Apakah tujuan boleh menghalalkan cara?

“Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: ”Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” Roma 3:8

Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya bergantung pada apa tujuan atau sasarannya dan cara apa yang digunakan untuk mencapainya. Jika tujuannya baik dan mulia, dan cara yang kita gunakan untuk mencapainya juga baik dan mulia, maka tujuan memang menghalalkan cara tersebut. Namun bukan itu yang dimaksudkan kebanyakan orang ketika mereka menggunakan ungkapan tersebut.

Kebanyakan orang menggunakan frasa itu sebagai alasan untuk mencapai tujuan mereka melalui cara apa pun yang diperlukan, tidak peduli betapa tidak bermoral, ilegal, atau tidak menyenangkannya cara tersebut. Arti dari ungkapan tersebut biasanya seperti: “Tidak masalah bagaimana Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, selama Anda mendapatkannya.”

Ajaran ini bukan saja ada dalam masyarakat, tapi juga dalam agama tertentu yang mengajarkan bahwa setiap orang memetik apa yang diperbuatnya. Ini prinsip alami. Jika seseorang berbuat apa yang baik – yang mengurangi penderitaan sesamanya atau memperbaiki keadaan orang lain – ia akan mendapat pahala. Masalahnya, umtuk mencapai apa yang “baik” itu, tidak ada keharusan untuk menggunakan cara yang baik. Karena itu, orang mungkin melakukan kebohongan “kecil”, menyuap, dan hal-hal lain yang bisa dikatakan dosa, untuk bisa memperoleh apa yang bermanfaat bagi orang lain. Ini bisa terjadi karena dalam ajaran agama itu, Tuhan tidak ikut campur tangan dalam kehidupan manusia.

Frasa “tujuan menghalalkan cara” biasanya melibatkan tindakan yang salah untuk mencapai tujuan yang positif dan membenarkan tindakan yang salah dengan menunjukkan hasil yang baik. Contohnya adalah berbohong dalam resume untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan membenarkan kebohongannya dengan mengatakan bahwa penghasilan yang lebih besar akan memungkinkan si pembohong untuk menafkahi keluarganya dengan lebih baik. Alasan lain mungkin membenarkan aborsi bayi demi kebebasan ibunya. Berbohong dan menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah keduanya salah secara moral, namun menafkahi keluarga dan menyelamatkan nyawa seorang wanita adalah benar secara moral. Lalu, bagaimana ajaran Kristen tentang hal ini?

Dalam ayat di atas, Paulus menjawab tuduhan fitnah dari beberapa penuduhnya yang mengatakan bahwa hasil logis dari ajaran Paulus adalah untuk memprovokasi orang agar berbuat dosa lebih banyak demi menghasilkan lebih banyak kebaikan: “Mengapa tidak berbuat jahat, supaya kebaikan datang?” Paulus menggambarkan hal ini sebagai argumen manusiawi (Roma 3:5). Argumen yang jelas tidak masuk akal.

Sesuai dengan ajaran Paulus, orang Kristen percaya bahwa mereka diselamatkan bukan karena perbuatan mereka, tetapi semata-mata karena kemurahan Tuhan. Hal ini, sampai sekarang, sering menimbulkan kesan kepada banyak orang bahwa orang Kristen tidak perlu menjalani hidup yang baik, karena anugerah Tuhan pasti lebih besar dari dosa orang percaya. Lebih ekstrem lagi, mereka menuduh bahwa orang Kristen bebas untuk berbuat jahat karena mereka percaya bahwa kasih Tuhan adalah mahabesar.

Sebenarnya, ini adalah ide yang begitu bodoh sehingga Paulus bahkan tidak mau repot-repot memperdebatkannya, setidaknya tidak sekarang. Fakta bahwa Allah tetap adil dan setia dalam menghadapi keberdosaan manusia tidak berarti bahwa Allah ingin manusia semakin berdosa. Ini berarti bahwa Ia konsisten dengan natur-Nya sendiri.

