Pernahkah Anda merajuk karena keputusan Tuhan?

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: ”Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: ”Layakkah engkau marah?” Yunus 4:1-4

Yunus adalah seorang nabi yang mempunyai temperamen yang agak “aneh”. Tetapi, dalam keadaan tertentu kita mungkin juga bisa berlaku seperti Yunus. Dalam ayat di atas, kita melihat bahwa dalam doanya Yunus marah kepada Tuhan dan mengasihani dirinya sendiri karena Tuhan menyelamatkan Niniwe. Seperti Yunus, kita juga membuat dosa serupa yang berupa kemarahan, pembenaran diri dan kesombongan. Sebagai orang pilihan, kita mungkin merasa bahwa Tuhan seharusnya selalu “mengalah” kepada kita.

Setelah perjalanan pengabarannya di Niniwe, Yunus sebenarnya punya banyak alasan untuk merasa bahagia. Dia seharusnya bersyukur, gembira, bersyukur, bersukacita. Dia telah berkhotbah selama tiga hari dan seluruh kota telah bertobat kepada Tuhan. Tidak banyak pengkhotbah yang mendapat tanggapan positif yang begitu besar terhadap khotbah mereka.

Tapi Yunus tidak bersukacita, dia malah merajuk. Dia tidak senang, dia kesal. Dia “sangat tidak senang dan menjadi marah”. Mengapa? Dia terkejut dengan anugerah Tuhan terhadap kota Niniwe dan dia sama sekali tidak menyukainya. Hal ini juga membuat Yunus menjadi sombong. “Dia berdoa kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan, bukankah ini yang aku katakan ketika aku masih di rumah?’ “Yunus menanggapi kasih TUhan kepada orang Niniwe dengan merajuk kekanak-kanakan dan membiarkan kepahitan menguasai dirinya.

Ada kemarahan yang benar, ada kemarahan yang baik; tapi ada juga kemarahan penuh dosa yang muncul karena sikap egois dan mementingkan diri sendiri ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita makin marah karena orang yang tidak kita senangi justru mendapatkannya. Kemarahan seperti ini merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam. Ini adalah bel peringatan yang perlu kita perhatikan. Kemarahan yang disadarkan rasa iri hati dan kesombongan seperti ini mengarah pada dosa-dosa lainnya (ingat Tujuh Dosa yang Membinasakan).

Alkitab menampilkan dua doa Yunus. Yang pertama di dalam perut ikan, yang kedua di Niniwe. Dalam doanya yang pertama dia berseru minta ampun kepada Tuhan, dalam doa kedua dia marah kepada Tuhan. Tadinya di perut ikan dia rendah hati dan menyesal, sekarang dia sombong dan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Dalam doa pertama, dia merasa kosong dalam dirinya sendiri; kemudian sesudah diampuni Tuhan, dia merasa penuh dengan dirinya sendiri. Dalam kesombongannya, Yunus merasa dia lebih tahu daripada Tuhan. Secara harafiah keluhannya berbunyi, “Bukankah ini perkataanku ketika aku masih di rumah?”

Inilah Yunus, nabi yang melarikan diri dan tidak taat, yang kemudian memberi tahu Tuhan apa yang harus dilakukan, menguliahi Tuhan. Inilah nabi lemah yang merasa lebih bijaksana daripada Tuhan yang mahakuasa. Karena segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan harapannya, dia menuduh Tuhan tidak adil; seperti pemain sepakbola yang menantang keputusan wasit; “Kamu membuat keputusan yang buruk; itu adalah keputusan yang salah.” Tetapi, kita pun sering berlaku seperti Yunus sekalipun tidak sadar akan hal itu.

Banyak di antara kita yang terjebak dalam pemikiran bahwa kita lebih tahu daripada Tuhan; berpikir kita mempunyai rencana yang lebih baik, sehingga kita dapat memperbaiki apa yang sedang Tuhan lakukan. Seperti Marta yang merajuk karena kematian Lazarus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11: 21).

Kita sering melakukan ini juga. “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal itu terjadi?” “Jika orang itu tidak mengatakan hal itu, aku tentu tidak akan marah.” “Jika Tuhan menjagaku tetap sehat, semua ini tidak akan terjadi.” Kita jatuh ke dalam sikap yang sama seperti Yunus. Kita pikir kita lebih tahu daripada Tuhan dan kita menyalahkan Dia atas apa yang tidak kita sukai, dan kita berani mengatakan kepada-Nya apa yang harus Dia dilakukan. Dalam kesombongan kita, kita berselisih dengan Tuhan. Kita cukup sombong untuk berpikir bahwa kita pantas untuk merajuk kepada Tuhan.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah mahaadil dan mahabijaksana. Seperti Dia mengasihi nabi Yunus, Tuhan juga mengasihi kita yang berdosa. Tuhan mau kita sadar bahwa Ia mengasihi semua ciptaan-Nya dan memberikan berkat-Nya sesuai dengan kebijakan-Nya. Kita tidak patut merajuk kepada Tuhan karena adanya hal-hal yang tidak kita sukai. Jika kita saat ini marah kepada Tuhan, firman-Nya kepada kita: ”Layakkah engkau marah?”

Kita tidak perlu meniru orang Israel

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Keluaran 3: 14 – 15

Pada saat ini, banyak orang yang rajin membaca berita tentang keadaan di Timur Tengah. Peperangan antara Israel dan Hamas membuat orang ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang perseteruan antara Israel dan Hamas, dan juga antara Israel dean beberapa negara Arab. Karena itu banyak orang mungkin tertarik untuk mempelajari cara hidup, budaya dan agama orang Israel.

Seperti yang kita ketahui, bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, dari mana Yesus dilahirkan. Allahlah yang menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan membimbing mereka untuk masuk ke tanah perjanjian. Namun, karena bangsa itu kemudian berpaling dari Allah, mereka kemudian diceraiberaikan Allah, sampai-sampai kehilangan negaranya. Hanya setelah berakhirnya perang dunia kedua, dan setelah mengalami malapetaka yang disebabkan oleh Nazi Jerman, negara Israel kemudian terbentuk lagi hingga sekarang.

Apakah bangsa Israel yang sekarang ada, masih tetap merupakan bangsa pilihan Allah? Jawaban pertanyaan ini tidaklah mudah ditemukan. Maklum, bangsa Israellah yang membuat Yesus disalibkan, dan sampai sekarang sebagian besar orang Yahudi masih menantikan datangnya Mesias. Sebagian orang Kristen kemudian menganggap bahwa eksistensi bangsa Israel sekarang tidak lagi relevan dalam teologi Kristen. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang percaya bahwa bangsa ini sampai sekarang masih bangsa pilihan yang pada akhirnya akan diselamatkan.

Dalam masyarakat Yahudi, Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH atau YHWH. Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan nama-Nya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14).

Sebenarnya, Tuhan dikenal dengan berbagai nama dalam kitab Kejadian. Dia disebut “El Elyon” (Tuhan Yang Maha Tinggi), “El Shaddai” (Tuhan Yang Maha Kuasa), “El Roi” (Tuhan yang melihatku), dan nama-nama lainnya. Walaupun demikian, Abraham, Nuh, Ishak, Yakub, dan Laban mengenal Tuhan sebagai YHWH, atau Yahweh.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa agar diingat oleh umat-Nya, Israel, pada saat itu. Selalu diingat, tidak boleh dilupakan. Tuhan memang sedang mempersiapkan umat-Nya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus (Kejadian 3:15). Dari Alkitab kita bisa membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan banyak segi dari tujuan dan rencana penebusan-Nya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, yang tidak pernah berubah. Karena itu, Tuhan adalah Tuhan. Yahweh yang tidak ada duanya.

