Mengenali sikap Antinomian yang berbahaya

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Galatia 6: 9

Paulus baru saja meminta orang-orang Kristen Galatia untuk diyakinkan, sekali lagi, bahwa mengandalkan kedagingan mereka dalam hidup ini hanya akan membawa kepada kerusakan. Ketergantungan pada kekuatan kita sendiri hanya menyebabkan pembusukan dan kematian. Itu akan terjadi jika kita mempercayai upaya manusia untuk menyelamatkan kita dengan mengikuti ritual dan sakramen hukum, atau dengan mengikuti keinginan kita yang egois dan berdosa. Keselamatan datang hanya dengan “menanam” Roh. Melalui iman kepada Kristus untuk pengampunan dosa kita, Allah memberikan kepada kita Roh-Nya sendiri. Hanya Roh itu yang akan memberikan kehidupan kekal pada akhirnya (Galatia 6:6-8).

Sekarang Paulus mendesak jemaat Galatia untuk tidak bosan berbuat baik. Berbuat baik adalah kerja keras, terutama jika seseorang mulai meragukan apakah itu penting. Paulus mendesak jemaat Galatia untuk tetap hidup dengan cara yang konsisten dengan apa yang mereka yakini. Mereka adalah orang-orang dimerdekakan di dalam Kristus, dan Roh Allah menyertai mereka. Pada akhirnya, panen kehidupan kekal akan muncul dan mereka akan melihatnya sendiri.

Dalam pengertian yang lebih langsung, pekerjaan baik yang dilakukan orang Galatia dengan kuasa Roh juga akan menghasilkan buah. Tuhan akan sering mengizinkan umat-Nya untuk melihat bagaimana investasi mereka sendiri untuk melakukan hal-hal yang baik baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang. Namun itu tidak mudah, karena adanya orang-orang Kristen yang terjebak dalam ajaran Antinomianisme.

Antinomianisme adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani anti dan nomos. Anti berarti melawan. Nomos berarti hukum. Antinomianisme berarti anti terhadap hukum. Ajaran ini pada mulanya mengajarkan bahwa orang-orang Kristen telah dibebaskan dari hukum Taurat dan tidak perlu menjalankan hukum Taurat lagi karena orang-orang Kristen telah mendapat kasih karunia Allah. Tetapi pada zaman sekarang, Antinomianisme diartikan sebagai seseorang yang yakin bahwa hanya iman, dan bukan hukum moral yang diperlukan dalam hidup orang Kristen. Dalam arti teologis, seseorang juga cenderung memandang rendah adanya hukum, dan memandang dirinya sendiri di atas semua hukum dan aturan-aturan karena adanya keyakinan diri sendiri bahwa ia sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan sekalipun hidupnya belum menunjukkan adanya pertobatan.

Dalam Galatia 6:9 Rasul Paulus memberi tahu kita, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai tuaian jika kita tidak menyerah.” Dalam perikop Kitab Suci ini, Paulus memberi tahu orang percaya bahwa mereka tidak merasa bosan untuk berbuat baik. Seringkali, sulit untuk tidak jemu dalam berbuat baik apalagi jika kita selalu dikritik atau diolok-olok oleh orang lain, tetapi Tuhan tidak ingin kita menjadi jemu dalam berbuat baik. Tuhan ingin kita terus berbuat baik dan memancarkan terang terang-Nya kepada sesama.

Orang percaya tidak perlu jemu dalam berbuat baik karena Tuhan berjanji kepada semua orang percaya bahwa jika mereka tetap kuat dan terus berbuat baik, mereka akan menuai panen pada waktunya (Galatia 6:9). Ketika Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Galatia, dia tahu bahwa mereka merasa terbebani oleh tanggung jawab kehidupan Kristen sehari-hari. Mungkin Anda juga pernah merasakan hal ini dalam gereja Anda. Anda mungkin dituduh “sok” atau “Farisi” ketika berusaha berbuat baik. Paulus menuliskan pernyataan tidak jemu-jemu dalam berbuat baik untuk mengangkat semangat mereka dan memberi mereka kekuatan untuk tetap bertekun dalam berbuat baik.

Kehidupan kekristenan memang tidak mudah, tetapi sebagai orang percaya, kita mendapat pertolongan Roh Kudus. Dia akan membantu, mendukung, dan menyemangati kita setiap hari sekalipun orang-orang yang kita kenal berusaha menghentikan maksud baik kita. Roh Kudus siap membantu orang percaya setiap saat dan dengan cara apa pun yang Dia bisa. Dia dapat membantu kita berjalan menurut jalan yang benar daripada jalan kedagingan (Galatia 5:16).

Setiap kali Anda merasa lelah dan bosan berbuat baik, kembalilah kepada Tuhan. Dia dapat mengangkat Anda dengan tangan-Nya yang perkasa (Yesaya 41:10). Ketika Anda mulai menjadi lelah, putus asa, atau tertekan, oleh ucapan sinis orang seiman, ingatlah bahwa apa pun yang Anda kerjakan, Anda bekerja untuk Tuhan. Anda bermaksud untuk menyenangkan Tuhan dan bukannya manusia. Kristuslah yang Anda layani (Kolose 3:23) dan Ia melihat setiap perbuatan yang baik, setiap kata yang baik, setiap hal yang baik yang Anda lakukan. Ingatlah bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjwaban oleh Tuhan (Roma 14:12).

Sama sekali tidak ada yang Anda lakukan yang tidak diketahui oleh Bapa Surgawi kita. Ibrani 6:10 memberi tahu kita, “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” Anda tidak melayani umat manusia, tetapi melayani Tuhan. Jangan pernah melupakan kebenaran penting ini dan jangan pernah bosan berbuat baik. Upaya Anda akan dihargai Tuhan, sekalipun teman-teman Anda menyatakan kebencian mereka atas usaha Anda.

Orang Kristen harus mau berbuat baik karena Tuhan telah memanggil kita untuk berbuat baik. Saat kita mengikuti tuntunan Roh Kudus dan berbuat baik, kita bersinar terang bagi Yesus (Matius 5:16). Dengan berbuat baik, kita menunjukkan Kristus kepada dunia yang terhilang dan terluka. Tuhan telah memberkati kita dengan kemampuan untuk berbuat baik dan membantu orang lain.

Jika kita memilih untuk tidak berbuat baik, kita berdosa (Yakobus 4:17). Siapa yang tidak mau mengikut Yesus, adalah musuh-Nya (Lukas 11:23). Alkitab memberi tahu kita bahwa dosa memisahkan kita dari Allah, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Ketika kita berbuat baik, kita bertindak dalam kepatuhan kepada Bapa Surgawi kita. Tidak ada yang membawa sukacita yang lebih besar bagi Tuhan daripada mengetahui bahwa anak-anak-Nya menaati perintah-Nya.

Tuhan memiliki tujuan khusus untuk setiap hidup kita dan tujuan ini termasuk melakukan pekerjaan baik untuk Dia. Efesus 2:10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Perikop Efesus ini memberi tahu kita bahwa kita telah diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, yang pada akhirnya akan mengarahkan orang kepada Kristus. Hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Hidup kita telah dibeli dengan harga kematian Yesus di kayu salib.

Sebagai pegikut Kristus kita juga tidak boleh membuat orang lain untuk jemu berbuat baik. Bagaimana kita bisa membuat saudara seiman kita meremehkan pentingnya untuk berbuat baik? Tetapi hal ini sering terjadi di gereja tertentu, di mana pesan-pesan yang disampaikan selalu bernada negatif terhadap usaha untuk berbuat baik. Jika kita terpukau oleh ajaran yang bersifat Antinomianisme, kita pun bisa ikiut-ikutan mengumandangkan pesan-pesan berikut ini, yang bisa membuat orang lain segan untuk berbuat baik. Sudah tentu dengan berbuat demikian, kita hanya menambah dosa yang sudah ada, yang harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan.

  • Mengulang-ulang pesan keselamatan hanya karena karunia – bukan pertobatan atau iman,
  • Menekankan bahwa adanya dosa tidak memengaruhi keputusan Tuhan,
  • Menekankan bahwa pilihan Tuhan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketaatan atau iman manusia,
  • Menekankan semua orang sama jahatnya,
  • Menekankan orang Kristen tidak bisa sempurna,
  • Memastikan perbuatan baik akan berakhir dengan kesombongan,
  • Menyatakan perbuatan baik akan menjadi kekeliruan bahwa itu akan membawa keselamatan, dan
  • Menyamakan usaha berbuat baik dengan sikap kaum Farisi yang munafik.

Semua hal di atas ada benarnya, tetapi jika dinyatakan secara berulang kali sebagai satu-satunya kebenaran dari Alkitab, itu akan membuat saudara-saudara seiman kita menjadi malu, segan atau tidak mau untuk berusaha berbuat baik. Apalagi, jika khotbah di gereja tidak pernah menyatakan bahwa setiap orang Kristen harus berbuat baik selama hidup di dunia. Seperti kita, orang-orang ini kemudian bisa menjadi orang Kristen “kedagingan” atau carnal Chtistian yang hidup dalam dosa dan tidak merasa perlu bertobat untuk memperoleh keselamatan.