Alih-alih memperdebatkan hal ini lebih lanjut, Paulus hanya mengatakan hal ini tentang mereka yang menuduhnya menyuruh orang untuk terus berbuat dosa: “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” Dengan kata lain, mereka yang menghalalkan segala cara pantas menerima murka Allah. Ia akan kembali membahas tantangan ini secara lebih rinci dalam Roma 6:

“Jadi, sekarang, apa yang akan kita katakan? Apakah kita akan terus berbuat dosa supaya Allah semakin memberikan kita anugerah?” ‭‭Roma‬ ‭6‬:‭1‬‬

Dilema tujuan dan cara adalah skenario yang populer dalam diskusi etika. Biasanya, pertanyaannya seperti ini: “Jika Anda bisa menyelamatkan dunia dengan membunuh seseorang, apakah Anda akan melakukannya?” Jika jawabannya adalah “ya”, maka hasil yang benar secara moral membenarkan penggunaan cara-cara yang tidak bermoral untuk mencapainya. Namun ada tiga hal berbeda yang perlu dipertimbangkan dalam situasi seperti ini: moralitas tindakan, moralitas hasil, dan moralitas orang yang melakukan tindakan. Orang Kristen bukannya orang yang tidak mementingkan hal moral, tetapi justru sangat berhati-hati dalam melangkah dalam hidup.

Tentu saja dari sudut pandang alkitabiah, yang diabaikan dari pembahasan ini adalah karakter Tuhan, hukum Tuhan, dan pemeliharaan Tuhan. Karena kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kudus, adil, penyayang dan benar, maka siapa pun yang menyandang nama-Nya harus mencerminkan tabiat-Nya (1 Petrus 1:15-16). Pembunuhan, kebohongan, pencurian, dan segala bentuk perilaku berdosa adalah ekspresi dari sifat dosa manusia, bukan sifat Tuhan. Bagi orang Kristen yang sifatnya telah diubah oleh Kristus (2 Korintus 5:17), tidak ada pembenaran atas perilaku tidak bermoral, tidak peduli motivasi atau akibat yang ditimbulkannya. Memang kita tidak diselamatkan karena bermoral baik, tetapi jika kita sudah diselamatkan, tentunya kita mengerti mengapa kita harus taat kepada hulum-Nya.

Dari Tuhan yang kudus dan sempurna ini, kita mendapatkan hukum yang mencerminkan sifat-sifat-Nya (Mazmur 19:7; Roma 7:12). Sepuluh Perintah Allah memperjelas bahwa pembunuhan, perzinahan, pencurian, kebohongan dan keserakahan tidak dapat diterima di mata Tuhan dan Dia tidak membuat “klausa pelarian” untuk motivasi atau rasionalisasi. Perhatikan bahwa Dia tidak berkata, “Jangan membunuh, kecuali dengan melakukan hal itu kamu akan menghasilkan sesuatu yang baik”. Ini disebut “etika situasional”, dan hal ini tidak terdapat dalam hukum Tuhan. Jadi, jelas sekali, dari sudut pandang Allah tidak ada tujuan yang menghalalkan cara untuk melanggar hukum-Nya.

Sayang sekali, banyak orang Kristen yang siap melakukan hal-hal yang kurang baik dengan alasan “demi kemuliaan Tuhan”. Untuk mencapai tujuan gereja, mungkin orang bersedia untuk berbohong. Mungkin, orang berkata: “Jika kita jujur, tidak ada gereja baru yang bisa didirikan”. Atau, “jika kita tidak berani mengambil jalan pintas, kita tidak akan memcapai tujuan”. Dalam diskusi mengenai hal-hal semacam ini, kita harus sadar akan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak sekadar menciptakan dunia, mengisinya dengan manusia, dan kemudian membiarkan mereka bekerja sendiri tanpa pengawasan dari-Nya. Sebaliknya, Tuhan mempunyai rencana dan tujuan bagi umat manusia yang telah Dia wujudkan selama berabad-abad.

Hari ini kita belajar bahwa mereka yang tidak mengenal Tuhan atau percaya kepada tuhan yang keliru, mungkin mau menghalalkan segala cara mereka untuk mencapai tujuan mereka. Wlaupun demikian, mereka yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan tidak punya alasan apa pun untuk melanggar perintah Tuhan dalam usaha untuk mencapai tujuan mereka.