Dalam kitab Keluaran agaknya nama YHWH sudah dilupakan. Itulah sebabnya tidak disebutkan nama ilahi dalam Keluaran 1 dan 2. Kita harus ingat bahwa umat Israel telah menjadi budak di Mesir selama 400 tahun. Musa telah berada di Midian dengan ayah mertuanya yang tidak mengenal Tuhan selama 40 tahun. Walaupun ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dan juga orang-orang yang berseru dalam penderitaan mereka kepada Tuhan, tidak ada yang memanggil nama YHWH. Dengan melupakan Tuhan yang tidak pernah berubah dan Tuhan yang mahakuasa, dan yang rancangan penyelamatan-Nya pasti terjadi, dalam penderitaan umat Israel tidak bisa mengerti siapakah Tuhan mereka, YHWH, yang akan membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Untuk kita, implikasi dari nama yang luar biasa ini, AKU ADALAH AKU, adalah bahwa Allah yang tak terbatas, mutlak, dan menentukan nasib sendiri ini telah datang untuk kita di dalam Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8: 56–58, Yesus menjawab kritik dari para pemimpin Yahudi. Dia berkata, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia telah melihatnya dan ia bersukacita. ” Orang-orang Yahudi kemudian berkata kepadanya, “UmurMu belum sampai lima puluh tahun, dan Engkau telah melihat Abraham?” Yesus kemudian berkata kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. AKU ADALAH AKU!

Haruskah kita sekarang memanggil Tuhan dengan nama Yahweh seperti orang Yahudi? Tidak! Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabi-Nya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Bapa yang tidak berubah. Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”. Kita boleh percaya bahwa pada saatnya, bangsa Israel juga akan memanggil Yahweh sebagai Bapa, jika mereka menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Bolehkah kita berbohong kecil?

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Efesus 4:25,

Keyakinan saya sendiri adalah bahwa berbohong tidak pernah benar secara moral. Tapi ini bukan berarti saya tidak pernah berbohong. Berbohong didefinisikan sebagai “membuat pernyataan yang tidak benar dengan maksud untuk menipu.” Kebohongan kecil merupakan pernyataan yang tidak benar, namun biasanya dianggap tidak penting karena tidak menutupi kesalahan yang serius. Kebohongan kecil memang menipu, namun bisa juga bersifat sopan atau diplomatis. Ini bisa jadi dianggap sebagai kebohongan yang “bijaksana” untuk menjaga perdamaian dalam suatu hubungan; atau bisa jadi itu adalah kebohongan yang “membantu” yang seolah-olah menyenangkan orang lain; itu bisa menjadi kebohongan “kecil” untuk membuat diri kita terlihat lebih baik di depan banyak orang.

Bagaimana kita tidak boleh berbohong jika kita menghadapi masalah yang sulit? Dalam situasi sulit, seharusnya kita percaya Tuhan akan memberikan alternatif agar kita bisa melakukan apa yang benar di mata Tuhan, namun tidak berbohong. Tetapi ini bukannya mudah untuk dilaksanakan karena kita sering tidak sabar untuk menunggu jawaban-Nya.

Jika kita menelusuri Alkitab berapa kali muncul larangan untuk berbohong, mengatakan apa yang tidak benar, memberikan kesaksian palsu, dan sebagainya. Ada banyak ayat berulang kali di mana Tuhan jelas memerintahkan kita untuk tidak berbohong. Tentu saja, kita melihat hal ini dalam 10 perintah Tuhan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Keluaran 20:16) namun jika kita melihat Perjanjian Baru, Paulus berkata dalam Efesus 4:25, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.”. Dalam Kolose 3:9, dia berkata, “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.”.

Adalah penting bagi kita untuk menyadari bahwa meniru karakter Tuhan adalah dasar untuk tidak berbohong. Tuhan tidak pernah berbohong. Faktanya, Ibrani 6:18 mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin berbohong. Titus 1:2 mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang tidak berdusta, Tuhan yang tidak pernah berbohong.

Selain itu, Yesus tidak pernah berbohong. Itu adalah argumen lain yang mendukung gagasan bahwa kita tidak boleh berpikir bahwa kita terpaksa berbohong. Kita bisa membahas panjang lebar contoh-contoh naratif mengenai beberapa kebohongan dalam Kitab Suci – misalnya Rahab berbohong kepada tentara Yerikho untuk melindungi mata-mata yang datang ke rumahnya – tetapi contoh naratif tersebut tidak membatalkan kesimpulan bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk tidak berbohong dan tidak menegaskan kebohongan.

Jika kita mau mengaku bahwa berbohong adalah dosa (Imamat 19:11; Amsal 12:22), bagaimana dengan “kebohongan kecil” atau white lies yang hanya mengandung “sedikit” kebohongan? Bagaimana jika mengatakan kebenaran justru bisa menyakiti seseorang? Kita hidup dalam masyarakat yang mengkondisikan kita untuk berbohong dengan mengatakan bahwa, dalam banyak situasi, kebohongan itu dibenarkan. Sekretaris “melindungi” atasan yang tidak ingin diganggu; penjual melebih-lebihkan kualitas produknya; pelamar pekerjaan menmbesar-besarkan resumenya. Alasannya, selama tidak ada yang dirugikan atau hasilnya bagus, sedikit kebohongan pun tidak masalah. Malahan ada yang percaya bahwa jika kebohonagn bisa membesarkan nama Tuhan, kebohongan itu tentunya baik.

Memang benar bahwa beberapa dosa membawa akibat yang lebih buruk dibandingkan dosa lainnya. Dan memang benar bahwa berbohong kecil tidak akan menimbulkan dampak yang sama seriusnya dengan, misalnya, membunuh seseorang. Namun semua dosa sama-sama menyinggung Allah (Roma 6:23a), dan itu adalah alasan bagus untuk menghindari semua kebohongan.

Keyakinan bahwa kebohongan kecil itu “membantu” berakar pada gagasan bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Jika kebohongan menghasilkan persepsi “baik”, maka kebohongan itu dibenarkan. Namun, kutukan Tuhan atas kebohongan dalam Amsal 6:16-19 tidak mengandung klausul pengecualian. Juga, siapa yang bisa mendefinisikan “kebaikan” yang dihasilkan dari kebohongan? Seorang penjual yang berbohong mungkin akan menjual produknya – suatu hal yang “baik” baginya -tetapi bagaimana dengan pelanggan yang dimanfaatkan?

Mengatakan kebohongan kecil untuk bersikap “bijaksana” atau untuk menjaga perasaan seseorang juga merupakan hal yang tidak boleh dilakukan. Seseorang yang terus-menerus berbohong untuk membuat orang lain merasa senang pada akhirnya akan menunjukkan siapa dirinya: pembohong. Mereka yang memakai kebohongan dalam bisnisnya akan merusak kredibilitasnya.