Apakah Anda tidak tahu bahwa tubuh Anda adalah bait Roh Kudus, yang ada di dalam Anda, yang telah Anda terima dari Tuhan? Anda bukan milik Anda sendiri; Anda dibeli dengan harga tertentu. Karena itu hormatilah Tuhan dengan tubuhmu (1 Korintus 6:19-20). Karena Yesus membayar harga yang sangat mahal untuk kebebasan kita, kita seharusnya ingin melakukan hal-hal baik yang menghormati Dia dan tidak menjadi lelah dalam prosesnya. Yesus adalah Guru Utama kita karena Dia adalah teladan terbaik untuk diikuti dalam hidup kita. Yesus selalu berbuat baik dan Dia tidak pernah jemu berbuat baik. Demikian pula, sebagai pengikut Yesus, kita juga tidak boleh jemu-jemu berbuat baik. Yesus membayar harga terbesar dengan mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita untuk menebus kita.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa ajaran antinomianisme ini adalah ajaran sesat yang sangat berbahaya bagi umat Kristen yang ingin hidup dalam kekudusan. Ajaran ini sebenarnya serupa dengan bujukan iblis kepada Hawa di taman Eden untuk tidak menaati perintah Tuhan. Semoga kita selalu mau mendengarkan suara Roh Kudus yang mau membimbing kita dalam hidup kudus seperti yang dikehendaki Tuhan!

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:15-16

Apakah kita masih harus menaati hukum moral Allah?

“Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Roma 8: 3-4

Apakah Anda masih menganggap Sepuluh Hukum Tuhan adalah suatu yang penting di zaman ini? Saya harap begitu, karena hukum ini tidak pernah dihapuskan, malahan diperkuat oleh dua hukum utama yang diucapkan oleh Yesus.

”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Matius 5:17-18

Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22: 37-40

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen pada zaman sekarang beranggapan bahwa kita tidak hidup dibawah hukum lagi karena Yesus sudah menggenapi semua hukum yang tidak dapat dipenuhi oleh manusia mana pun. Jika manusia berdosa karena tidak dapat melaksanakan hukum Taurat dengan sempurna, Yesuslah yang sudah melaksanakannya dengan sempurna untuk keselamatan umat-Nya. Karena itu, banyak orang Kristen yang mengira bahwa sebagai orang Kristen kita tidak perlu memikirkan hal moral lagi, seperti apa yang tercantum dalam hukum Taurat. Ini adalah kekeliruan besar yang terjadi dalam kehidupan sebagian orang Kristen yang kemudian menjadi orang yang anti hukum, atau antinomianis. Beberapa teolog Reformed seperti RC Sproul dan John MacArthur sudah menyatakan keseriusan masalah ini, yang sebenarnya bukan barang baru karena sudah mulai memasuki gereja sejak abad 16.

Setiap orang Kristen bergumul dengan pertanyaan, bagaimana hubungan hukum Perjanjian Lama dengan hidup saya? Apakah hukum Perjanjian Lama tidak relevan bagi orang Kristen atau adakah pengertian di mana kita masih terikat oleh bagian-bagiannya? Ketika ajaran sesat antinomianisme menjadi semakin meresap dalam budaya Kristen kita, kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini semakin mendesak.

Reformasi didirikan atas kasih karunia dan bukan atas hukum. Namun hukum Allah tidak disangkal oleh para Reformator. John Calvin, misalnya, menulis apa yang kemudian dikenal sebagai “Tiga Penggunaan Hukum” untuk menunjukkan pentingnya hukum bagi kehidupan Kristen (Institutes 2.1.304-10).

  1. Penggunaan Pedagogis
    Tujuan pertama dari hukum adalah menjadi cermin. Di satu sisi, hukum Allah mencerminkan dan mencerminkan kebenaran-Nya yang sempurna. Hukum memberi tahu kita banyak tentang siapa Allah itu. Mungkin yang lebih penting, hukum menerangi keberdosaan manusia. Agustinus menulis, “Hukum memerintahkan, agar kita, setelah berusaha melakukan apa yang diperintahkan, dan dengan demikian merasakan kelemahan kita di bawah hukum, dapat belajar untuk memohon bantuan rahmat” (Institutes 2.7.9). Hukum menyoroti kelemahan kita sehingga kita dapat mencari kekuatan yang ditemukan di dalam Kristus. Di sini hukum bertindak sebagai guru sekolah yang berdisplin, yang mendorong kita kepada Kristus.
  2. Penggunaan Sipil
    Tujuan kedua hukum adalah pengendalian kejahatan. Hukum, dengan sendirinya, tidak dapat mengubah hati manusia. Namun, itu bisa berfungsi untuk melindungi yang benar dari yang tidak adil. Calvin mengatakan tujuan hukum ini adalah “melalui ancaman yang menakutkan dan akibatnya yang berupa ketakutan akan hukuman, untuk mengekang mereka yang, kecuali dipaksa, tidak menghargai kejujuran dan keadilan” (Institutes 2.7.10). Hukum mengizinkan ukuran keadilan yang terbatas di bumi ini, sampai penghakiman terakhir diwujudkan.
  3. Penggunaan Normatif
    Tujuan ketiga dari hukum adalah untuk mengungkapkan apa yang berkenan kepada Allah. Sebagai anak-anak Allah yang dilahirkan kembali, hukum menerangi kita tentang apa yang menyenangkan Bapa kita, yang ingin kita layani. Orang Kristen seharusnya menyenangi hukum sebagaimana Allah sendiri menyenanginya. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Inilah fungsi tertinggi dari hukum, untuk melayani sebagai alat bagi umat Allah untuk menghormati dan memuliakan Dia.

Dengan mempelajari atau merenungkan hukum Allah, kita menghadiri sekolah kebenaran. Kita belajar apa yang menyenangkan Tuhan dan apa yang menyinggung Dia. Hukum moral yang dinyatakan Allah dalam Kitab Suci selalu mengikat kita. Penebusan kita berasal dari kutukan hukum Allah, bukan dari kewajiban kita untuk menaatinya. Kita dibenarkan, bukan karena ketaatan kita pada hukum, tetapi agar kita menjadi patuh pada hukum Allah. Mengasihi Kristus berarti menaati perintah-perintah-Nya. Mengasihi Allah berarti menaati hukum-Nya. Inilah pengertian yang ditolak kamum antinomian yang menyatakan bahwa iman Kristen bukanlah didasarkan moralitas.

Ketika kita berbicara tentang penggunaan hukum Allah secara normatif, kita mengatakan bahwa kehidupan moral orang percaya harus diatur, diarahkan, dan dibentuk oleh hukum moral Allah, yang secara ringkas dipahami dalam Sepuluh Perintah. Hukum moral Tuhan harus penting bagi orang Kristen, karena Tuhan tidak menuliskannya di atas loh batu untuk Anda, Dia telah menuliskannya di hati Anda.

Pertama, dalam kelahiran baru Roh Allah menulis (atau harus kita katakan, menulis ulang) hukum moral Allah di hati umat-Nya. Inilah yang dikatakan perikop terkenal dalam Yeremia 31 yang akan terjadi pada semua orang yang mengambil bagian dalam Perjanjian Baru.

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Yeremia 31:31-34

Perhatikan dua hal tentang teks ini. Pertama, ketika TUHAN berkata bahwa Ia akan menuliskan hukum-Nya di hati umat Allah Perjanjian Baru, Ia dengan jelas menyinggung hukum moral yang sama yang Ia tuliskan di atas batu untuk umat Allah Perjanjian Lama. Tuhan tidak memiliki dua hukum moral, tetapi satu. Hukum Kristus adalah hukum moral Allah yang tertulis di hati. Kedua, Yeremia 31 tidak mengatakan bahwa tidak seorang pun memiliki hukum moral yang tertulis di dalam hati mereka di bawah Perjanjian Lama. Tentu saja, mereka yang memiliki iman sejati pada masa Perjanjian Lama telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus dan hukum Allah tertulis di dalam hati mereka. Mereka beriman kepada Mesias yang sudah dijanjikan. Dan mereka dilahirkan kembali oleh Roh.

Kelahiran baru adalah berkat dari Perjanjian Baru yang didapatkan oleh Kristus, tetapi hal itu disampaikan kepada mereka sebelumnya melalui janji Injil. Raja Daud adalah contohnya. Baca Mazmur 119 dan pertimbangkan kecintaannya pada hukum Allah, sekalipun ia bukan orang yang tanpa cacat cela. Inilah hal yang unik tentang Perjanjian Baru – semua yang benar-benar mengambil bagian dalam Perjanjian Baru akan dilahirkan kembali. Semua yang berada di bawah Perjanjian Baru akan memiliki hukum tertulis, bukan di atas loh batu, tetapi di hati mereka. Ini adalah salah satu perbedaan terbesar antara Perjanjian Lama dan Baru.

Pria dan wanita dilahirkan ke dalam Perjanjian Lama melalui kelahiran jasmani. Beberapa memiliki iman yang sejati, tetapi banyak yang tidak. Beberapa dilahirkan kembali oleh Roh Tuhan, tetapi banyak yang tidak. Inilah sebabnya kitab suci membedakan antara anak-anak Abraham dan anak-anak Abraham yang sebenarnya. Sesudah Yesus datang, orang percaya dilahirkan kembali ke dalam Perjanjian Baru. Semua yang menjadi anggota Perjanjian Baru memiliki hukum moral Allah yang tertulis di hati mereka. Itulah inti dari Yeremia 31:31-34.

