaya bisa dianiaya. Tidak ada murid Kristus yang bangga karena dibenci orang lain. Tapi mereka sadar bahwa itu akan dan bisa terjadi, dan mereka siap menerima akibatnya.

Yang Yesus maksud adalah jika kita tetap setia kepada-Nya, dan karena itu kita dicela atau difitnah, jangan takut, jangan akan tawar hati — sebab kita tidak akan sendirian.

Yesus juga berkata,

“Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala; sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Dalam hal ini, kita dipanggil untuk berhikmat, bukan untuk nekat. Kita dipanggil untuk tetap tulus, bukan untuk memancing atau mengobarkan kebencian. Kesetiaan kepada Kristus bukan berarti kita harus menjerumuskan diri ke dalam bahaya, tetapi berarti kita tidak menyerah dalam kebenaran dan kasih, sekalipun dunia menolak kita.

Yesus memberikan prinsip yang bijaksana ketika Ia mengutus murid-murid-Nya, Ia berkata,

“Apabila kamu tidak diterima di suatu tempat, kebaskanlah debu dari kakimu.” (Markus 6:11)

Artinya, ketika kebaikan dan kasih kita ditolak, kita tidak perlu memaksakan diri. Kita boleh mengebaskan debu dan berjalan lanjut — bukan karena dendam, tetapi karena ini adalah lebih berguna untuk hidup dan pelayanan kita sebagai hamba Kristus. Seorang hamba yang baik tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna bagi majikannya, dan karena itu kita harus bijaksana dalam menggunakan kesempatan yang ada.

Mengebaskan debu bukan tanda menyerah. Itu tanda berserah. Sebuah pengakuan bahwa kita sudah melakukan bagian kita, dan sekarang waktunya menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Tuhan tidak meminta kita menanggung beban yang lebih besar dari kekuatan kita. Ia hanya meminta kita tetap memiliki hati yang bersih, tanpa dendam dan tanpa kepahitan, dan terus melaksanakan tugas kita pada kesempatan lain.

Memang dunia tidak selalu menyambut terang Kristus dengan sukacita. Adanya terang sering kali membuat orang yang hidup dalam kegelapan merasa terganggu. Ketika kita jujur, ada yang mencibir. Ketika kita tulus, ada yang menuduh. Ketika kita setia kepada Kristus, ada yang menertawakan kita. Tetapi Yesus sendiri sudah lebih dahulu mengalaminya.

Orang percaya sejati di dalam Kristus adalah orang benar di mata Allah (Roma 3:21-22; 2 Korintus 5:21; Filipi 1:11). Pengakuan iman kita kepada Yesus Kristus dan cara hidup moral orang Kristen sejati terbukti menyinggung dunia, yang mengakibatkan penganiayaan demi kebenaran. Yesus menghadapi penganiayaan dan dibenci dunia, begitu pula semua orang yang menjadi milik Kristus: “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu seperti miliknya. Tetapi kamu bukanlah dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia; sebab itulah dunia membenci kamu” (Yohanes 15:19).

Jika kita benar-benar mengikuti Dia, tidak mengherankan bila dunia pun memperlakukan kita seperti Dia. Para rasul mengerti hal ini. Setelah mereka dipukuli dan diancam karena memberitakan Kristus, mereka keluar dari mahkamah agama sambil bersukacita,karena dianggap layak menderita demi nama Yesus (Kisah 5:41). Mereka tidak marah, tidak membalas, tidak menuntut.Mereka tahu bahwa penderitaan itu bukan aib —melainkan kehormatan dari Allah.

Namun kita perlu jujur juga: tidak semua penderitaan adalah penderitaan karena Kristus. Kadang orang merasa dianiaya karena “kebenaran”, padahal yang menimbulkan masalah adalah ego, cara bicara yang sembarangan, atau sikap yang tidak bijak. Penderitaan seperti itu tidak menghasilkan pahala rohani, tetapi pelajaran untuk rendah hati.