Kebohongan kecil mempunyai cara untuk menyebar dan berkembang. Kebohongan sering menimbulkan gosip yang menyebarkan kebohongan lain. Menceritakan lebih banyak kebohongan untuk menutupi kebohongan awal adalah prosedur standar, dan kebohongan tersebut semakin lama semakin besar. Mencoba mengingat kebohongan apa yang diberitahukan kepada orang lain juga memperumit hubungan dan membuat kebohongan seterusnya semakin mungkin terjadi.

Mengatakan kebohongan putih demi keuntungan diri sendiri hanyalah keegoisan. Ketika perkataan kita dimotivasi oleh keangkuhan hidup, kita sedang jatuh ke dalam pencobaan (1 Yohanes 2:16). Kebohongan kecil sering kali dilakukan untuk menjaga perdamaian, seolah-olah mengatakan kebenaran akan menghancurkan perdamaian. Namun Alkitab menyajikan kebenaran dan perdamaian sebagai sesuatu yang ada bersama-sama: “Cintailah kebenaran dan perdamaian” (Zakharia 8:19). Para penutur kebohongan kecil percaya bahwa mereka berbohong karena “cinta”; namun, Alkitab memerintahkan kita untuk mengatakan “kebenaran dengan kasih” (Efesus 4:15).

Pagi ini kita menyadari bahwa terkadang mengatakan kebenaran tidaklah mudah; kenyataannya, hal ini bisa sangat tidak menyenangkan. Namun kita dipanggil untuk menjadi juru bicara kebenaran. Bersikap jujur sangat berharga di mata Tuhan (Amsal 12:22); itu menunjukkan takut akan Tuhan. Lebih jauh lagi, mengatakan kebenaran bukanlah sebuah anjuran, melainkan sebuah perintah!

Benarkah prinsip mata ganti mata?

“Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” Keluaran 21:23–25

Salah satu elemen filsafat hidup zaman modern adalah bahwa kita semua mempunyai hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut. Kita sangat mengutamakan hak manusia. Kita sangat sadar akan hak-hak kita, dan itu sebenarnya baik. Masyarakat telah melakukan pembelaan atas hak-hak asazi dan hak-hak kaum wanita serta hak anak-anak dan hak kaum tertindas. Kita juga memiliki serikat buruh yang menuntut hak-hak pekerja. Tetapi, dengan kesadaran tentang pembelaan atas hak pribadi, tidak jarang di masyarakat kita mendengar seseorang berkata, “ Kamu tidak bisa melakukan itu padaku. Aku akan membalasnya.”

Jauh di lubuk hati manusia terdapat keinginan untuk membalas dendam, dan dalam masyarakat kita, kita sering menjadikan pahlawan orang-orang yang tidak mau dihina oleh siapa pun, yang tidak mau menerima kejahatan apa pun. Mereka adalah orang-orang yang kuat, tangguh, berani, dan macho, dan masyarakat kita memandang rendah orang-orang yang lemah lembut dan tidak suka membalas, orang yang sabar, pemaaf, murah hati, dan penuh belas kasihan – yang tidak menuntut apa pun dari siapa pun.

Konsep “mata ganti mata”, kadang-kadang disebut jus talionis atau lex talionis, adalah bagian dari Hukum Musa yang digunakan dalam sistem peradilan Israel. Seperti bunyi ayat di atas, prinsipnya adalah bahwa hukuman harus sesuai dengan kejahatannya dan harus ada hukuman yang adil untuk perbuatan jahat: “Jika ada korban yang meninggal, kamu harus membayarnya dengan nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, luka bakar ganti luka bakar, luka ganti luka, memar ganti memar”. Keadilan haruslah ditegakkan; kekerasan yang berlebihan dan keringanan hukuman yang berlebihan harus dihindari.

Sebenarnya, tidak ada indikasi bahwa hukum “mata ganti mata” diikuti secara harfiah; tidak ada catatan di Alkitab mengenai orang Israel yang menjadi cacat akibat hukum ini. Selain itu, sebelum hukum khusus ini diberikan, Tuhan telah membentuk sistem peradilan untuk mengadili kasus dan menentukan hukuman (Keluaran 18:13-26) – sebuah sistem yang tidak diperlukan jika Tuhan menginginkan hukuman “mata ganti mata” yang sebenarnya. Meskipun kejahatan berat dibayar dengan eksekusi di Israel kuno, dan ini berdasarkan banyak saksi (Ulangan 17:6), sebagian besar kejahatan lainnya dibayar dengan pembayaran barang. Misalnya jika Anda melukai tangan seseorang sehingga dia tidak dapat bekerja, Anda harus memberikan kompensasi atas hal tersebut.

Selain Keluaran 21, hukum “mata ganti mata” disebutkan dua kali dalam Perjanjian Lama (Imamat 24:20; Ulangan 19:21). Setiap kali, frasa tersebut digunakan dalam konteks suatu kasus yang diadili di hadapan otoritas sipil seperti hakim. “Mata ganti mata” dimaksudkan untuk menjadi prinsip panduan bagi pembuat hukum dan hakim; tetapi hal ini tidak boleh digunakan oleh rakyat untuk membenarkan tindakan main hakim sendiri atau menyelesaikan dendam secara pribadi.

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma‬ ‭13‬:‭4‬ ‭

Dalam Perjanjian Baru, nampaknya orang Farisi dan ahli Taurat telah menerapkan prinsip “mata ganti mata” dan menerapkannya dalam hubungan pribadi sehari-hari. Mereka mengajarkan bahwa membalas dendam secara pribadi dapat diterima. Jika seseorang memukul Anda, Anda dapat membalas pukulannya; jika seseorang menghina Anda, dia akan menerima hinaan Anda sebagai balasan yang setimpal. Bukannya menyerahkan persoalan ke tangan hakim, para pemimpin agama pada zaman Yesus ikut-ikutan menerapkan hukum itu dengan mengabaikan dasar hukum yang mendasari pemberian hukum tersebut.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menentang ajaran umum mengenai pembalasan pribadi: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:38–39). Yesus kemudian melanjutkan dengan mengungkapkan isi hati Tuhan mengenai hubungan antarpribadi: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Matius 5:39–42).

Dengan memberikan perintah “baru” ini, Yesus tidak membatalkan hukum Perjanjian Lama (Matius 5:17). Sebaliknya, Dia memisahkan tanggung jawab pemerintah (untuk menghukum pelaku kejahatan dengan adil) dari tanggung jawab kita semua secara pribadi di hadapan Tuhan untuk mengasihi musuh-musuh kita. Kita hendaknya tidak meminta balasan atas penghinaan pribadi. Kita harus mengabaikan hinaan pribadi (ini arti “memberikan pipi yang lain”). Orang-orang Kristen harus rela memberikan lebih banyak harta benda, waktu, dan tenaga mereka daripada yang diminta, meskipun tuntutan yang kita terima tidak adil. Kita hendaknya meminjamkan kepada mereka yang ingin meminjam, mengasihi musuh kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (ayat 43–48).