Jadi bagaimana sikap kita ketika mengetahui bahwa hukum moral Allah – hukum moral yang terkandung dalam Sepuluh Hukum – adalah norma atau standar bagi yang ada di dalam Kristus? Pertama, Yeremia 31 mengatakan bahwa hukum akan tertulis di hati semua umat Perjanjian Baru Allah. Kedua, dalam kitab suci Perjanjian Baru kita menemukan bahwa kode moral bagi umat Allah Perjanjian Baru sama dengan kode moral Perjanjian Lama. Kita tetap harus mau menerima standar moral yang sama dan bukan menolaknya.

Misalnya, Kristus meringkaskan hukum Allah dengan cara ini: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22: 37-40). Kristus tidak mengada-ada. Dia mengutip Perjanjian Lama. Dan kedua hukum ini dengan jelas meringkas isi dua loh batu tentang Sepuluh Perintah.

Kristus mengajarkan arti sebenarnya dari hukum Perjanjian Lama. Dia tidak mengubahnya tetapi mengajarkan arti sebenarnya. Kristus dan para Rasul mengacu pada hukum Perjanjian Lama untuk menetapkan prinsip-prinsip moral bagi umat Allah dari Perjanjian Baru. Rasul Paulus dalam Roma 13:8-10 menyatakan: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”. Perhatikan juga Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. (Efesus 6:1–3). Mungkin prinsip moralitas dalam keluarga seperti ini juga sudah mulai kabur dalam banyak keluarga Kristen akibat Antinomianisme.

Kita perlu pertimbangkan cara Paulus mengidentifikasi prinsip-prinsip moral yang terkandung dalam hukum sipil Israel (prinsip keadilan umum) dan menerapkannya pada kehidupan gereja Perjanjian Baru. Dia menulis kepada Timotius dengan mengatakan, “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (1 Timotius 5:17–18). Paulus memerintahkan agar para penatua yang mengabdikan diri untuk mengajarkan tulisan suci dihormati dengan dua cara. Mereka harus dihormati dengan hormat, dan mereka harus dihormati dengan kompensasi finansial untuk pekerjaan mereka. Apa yang menjadi dasar Paulus atas hal ini? Prinsip moral yang menjadi inti dari hukum sipil yang diberikan kepada Israel, “‘Jangan memberangus mulut lembu yang sedang mengirik biji-bijian,’ dan, ‘Buruh pantas menerima upahnya.'”

Begitu banyak lagi contoh kaidah moral yang bisa diberikan. Intinya sederhana. Hukum moral Allah, yang diringkas dalam Sepuluh Perintah, tetap untuk umat Kristen dalam Perjanjian Baru. Itu adalah standar dan norma kita. Itu ditulis untuk kita, bukan di atas batu, seolah-olah kita hanya menggantungnya di jalan dan mencoba, dengan kekuatan kita sendiri untuk mempertahankannya. Tidak, itu tertulis di hati kita oleh Roh Allah. Oleh kasih karunia-Nya, Ia tidak hanya membasuh dosa-dosa kita dan memperhitungkan kebenaran Kristus kepada kita. Dia juga telah memperbaharui kita sehingga kita dapat mengetahui dan memelihara hukum Allah dari hati.

Pagi ini, biarlah kita menyadari bahwa meskipun orang beriman sejati tidak berada di bawah hukum sebagai perjanjian untuk perbuatan baik guna dibenarkan atau dihukum, namun itu sangat berguna bagi mereka dan juga bagi orang lain. Dalam hal ini, hukum Allah sebagai aturan hidup, memberi tahu mereka tentang kehendak Tuhan dan tugas mereka, itu mengarahkan dan mengikat mereka untuk berjalan sesuai dengan itu. Selain itu, hukum Allah juga berguna untuk menemukan berbagai pencemaran dalam hati dan kehidupan mereka yang berdosa, sehingga dengan memeriksa diri mereka sendiri, mereka dapat sampai pada kekudusan lebih lanjut. Hukum Allah juga memungkinkan timbulnya kebencian mereka terhadap dosa; bersamaan dengan munculnya pandangan yang lebih jelas akan kebutuhan mereka akan Kristus dan perlunya untuk menuju ke arah kesempurnaan dalam ketaatan kepada-Nya. Itu juga berguna bagi orang yang sudah lahir baru untuk menahan kerusakan mereka, karena hukum melarang dosa; dan ancaman hukum berfungsi untuk menunjukkan apa yang layak diterima oleh dosa-dosa mereka, dan kesengsaraan apa yang mungkin mereka harapkan dalam hidup ini, meskipun sudah dibebaskan dari kutukan Allah. Kemauan orang Kristen untuk menaati hukum Allah juga menunjukkan persetujuan atas ketaatan kepada Allah, dan berkaitan dengan berkat-berkat apa yang dapat mereka harapkan atas pelaksanaannya, meskipun bukan hak mereka untuk menerima upah dari perbuatan baik.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Apakah Anda ranting yang berbuah?

”Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15: 1-8

Pada poin-poin penting dalam pelayanan-Nya, Kristus menekankan kesetaraan-Nya dengan Allah dalam terminologi yang sangat jelas. Yesus telah berkata, “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12); “Akulah roti hidup” (Yohanes 6:35); “Akulah Jalan” (Yohanes 14:6); dan “Akulah Pintu” (Yohanes 10:9). Sekarang, pada malam sebelum kematian-Nya, Dia memberi tahu mereka, “Akulah Pokok Anggur.” Seperti perikop lainnya yang dicatat dalam Injil Yohanes, ini pun menunjuk pada keilahian-Nya. Masing-masing terminologi adalah metafora yang mengangkat Yesus ke tingkat Pencipta, Pemelihara, Juruselamat, dan Tuhan – gelar yang hanya bisa diklaim oleh Tuhan.

Metafora dalam Yohanes 15 adalah pokok anggur dan cabang-cabangnya. Pokok anggur adalah sumber dan penopang hidup bagi ranting-rantingnya, dan ranting-ranting itu harus tinggal di dalam pokok anggur untuk hidup dan menghasilkan buah. Yesus, tentu saja, adalah pokok anggur, dan rantingnya adalah manusia. Meskipun jelas bahwa cabang-cabang yang berbuah melambangkan orang-orang Kristen sejati, identitas cabang-cabang yang tidak berbuah dipertanyakan. Beberapa peneliti Alkitab mengatakan cabang yang mandul adalah orang Kristen yang tidak menghasilkan buah rohani. Yang lain percaya bahwa mereka bukan orang Kristen. Manakah yang benar?

Arti sebenarnya dari metafora menjadi jelas ketika kita mempertimbangkan karakter dalam drama malam itu. Para murid waktu itu bersekutu bersama Yesus. Dia sangat mencintai mereka; Dia telah menghibur mereka dengan kata-kata dalam Yohanes pasal 14. Tapi Dia juga menyadari adanya orang lain, si pengkhianat. Yudas yang telah dikeluarkan dari persekutuan ketika dia menolak seruan kasih Yesus yang terakhir.

Semua karakter drama itu ada dalam pikiran Yesus. Dia melihat kesebelas murid, yang sangat Dia kasihi dan penuh semangat. Dan Dia pasti berduka atas Yudas, yang Dia kasihi tanpa syarat. Semua karakter itu berperan dalam metafora Yesus. Pokok anggur adalah Kristus; pemilik kebun anggur adalah Sang Bapa. Cabang-cabang yang menghasilkan buah melambangkan kesebelas murid dan semua murid sejati sejak zaman terbentuknya gereja. Cabang yang tidak berbuah melambangkan Yudas dan semua orang yang tidak pernah menjadi murid sejati.

Yesus sudah lama menyadari perbedaan antara Yudas dan kesebelas lainya. Setelah membasuh kaki para murid, Dia berkata, “‘Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” (Yohanes 13:10-11). Begitu seseorang diampuni oleh Tuhan, dia bersih dan tidak membutuhkan mandi untuk pengampunan lagi. Yang diperlukan hanyalah membersihkan debu dan kotoran dosa sehari-hari dari kakinya.

Seorang umat Tuhan yang melakukan dosa tidak perlu diselamatkan lagi; dia hanya perlu memulihkan hubungan pribadinya dengan Sang Bapa. Tetapi Yudas bahkan belum “dimandikan”, karena ia bukan anak Allah, dan Yesus mengetahuinya. Itu sebabnya Dia menambahkan, “tidak semua dari kalian bersih.” Yudas tampak seperti murid-murid lainnya. Dia bersama Yesus untuk waktu yang sama – dia bahkan diberi tanggung jawab untuk menyimpan uang. Tampaknya dia adalah cabang pohon anggur seperti yang lainnya, tetapi dia tidak pernah menghasilkan buah yang nyata. Allah akhirnya mencabut cabang itu dari pokok anggur, dan kemudian dibakar.

Beberapa orang akan mengatakan Yudas telah kehilangan keselamatannya. Menurut mereka, hal yang sama bisa terjadi pada setiap orang percaya yang tidak menghasilkan buah. Tetapi Yesus berjanji kepada anak-anak-Nya, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:28). Dia menjamin keamanan anak Allah: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yohanes 6:37).

Seorang Kristen sejati tidak dapat kehilangan keselamatannya dan dikutuk ke neraka. Ranting yang benar-benar terhubung dengan pokok anggur akan aman dan tidak akan pernah disingkirkan. Tapi satu yang hanya tampak terhubung – yang hanya memiliki koneksi dangkal – akan potong. Jika ia tidak memiliki kehidupan yang mengalir dari pokok anggur, ia tidak akan menghasilkan buah. Itu adalah Yudas.