Hal berdebat dengan orang yang menentang Tuhan

“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.” Amsal 26:4-5

Amsal 26:1–12 sebagian besar merupakan serangkaian pernyataan negatif yang blak-blakan tentang “orang bebal”; kata tersebut muncul di semua ayat kecuali satu. Amsal 26 sebenarnya mencakup tiga bagian utama. Bagian pertama berulang kali merujuk pada “orang bebal,” yang berarti seseorang yang tidak memiliki hikmat ilahi (Amsal 1:7). Bagian kedua memperingatkan agar tidak bermalas-malasan. Bagian ketiga mengutuk konflik yang ceroboh, kebohongan, dan memperingatkan tentang mereka yang menutupi kebencian mereka dengan kata-kata. Beberapa pernyataan dalam bagian ini mengulangi atau menggemakan pernyataan lain dalam kitab Amsal.

Apa arti Amsal 26:4? Bagian dari dua bagian pelajaran ini (Amsal 26:5) menggunakan frasa “menurut” yang berarti “dengan cara”. Meniru sikap, tingkah laku, atau pendekatan orang yang bebal tidaklah bijaksana. Sebuah peribahasa Inggris modern yang terkait menasihati, “don’t wrestle with pigs, since you only get dirty and the pig enjoys it“yang bisa diterjemahkan “jangan bergulat dengan babi, karena engkau hanya akan menjadi kotor dan babi menikmati hal itu.”

Dalam kitab Amsal, “kebebalan” bukan sekadar kebodohan, tetapi berarti penolakan terhadap Allah dan kebenaran-Nya (Amsal 1:7). Hinaan, kebohongan, tipu daya, amarah, kepicikan, dan hal-hal lainnya adalah kebodohan manusia zaman ini yang sering muncul dalam berbagai media dan pergaulan sehari-hari dan ini tidak boleh ditiru. Jika kita membiarkan diri kita diseret ke tingkat itu, kita melakukan hal yang tidak bijaksana, dan juga tidak saleh.

Yesus menjawab banyak pertanyaan, terkadang mencerminkan gaya orang yang bertanya (Matius 12:1–8; 19:21; Yohanes 3:10; 4:16). Namun, Yesus tidak menanggapi hinaan dengan hinaan, atau kebohongan dengan kebohongan. Ketika para pengkritik-Nya bersikap tidak adil atau tidak baik, Yesus bisa bersikap tegas—bahkan keras (Yohanes 9:40-41; Matius 22:18). Namun, Ia tidak menggunakan taktik bodoh yang sama seperti mereka yang menyerang-Nya. Ia juga tidak repot-repot menjawab ketika pertanyaan itu sendiri tidak tulus. Ketika Herodes mencoba memaksa Yesus untuk melakukan mukjizat, Yesus menolak untuk menjawab sama sekali (Lukas 23:8-9). Herodes tidak membutuhkan tanda untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pertanyaan Herodes adalah dangkal dan mengejek, dan karena itu tidak perlu ditanggapi.

Ayat 4 dan 5 tampak seperti pernyataan yang kontradiktif. Dan, pada kenyataannya, keduanya memang menyarankan tindakan yang berlawanan. Namun, konteks masing-masing sedikit berbeda; pelajaran yang dimaksudkan adalah tentang kapan harus diam dan kapan harus berbicara. Bahkan, kita dapat menganggapnya sebagai dua bagian dari satu peribahasa. Sepasang pernyataan ini memberikan contoh yang sangat baik tentang Kitab Suci yang menyajikan ketegangan di antara dua ekstrem. Pembacaan yang ceroboh—terutama di luar konteks—dapat mengartikan hal ini sebagai kontradiksi. Di sini, tentu saja, frasa-frasa tersebut ditulis bersama, sehingga makna yang dimaksudkan lebih mudah dipahami.

Cara lain untuk membedakan ayat 4 dan 5 adalah dengan memperhatikan bahwa ada perbedaan antara memberikan jawaban “dalam” kebodohan, dibandingkan dengan memberikan jawaban “untuk” kebodohan. Meniru sesuatu yang tidak bijaksana itu tidak baik, tapi mengoreksi sesuatu dengan hikmat itu baik.

Hikmat dan pengetahuan menjadikan seseorang bijaksana. Hal ini sebagian berarti seseorang dapat mencapai lebih banyak hal melalui hikmat dan pemikiran yang cermat, dibandingkan dengan hanya menggunakan kekuatan atau usaha yang kasar. Seseorang yang teguh dalam kebenaran dan hikmat (Amsal 2:1-13) lebih siap untuk mengambil keputusan yang terbaik (Amsal 3:21-23). ​​Demikian pula, orang yang mengumpulkan hikmat banyak orang lebih mungkin menemukan solusi yang tepat untuk masalah mereka (Amsal 15:22).