Pembatasan prinsip “mata ganti mata” yang Yesus berikan sama sekali tidak melarang pembelaan diri atau perlindungan yang kuat terhadap orang yang tidak bersalah dari bahaya. Tindakan aparat pemerintah yang ditunjuk, seperti polisi dan militer, untuk melindungi warga negara dan menjaga perdamaian tidak perlu dipertanyakan lagi. Perintah Yesus untuk memberikan pipi yang lain berlaku untuk hubungan pribadi, bukan kebijakan peradilan. Asas “mata ganti mata” dimaksudkan sebagai kebijakan peradilan, bukan sebagai aturan dalam hubungan antar pribadi. Menegakkan “mata ganti mata” adalah tugas hakim; memaafkan musuh kita adalah milik kita. Kita melihat hal ini terjadi saat ini ketikai seorang korban tampil di pengadilan untuk memaafkan terpidana di depan umum, tetapi pengampunan tersebut bersifat pribadi dan karena itu hakim tetap menuntut agar hukuman tersebut dilaksanakan.

Mengampuni orang lain yang menjahati kita tidaklah mudah. Ada orang yang berkata: “Aku bisa mengampuni kamu, tetapi aku tidak bisa melupakan kejahatanmu”. Ungkapan ini adalah aneh, karena apa yang tidak bisa diampuni adalah perbuatan jahat yang tidak bisa dilupakan. Pada pihak yang lain, orang yang percaya kepada Kristus dibimbing oleh Roh Kudus untuk bisa mengampuni orang lain dan melupakan kejahatan yang dilakukan mereka. Ini adalah seperti Tuhan yang pernah bekata: “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” (Ibrani 8:12). Orang Kristen sangat berbeda dengan mereka yang mengikuti kecenderungan alami untuk memberikan balasan yang setimpal. Orang Kristen adalah orang-orang yang mempunyai kasih karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi mereka.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19

Apakah tujuan menghalalkan cara?

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

Jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada apa tujuan atau sasarannya dan cara apa yang digunakan untuk mencapainya. Jika tujuannya baik dan mulia, dan cara yang kita gunakan untuk mencapainya juga baik dan mulia, maka tujuan memang menghalalkan cara tersebut. Namun bukan itu yang dimaksudkan kebanyakan orang ketika mereka menggunakan ungkapan tersebut. Kebanyakan orang menggunakannya sebagai alasan untuk mencapai tujuan mereka melalui cara apa pun yang diperlukan, tidak peduli betapa tidak bermoral, ilegal, atau tidak menyenangkannya cara tersebut. Arti dari ungkapan tersebut biasanya seperti: “Tidak masalah bagaimana Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, selama Anda mendapatkannya.”

Yang dimaksud dengan “tujuan menghalalkan cara” biasanya melibatkan tindakan yang salah untuk mencapai tujuan yang positif dan membenarkan tindakan yang salah dengan menunjukkan hasil yang baik. Contohnya adalah berbohong dalam resume untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan membenarkan kebohongannya dengan mengatakan bahwa penghasilan yang lebih besar akan memungkinkan si pembohong untuk menafkahi keluarganya dengan lebih baik. Alasan lain mungkin membenarkan aborsi bayi demi kebebasan ibunya. Berbohong dan menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah keduanya salah secara moral, namun menafkahi keluarga dan menyelamatkan nyawa seorang wanita adalah benar secara moral. Lalu, di mana kita menarik garis batasnya?

Dilema tujuan dan sarana adalah skenario yang populer dalam diskusi etika. Biasanya, pertanyaannya seperti ini: “Jika Anda bisa menyelamatkan dunia dengan membunuh seseorang, apakah Anda akan melakukannya?” Jika jawabannya adalah “ya”, maka hasil yang benar secara moral membenarkan penggunaan cara-cara yang tidak bermoral untuk mencapainya. Namun ada tiga hal berbeda yang perlu dipertimbangkan dalam situasi seperti ini: moralitas tindakan, moralitas hasil, dan moralitas orang yang melakukan tindakan. Orang Kristen bukannya orang yang tidak mementingkan hal moral, tetapi justru sangat berhati-hati dalam melangkah dalam hidup.

Dalam situasi ini, tindakan (pembunuhan) jelas tidak bermoral, begitu pula si pembunuh. Namun menyelamatkan dunia adalah hasil yang baik dan bermoral. Benarkah itu? Dunia seperti apa yang bisa diselamatkan jika para pembunuh diizinkan untuk memutuskan kapan dan apakah pembunuhan dapat dibenarkan dan kemudian bebas dari hukuman? Atau apakah si pembunuh akan menghadapi hukuman atas kejahatannya di dunia yang telah dia selamatkan? Jika kita mengingat kematian Kristus, apakah dunia yang diselamatkan dibenarkan mengambil nyawa orang yang menyelamatkan mereka?

Tentu saja dari sudut pandang alkitabiah, yang diabaikan dari pembahasan ini adalah karakter Tuhan, hukum Tuhan, dan pemeliharaan Tuhan. Karena kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kudus, adil, penyayang dan benar, maka siapa pun yang menyandang nama-Nya harus mencerminkan tabiat-Nya (1 Petrus 1:15-16). Pembunuhan, kebohongan, pencurian, dan segala bentuk perilaku berdosa adalah ekspresi dari sifat dosa manusia, bukan sifat Tuhan. Bagi orang Kristen yang sifatnya telah diubah oleh Kristus (2 Korintus 5:17), tidak ada pembenaran atas perilaku tidak bermoral, tidak peduli motivasi atau akibat yang ditimbulkannya. Memang kita tidak diselamatkan karena bermoral baik, tetapi jika kita sudah diselamatkan, tentunya kita mengerti mengapa kita harus taat kepada hulum-Nya.

Dari Tuhan yang kudus dan sempurna ini, kita mendapatkan hukum yang mencerminkan sifat-sifat-Nya (Mazmur 19:7; Roma 7:12). Sepuluh Perintah Allah memperjelas bahwa pembunuhan, perzinahan, pencurian, kebohongan dan keserakahan tidak dapat diterima di mata Tuhan dan Dia tidak membuat “klausa pelarian” untuk motivasi atau rasionalisasi. Perhatikan bahwa Dia tidak berkata, “Jangan membunuh, kecuali dengan melakukan hal itu kamu akan menghasilkan sesuatu yang baik”. Ini disebut “etika situasional”, dan hal ini tidak terdapat dalam hukum Tuhan. Jadi, jelas sekali, dari sudut pandang Allah tidak ada tujuan yang menghalalkan cara untuk melanggar hukum-Nya.

Sayang sekali, banyak orang Kristen yang siap melakukan hal-hal yang kurang baik dengan alasan “demi kemuliaan Tuhan”. Untuk mencapai tujuan gereja, mungkin orang bersedia untuk berbohong. Mungkin, orang berkata: “Jika kita jujur, tidak ada gereja baru yang bisa didirikan”. Atau, “jika kita tidak berani mengambil jalan pintas, kita tidak akan memcapai tujuan”. Dalam diskusi mengenai hal-hal semacam ini, kita harus sadar akan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak sekadar menciptakan dunia, mengisinya dengan manusia, dan kemudian membiarkan mereka bekerja sendiri tanpa pengawasan dari-Nya. Sebaliknya, Tuhan mempunyai rencana dan tujuan bagi umat manusia yang telah Dia wujudkan selama berabad-abad.

Segala apa yang terjadi dalam sejarah telah diterapkan secara supernatural pada rencana tersebut. Ia menyatakan kebenaran ini dengan tegas: “…..Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya (Yesaya 46:10-11). Tuhan sangat terlibat dan mengendalikan ciptaan-Nya. Lebih lanjut, Tuhan menyatakan bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Seorang Kristen yang berbohong dalam resume atau mengaborsi bayi berarti melanggar hukum Tuhan dan menyangkal kemampuan-Nya untuk mencapai tujuan-Nya.