Ada orang yang, seperti Yudas, menurut persepsi manusia tampak bersatu dengan Kristus, tetapi mereka adalah orang murtad yang akan masuk neraka. Mereka mungkin menghadiri gereja, mengetahui semua jawaban yang benar, dan mengikuti gerakan keagamaan; tetapi tidak nampak buahnya. Tuhan akan menyingkirkan mereka, dan mereka akan dibakar. Yang lainnya, seperti sebelas murid, benar-benar terhubung dengan pokok anggur dan memang menghasilkan buah anggur.

Tuhan telah melakukan semua yang Dia bisa untuk membuat bangsa Israel menghasilkan buah, namun tidak menghasilkan buah. Mereka justru menyalibkan Yesus. Jadi Dia mengambil temboknya dan membiarkannya tidak terlindungi. Itulah sebabnya bangsa Israel kemudian diinjak-injak oleh negara asing dan dihancurkan. Israel bukan lagi pokok anggur Allah; bangsa itu telah kehilangan hak istimewanya. Sekarang ada pokok anggur baru. Berkat tidak lagi datang melalui hubungan perjanjian dengan Israel. Buah dan berkat datang melalui hubungan dengan Yesus Kristus, Sang Pokok Anggur..

Yesus memilih sosok pohon anggur karena beberapa alasan. Kerendahan pohon anggur menunjukkan kerendahan hati-Nya. Itu juga menggambarkan kesatuan yang dekat, permanen, dan vital antara pokok anggur dan ranting. Itu adalah simbol dari kepemilikan, karena ranting-ranting sepenuhnya milik pokok anggur; jika cabang ingin hidup dan menghasilkan buah, mereka harus sepenuhnya bergantung pada pokok anggur untuk makanan, penopang, kekuatan, dan vitalitas.

Namun banyak orang yang menyebut dirinya Kristen gagal untuk bergantung pada Kristus. Alih-alih terikat pada pokok anggur yang benar, mereka terikat pada rekening bank. Yang lain mungkin terikat pada pendidikan mereka. Banyak yang telah mencoba menjadi ranting yang merambat dari popularitas, ketenaran, keterampilan pribadi, kepemilikan, hubungan, atau keinginan daging. Beberapa orang mengira gereja adalah pokok anggur mereka, dan mencoba mengikatkan diri pada teologi dan pengajaran pendetanya. Tetapi tidak satu pun dari hal-hal itu yang dapat menopang hidup orang Kristen untuk menghasilkan buah yang asli. Mereka semuanya adalah ranting yang tidak berguna.

Mereka yang disingkirkan hanya tampak terhubung dengan Kristus. Mereka tidak benar-benar tinggal di dalam Dia. Mereka tidak pernah diselamatkan. Mereka adalah ranting-ranting, yang seperti Yudas, tidak benar-benar mengikuti Yesus, imannya mati, dan tidak menghasilkan buah. Pada suatu saat, Sang Bapa akan memindahkan mereka untuk memelihara kehidupan dan kesuburan cabang-cabang lainnya.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia‬ ‭5‬:‭22‬-‭23‬ ‭

Ranting-ranting yang menghasilkan buah dipangkas agar menghasilkan lebih banyak buah. Kita tahu ranting-ranting ini melambangkan orang Kristen, karena hanya orang Kristen yang dapat menghasilkan buah yang membawa kemuliaan kepada Yesus. Pemangkasan tidak dilakukan hanya sekali – itu adalah proses yang konstan. Bapa memangkas sebuah ranting agar dapat menghasilkan lebih banyak buah.

Inti dari kehidupan Kristen adalah menghasilkan buah. Efesus 2:10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Buah keselamatan adalah perbuatan baik. Yakobus 2:17 menjelaskan hubungan erat antara iman dan perbuatan, “Demikian juga iman, jika tidak ada perbuatan, adalah mati, dengan sendirinya.” Jika iman yang menyelamatkan itu sah, itu pasti menghasilkan buah. Itu tidak berarti seseorang diselamatkan oleh perbuatan, tetapi perbuatan adalah bukti bahwa iman itu asli.

Yesus berkata bahwa seorang percaya sejati dapat diuji dari buahnya. Dalam Matius 7:16-17 Ia berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Ilustrasi Yesus tidak masuk akal jika orang Kristen tidak perlu menghasilkan buah, apalagi jika mereka justru menghasilkan apa yang tidak dikehendaki oleh Bapa.

Yohanes Pembaptis mengakui hubungan antara keselamatan dan menghasilkan buah. Ketika dia melihat orang-orang Farisi dan Saduki datang untuk dibaptis, dia berkata: ”Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:7-8). Tidak adanya buah yang baik menunjukkan bahwa pertobatan mereka pada saat menerima uluran tangan Yesus adalah tidak tulus.

Pagi ini, jika Anda merasa yakin bahwa Anda adalah orang terpilih, Anda perlu memastikan bahwa pertobatan Anda itu asli. Rasul Paulus berkata, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5).

Bahan diambil dari tulisan Dr. John MacArthur (1984)

Orang Farisi adalah orang yang tidak mengerti prinsip humanisme Yesus

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Matius 23:23

Ada berbagai jenis humanisme di dunia, dan karena itu ada baiknya mengetahui perbedaan di antara mereka. Humanisme klasik, yang dikaitkan dengan Renaisans, menekankan estetika, kebebasan, dan studi tentang “humaniora” (sastra, seni, filsafat, dan bahasa klasik Yunani dan Latin). Humanisme sekuler menekankan potensi manusia dan pemenuhan diri sampai mengesampingkan semua kebutuhan akan Tuhan; itu adalah filosofi naturalistik yang didasarkan pada akal, sains, dan pemikiran pembenaran hasil akhir dari cara-cara. Humanisme semacam ini adalah bertentangan dengan iman Kristen.

Secara umum, humanisme adalah sistem pemikiran yang berpusat pada nilai, potensi, dan nilai kemanusiaan; humanisme berkaitan dengan kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia, menekankan nilai intrinsik individu, dan melihat manusia sebagai agen otonom, rasional, dan moral. Sejauh mana sudut pandang yang luas ini diintegrasikan dengan kepercayaan Kristen yang menekankan bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu yang baik akan menentukan apakah humanisme dapat digolongkan sebagai salah satu ajaran Kristen.

Humanisme Kristen yang benar mengajarkan bahwa kebebasan hati nurani individu, dan kebebasan intelektual adalah sesuai dengan prinsip-prinsip Kristen dan bahwa Alkitab sendiri mempromosikan pemenuhan manusia- berdasarkan keselamatan Allah di dalam Kristus, dan tunduk pada kendali kedaulatan Allah atas alam semesta. Humanisme Kristen memberikan pedoman lebih lanjut bagi kita dalam membangun kekristenan kita identitas sebagai warga dunia ini yang berkomitmen untuk mengikuti Yesus Kristus; pedoman yang memungkinkan kita untuk menghindari penerapan iman yang buruk di satu sisi, dan racun sekularisme yang sama buruknya di sisi lain.

Arti humanisme Kristen bagi mereka yang menerima kemanusiaan yang benar dari Kristus, dan berusaha untuk menjadi murid-murid-Nya yang baik di dunia, bisa diperjelas dalam beberapa hal:

  • Kaum humanis Kristen selalu menekankan pentingnya pendidikan, bukan sekadar memperoleh keterampilan tetapi untuk memperoleh kebijaksanaan.
  • Kaum humanis Kristen selalu menghormati perbedaan, namun mereka juga memiliki komitmen yang sama mencari dan mempertahankan kebenaran.
  • Humanis Kristen selalu berkomitmen untuk kesejahteraan negara mereka, tetapi mereka melakukannya telah menjadi orang yang kritis, yang bisa menempatkan keadilan masyarakat di atas kepentingan kelompok sendiiri atau kepentingan politik.
  • Humanis Kristen selalu mendorong kreativitas manusia dan menghargai keindahan.
  • Humanis Kristen selalu peduli untuk memastikan bahwa ilmiah dan teknologi pembangunan melayani kepentingan bersama.
  • Humanis Kristen selalu ingat bahwa semua manusia mempunyai hak yang sama dalam hal keadilan sosial dan hak azasi.

Jika kita melihat semua itu, sebagai bangsa Indonesia kita harus bersyukur bahwa negara kita mempunyai dasar negara yang menyokong prinsip humanisme yang sesuai dengan iman Kristen. Tetapi, bagi kita orang percaya, semua itu bergantung pada cara pelaksanaannya, bukan seperti yang diyakini orang Farisi.

Yesus mengatakan beberapa hal yang kasar kepada dan tentang orang Farisi. Konfrontasi paling terkenal antara Yesus dan orang Farisi ditemukan dalam Injil dan disebabkan oleh perselisihan tentang bagaimana menjalani kehidupan yang murni, persepuluhan, dan hukum Sabat (Mat 12:2, 12-14: 15:1-12; Markus 2 :16; Lukas 11:32-54). Jika kita meneliti apa yang dilalkukan orang Farisi pada saat itu adalah bersangkutan dengan “anti humanisme”. Mereka selalu memikirkan hasil akhir, tetapi memakai cara-cara yang tidak benar.