Petrus menulis,

“Alangkah baiknya jika seorang menanggung penderitaan karena berbuat baik, dan bukan karena berbuat jahat.” (1 Petrus 2:20)

Sukacita yang Yesus maksud bukanlah tertawa di tengah air mata, tetapi damai yang melampaui pengertian. Sebuah ketenangan dapat kita peroleh dari keyakinan kita akan kedaulatan Tuhan: “Tuhan tahu apa yang akan terjadi padaku” (Matius 10:30). Damai ini tidak bisa dirampas oleh siapa pun, karena berasal dari keyakinan bahwa Tuhan memegang kendali.

Namun menguasai hati di tengah celaan bukan hal yang mudah. Kita perlu latihan — disiplin iman. Sama seperti otot yang dilatih dengan beban, jiwa kita pun perlu dilatih dengan pengendalian diri dan kesabaran. Setiap kali kita tergoda untuk membalas, itulah saatnya berlatih menahan diri. Setiap kali kita difitnah, itulah saatnya berdoa dan menyerahkan luka kepada Tuhan. Setiap kali kita tetap memilih mengasihi, itulah saat kita sedang menang — bukan kalah.

Kadang latihan ini membuat hati perih, tetapi justru di situlah kasih diuji. Kita belajar bahwa tidak semua tuduhan harus dibantah, tidak semua luka harus dibalas, dan tidak semua penolakan harus dikejar. Ada kalanya yang terbaik adalah diam, mengebaskan debu dari kaki, dan berjalan maju bersama Kristus yang memahami segalanya.

Yesus menutup ajaran-Nya dengan janji indah: “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”(Matius 5:12). Dunia mungkin tidak memberi tepuk tangan, tetapi surga menanti dengan mahkota. Kita tidak perlu mencari penderitaan, tetapi ketika penderitaan datang karena kesetiaan kita, biarlah kita menyambutnya dengan damai. Dan bila tiba saatnya mengebaskan debu, lakukanlah dengan kasih, bukan dengan amarah.

Berbahagialah bukan karena kita dianiaya, tetapi karena Kristus hidup di dalam kita. Berbahagialah bukan karena dunia menolak kita, tetapi karena kita tidak menolak kasih-Nya. Berbahagialah karena di tengah fitnah dan celaan, karena kita tetap memiliki damai sejahtera yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.

Kiranya setiap celaan yang datang justru menjadi kesempatan bagi kita untuk memancarkan kasih Kristus. Dan ketika kaki kita berdebu oleh perjalanan yang panjang, semoga kita selalu ingat untuk mengebaskannya — bukan karena menyerah, tetapi karena berserah. Alih-alih merasa kecil hati, cemas, marah, atau tertekan, orang percaya yang dianiaya karena hidup secara terbuka bagi Kristus dan kerajaan-Nya memiliki alasan yang baik untuk bersukacita dan bergembira—karena pahala mereka di surga sangat besar.

Kasih dan Kerendahan Hati: Dua Wajah dari Satu Roh

“Janganlah kamu melakukan sesuatu pun dengan sikap mementingkan diri sendiri atau dengan kesombongan, tetapi hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” Filipi 2:3

Adakah kasih tanpa kerendahan hati? Tidak ada. Kasih dan kerendahan hati adalah dua wajah dari satu roh yang sama—Roh Kristus. Keduanya tidak dapat dipisahkan, sebab kasih sejati selalu mengalir dari hati yang rendah, dan kerendahan hati sejati selalu tampak dalam kasih. Namun di dunia modern, kedua sikap ini sering disalahpahami. Banyak orang mengira kasih berarti membiarkan orang lain berbuat sesuka hati, bahkan ketika mereka berbuat jahat kepada kita. Sebaliknya, ada pula yang mengira kerendahan hati berarti diam saja ketika dilecehkan, menanggung hinaan tanpa batas, seolah Tuhan menuntut kita menjadi korban tanpa suara.