Orang yang benar-benar bijaksana tidak mengandalkan kekuatannya sendiri untuk meraih kemenangan atas tantangan dari mereka yang melawan Tuhan. Ia percaya kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan. Pemazmur bertanya, “Dari manakah datangnya pertolonganku?” (Mazmur 121:1). Ia menjawab, “Pertolonganku datangnya dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mazmur 121:2).

Sampai di manakah kita harus berjuag untuk menginsafkan mereka yang bebal? Dalam hal ini, dalam Markus 6:11, Yesus berkata, “Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Mengibaskan debu dari kaki seseorang menyampaikan ide yang sama dengan frasa modern kita “Saya mencuci tangan saya darinya.” Mengibaskan debu dari kaki adalah indikasi simbolis bahwa seseorang telah melakukan semua yang dapat dilakukan berdasarkan kebijakan dalam suatu situasi dan oleh karena itu tidak memiliki tanggung jawab lebih lanjut untuk itu.

Dalam contoh-contoh alkitabiah, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka harus memberitakan Injil kepada semua orang. Di mana mereka diterima dengan sukacita, mereka harus tinggal dan mengajar. Namun, jika pesan mereka ditentang oleh mereka yang bebal, mereka tidak memiliki tanggung jawab lebih lanjut. Mereka bebas untuk pergi dengan hati nurani yang bersih, mengetahui bahwa mereka telah melakukan semua yang dapat mereka lakukan. Ini adalah hal yang bijaksana,

Mengibaskan debu dari kaki mereka, pada dasarnya, mengatakan bahwa mereka yang menolak kebenaran Tuhan tidak akan diizinkan untuk terus menerus menghalangi kemajuan Injil. Makna spiritual dari seorang murid Yesus yang mengibaskan debu dari kakinya adalah pernyataan final kepada orang-orang yang telah diberi kebenaran dan yang telah menolaknya. Sebagai murid Tuhan yang bijaksana, mereka tidak terjebak kedalam pertikaian atau perbantahan yang berkelanjutan dan tidak ada gunanya.

Ada situasi-situasi dalam hidup kita di mana Tuhan memanggil kita untuk berdiri teguh, memberitakan kebenaran, dan memberikan kesaksian yang sabar agar mereka menyadari kebebalan mereka. Terkadang kita harus melanjutkannya dengan cara yang baik sampai kita melihat hasil dari kesaksian tersebut. Di saat yang lain, Tuhan memberi kita kebebasan untuk menyerahkan orang-orang itu kepada Tuhan dan secara emosional melepaskannya. Kemudian kita memiliki kebebasan untuk melangkah ke tahap pelayanan berikutnya. Perintah Yesus untuk “mengebaskan debu dari kaki kita” mengingatkan kita bahwa kita hanya bertanggung jawab atas ketaatan kita kepada Tuhan, bukan atas hasil dari ketaatan tersebut. Kita tidak perlu menjawab orang yang mau hidup dalam kebodohannya. Setiap orang pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan hidup mereka kepada Tuhan.

Apa Tujuan Hidup Anda?

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia ‘menurut gambar-Nya’. Itu bukan tentang keserupaan fisik – ini mengacu pada kualitas lain seperti memiliki hati nurani dan mengetahui perbedaan antara benar dan salah; memiliki kapasitas untuk mencintai; memiliki keinginan akan keadilan; dan memiliki kreativitas yang luar biasa. Kemampuan lain yang membedakan kita dari ciptaan alam semesta lainnya adalah bahwa kita mampu menjalin hubungan dengan Tuhan sendiri.

Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Tetapi karena dosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki apa yang baik. Kita bisa melihat bahwa dunia ini sekarang penuh dengan hal-hal yang buruk: korupsi, penistaan, penganiayaan, pembunuhan dan sebagainya. Manusia sendiri tidak berdaya untuk mengubah semua yang jahat menjadi apa yang baik.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Allahlah membuat kita bertobat dan memindahkan kita ke kedudukan sebagai seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskan kita dari perhambaan dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan kita mampu lagi untuk menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, karena kerusakan yang masih tinggal pada diri kita, kita tidak selalu menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, tetapi sering juga menghendaki apa yang jahat. Itu berarti bahwa dalam hidup kita harus selalu berjuang untuk menjalani hidup baru dengan bimbingan Roh Kudus. Itu karena sebagai orang yang sudah diselamatkan, tujuan hidup kita harus berubah dari apa yang kita punyai sebelum bertobat.