Matius mencatat salah satu contoh Yesus berbicara tentang orang Farisi. Yesus memberi tahu orang banyak itu karena para ahli Taurat dan orang Farisi “telah menduduki kursi Musa” dalam arti kursi kepemimpinan. “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Mat 23:3). Intinya, Yesus berkata bahwa beberapa hal yang mereka ajarkan tentang Tuhan dan Kitab Suci adalah baik dan benar. Jadi, dengarkan pengajaran mereka. Tetapi karena orang Farisi tidak hidup secara benar seperti yang mereka khotbahkan, Yesus memperingatkan, jangan hidup seperti mereka.

Apakah semua orang Farisi buruk? Tidak semua orang Farisi adalah fanatik agama munafik, yang menyebabkan kesusahan bagi orang lain. Kita juga melihat dalam Alkitab bukti tentang orang Farisi yang tulus dan tulus dalam iman mereka. Simon orang Farisi mengadakan perjamuan untuk Yesus (Lukas 7:37). Orang-orang Farisi memperingatkan Yesus tentang rencana Herodes untuk membunuhnya (Lukas 13:31). Nikodemus (Yohanes 3) adalah seorang Farisi yang berkuasa dan anggota Sanhedrin. Nikodemus pergi bersama Yusuf dari Arimatea untuk mempersiapkan jenazah Yesus untuk penguburan (Yohanes 19:39). Mereka adalah orang Farisi yang mengenal prinsip humanisme.

Kebanyakan orang Farisi telah menjadi begitu terfokus pada banyak aturan kecil yang telah mereka ciptakan untuk menunjukkan kebaikan pribadi, sehingga mereka justru mengabaikan keinginan Tuhan untuk memiliki hubungan kasih berdasarkan kasih karunia. Ketika agama kita menjadi cara dan aturan, dan lebih terfokus pada apa yang benar dan salah, kita melupakan perintah Yesus untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:36-40). Kita dipanggil untuk menghasilkan buah, bukan menjadi pengawas buah. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

Sebagai manusia, kita juga memiliki kecenderungan alami untuk mengabaikan anugerah Tuhan, menjalankan kewajiban agama agar terlihat suci sekalipun tanpa ketulusan, dan terjebak dalam perbedaan teologi kecil yang membuat kita, seperti orang Farisi yang dicela Yesus, lupa untuk mencintai sesama kita dan menolak mentah-mentah prinsip-prinsip humanisme Kristen.

Humanisme Kristen berpendapat bahwa manusia memiliki martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia adalah agen yang otonom, rasional, dan bermoral itu sendiri merupakan cerminan dari keberadaan mereka yang diciptakan sebagai gambar Allah atau imago Dei. Nilai manusia diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasihan-Nya kepada orang-orang (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan Perumpamaannya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37). Kiasan Paulus terhadap tulisan-tulisan sekuler (Kis. 17:28; Titus 1:12) menunjukkan nilai pendidikan klasik dalam menyampaikan kebenaran.

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Matius 25:35-40

Kaum humanis Kristen memahami bahwa semua harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh menjadi pengetahuan penuh tentang segala hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; bandingkan Kolose 1 :9). Tidak seperti humanis sekuler yang menolak gagasan tentang kebenaran yang diwahyukan Tuhan, humanis Kristen berpegang pada Firman Tuhan sebagai standar untuk menguji kualitas segala sesuatu.

Humanis Kristen menghargai budaya manusia tetapi mengakui efek intelektual dari sifat kejatuhan manusia (1 Korintus 1:18-25) dan adanya dosa di setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Humanisme Kristiani mengatakan bahwa manusia mencapai potensi penuhnya hanya ketika dia masuk ke dalam hubungan yang benar dengan Kristus. Saat diselamatkan, ia menjadi ciptaan baru dan dapat mengalami pertumbuhan di setiap bidang kehidupan (2 Korintus 5:17).

Tidak semua kaum Kristen memandang humanisme Kristen sebagai sesuatu yang baik, karena istilah humanisme sering berkaitan dengan usaha manusia untuk mencapai apa yang dingini menurut cara manusia dan berpusat pada manusia. Tetapi, humanisme Kristen yang benar harus mengakui bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Kita harus menghindari sikap orang Farisi, dan karena itu segala sesuatu harus kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kesombongan atau promosi diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan rohani dalam segala hal yang Tuhan ingin kita lakukan agar kita menjadi umat-nya yang setia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen tita tidak boleh menjadi orang yang mengerti dan mengajarkan apa yang ada dalam Alkitab, tetapi enggan untuk melaksanakannya. Sebaliknya, kita harus harus menggunakan Alkitab sebagai pedoman untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan yang berguna untuk masyarakat dan menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat kemanusiaan sebagai gambar Allah dalam usaha melawan semua pengaruh yang tidak baik di dunia.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Iman tanpa perbuatan adalah bukan iman

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

Yakobus membahas topik kerja secara mendetail di bagian kedua dari pasal 2. Saat membahas perbuatan, dia selalu menggunakan bentuk jamak “perbuatan-perbuatan (Yunani erga) daripada “perbuatan” yang berbentuk tunggal (Yunani ergon). Hal ini membuat beberapa orang beranggapan bahwa Yakobus menggunakan kata “perbuatan-perbuatan” untuk mengartikan sesuatu yang berbeda dari “perbuatan”. Namun, erga dan ergon hanyalah bentuk jamak dan tunggal dari kata yang sama. Yakobus menggambarkan segala jenis perbuatan orang Kristen, mulai dari amal ibadah, seperti memberi makan kepada seseorang yang lapar, hingga pekerjaan yang berguna untuk masyarakat, seperti usaha meningkatkan hasil sawah yang berkelanjutan. Penggunaan jamaknya menunjukkan bahwa dia mengharapkan perbuatan baik orang Kristen selama hidup di dunia bisa berlangsung terus-menerus.

Fokus Yakobus pada perbuatan telah menimbulkan kontroversi mendalam tentang surat itu. Luther dikenal tidak menyukai kitab Yakobus karena dia membaca Yakobus 2:24 (“Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”) sebagai kontradiksi dari Galatia 2:16 (“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.”). Para pemimpin Reformasi Protestan lainnya tidak sependapat dengan pandangan ini, tetapi keberatan Luther mendominasi pengertian atas tulisan Yakobus di antara sebagian golongan Kristen. Meskipun kita tidak dapat membahas perdebatan panjang tentang Luther dan kitab Yakobus di sini, kita dapat mempelajari secara singkat apakah penekanan Yakobus pada perbuatan bertentangan dengan penekanan golongan tertentu pada “pembenaran oleh iman”.

Apa yang Yakobus sendiri katakan? Yakobus 2:14 bisa dibilang merupakan inti dari argumennya, jadi kita akan mempertimbangkan bagian ini sebelum melanjutkan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia??” Yakobus secara blak-blakan menjawab pertanyaannya sendiri dengan menyatakan, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17). Matinya iman (seperti yang dia catat dalam contoh yang dipilih dengan cermat) adalah seperti seseorang yang sangat membutuhkan makanan, yang hanya menerima kata-kata harapan kosong dari sesamanya (Yakobus 2:15-16). James menekankan bahwa iman kepada Kristus pasti akan menggerakkan kita untuk merasakan belas kasihan, dan bertindak secara nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Inilah inti dari kitab Yakobus. Yakobus tidak membayangkan bahwa perbuatan bertentangan dengan iman. Tidak ada “pembenaran karena perbuatan” karena tidak akan ada perbuatan baik kecuali sudah ada iman (kepercayaan) kepada Tuhan. Yakobus tidak bermaksud bahwa iman dapat ada tanpa perbuatan namun tidak cukup untuk keselamatan. Maksudnya adalah bahwa setiap “iman” yang tidak mengarah pada perbuatan adalah mati; dengan kata lain, itu sama sekali bukan iman. Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan adalah mati. Yakobus tidak memerintahkan orang Kristen untuk berbuat baik agar mereka bisa beriman, atau sebagai tambahan dari iman kepada Kristus. Ia mengharapkan agar umat Kristiani bekerja untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan sebagai hasil dari menaruh iman kepada Kristus.

Wawasan bahwa iman Kristiani selalu mengarah pada tindakan praktis dengan sendirinya menjadi pelajaran bagi kita dalam hidup sehari-hari. Kita tidak dapat membagi dunia menjadi dua: yang rohani dan yang praktis, karena yang rohani seharusnya juga adalah yang praktis atau yang bisa dijalankan. “Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya,” kata Yakobus (Yakobus 2:21). Oleh karena itu kita tidak pernah dapat mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus dan saya pergi ke gereja, tetapi saya memisahkan iman pribadi saya dari pekerjaan saya.” Iman seperti itu sudah mati. Kata-kata Yakobus “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” (Yakobus 2:24) menantang kita untuk mewujudkan komitmen kita kepada Kristus dalam aktivitas kita sehari-hari.

Banyak orang mengaku sebagai Kristen, namun kehidupan dan prioritas mereka menunjukkan kenyataan yang sesungguhnya. Yesus mengutarakannya demikian:

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:16-23.