Hari ini kita belajar bahwa mereka yang tidak mengenal Tuhan mungkin terpaksa menghalalkan segala cara mereka untuk mencapai tujuan, namun mereka yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan adalah ciptaan baru, dan mereka tidak punya alasan apa pun untuk melanggar salah satu perintah Tuhan, mengingkari tujuan kedaulatan-Nya, atau mencela Nama-Nya.

Adakah orang yang benar?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

Roma 3:23 adalah salah satu ayat yang paling terkenal dan paling sering dikutip di seluruh Alkitab. Ini mengungkapkan sebuah gagasan yang merupakan kunci untuk memahami bagaimana manuisia dapat diselamatkan dari murka Tuhan dan dimasukkan ke dalam keluarga-Nya. Poin kunci untuk memahami ayat ini adalah konteksnya. Ayat 21, 22, dan 23 digabungkan untuk menunjukkan bahwa semua orang, tanpa perbedaan, sama-sama layak menerima murka Allah karena dosa mereka, dan semua orang yang dibenarkan, tanpa perbedaan, dibenarkan hanya melalui Yesus Kristus.

Roma 3 dimulai dengan skema tanya jawab. Ini adalah tanggapan yang mungkin diharapkan dari seseorang yang menentang apa yang Paulus tulis dalam Roma 2. Selanjutnya, Paulus mengutip serangkaian ayat-ayat Perjanjian Lama. Ayat-ayat Kitab Suci ini menunjukkan bahwa para penulis tersebut juga sepakat bahwa tidak seorang pun, tidak satu orang pun, yang layak disebut orang benar. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan sekalipun ia menaati hukum Taurat. Namun akhirnya, ia sampai pada kabar baik: kebenaran di hadapan Allah tersedia tanpa hukum, melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita di kayu salib.

Pernyataan di sini singkat dan langsung pada sasaran: Semua orang berbuat dosa. Setiap orang telah berdosa. Tidak ada orang yang tidak berbuat dosa (Roma 3:10). Hal ini lebih jauh menekankan poin yang Paulus ambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama di awal pasal ini. Tidak ada jalan keluar dari label ini. Paulus tidak menawarkan kategori apa pun selain “orang berdosa”, dan semua orang termasuk di dalamnya. Ayat sebelumnya menekankan bahwa “tidak ada perbedaan”. Manusia yang paling bermoral – secara relatif – dan manusia yang paling jahat semuanya berada dalam wadah yang sama: “orang berdosa”.

Parahnya, mengetahui perbedaan antara benar dan salah, bahkan hukum yang diberikan Tuhan, tidak menjadikan kita bermoral. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “gagal” di sini adalah dalam bentuk waktu sekarang. Kenyataannya, kita terus gagal. Dengan kata lain, mengetahui konsekuensi keberdosaan kita saja tidak cukup untuk mencegah kita berbuat dosa (Roma 1:18-20).

Karena tidak seorang pun di antara kita yang tidak berdosa, kita semua kehilangan kemuliaan Allah. Hal ini penting karena kita tidak dapat diselamatkan dari murka penghakiman Allah atas dosa kita kecuali dengan menjadi tidak berdosa. Itu adalah standar Allah, dan kita semua gagal mencapai “kemuliaan”-Nya karena dosa kita. Kemuliaan Tuhan, atau kemuliaan diri-Nya dan kerajaan-Nya, itulah yang ingin dibagikan-Nya kepada mereka yang ada dalam keluarga-Nya, anak-anak-Nya. Namun, dosa kita menghalangi kita untuk mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.

Untungnya, Paulus mengikuti ayat terkenal ini dengan ayat berikutnya. Ini menggambarkan bagaimana kita dapat mencapai kemuliaan Tuhan. Roma 3:21–31 akhirnya memperkenalkan bagian ”kabar baik” dari Injil Yesus Kristus. Sebelumnya, Paulus telah menunjukkan bahwa bahkan dengan mengikuti hukum pun tidak dapat menghindarkan kita dari penghakiman oleh Allah karena dosa kita. Sekarang Paulus mengumumkan bahwa, melalui iman kepada Kristus, kita dapat dibenarkan di mata Allah. Terlepas dari hukum Taurat, kita dapat ditebus melalui pengorbanan darah Kristus yang menebus dosa kita, yang rela ditumpahkan untuk dosa kita. Karunia kasih karunia Allah yang menggantikan murka ini tersedia bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Ini benar-benar kabar baik.

Pagi ini, kita mungkin ingat pertentangan atau percekcokan antara kita dengan mereka, antara aku dengan dia. Dalam setiap pertentangan, setiap pihak merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar. Sekalipun kita mungkin mengakui bahwa tidak sepenuhnya kita benar, kita merasa bahwa kita lebih benar dari mereka, dan karena itu dalam perbandingan, kita merasa bahwa kita tidak bersalah. Ini terjadi dalam berbagai hubungan antar manusia, termasuk hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, hubungan antar bangsa atau negara. Apakah kita masih merasa bahwa kita adalah orang-orang yang baik di hadapan Tuhan?

Pandangan Kristen tentang perang

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Bagaimana pendapat Anda tentang situasi panas di Timur Tengah saat ini? Peperangan antara Israel dan Hamas agaknya semakin besar dan bisa saja melibatkan negara-negara lain. Di berbagai kota besar, demonstrasi mendukung orang Palestina bersaing dengan demonstrasi pendukung Israel. Kedua pihak mempunyai alasan untuk mendukung kelompok mereka.

Mereka yang mendukung perang biasanya dapat berpendapat bahwa perang ada demi tujuan yang adil. Mereka yang menentang perang biasanya dapat menemukan kelemahan dalam argumen tersebut. Tentu saja suatu negara yang berperang tidak pernah melakukan hal tersebut atas dasar motif yang benar-benar murni, dan tidak pernah ada orang yang sepenuhnya yakin akan baik-buruknya hasil akhirnya. Jadi argumen-argumen ini biasanya berakhir dengan keraguan.

Teori perang yang adil (Latin: bellum justum) adalah sebuah doktrin, juga disebut sebagai tradisi, etika militer yang bertujuan untuk memastikan bahwa suatu perang dapat dibenarkan secara moral melalui serangkaian kriteria, yang semuanya harus dipenuhi agar perang dianggap adil. Hal ini telah dipelajari oleh para pemimpin militer, teolog, ahli etika dan pembuat kebijakan. Kriteria tersebut dibagi menjadi dua kelompok: jus ad bellum (“hak untuk berperang”) dan jus in bello (“perilaku yang benar dalam perang”).

Kelompok kriteria pertama menyangkut moralitas berperang, dan kelompok kriteria kedua menyangkut perilaku moral dalam perang. Ada seruan untuk memasukkan kategori ketiga teori perang yang adil (jus post bellum) yang berhubungan dengan moralitas penyelesaian dan rekonstruksi paskaperang. Teori perang yang adil mendalilkan keyakinan bahwa perang, meskipun mengerikan namun tidak begitu buruk jika dilakukan dengan benar, tidak selalu merupakan pilihan terburuk. Tanggung jawab yang penting, keadaan yang tidak diinginkan, atau kekejaman yang seharusnya dapat dicegah, dapat menjadi alasan perang.