Jika demikian, apakah tujuan hidup atau purpose of life Anda? Tujuan utama hidup manusia, menurut Alkitab, adalah memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya, yang mencakup bertumbuh dalam hubungan dengan-Nya melalui iman kepada Yesus Kristus, mencerminkan kasih-Nya kepada sesama, dan menemukan pemenuhan tujuan-Nya bagi hidup seseorang. Ini mencakup hidup untuk meninggikan dan menyembah Allah, menikmati Dia sebagai harta, dan berpartisipasi dalam rencana-Nya untuk mewujudkan Kerajaan Allah dan mengubah hidup melalui kasih karunia-Nya.

Aspek-Aspek Utama Tujuan Hidup:

  • Memuliakan Allah:
    Manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah, artinya meninggikan, mengagungkan, dan menyembah-Nya dengan segala yang mereka lakukan.
  • Menikmati Allah:
    Menikmati Allah dicapai dengan memandang-Nya sebagai sumber sukacita tertinggi, menyadari pentingnya Dia dalam segala aspek kehidupan.
  • Hidup dalam Hubungan dengan Allah:
    Tujuan utamanya adalah bertumbuh dalam persekutuan yang intim dengan Allah, yang dipulihkan melalui iman kepada Yesus Kristus.
  • Merefleksikan Karakter Allah:
    Dengan mengenal dan menikmati Allah, setiap individu dapat mencerminkan terang dan karakter kasih-Nya kepada sesama di dunia.
  • Melayani Sesama:
    Dengan mengasihi dan melayani sesama, kita menunjukkan kebaikan dan pengampunan sebagaimana yang telah Allah tunjukkan kepada kita.
  • Mencari Kerajaan Allah:
    Alkitab mendorong kita untuk berfokus menaati Firman Tuhan dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsipnya, yang menuntun pada kepuasan rohani dan transformasi hidup.

Apakah Anda sudah mencapai tujuan hidup Anda? Hanya Anda yang bisa menjawab. Anda bisa memeriksa hidup Anda sendiri. Reality check untuk apa yang sudah Anda capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan dan memuliakan-Nya tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita bisa melakukannya untuk memuji-Nya.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Setiap Orang Pernah Korupsi

“Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” Keluaran 23:8

Masalah korupsi baru-baru ini hangat dibicarakan di media. Ada berbagai berita yang muncul mengenai tertangkapnya si A atau si B karena menggelapkan uang negara, tetapi berita semacam ini sudah bukan berita yang mengejutkan. Walaupun demikian, yang membuat prihatin adalah perkiraan publik bahwa koruptor yang belum ditemukan adalah jauh lebih banyak jumlahnya dari apa yang bisa ditemukan.

Di zaman ini, korupsi bisa berupa penyalahgunaan uang, waktu, posisi, wewenang, dan berbagai sumber daya untuk keuntungan pribadi. Tetapi, secara umum korupsi adalah melakukan apa yang tidak benar. Lebih dari itu, korupsi dalam Alkitab adalah keadaan kontaminasi moral dan pembusukan rohani yang diungkapkan melalui ketidaktaatan kepada Allah.

Dalam kitab Kejadian, Allah berfirman kepada Adam bahwa, jika ia memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, ia “pasti akan mati” (Kejadian 2:17). Sebagai hukuman, Adam tidak mati secara jasmani pada hari itu, melainkan secara rohani yang melibatkan keterpisahan dari Allah (Efesus 2:1-3). Dosa yang membawa pencemaran dan pembusukan bagi Adam dan Hawa, juga mempengaruhi kodrat manusia setiap orang yang lahir setelahnya (Roma 5:12).

Korupsi mungkin sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Dari pungutan kecil di jalan, “uang rokok” untuk memperlancar urusan, “uang pelicin” untuk proyek kecil, hingga proyek besar bernilai triliunan rupiah. Banyak yang menganggapnya wajar dan praktis. Bahkan ada yang merasa tidak bisa hidup tanpa itu. Namun bagi orang Kristen, inilah tantangan iman yang nyata: berani hidup tanpa korupsi di tengah budaya korupsi. Ini termasuk cara orang tua Kristen mendidik anak-anaknya untuk menghindari korupsi dalam segala bentuknya, karena segala bentuk korupsi membutakan mata manusia dan memutarbalikkan kebenaran.