Bagaimana orang bisa beriman adalah disebabkan oleh tindakan berdaulat Allah dimana seseorang berdosa mengalami “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” yang dicurahkan di atasnya sehingga ia lahir kembali. Ketika hal ini terjadi, Allah memberi orang berdosa yang telah diampuni sebuah hati baru dan menaruh roh yang baru di dalamnya. Allah mencabut hatinya yang telah dikeraskan oleh dosa dan mengisinya dengan Roh Kudus. Roh ini menyebabkan orang yang diselamatkan bisa berjalan dalam ketaatan kepada Firman Allah.

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena yang terungkap ialah fakta bahwa hati orang itu belum diubah oleh Allah. Ketika kita diperbarui oleh Roh Kudus, kehidupan kita pasti akan menyaksikan kehidupan baru itu. Perbuatan kita akan terlihat dari ketaatan kita kepada Allah. Iman yang tidak terlihat, dapat disaksikan secara nyata oleh kehadiran buah-buah Roh yang menghiasi kehidupan kita (Galatia 5:22). Orang Kristen adalah milik Kristus, Sang Gembala yang Baik. Sebagai domba-Nya kita mau mendengar suara-Nya dan mengikuti Dia (Yohanes 10:26-30). Inilah yang harus kita sadari pagi ini.

Kemunduran setelah kemajuan

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Dengan kemajuan teknologi, di Australia banyak lowongan jabatan yang diiklankan lewat internet. Untuk itu ada beberapa website yang khusus menerima iklan lowongan kerja dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Sebagai syarat mengajukan lamaran, biasanya pelamar harus mengirimkan surat pengantar, riwayat hidup dan jawaban untuk kriteria seleksi lewat website itu. Untuk melakukan hal itu, tentu saja si pelamar harus membaca dengan teliti iklan lowongan kerja dan berbagai syarat yang diminta. Dengan berbekal pengetahuan tentang lowongan pekerjaan itu, barulah sang pelamar bisa memberi respons yang sesuai dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan oleh pemasang iklan. Mereka yang kemudian memutuskan untuk tidak mengajukan lamaran karena berbagai alasan, dengan sendirinya tidak mungkin memperoleh pekerjaan itu. Mereka sudah memilih untuk mundur.

Barangkali Tuhan bisa dibayangkan seperti pemilik sebuah perusahaan besar yang ingin mempekerjakan sebanyak mungkin orang yang ingin mempunyai pekerjaan. Ia kemudian memasang iklan tentang lowongan yang ada, yang menjelaskan bahwa perusahaan-Nya adalah sebuah tempat yang besar dimana semua pekerja akan merasakan adanya kepuasan dan kebahagiaan. Melalui firman-Nya, Tuhan menjanjikan bahwa mereka yang percaya kepada-Nya dan kemudian mau mengikut Dia, akan memperoleh hidup yang abadi di surga. Tuhan juga menjelaskan bahwa untuk menjadi pekerja-Nya, tidak ada persyaratan pendidikan, pungutan biaya, atau hal-hal lain yang perlu dilakukan oleh manusia. Keselamatan hanya membutuhkan pertobatan dan penyerahan hidup kepada-Nya selama waktu masih ada.

Manusia membaca atau mendengar firman Tuhan itu dan mempelajari apa yang dimaksudkan Tuhan dengan posisi sebagai anak Tuhan di surga. Memang tidak mudah bagi manusia untuk memahami betapa besar karunia keselamatan Tuhan melalui darah Yesus yang memungkinkan setiap orang  untuk menjadi bagian dari kerajaan Tuhan secara cuma-cuma. Tuhan melalui Roh Kudus bekerja dengan segala cara untuk meyakinkan semua calon pekerja Tuhan bahwa lowongan itu benar-benar  ada karena Tuhan Yesus yang membuka jalan bagi manusia untuk memasuki surga. Keselamatan di surga hanya karena karunia Tuhan semata-mata. Apa yang ditawarkan Tuhan hanya memerlukan manusia untuk meresponinya.

Dalam perumpamaan penabur (Matius 13: 3 – 16), Yesus menggambarkan bagaimana firman Tuhan adalah seperti biji yang jatuh ke berbagai jenis tanah. Sebagian manusia yang membaca dan mendengar tentang adanya posisi dalam kerajaan surga itu mungkin menganggapnya sebagai khayalan belaka. Terlalu indah untuk dapat dipercaya! Bagaimana mungkin manusia bisa diterima untuk ke surga tanpa harus mengurbankan apa-apa? Sebagian lagi mungkin percaya tetapi kemudian lupa karena terlalu sibuk dengan hidupnya. Sebagian meneliti kabar baik itu dengan entusias dan kemudian ingin untuk menyambut tawaran itu. Mereka kemudian untuk sementara waktu berusaha untuk membuat respons yang positif dengan bertobat dari hidup lamanya dan menempuh hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi, tidak lama kemudian respons mereka terhenti karena berbagai sebab. Mereka itu mungkin saja belum sempat menjadi pekerja Kristus yang sepenuhnya!

Ayat pembukaan diatas memang adalah ayat yang sering didiskusikan oleh berbagai golongan Kristen. Pada intinya, ada beberapa hal yang mungkin dipertanyakan:

  1. Apakah respons manusia diperlukan atas karunia keselamatan Tuhan?
  2. Apakah mereka yang sudah menerima karunia itu bisa kehilangan keselamatan melalui perbuatan dosa?

Pertanyaan-pertanyaan diatas tidaklah mudah dijawab. Walaupun demikian, terlihat bahwa mereka yang sudah mendapat pengetahuan tentang adanya keselamatan di surga dan ingin untuk mendapatkannya haruslah dengan percaya, berubah dari hidup lamanya. Ini adalah respons yang diminta Tuhan kepada setiap manusia yang ingin menjadi umat-Nya. Pengetahuan tentang adanya lowongan di surga harus diikuti dengan kemauan untuk meyambut tawaran Tuhan dengan komitmen hidup baru. Jika manusia sudah memperoleh pengetahuan akan kemahasucian Tuhan tetapi tetap memilih hidup dalam dosa,  itu menandakan bahwa mereka belum betul-betul mengenal Kristus. Mereka mungkin dulunya ingin maju tetapi kemudian memilih untuk mundur. Sebaliknya, mereka yang sudah benar-benar menjadi pekerja Kristus dan yang sudah bisa merasakan kasih dan kebesaran Tuhan, tentu tidak mungkin memilih untuk mundur.

Pagi ini kita belajar untuk bisa mengerti bahwa walaupun keselamatan adalah anugerah Tuhan, kita juga memiliki bagian dalam rencana keselamatan-Nya, yaitu tanggung jawab untuk meresponi, itulah langkah pertama dari keyakinan yang menyelamatkan jiwa. Dan lebih dari itu, kita memiliki tanggung jawab untuk tetap setia sampai akhir dan mengalahkan kehendak sendiri melalui bimbingan Roh Kudus. Itu agar kita bisa mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, yang bisa ditunjukkan dengan ketaatan (Yohanes 14:21) dan persekutuan yang berkesinambungan dengan-Nya.

“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak” 2 Yohanes 1: 8-9

Apakah iman saja cukup tanpa pengetahuan?

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5-7

Untuk menjadi anggota sebuah gereja, pada umumnya seseorang harus menerima semacam kursus dasar teologi yang dinamakan katekese atau catechesis. Katekese suatu bentuk pengajaran agama yang biasanya melibatkan pembacaan informasi dalam bentuk lisan. Instruksi biasanya didasarkan pada buku atau dokumen yang dikenal sebagai katekismus, yang berisi ringkasan prinsip-prinsip, terutama ajaran agama, seringkali dalam bentuk tanya jawab. Sementara katekismus adalah isi pengajaran, orang yang diajar disebut katekumen (dari bahasa Yunani untuk “orang yang diinstruksikan”) dan katekis adalah orang yang melakukan pengajaran. Jika instruksi itu disebut katekese, prosesnya disebut katekisasi.

Katekese merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tugas mewartakan Injil yang diamanatkan Yesus Kristus (Matius 28:19-20; Markus 16:15). Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara sistemastis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen. Diambil dalam arti “tindakan pengajaran” dan “pengetahuan yang diberikan oleh pengajar”, istilah ini identik dengan katekismus.

Hampir semua katekismus mengandung empat unsur utama yang sama. Sekalipun isi doktrin katekismus sangat bervariasi dari gereja mula-mula hingga hari ini, sebagian besar katekese memasukkan empat pokok: Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa Kami, Sepuluh Perintah, dan ajaran tentang sakramen misalnya, Perjamuan Kudus dan baptisan. Dalam aliran Reformed, bahan katekisasi yang paling sering dipakai adalah singkatan dari Pengakuan Westminster (dari abad 17). Sayang sekali, apa yang disampaikan dalam program katekisasi gereja di Indonesia agaknya tidak mencakup keseluruhan pengakuan ini.