Penentang teori perang yang adil mungkin cenderung mengusulkan bahwa perang perlu dilakukan hanya untuk melayani kepentingan suatu negara agar dapat dibenarkan. Dalam banyak kasus, para filsuf menyatakan bahwa individu tidak perlu diganggu oleh rasa bersalah jika diharuskan berperang. Beberapa filsuf mengagungkan kebajikan prajurit sementara mereka juga menyatakan kekhawatiran mereka terhadap perang itu sendiri. Beberapa pihak, mendukung pemberontakan melawan pemerintahan yang menindas. Lalu bagaimana dengan pandangan orang Kristen?

Paulus dalam ayat di atas menyatakan bahwa Allah telah memberikan senjata kepada pemerintah untuk menegakkan hukum. Kita menyebutnya kekuatan pedang. Artinya, para penguasa mempunyai kuasa di bawah Tuhan untuk mendukung keputusan mereka dengan menggunakan kekerasan. Mereka mungkin menggunakan kekuasaan itu dengan benar atau salah, namun kekuasaan itu sendiri bukanlah sesuatu yang telah mereka rebut. Itu diberikan kepada mereka oleh Tuhan. Kekuasaan ini meliputi kekuasaan menjatuhkan hukuman mati dan kekuasaan untuk berperang. Dalam pelaksanaannya, kedua kekuasaan ini terbukti kontroversial dalam sejarah gereja.

Pertimbangkan perang. Semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi “pasifis” dalam arti bahwa kita harus mencintai perdamaian dan mengejarnya. Walaupun demikian, dalam sejarah Kristen, ada tiga teori perang yang dikemukakan. Yang pertama adalah posisi pasifisme murni, yang menyatakan bahwa tidak ada orang Kristen yang boleh mengangkat senjata. Yang kedua adalah posisi yang terangkum dalam kalimat, “Negaraku, benar atau salah.” Posisi ini mengatakan bahwa warga negara Kristen mempunyai kewajiban untuk berperang dalam jenis perang apa pun yang diputuskan oleh pemerintah.

Di antara kedua ekstrem ini terdapat posisi “perang yang adil” di atas. Posisi perang yang adil telah didukung sepanjang sejarah oleh sebagian besar ahli etika Kristen di semua cabang gereja. Berdasarkan Alkitab, posisi perang yang adil menyatakan bahwa beberapa perang dapat dibenarkan, dan umat Kristiani boleh dan sering kali harus mengangkat senjata dalam keadaan seperti itu, namun perang lainnya tidak dapat dibenarkan, dan umat Kristiani harus menentang perang tersebut.

Apa yang menentukan perbedaannya? Pada dasarnya, perang yang adil adalah perang yang bersifat defensif. Adalah benar dan pantas bagi penguasa negara untuk memanggil orang-orang Kristen untuk membantu mempertahankan negara dari para agresor. Di sisi lain, umat Kristiani harus menentang perang yang menjadi tindakan agresi, karena perang tersebut bisa menjadi pembunuhan dalam skala besar.

Mengenai hukuman mati, Alkitab dengan jelas memberi wewenang (bahkan memerintahkan) dalam Kejadian 9:6, yang berbunyi: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Salah satu tujuan hukuman, termasuk hukuman mati, adalah retribusi. Menurut Roma 3:3, pedang penguasa merupakan teror bagi pelaku kejahatan, sehingga pencegahan kejahatan bisa merupakan hasil lain dari hukuman.

Apa yang kita lihat sekarang ini adalah situasi yang sangat rumit. Teori perang yang adil bisa menjadi agak kabur dan sulit diterapkan, terutama ketika suatu negara sedang dilanda semangat emosional. Sebagai orang Kristen, kita btidak boleh ikut-ikutan terpancing. Pastikan bahwa Anda mengambil keputusan berdasarkan analisa yang cermat, bijaksana, dan alkitabiah, dan bukan berdasarkan berita media atau afiliasi partai politik atau agama. Dorong para pemimpin politik Anda untuk melakukan hal yang sama.

Teori perang yang adil bukanlah ajaran Alkitab. Ini adalah tradisi yang dimulai dari Aristoteles hingga Stoa, dan kemudian diadopsi oleh umat Kristen seperti Agustinus. Namun pada akhirnya kita tetap harus membuat keputusan etis berdasarkan Alkitab. Ada beberapa prinsip umum alkitabiah yang berkaitan dengan perang, yang terutama adalah mempertahankan hak setiap manusia untuk hidup layak. Namun Alkitab cukup realistis mengenai perang. Kita harus mengakui bahwa tidak selalu mungkin atau diinginkan untuk melindungi semua non-kombatan, karena tujuan perang untuk menegakkan keadilan mungkin tidak akan tercapai. Pada dasarnya, kita harus mengakui bahwa perang adalah seperti neraka dan jika memang diperlukan, biarlah itu dapat diakhiri dengan cepat!

Sukacita bergantung pada keadaan Anda

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Banyak orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak semua orang, dan karena itu setiap orang seharusnya mencari dan bahkan berusaha keras untuk memperolehnya. Dalam hal ini, ada juga yang berpendapat bahwa pemerintah berkewajiban untuk memberikan kebahagiaan bagi rakyatnya, dan orang tua berkewajiban untuk memberikan kebahagiaan kepada anak-anak-nya. Betulkah begitu?

Kebahagiaan sebenarnya bukanlah sesuatu yang dapat kita tuntut ataupun sesuatu yang kita terima. Tetapi, kebahagiaan adalah pilihan setiap orang atau choice. Kebahagiaan ada tersedia bagi seluruh umat manusia, tetapi orang harus memilihnya untuk bisa berbahagia. Tuhan sendiri memberikan berbagai berkat-Nya kepada semua insan, tetapi Ia tidak secara langsung memberikan kebahagiaan kepada mereka. Karena itu, ada banyak orang yang sudah menerima berbagai berkat Tuhan, tetapi tidak pernah merasa puas, bahagia atau bersyukur. Sebaliknya, ada banyak orang yang hidup dalam kekurangan, tetapi bisa merasa cukup dan berbahagia dalam perlindungan Tuhan.

Jika sukacita tidak datang secara langsung dari Tuhan, dari mana datangnya rasa sukacita itu? Menurut Alkitab, sukacita yang sejati dimungkinkan oleh Tuhan. Manusia dengan keterbatasannya hanya bisa mendapat kebahagiaan yang datang dari apa yang bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Tetapi rasa sukacita datang melalui iman kepada Tuhan, karena dengan iman manusia percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertainya. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Rasa sukacita bisa timbul karena adanya karunia khusus dari Tuhan kepada anak-anak-Nya. Ini berbeda dengan karunia umum Tuhan yang diberikan-Nya kepada semua orang, seperti makanan, kesehatan, kekuatan dan sebagainya. Tetapi karunia umum yang kita rasakan sebagai kebahagiaan hari ini, mungkin tidak dapat membuat kita bahagia esok hari. Tidak ada yang kekal di muka bumi! Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang menghendaki umat-Nya untuk mempunyai rasa sukacita, karena itu Ia memberi kita keyakinan akan penyertaan-Nya pada setiap saat. Rasa sukacita sejati dengan demikian, hanya bisa muncul dalam hati orang yang percaya.