Kasih dan kerendahan hati yang diajarkan Kristus jauh lebih dalam dari apa yang banyak disuarakan orang. Keduanya bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang berakar pada pengenalan akan Allah. Kasih sejati bukan perasaan lemah-lembut yang mudah berubah, melainkan keputusan untuk mencari kebenaran dan kebaikan bagi orang lain. Rasul Paulus menggambarkan kasih sebagai sabar, murah hati, tidak mencari keuntungan diri sendiri, dan tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Kasih bukan berarti kita membiarkan kejahatan terus terjadi demi menjaga ketenangan. Itu karena Yesus sendiri penuh kasih, tetapi Ia juga tegas terhadap dosa. Ia mengampuni perempuan yang berzinah, tetapi berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Kasih seperti ini berani menolak kejahatan tetapi tetap menerima orangnya dengan belas kasihan.

Demikian pula kerendahan hati. Banyak orang mengira rendah hati berarti menilai diri sendiri tidak berharga. Padahal kerendahan hati sejati justru lahir dari pengenalan akan nilai diri yang benar di hadapan Tuhan. Orang yang rendah hati tahu bahwa dirinya adalah ciptaan yang berharga, tetapi juga sadar bahwa segala yang ia miliki hanyalah anugerah. Ia tidak sombong, tetapi juga tidak meniadakan diri. Kerendahan hati bukan berarti membiarkan orang lain melecehkan kita; rendah hati bukan rendah diri. Kerendahan hati bukan berarti membiarkan orang melecehkan ajaran Kristus, karena Yesus adalah teladan tertinggi. Ia merendahkan diri, menjadi manusia, bahkan mati di kayu salib, tetapi Ia tidak pernah kehilangan identitas sebagai Anak Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kasih dan kerendahan hati paling nyata diuji bukan di gereja, melainkan di rumah, di tempat kerja, dan di tengah pergaulan. Kasih yang rendah hati membuat seorang suami mau meminta maaf lebih dulu, meski merasa tidak sepenuhnya salah. Kasih yang rendah hati membuat seorang rekan kerja menghargai pendapat orang lain, tanpa harus membuktikan diri paling benar. Dan kasih yang rendah hati membuat seorang pelayan Tuhan tetap setia melayani, meski tanpa tepuk tangan. Di tengah dunia yang penuh ego, kasih yang rendah hati menjadi cahaya yang meneduhkan. Dunia mengajarkan: “Jangan biarkan orang lain menginjakmu.” Tetapi Kristus berkata: “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” (Matius 11:29).

Kasih tanpa kerendahan hati akan menjadi sombong. Kita bisa memberi, tetapi dengan niat ingin dipuji. Kita bisa menolong, tetapi dengan merasa lebih tinggi. Kasih seperti itu kehilangan keindahan sejatinya karena tidak berakar dalam anugerah. Sebaliknya, kerendahan hati tanpa kasih menjadi dingin dan pasif. Orang bisa tampak lembut, tetapi sebenarnya takut, tertekan, atau kehilangan keberanian menegakkan kebenaran Kristus. Kerendahan hati sejati tunduk kepada Allah, bukan kepada manusia. Kasih memberi arah pada kerendahan hati, dan kerendahan hati memberi kekuatan pada kasih.

Kita tidak dapat memiliki keduanya tanpa mengenal Kristus. Dosa selalu membuat kita ingin membalas, ingin menang, ingin dihormati. Tetapi saat kita memandang salib Kristus, kita melihat kasih yang paling murni dan kerendahan hati yang paling dalam. Di situ kita belajar bahwa mengundurkan diri bukan berarti kalah, mengampuni bukan berarti lemah, dan berdiri untuk kebenaran bukan berarti tidak mengasihi.

Kasih tanpa kerendahan hati kehilangan keindahannya, dan kerendahan hati tanpa kasih kehilangan kehangatannya. Keduanya hanya dapat bersatu di dalam Kristus, yang penuh kasih dan rendah hati. Dialah teladan kita yang tidak membalas hinaan dengan hinaan, tetapi menyerahkan diri kepada Allah yang menghakimi dengan adil. Marilah kita belajar mengasihi tanpa sombong, dan rendah hati tanpa kehilangan keberanian. Sebab di dalam kasih dan kerendahan hati yang sejati, dunia dapat melihat wajah Kristus di dalam hidup kita.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Filipi 2:5

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkaulah sumber kasih dan teladan kerendahan hati. Ajarlah aku untuk mengasihi seperti Engkau, tanpa pamrih dan tanpa sombong. Ajarlah aku untuk rendah hati, bukan karena takut, tetapi karena percaya bahwa Engkau yang memegang hidupku. Tuntunlah lidahku, pikiranku, dan tindakanku agar selalu mencerminkan kasih-Mu yang kudus. Dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.