Orang Kristen sering mendefinisikan iman hanya sebatas yakin atau percaya kepada Tuhan dan firman-Nya. Jika ada orang yang kenal atau hafal beberapa ayat-ayat Alkitab di luar kepala, itu mungkin sudah dianggap beriman. Tetapi Rasul Yakobus sangat tidak setuju dengan definisi yang demikian. Melalui Ilham Roh, dengan keras Rasul Yakobus mengingatkan keduabelas suku Israel di perantauan lewat suratnya dalam Yakobus 2:19:

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”

Iman ternyata tidak hanya sekedar “perasaan” percaya atau yakin saja. Hal tersebut terlalu abstrak dan sangat bias. Yang terpenting adalah bukti nyata yang dapat dilihat dari pengertian dan pelaksanaan yang benar, yang menggambarkan iman yang sesungguhnya. Tetapi, bagaimana kita tahu apa yang benar dan apa yang salah? Tentu kita memerlukan pengetahuan, seperti yang diingatkan oleh rasul Petrus dalam 2 Petrus 1:5-7:

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”

Dengan demikian, sebagai orang Kristen kta harus tetap mau belajar teologi dengan tujuan berikut ini:

  1. Perdalam Pengetahuan Anda tentang Tuhan
    Pengejaran utama teologi adalah untuk lebih memahami sifat Allah dan bagaimana Dia bekerja di dunia. Yesus memanggil kita untuk “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37). Anda tidak dapat benar-benar mencintai seseorang tanpa mengenalnya, sehingga proses belajar teologi akan memperdalam cinta Anda kepada Tuhan dan mempererat hubungan Anda dengan-Nya.
  2. Pertahankan Iman Anda
    Setiap hari, di seluruh dunia, orang Kristen ditantang oleh orang lain untuk membela iman mereka. Inilah mengapa sangat penting bagi orang Kristen untuk mengetahui tidak hanya apa yang mereka percayai, tetapi juga mengapa mereka mempercayainya. Teologi berusaha untuk memahami kepercayaan sentral Kekristenan dari semua sudut, menggunakan contoh-contoh dunia nyata dan mempersiapkan Anda untuk secara cerdas mempertahankan kepercayaan Anda ketika diperlukan.
  3. Dapatkan Pengetahuan tentang Disiplin Lain
    Untuk menjawab pertanyaan sulit tentang keberadaan dan sifat Tuhan, teologi harus menggunakan disiplin ilmu lain seperti sejarah dan filsafat. Ini mungkin sering ditentang oleh golongan tertentu karena dianggap antroposentris. Antroposentris adalah sebuah pandangan bahwa manusia sebagai pusat dari semuanya. Tetapi ini bukanlah apa yang benar. Mempelajari teologi justru memberikan kesempatan untuk mempelajari sejarah Yesus dan kekristenan mula-mula serta filosofi di balik apologetika, yaitu cabang teologi yang membela kebenaran Alkitab dari penolakan orang lain.
  4. Memperkuat Ikatan Komunitas
    Anda tidak dapat mempelajari teologi dalam ruang hampa. Anda membutuhkan guru dan mentor yang berpengalaman untuk membantu membimbing Anda sepanjang jalan. Mempelajari teologi dengan orang lain dalam kelompok atau lingkungan akademis akan membantu Anda menjalin hubungan jangka panjang dengan sesama orang Kristen. Dalam hal ini ada banyak ulasan teologi di berbagai situs internet di Indonesia; dan jika Anda bisa berbahasa Inggris, beberapa situs ini bisa saya rekomendasikan: Monergism, Desiring God, The Gospel Coalition, GotQuestions, dan Ligonier Ministries.
  5. Belajarlah untuk Menjalankan Iman Anda
    Karena teologi akan memperdalam pengetahuan Anda tentang iman Kristen dan menerapkannya pada situasi dunia nyata, itu akan mempersiapkan Anda untuk mengikuti jalan yang lebih berpusat pada Kristus. Perspektif filosofis dan historis yang ditawarkannya akan membantu menumbuhkan kepercayaan Anda pada Tuhan dan rencana-Nya bagi Anda. Jadi, Anda harus berhati-hati jika ada orang yang selalu mengumandangkan istilah “kembali ke Alkitab” atau “back to the Bible“, karena ada kemungkinan bahwa apa yang mereka sampaikan justru kurang benar. Mereka yang belajar teologi di seminari, bukan saja belajar ayat-ayat Alkitab, tetapi juga latar belakang kebudayaan, filsafat, humanisme dan sejarah manusia. Itu karena pelaksanaan iman kita selama hidup di dunia selalu bersangkutan dengan manusia dari berbagai latar belakang (Roma 3: 29).

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa tanpa mempunyai pengetahuan yang benar, kita tidak akan tahu bagaimana kita dapat melakukan perbuatan baik yang menjadi ciri iman yang benar: penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara seiman, dan kepada kasih akan semua orang. Semoga Anda selalu mau belajar teologi selama masih bisa!

Pandangan kita atas sifat Tuhan mempengaruhi sikap kita

“Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri.” Lukas 19: 20-22

Mengapa penting bagi kita untuk mengetahui sifat-sifat Allah? Penginjil A.W. Tozer, dalam buku klasiknya, The Knowledge of the Holy, mengatakannya sebagai berikut: “Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika kita berpikir tentang Tuhan adalah hal terpenting tentang kita.” Tozer mengatakan bahwa jika kita ingin benar-benar mengalami kekuatan rohani yang mengubah hidup, kita setidaknya harus memegang pandangan bahwa Tuhan itu mahakuasa, berdaulat, mahasuci, mahaadil, dan mahakasih. Jika kita hanya mengenal Dia dari satu sudut saja, kita akan mudah membuat kekeliruan dalam hidup dalam fatalisme seperti hamba ketiga dalam ayat di atas.

Alkitab penuh dengan perincian tentang apa yang penting bagi Allah. Secara garis besar, Alkitab memberitahu kita apa yang Dia kasihi (yaitu kita), dan apa yang Dia benci (yaitu dosa). Itu menjadi seluk-beluk tentang pedoman-Nya tentang bagaimana kita harus mencintai dan mengampuni orang lain, dan pendirian-Nya tentang apa yang kita anggap sebagai “dosa kecil” (yang kita anggap lumrah) dan “dosa besar” (yang harus dihindari kalau bisa). Secara keseluruhan, itu memberi tahu kita bagaimana kita harus hidup sebagai umat-Nya.

Apakah Anda memiliki pemikiran “tinggi” atau “rendah” tentang Tuhan? Apakah Anda mengenal Dia sebagai Pencipta Anda yang mahakasih – atau hanya sebagai Oknum yang mahakuasa? Apakah Anda memiliki hubungan setiap hari dengan Tuhan – atau hanyamencari Dia ketika Anda memiliki masalah? Apakah Anda berpendapat bahwa Tuhan yang mahakasih ingin agar semua manusia yang bertobat untuk diselamatkan atau Dia ingin agar sebagian manusia untuk dilemparkan ke neraka? Apakah Anda yakin bahwa Tuhan menyelamatkan umat-Nya tanpa mengharuskan mereka untuk hidup kudus? Masing-masing dari atribut berikut ini mengarahkan kita untuk melihat Tuhan dengan benar: sebagai Oknum Ilahi yang mahasuci, mahaadil, mahakuasa, dan mahakasih.

ALLAH ITU MAHASUCI DAN MAHAADIL

“Tetapi TUHAN semesta alam akan ternyata maha tinggi dalam keadilan-Nya, dan Allah yang maha kudus akan menyatakan kekudusan-Nya dalam kebenaran-Nya.” Yesaya 5: 16

Allah itu kudus dan sempurna. Ini adalah satu atribut Tuhan yang harus kita utamakan. Jadi kehadiran-Nya yang kudus menyebabkan Dia menolak dosa kita. Kekudusan-Nya adalah penyebab kematian bagi orang yang hidup dalam dosa. Tetapi karena Dia sangat mengasihi kita, Dia mengorbankan Anak-Nya di kayu salib agar kita dapat berdiri dalam hubungan yang benar dengan-Nya. Hanya kekudusan Allah yang dapat menutupi kekotoran dosa kita. Dia memberi semua orang kesempatan, apakah mereka akan menurut ajakan Roh-Nya agar mereka menerima Dia sebagai Juruselamat atau menolak-Nya dengan sengaja secara terus menerus. Itu adalah Tuhan yang murah hati. Karena Allah itu kudus, kasih-Nya adalah murni dan tidak tersembunyi.

“Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: ”Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” Yesaya 57:15

ALLAH ITU MAHAKUASA DAN BERDAULAT

Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu! Yeremia 32:17

Tuhan menikmati kekuatan tak terbatas; tidak ada yang terlalu sulit bagi-Nya. Tuhan dapat dengan mudah mengucapkan sesuatu menjadi ada. Segala sesuatu yang Tuhan inginkan terjadi, akan terjadi; tidak ada yang dapat menggagalkan atau mencegah rencana-Nya. Tuhan bahkan berkuasa atas hidup dan mati. Tidak ada yang bisa menentang Dia atau rencana-Nya. Tetapi, semua itu bukan menunjukkan bahwa Tuhan adalah kejam dan semena-mena. Karena Tuhan itu baik, kuasa-Nya mencerminkan karakter-Nya yang baik. Kita dapat percaya bahwa Tuhan tidak hanya memegang seisi alam semesta di telapak tangan-Nya, tetapi juga berkuasa atas rasa sakit, ketakutan, dan kebutuhan kita. Lebih dari itu, Dia tahu siapa yang benar-benar ingin menjadi domba-Nya.