Bagi orang beriman, keadaan akhir yang akan kita alami adalah fakta yang membahagiakan. Kemahatahuan Tuhan berarti Dia mengetahui kebutuhan kita; kemahakuasaan-Nya memastikan Dia bisa menemui mereka; belas kasihnya menggerakkan Dia untuk peduli terhadap mereka; pemeliharaan-Nya menegaskan bahwa setiap kebutuhan yang tidak terpenuhi mempunyai tujuan yang penuh kasih (meskipun saat ini masih tersembunyi). Fakta-fakta seperti kekekalan Allah, penebusan orang berdosa, kebangkitan Kristus yang berkemenangan, pembenaran hanya melalui iman, dan janji hidup yang kekal, seharusnya membentuk lingkaran keadaan kita. Sukacita kita sepenuhnya bergantung pada keadaan akhir ini.

Pada hari terakhir, sukacita surgawi akan menelan keadaan-keadaan yang ada di sekitar kita, dan setiap air mata akan terhapus. Sampai saat itu tiba, atas karunia Tuhan, kita akan mengejar sukacita dengan menerima setiap keadaan yang diijinkan Tuhan untuk terjadi melalui hikmat alkitabiah. Kita akan menerima setiap keadaan menyedihkan yang tidak dapat kita ubah sebagai bagian rencana Tuhan yang mahabijaksana. Dan kita akan mengingat bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Bagaimana reaksi Anda atas perintah Tuhan dalam ayat di atas untuk bersukacita senantiasa? Itu adalah pilihan Anda, menurut atau tidak adalah keputusan masing-masing. Firman Tuhan berkata bahwa kita seharusnya bersukacita karena keselamatan yang sudah kita terima. Kita juga bersukacita karena iman yang membawa keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman. Lebih dari itu kita bisa bersyukur karena apa yang tersedia di surga untuk kita, tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang ada saat ini. Biarlah Roh Kudus yang membuka hati kita dan mengingatkan kita kepada kemurahan Tuhan dalam hidup kita.

Siapakah musuh Anda?

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” 2 Korintus 11: 14-15

Apakah ada orang yang tidak mempunyai musuh? Anda mungkin mengenal seorang yang begitu ramah kepada semua orang, dan disenangi oleh semua orang. Mungkin saja Anda merasa bahwa tidak ada orang yang memusuhi Anda karena Anda selalu berbaik hati kepada semua orang. Mungkin juga, Anda menasihati anak Anda untuk berteman dengan semua orang, agar tidak mempunyai musuh. Teman sejati adalah sulit didapat, satu musuh saja sudah terlalu banyak – mungkin itu nasihat Anda. Tetapi dalam kenyataannya, setiap orang Kristen pasti mempunyai musuh sekalipun ia tidak sadar. Yesus bahkan mempunyai banyak musuh, dan pada akhirnya Ia disalibkan karena ulah orang-orang yang menjahati-Nya.

Musuh adalah orang yang tidak menyukai atau membenci orang lain dan berusaha menyakiti, menentang, dan melawan orang yang menjadi lawannya. Jadi, musuh Tuhan adalah orang yang menentang kehadiran dan tujuan Tuhan di dunia ini. Iblis dan pengikutnya.

Setelah pertobatan kita kepada Kristus, kita mendapatkan beberapa musuh yang berusaha menghambat pertumbuhan rohani kita dan bahkan menyebabkan kita meninggalkan jalan kesetiaan. Beberapa dari musuh ini bersifat eksternal. Misalnya, dunia yang sudah jatuh dalam dosa membenci Kristus dan semua orang yang dipersatukan dengan-Nya oleh iman (Yohanes 7:7), dan dunia ini berusaha membuat kita berbagi prioritas dan kasih secara tidak teratur. Musuh lainnya adalah musuh internal. Kita harus berperang melawan kedagingan -sisa-sisa dari sifat kita yang berdosa – jika kita ingin mengembangkan kasih terhadap apa yang Allah kasihi (Roma 8:1-11).

Musuh terbesar yang harus kita hadapi dalam pengudusan kita juga bersifat eksternal. Kita berbicara tentang iblis, malaikat yang jatuh yang telah memberontak melawan Tuhan dan berupaya mengajak orang lain untuk ikut serta dalam perjuangannya. Iblis adalah musuh yang nyata, meskipun banyak orang yang menganggapnya enteng. Kita jarang mendengar orang-orang berjuang mati-matian melawan iblis di saat ini, namun catatan sejarah gereja dipenuhi dengan kisah-kisah tentang orang-orang kudus yang berperang melawan iblis dan antek-anteknya. Martin Luther, misalnya, sering menulis tentang pertarungannya melawan iblis, bahkan mengaku pernah melihatnya sesekali. Masuk akal jika Luther memiliki pengetahuan pengalaman yang begitu kuat tentang iblis, karena iblis sangat suka menyerang Injil, dan Luther berada di garis depan dalam pemulihan Injil terbesar sejak masa para rasul.

Iblis kemungkinan besar mengincar sasaran yang lebih besar daripada kebanyakan dari kita, namun itu tidak berarti kita tidak akan diserang oleh roh jahat atau setan. Kita tidak boleh menganggap bahwa sebagai anak Tuhan, kita tidak dapat disiksa iblis. Kita tahu bahwa ada sekumpulan setan yang mengikuti petunjuk iblis (Markus 5:1-20), dan kita akan berada dalam bahaya rohani yang besar jika kita tidak siap untuk mengakui pekerjaan mereka.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Tidak semua musuh yang kita hadapi mempunyai iblis di baliknya. Sifat kedagingan kita dan dunia tidak memerlukan bantuan dalam menggoda kita untuk berbuat dosa. Namun, iblis berkeliaran di bumi seperti singa, berupaya memangsa mangsanya, dan kita perlu menyadari bagaimana dia dan pasukannya sering kali menampilkan diri. Musuh-musuh licik ini sering kali tidak terlihat jahat. Faktanya, mereka cenderung menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:14-15).

Iblis dan pengikutnya dapat dan bahkan sering menyembunyikan apa yang jahat di bawah apa yang kelihatannya baik, indah, dan menarik. Mereka memutarbalikkan kebenaran, menjadikan kebohongan tampak masuk akal di telinga kita karena mereka berusaha membawa kita ke dalam kesalahan rohani yang serius. Misalnya, ke arah kesimpulan bahwa sesudah diselamatkan kita pasti aman dan bahagia. Hanya orang-orang Kristen yang bijak yang akan mengenali iblis ketika ia sedang bekerja. Oleh karena itu, kita harus berupaya untuk “melatih daya pengamatan kita melalui praktik yang terus-menerus untuk membedakan yang baik dari yang jahat” (Ibrani 5:14). Kita melakukan ini dengan bertumbuh dalam pemahaman kita akan doktrin alkitabiah.

Selain iblis, Alkitab menyebutkan banyak musuh lain dari Allah dan umat-Nya. Siapa pun yang tidak menaati perintah Tuhan dinyatakan sebagai musuh Tuhan. Dosa membuat kita menentang Allah: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat” (Kolose 1:21a). Rasul Paulus menyebut orang-orang berdosa yang belum diselamatkan sebagai musuh Allah: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5: 10).