Hidup tanpa korupsi berarti hidup dengan integritas. Itu artinya menolak penggunaan uang pelicin dan hal-hal yang tidak etis atau tidak bermoral baik, meskipun dianggap “aneh” atau bahkan “bodoh” oleh orang lain. Itu artinya bersaksi melalui perbuatan, menunjukkan bahwa berkat sejati tidak datang dari kecurangan, melainkan dari Allah yang mencukupkan. Itu juga menunjukkan kerelaan untuk “kalah” daripada “menang” melalui cara yang tidak juur. Ini tidaklah mudah untuk diterapkan.

Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Itu menyatakan bahwa setiap orang pernah melakukan korupsi dalam hidupnya. Mungkin kita belum pernah menyalahhgunakan atau mencuri dana perusahaan atau melakukan penyuapan; tetapi seperti yang kita pelajari di atas, korupsi adalah segala tindakan yang menyalahgunakan berkat Tuhan dan melawan apa yang dikehendaki-Nya. Seperti apa yang ditulis ayat pembukaan dalam Keluaran 23:8, segala bentuk korupsi akan membuat mata manusia buta akan keadilan Tuhan.

Kita harus berani mengaku salah, dan mau bertobat. Kita harus menjalani hidup baru yang berlandaskan integritas dalam Kristus. Integritas bukanlah kemewahan, melainkan panggilan. Yesus sendiri hidup tanpa kompromi meski harus menanggung salib. Tidak semua rejeki itu berkat. Kalau didapat dari korupsi, itu adalah jerat. Alkitab berkata: “Pencuri tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus” (Efesus 5:5). Kesaksian lebih lantang daripada kata-kata. Hidup tanpa korupsi memang bisa lebih sulit di dunia ini, tapi janji Tuhan jelas: “Carilah dahulu Kerajaan Allah… maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Ketika kita mengenal Yesus Kristus, kita memulai hubungan pribadi dengan-Nya. Semakin bertumbuh hubungan itu, semakin baik kita memahami siapa Yesus dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Kita mulai memahami apa yang telah dicapai oleh kuasa ilahi-Nya bagi kita. Salah satu janji Yesus kepada kita adalah pelayanan Roh Kudus yang memberdayakan dan menyucikan dalam kehidupan setiap orang percaya (Yohanes 14:15-17). Roh Kudus memberi kita kuasa untuk menaati Allah, membalikkan kutukan kebinasaan, dan menjadikan kita pengambil bagian dalam kodrat ilahi Allah.

Selama hidup di dunia, kita dituntut untuk setia kepada firman-Nya. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tetapi makin hari kita harus makin menyerupai Yesus. Suatu hari yang mulia di masa depan, kutukan kerusakan dan pembusukan akan diangkat untuk selama-lamanya:

“Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” Roma 8:19-21

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, berikanlah kami keberanian untuk hidup dengan integritas. Tolong kami menolak korupsi, meskipun kecil, meskipun dianggap biasa. Jadikan kami garam dan terang di tengah bangsa yang terluka karena korupsi. Dan mampukan kami percaya, bahwa Engkaulah yang mencukupkan kebutuhan kami. Amin.

Anugerah dan Moralitas: Panggilan Umat Kristen di Tengah Bangsa yang Lemah Hukum

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6:1-2

Beberapa hari belakangan ini kita menyaksikan riuhnya suara rakyat—bukan sekadar teriakan, tapi jeritan hati yang telah lama dipendam. Demonstrasi berbagai kelompok masyarakat merebak di Jakarta dan berbagai kota lainnya adalah respon rakyat terhadap kebijakan dan perilaku pemerintah dan badan legislatif yang dirasa tidak berpihak pada masyarakat, korupsi yang semakin merajalela, pajak yang memberatkan, anggota legislatif yang sibuk dengan kepentingan pribadi dan tidak memperjuangkan kepentingan rakyat. Sayang sekali, di beberapa tempat demonstrasi berubah menjadi tindakan anarki,

Para tokoh lintas agama sudah menyampaikan sembilan poin pernyataan sikap tentang situasi politik di Indonesia yang menyebabkan terjadinya demonstrasi berujung kericuhan di sejumlah daerah. Dalam poin ke 5, mereka menolak segala bentuk kekerasan dan anarkisme, adu domba di media sosial, juga perusakan fasilitas umum, maupun tindakan kekerasan yang mencederai ajaran agama dan nilai luhur bangsa. Hak menyampaikan pendapat memang dijamin oleh konstitusi, namun harus diwujudkan dengan cara damai, bermartabat, dan beradab demi menjaga kehormatan rakyat dan bangsa. Dengan kata lain, bagaimana pun situasinya, moralitas yang baik haruslah dipertahankan.