Persahabatan di Usia Senja

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari seorang saudara.” Amsal 18:24

Semakin usia kita bertambah, semakin kita menyadari bahwa lingkaran pertemanan kita tidak lagi seluas dulu. Di masa muda, kita memiliki banyak teman dari berbagai lingkup: sekolah, kuliah, pekerjaan, lingkungan rumah, bahkan dari aktivitas-aktivitas sosial yang kita ikuti. Nama dan wajah mereka berderet di album foto lama, penuh kenangan masa indah ketika dunia terasa begitu terbuka. Kita bisa tertawa bersama, bepergian bersama, bahkan begadang bersama hanya demi cerita atau rencana yang seolah tiada habisnya. Namun waktu membawa perubahan. Teman yang dulu begitu dekat mungkin pindah ke kota lain, sibuk dengan urusan rumah tangganya, atau bahkan telah berpulang mendahului kita.

Dengan berlalunya tahun, lingkaran pertemanan itu mengecil, dan kita mulai merasakan bahwa persahabatan tidak bisa diukur dari banyaknya nama yang ada di buku alamat atau daftar kontak telepon, melainkan dari seberapa dalam hubungan itu memberi makna.

Ada orang yang merasa sepi ketika mendapati jumlah temannya berkurang. Ia bertanya-tanya, mengapa makin tua justru makin sedikit orang yang datang berkunjung, menelepon, atau sekadar mengirim pesan singkat. Tetapi jika direnungkan lebih dalam, mungkin bukan kesepian yang sebenarnya terjadi, melainkan pergeseran cara kita melihat nilai sebuah relasi.

Di masa muda, kita mencari banyak teman karena ingin diakui, ingin berbagi pengalaman, atau sekadar ingin menikmati suasana ramai. Namun, seiring berjalannya waktu, kita belajar bahwa keramaian tidak selalu sejalan dengan kedekatan hati. Kita mulai lebih selektif, tidak lagi mengejar banyaknya teman, melainkan mencari sahabat sejati yang benar-benar bisa dipercaya, yang seiman, sehati, dan yang mampu menopang kita di saat-saat paling lemah.

Firman Tuhan menyinggung hal ini dengan jelas. Kitab Amsal berkata bahwa ada teman yang justru mendatangkan celaka, tetapi ada sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara. Sahabat semacam itu tidak datang begitu saja; ia ditemukan lewat perjalanan panjang, diuji melalui waktu, kesetiaan, dan kejujuran.

Dengan bertambahnya usia, kita semakin menghargai kualitas daripada kuantitas. Mungkin sekarang sahabat kita hanya satu atau dua, tetapi mereka itulah yang menjadi tempat kita bersandar ketika hati resah, menjadi telinga yang setia mendengar keluh kesah, bahkan menjadi suara pengingat yang menegur dengan kasih ketika langkah kita mulai melenceng.

Yesus sendiri memberi teladan yang indah. Meski banyak orang mengikuti-Nya, Ia memilih membangun keintiman khusus dengan tiga murid: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Ia mengajak mereka ke tempat doa yang paling pribadi, memperlihatkan kemuliaan-Nya di atas gunung, bahkan meminta mereka berjaga-jaga di Taman Getsemani. Dari situ kita belajar bahwa persahabatan sejati memang tidak bisa dijalani dengan semua orang. Ada lingkaran besar pengikut, ada dua belas murid yang belajar langsung, tetapi ada pula lingkaran kecil sahabat terdekat. Itulah pola yang juga kita alami dalam hidup: dari banyak kenalan, semakin mengerucut kepada sahabat-sahabat yang benar-benar setia.