Tuhan mengetahui secara instan dan tanpa susah payah semua materi dan semua hal, semua pikiran dan setiap pikiran, semua roh dan setiap roh, semua makhluk dan setiap makhluk, semua ciptaan dan stiap makhluk, semua hukum dan setiap hukum, semua hubungan, semua sebab, semua pikiran, semua misteri, semua perasaan, semua keinginan, setiap rahasia yang tak terucapkan, semua singgasana dan kekuasaan, semua kepribadian, semua hal yang terlihat dan tidak terlihat di surga dan di bumi. Allah itu mahakuasa dan karena itu Dia berdaulat.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: ”Apa yang Kaubuat?” Daniel 4:35

Tuhan itu berdaulat dan mandiri. Dia tidak membutuhkan apa pun, termasuk diri kita. Walaupun demikian, Dia bekerja melalui kita untuk mencapai rencana-Nya. Jadi mengapa kita terlalu sering mencoba mendefinisikan Tuhan, memasukkan Dia ke dalam kotak yang kita beri label dan kita kendalikan? Jangan menipu diri sendiri. Tuhan tidak perlu membuat kita menjadi robot-Nya. Kuasa Tuhan bisa mengatasi apapun yang kita pikirkan dan kita miliki.

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46:9-10

ALLAH ITU MAHAKASIH

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:37-39

Kebaikan Allah berasal dari sifat kasih-Nya. Bahkan dosa sebesar apa pun tidak dapat mengecilkan kasih Allah bagi kita. Tuhan memisahkan “siapa” kita dari “perbuatan” kita. Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, kita mungkin mengalami saat-saat buruk, tetapi itu tidak membuat kita menjadi orang jahat di mata Tuhan. Bukankah itu menakjubkan? Dia mau mengampuni kita ketika kita meminta, dan tidak lagi mengingat dosa kita yang muncul akibat ketidakberdayaan kita. Dia bahkan mendengar suara bisikan penyesalan kita yang paling sering kita ucapkan. Karena Tuhan penuh kasih, Dia mengulurkan belas kasihan yang tak terukur kepada orang yang takut akan Dia (dalam pengertian yang benar).

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Memang, jika sifat mahakasih Allah terlalu ditekankan, kita cenderung segera mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang dapat diatur, catat Tozer. “Kita ingin mendapatkan Dia di mana kita dapat menggunakan Dia, atau setidaknya tahu di mana Dia berada saat kita membutuhkan Dia. Kita menginginkan Tuhan yang dalam beberapa hal dapat kita kendalikan.” Padahal, Alkitab menyatakan bahwa siapa yang dikasihi Allah adalah orang-orang yang tunduk kepada perintah-Nya.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa pandangan kita tentang Tuhan akan mempengaruhi sikap kita selama hidup di dunia. Apa yang kita anggap sebagai sifat seorang Bapa, mudah akan kita tiru sebagai anak. Karena itu kita harus mengenal Dia seperti apa yang dinyatakan dalam Alkitab. Kita tidak boleh memisah-misahkan atribut Allah, atau hanya terpukau dalam salah satu atribut-Nya. Setiap orang pada akhirnya akan akan dihakimi menurut keyakinannya sendiri.

Apa yang Anda persembahkan?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Ada ajaran agama yang menyatakan bahwa persembahan untuk Tuhan dan sesama manusia adalah perlu untuk mendapatkan tempat yang baik di surga. Dengan demikian, jika ada sesorang yang meninggal dunia, mereka yang ditinggalkan akan mendoakan agar Tuhan memertimbangkan amal ibadah si almarhum semasa hidupnya, dan memberikan apa yang baik baginya di dunia akhirat. Ini bukanlah apa yang diajarkan dalam agama Kristen.

Agama Kristen mengajarkan bahwa tidak ada apa pun yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan untuk membeli keselamatan kita ataupun memilih tempat yang baik di surga. Keselamatan hanya datang melalui penebusan Yesus, dan apa yang kita terima di surga adalah sepenuhnya menurut kehendak Tuhan. Kalau begitu, apakah ada insentif bagi umat Kristen untuk memberi persembahan dan melalukan amal ibadah? Ada, karena umat Kristen percaya bahwa di bumi maupun di surga, Tuhan akan memberi apa yang sesuai dengan jerih payah mereka dalam melayani Tuhan. Tetapi, umat Kristen umumnya tidak menganggapnya sebagai sesuatu pendorong utama untuk melakukan amal ibadah, karena persembahan umat Kristen adalah pernyataan syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan kepada umat-Nya.

Bagaimana dengan prosedur memberi persembahan dalam agama Kristen? Jika dulu persembahan berupa uang dimasukkan kedalam kantung kolekte atau amplop khusus di gereja, sekarang persembahan dapat dilakukan dengan cara elektronik atau bank transfer. Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar.

Apa prinsip-prinsip utama dalam persembahan umat Kristen?

Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi pemberian yang terbesar.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Persembahan kita merupakan pernyataan kasih dan syukur kita secara pribadi kepada Tuhan kita.

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6: 4

Melalui persembahan kita memuliakan nama Tuhan.

“Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku” Mazmur 50: 23

Persembahan kita dapat menjadi penyaluran kasih Tuhan kepada sesama manusia.

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” 1 Yohanes 3: 17

Dengan persembahan kita memperkuat iman kita.

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22

Apa yang keliru:

Tuhan membutuhkan persembahan kita: Ini adalah kesalahan besar. Tuhan adalah pemilik segala sesuatu (Mazmur 50:7-15), termasuk pemilik harta yang ada di tangan kita. Tuhan adalah sumber dan pemberi berkat (Mazmur 127:2; Amsal 10:22; Ulangan 8:17-18; 2 Korintus 4:7).

Persembahan materi, perbuatan baik, dll. hanya menunjukkan manusia yang kuang yakin akan keselamatannya: Ini juga kesalahan yang sering terjadi di beberapa gereja, karena penekanan atas kedaulatan Tuhan yang terlalu ekstrem sehingga ada perasaan bahwa jika orang sudah yakin diselamatkan, tidak perlu lagi berusaha keras untuk melakukan amal ibadah.

Kesombongan: Kalau pemberian kita didasari keinginan untuk dihormati orang, jelas motif kita keliru. Bagaimana kalau pemberian seseorang membuat seisi gereja bangga? Sama saja. Jika bukan nama Tuhan yang dipermuliakan, itulah kesombongan. Persembahan sebaiknya dilakukan secara pribadi dan hasil persembahan jemaat sebaiknya tidak dijadikan simbol kesuksesan gereja. Memberi bukan untuk mendapatkan penghargaan manusia. Pemberian juga tidak boleh dijadikan usaha mempengaruhi gereja.

Ketamakan: Memberi dengan mengharapkan balasan Tuhan yang berupa materi yang berlipat ganda adalah kekeliruan besar. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, karena itu jika kita memberikan sebagian kepada-Nya kita tidak boleh mengharapkan bahwa Ia akan mengembalikan dengan bonus. Begitu juga dengan ajakan agar jemaat memberi yang disertai “janji” bahwa Tuhan akan mengembalikan “hutangNya” dengan “bunga” yang besar. Kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu memberi dan bukan karena menginginkan balasan. Dalam hal ini, Tuhan menghargai persembahan yang sekalipun kecil tapi sesuai dengan kemampuan kita. Bagaimana kalau gereja hanya menghargai jemaat yang mampu dan persembahan yang besar saja? Bacalah Yakobus 2:1-9.

Rasa bersalah: Ada orang yang memberi karena merasa kuatir. Apalagi jika ada nazar yang pernah diucapkan di masa lalu. Walau ini kelihatannya baik, Tuhan mengingini persembahan nazar yang disertai syukur dan kerelaan, bukannya dengan rasa takut atau bersalah. Bagaimana kalau gereja menganjurkan jemaat untuk memberi dengan cara menakut-nakuti mereka? Jelas itu keliru. Bacalah 2 Korintus 9:7.

Persembahan harus berupa uang: Uang adalah salah satu bentuk persembahan. Yang lain bisa berupa barang, tenaga, waktu, pelayanan, perhatian, dll. Memang kita ingin untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita, tetapi kita harus sadar bahwa kasih mempunyai banyak ragam.

Hanya untuk orang seiman: Banyak orang berpikir bahwa Tuhan hanya mengasihi anak-anak-Nya dan karena itu persembahan kita hanya untuk kalangan sendiri. Ini keliru. Yang benar adalah Tuhan mengasihi seisi dunia. Karena itu kita wajib menolong siapa pun yang memerlukan bantuan.

Persembahan yang terbaik:

Seandainya kita diundang ke acara perjamuan pesta makan malam di istana kepresidenan saat presiden berulang tahun, kira-kira hadiah apa yang hendak kita berikan? Tentu saja, kita tidak akan memberikan hadiah yang sembarangan, melainkan kita pasti akan memikirkan dan berusaha memberikan yang terbaik. Jika untuk seorang presiden kita bisa memberikan yang terbaik, bukankah sudah semestinya bila kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan?

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Dengan kata lain, jika kita benar-benar ingin membawa persembahan untuk Allah, kita harus memakai seluruh hidup kita sebagai persembahan yang membawa kemuliaan bagi Allah dan bukannya untuk kemuliaan diri sendiri.

Persembahan bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap orang percaya. Memberi persembahan bukan berarti bahwa kita memberi sumbangan kepada Tuhan atau gereja. Memberi persembahan juga bukan bertransaksi atau berdagang dengan Allah, sehingga kita harus menghindari sikap seperti pedagang atau penagih hutang, debt collector. Apakah Anda telah bertekad untuk mendedikasikan hidup Anda sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, termasuk mendedikasikan harta dan kemampuan jasmani yang Anda miliki?