Ada orang yang berpendapat bahwa “tujuan menghalalkan cara”, karena itu kita tidak perlu mempersoalkan prinsip moralitas jika kita ingin melawan apa yang dipandang masyarakat sebagai hal yang sangat buruk. Dalam hal ini, ada sebagian orang Kristen yang berkata: “keselamatan adalah anugerah, jadi moralitas tidak penting.” Pernyataan ini terdengar rohani, tetapi sesungguhnya menyesatkan. Memang benar, Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan tidak diperoleh melalui perbuatan baik, melainkan semata-mata oleh kasih karunia Allah melalui iman (Efesus 2:8–9). Namun, di dalam Kristus, hidup yang sudah diselamatkan akan menghasilkan buah ketaatan, moralitas, dan kesalehan. Mengabaikan moralitas berarti salah memahami Injil, dan bagi umat Kristen tujuan tidak menghalalkan cara.

Kesalahan ini bukan sekadar masalah teologi pribadi, melainkan punya dampak besar bagi bangsa. Jika umat Kristen tumbuh dengan pemahaman bahwa moralitas tidak penting, maka mereka tidak akan menjadi teladan dalam masyarakat. Padahal, di tengah bangsa seperti Indonesia yang hukum dan moralitasnya sering diabaikan, kehadiran orang Kristen seharusnya membawa perubahan.

Alkitab sangat jelas: manusia berdosa tidak bisa menyelamatkan dirinya dengan moralitas atau perbuatan baik. Roma 3:23 berkata: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Oleh sebab itu, Kristus mati di salib menggantikan kita. Iman hanyalah sarana menerima kasih karunia itu. Tidak ada jasa manusia sedikit pun yang bisa menambah atau mengurangi karya keselamatan itu. Di sinilah Injil membawa kabar baik: kita diselamatkan bukan karena layak, tetapi karena anugerah Allah.

Anugerah Allah selalu melahirkan hidup baru dan tidak pernah berhenti pada status “diselamatkan”. Efesus 2:10 menegaskan:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”

Artinya: orang yang diselamatkan akan menunjukkan buah pertobatan dalam moralitas hidup. Paulus bahkan menegur jemaat di Roma yang berpikir anugerah memberi kebebasan untuk hidup seenaknya:

“Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!” (Roma 6:1–2).

Jadi, anugerah tidak membebaskan kita untuk hidup sembarangan, melainkan membebaskan kita untuk hidup benar.

Perlu kita sadari bahwa moralitas adalah buah keselamatan. Yesus berkata:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15)

Kasih kepada Kristus diwujudkan dalam ketaatan moral. Itu sebabnya Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17). Moralitas bukan dasar keselamatan, tetapi bukti bahwa iman itu hidup. Jika seseorang mengaku Kristen tetapi menipu, korup, atau tidak peduli hukum, maka imannya diragukan. Dengan kata lain: ajaran yang memisahkan anugerah dari moralitas adalah ajaran palsu.

Anugerah, moralitas, dan hukum adalah bagian hidup orang Kristen. Mengapa ini penting bagi Indonesia? Karena bangsa kita sedang menghadapi krisis hukum dan moralitas. Hukum sering dipermainkan oleh elite politik. Korupsi merajalela. Rakyat sendiri terbiasa melanggar aturan kecil sejak kecil: buang sampah sembarangan, melanggar lalu lintas, memberi uang pelicin, mencontek di sekolah. Jika orang Kristen juga hidup dengan pola yang sama, apa bedanya dengan dunia? Bagaimana mungkin kita bisa menjadi garam dan terang (Matius 5:13–14)? Justru karena keselamatan adalah anugerah, kita dipanggil untuk hidup sebagai saksi Kristus. Dan kesaksian itu harus nyata dalam ketaatan pada hukum, kejujuran, dan integritas.