Di zaman sekarang, dunia maya seolah memberi peluang baru. Banyak orang lanjut usia yang menemukan komunitas melalui internet, baik berupa kelompok hobi, persekutuan doa daring, maupun sekadar pertemanan dengan orang dari belahan dunia lain. Ada yang merasa terhibur karena tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik, bisa berinteraksi kapan saja, di mana saja. Teman maya bisa menjadi penyemangat, tempat berbagi kisah, bahkan sarana untuk terus belajar di usia senja.

Namun di sisi lain, persahabatan digital juga membawa tantangan. Tidak semua yang kita kenal lewat layar benar-benar hadir ketika kita jatuh. Tidak semua yang tampak akrab di pesan singkat dapat disebut sahabat sejati. Karena itu, kita tetap perlu bijaksana dalam membedakan mana yang hanya sekadar kenalan, dan mana yang sungguh menjadi sahabat dalam iman dan kasih.

Semakin kita menua, semakin jelas pula bahwa persahabatan yang paling kokoh adalah yang berakar dalam Kristus. Persahabatan seperti ini tidak hanya bertujuan menemani kita di dunia, tetapi juga menolong kita tetap berjalan menuju rumah kekal. Rasul Paulus dalam surat-suratnya selalu menyebut nama sahabat-sahabat rohaninya, mengucap syukur atas mereka, mendoakan mereka, dan mengakui betapa besar peran mereka dalam perjalanan imannya. Itu mengingatkan kita bahwa sahabat seiman bukan sekadar rekan ngobrol, melainkan mitra rohani yang saling meneguhkan dalam pengharapan.

Maka janganlah kita kecewa bila jumlah teman semakin sedikit. Justru di balik itu, Tuhan sedang menuntun kita kepada relasi yang lebih murni dan penuh makna. Persahabatan yang sejati adalah anugerah, dan anugerah itu tidak selalu datang dalam jumlah banyak. Dunia mungkin memandang bahwa orang yang populer, dikelilingi banyak teman, adalah orang yang beruntung. Tetapi di hadapan Tuhan, yang lebih bernilai adalah mereka yang setia memelihara persahabatan kecil yang penuh kasih, saling menopang, dan saling mendoakan.

Pada akhirnya, bahkan jika semua orang pergi, kita masih memiliki Sahabat Sejati yang tidak pernah meninggalkan kita: Yesus Kristus sendiri. Ia berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yohanes 15:15). Inilah penghiburan terbesar di usia senja: bahwa dalam kesendirian sekalipun, kita tidak pernah benar-benar sendiri, karena ada Sahabat yang setia, yang mengasihi kita sampai mati, dan yang telah menebus kita dengan darah-Nya.

Kiranya kita belajar untuk melihat persahabatan bukan dari banyaknya nama yang tersisa dalam daftar kontak, melainkan dari kedalaman relasi yang ditopang oleh kasih Kristus. Biarlah kita juga menjadi sahabat sejati bagi orang lain, bukan hanya sekadar hadir di waktu senang, tetapi juga berjalan bersama di saat susah, menolong, mendoakan, dan meneguhkan iman.

Semoga sisa hidup kita dipenuhi bukan oleh keramaian yang semu, melainkan oleh kehangatan relasi yang sejati, sedikit tetapi berharga, rapuh namun dipelihara oleh kasih Allah yang abadi. Dan pada akhirnya, ketika semua pertemanan dunia ini mencapai garis akhir, kita akan bersukacita karena sahabat-sahabat sejati kita adalah mereka yang bersama-sama dengan kita memandang wajah Kristus di kekekalan.

Doa Penutup;

Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap sahabat yang Engkau beri dalam perjalanan hidup kami. Meskipun jumlah mereka sedikit, relasi itu penuh makna karena Engkau hadir di dalamnya. Tolonglah kami untuk menghargai dan merawat persahabatan yang ada, serta menjadikan Engkau sebagai Sahabat yang utama. Ajari kami untuk setia, mengasihi, dan menopang satu sama lain sampai akhir. Dan biarlah hidup kami menjadi berkat bagi sahabat-sahabat yang Engkau percayakan kepada kami. Amin.