Alkitab mengidentifikasi Setan, iblis, sebagai musuh spesifik Allah (1 Timotius 5:14-15). Sepanjang sejarah, sebagai musuh Tuhan, Setan berupaya menggagalkan rencana Tuhan, merugikan manusia, dan menjauhkan mereka dari Tuhan. Sepanjang sejarah umat Israel, umat Allah berjuang melawan musuh-musuh yang berkomitmen untuk menghancurkan mereka. Bangsa Mesir, Kanaan, Filistin, dan Babilonia hanyalah beberapa dari sekian banyak bangsa musuh yang kejam dan menindas yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Bangsa-bangsa tersebut, ketika menentang umat Allah, dianggap sebagai musuh Allah, dan Allah berperang demi kepentingan Israel (lihat 2 Raja-Raja 19). Sampai sekarang, bangsa Israel masih mengalami hal ini, sekalipun keadaan itu mungkin berkaitan dengan sikap mereka yang menentang Kristus.

Hari ini kita diingatkan bahwa Kristus sudah memberikan teladan bagi umat Kristiani untuk diikuti setiap kali mereka menghadapi musuh-musuh Allah dan ancaman-ancaman mereka: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.’” (1 Petrus 2:21–24).

Rendah hati bukanlah rendah diri

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

Ayat penting ini sering dikutip pada pelayanan pemuda dan pemimpin muda. Meskipun Timotius kemungkinan besar berusia awal 30-an ketika surat ini ditulis, kata-kata tersebut berlaku untuk pemimpin gereja mana pun, berapa pun usianya. Timotius tidak boleh membiarkan siapa pun meremehkannya karena usianya. Sepanjang sejarah umat manusia, terdapat kecenderungan generasi tua memandang rendah mereka yang lebih muda, hanya karena mereka masih muda. Sebaliknya, pada zaman sekarang banyak kaum muda yang mengabaikan mereka yang lebih tua karena dianggap ketinggalan zaman. Untuk mengatasi hal ini, pengaruh seorang pemimpin harus datang melalui teladannya. Dalam konteks khusus ini, “teladan” yang diberikan orang Kristen kepada orang-orang Kristen lainnya, bukan kepada orang-orang yang tidak beriman. Meskipun keduanya penting (Matius 5:16), dalam ayat ini Paulus berfokus pada kepemimpinan dalam gereja.

Paulus memberikan lima bidang spesifik yang patut diteladani Timotius. Yang pertama adalah kata-katanya. Kedua, tindakannya, yang harus mencerminkan teladan kesalehan. Ketiga, kasihnya harus menjadi teladan (1 Timotius 1:5, 14; 2:15). Keempat, Timotius harus menjadi teladan dalam iman. Hal ini mirip dengan 1 Timotius 1:5 dimana Paulus berkata, “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Kelima, teladan Timotius adalah dengan memasukkan “kemurnian” dirinya, baik secara fisik dalam perilakunya di sekitar kaum wanita (1 Timotius 5:2) maupun dalam spiritualitasnya (1 Timotius 5:22).

Satu Timotius 4:11–16 berfokus pada perilaku pribadi Timotius sebagai pemimpin gereja Kristen, dan itu berlaku juga untuk kita yang memimpin anggota keluarga, murid di sekolah atau pegawai di kantor. Paulus menekankan gagasan seperti ketekunan, keyakinan, dan kesabaran. Yang paling penting adalah Timotius memberikan teladan bagi orang percaya lainnya. Salah satu perlawanan paling ampuh terhadap ajaran palsu adalah hasil positif yang dapat dihasilkan oleh kebenaran rohani. Selain mengajarkan kebenaran, Timotius juga harus menghayatinya. Dengan mengabdikan dirinya pada prinsip-prinsip ini, Paulus meyakinkan Timotius bahwa dia dapat memberikan pengaruh positif yang kuat bagi Kristus.

Satu Timotius 4 memberikan perspektif penting sebelum instruksi Paulus yang akan datang. Setelah memberikan rincian kepada Timotius tentang cara memilih pemimpin gereja, dan perilaku yang baik dari anggota gereja, pasal ini sebagian besar berfokus pada pilihan rohani pribadi Timotius. Secara khusus, Paulus memerintahkan dia untuk rajin, setia, dan siap sedia. Taruhannya besar, baik bagi Timotius maupun bagi mereka yang dipanggil untuk dipimpinnya. Bab ini menekankan pentingnya latihan spiritual yang baik, yang merupakan kunci ketika mempertimbangkan nasihat Paulus di bagian lainnya.

Umat ​​Kristen harus hidup sedemikian rupa sehingga mereka tidak dianggap rendah diri, naif, atau tidak dewasa. Kita dapat mencegah penghinaan tersebut dengan menjadi teladan dalam segala hal dan melakukan apa yang baik:

“..dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2:7–8.

Baik di hadapan Tuhan maupun dihadapan manusia, perilaku kita penting. Apa yang kita lakukan dan katakan mencerminkan Kristus dengan baik di mata dunia atau salah menggambarkan Dia. Apa pun tahap kehidupan kita, tujuan kita hendaknya adalah “jangan ada seorang pun yang memandang rendah dirimu.” Ini bukan berusaha menyombongkan diri. Sebaliknya, kita berusaha untuk mejadi orang yang rendah hati dengan tidak merendahkan diri, tetapi dengan tidak selalu memikirkan diri sendiri.

Paulus memberi Timotius bidang-bidang spesifik di mana ia dapat mewakili Kristus dengan baik: dalam perkataan, perilaku, kasih, roh, iman, dan kemurnian. Seorang Kristen telah menyerahkan hidupnya kepada ketuhanan Kristus dan terus tunduk pada Firman dan pekerjaan Roh untuk bertumbuh dalam karakter yang saleh. Seorang Kristen yang bijak ingin tunduk pada ketuhanan Kristus dalam segala bidang sehingga tidak ada seorang pun yang memandang rendah cara hidupnya. Firman Tuhan menyampaikan banyak hal dalam hidup tiap orang Kristen, dan orang yang bijaksana akan dengan sungguh-sungguh memeriksa kehidupan mereka untuk melihat apakah mereka mencerminkan Tuhan dengan baik.

Sebagai bagian dari pencegahan terhadap orang-orang yang meremehkan masa mudanya, Timotius juga harus mengabdikan dirinya untuk membaca Kitab Suci, berkhotbah, dan mengajar di depan umum (1 Timotius 4:13). Firman Tuhan mengubah kita, menguduskan kita, dan memberi kita kesempatan untuk melihat dan mengenal Tuhan. Dengan berfokus pada disiplin ini dan bertumbuh dalam karakter yang saleh, Timotius akan memberikan pengaruh yang kuat bagi Kristus. Tidak seorang pun akan memandang rendah pelayanannya dan memandang rendah masa mudanya. Timotius akan mengalami kemajuan dalam kedewasaan rohani dan menjadi garam dan terang sebagaimana Allah memanggilnya (lihat Matius 5:13–15).

Di saat banyak orang mulai murtad, orang-orang Kristen yang setia dapat tetap terdorong untuk bersinar terang bagi Kristus dan menjadi teladan bagi semua orang percaya, tanpa memandang usia. Masa muda maupun masa tua tidak perlu menjadi stigma. Karakter dan prioritas hidup seorang Kristen dapat mengarahkan orang lain kepada keselamatan yang ditawarkan Kristus. Cara terbaik untuk “jangan biarkan seorang pun memandang rendah masa mudamu” adalah dengan “biarkan terangmu bercahaya di depan orang lain, supaya mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapamu di surga” (Matius 5:16).