Pentingnya Pendidikan Moral Sejak Dini

Jika sejak kecil orang terbiasa mengabaikan ajaran moral, maka reformasi hukum jadi makin berat.

Amsal 22:6 berkata: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari padanya.”

Artinya, pendidikan moral harus dimulai sejak dini. Di rumah, orang tua harus memberi teladan dalam hal kecil. Kalau orang tua menyuruh anak taat, tetapi dirinya sendiri melanggar aturan, anak akan belajar bahwa hukum bisa diabaikan. Di sekolah, guru tidak boleh menoleransi kecurangan atau suap. Pendidikan karakter harus menjadi bagian dari kurikulum. Di gereja, pengajaran tentang anugerah harus selalu diikuti dengan pengajaran tentang hidup kudus. Jika ini dilakukan secara konsisten, akan lahir generasi yang lebih menghargai hukum.

Moralitas Kristen sebagai kesaksian untuk publik

Hidup bermoral bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kesaksian publik. Yesus berkata:

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Bayangkan jika orang Kristen konsisten: tidak mencontek, tidak menyogok, tidak melanggar aturan lalu lintas, membayar pajak dengan benar, jujur dalam bisnis. Itu pasti akan menjadi kesaksian besar di tengah masyarakat yang terbiasa kompromi. Dengan begitu, orang Kristen dapat menjadi motor kecil bagi reformasi hukum dan moral bangsa. Tentu saja ini tidak mudah. Hidup bermoral di tengah budaya yang permisif sering dianggap “bodoh” atau “tidak praktis”. Orang yang menolak menyogok bisa kalah dalam persaingan. Anak yang jujur kadang dikucilkan. Namun, di sinilah iman diuji. Paulus berkata: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2).

Harapan kita bukan pada perubahan instan, tetapi pada kesetiaan kecil yang akhirnya menular dan membentuk budaya baru. Reformasi hukum memang jalan yang panjang, tetapi harus dimulai dari reformasi moral kita. Maka jelaslah bahwa ajaran yang menyepelekan moralitas karena keselamatan adalah anugerah adalah ajaran yang salah. Anugerah bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan dasar untuk hidup kudus.

Jika sejak kecil orang Kristen dibentuk dalam ketaatan moral, maka kita tidak hanya hidup benar di hadapan Allah, tetapi juga memberi sumbangan nyata bagi bangsa. Di tengah masyarakat yang sering mengabaikan hukum, orang Kristen dipanggil untuk menjadi teladan. Kita tidak bisa mengubah seluruh bangsa sekaligus. Tetapi kita bisa mulai dari rumah, sekolah, gereja, dan komunitas kecil kita. Dan dari situ, terang akan memancar. Pada akhirnya, kesaksian hidup yang benar adalah cara paling kuat untuk memberitakan Injil. Dengan hidup bermoral, kita menunjukkan bahwa kasih karunia bukan hanya kata-kata, tetapi kuasa Allah yang mengubahkan hidup.

Dua Sisi Koin: Untung–Ruginya Menjadi Kristen

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Markus 8:36-37

Jika kita melihat situasi dunia saat ini, tentu kita bisa merasakan persaingan antar negara maju yang semakin meningkat. Di dunia yang modern ini, kebutuhan rakyat di negara mana pun bertambah besar. Seiring dengan itu, keinginan setiap negara maju untuk menguasai hasil alam di dunia dan untuk mengontrol perdagangan internasional ikut juga membesar.

Dengan kecenderungan setiap negara untuk mengadopsi prinsip kapitalisme, rakyatnya juga ingin untuk memperoleh apa yang terbaik di dunia. Bahkan, di negara komunis seperti Tiongkok orang bersemboyan “it is glorious to get rich” (menjadi kaya itu mulia). Generasi baru di kota-kota besar (Beijing, Shanghai, Shenzhen) sekarang hidup dalam budaya konsumtif: mobil mewah, real estate, teknologi, bahkan gaya hidup ala Barat.

Kita harus mengakui bahwa kita sering melihat dunia ini seolah-olah memiliki segala yang kita butuhkan untuk hidup bahagia dan berkecukupan—dan itu pada awalnya, memang demikian (Kejadian 1:29-31). Namun, bahkan pada saat itu, tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain hidup kita—potensi jiwa kita yang kekal untuk hidup kekal di surga bersama Allah. Yesus mengetahui hal ini ketika Setan menawarkan dunia kepada-Nya (Matius 4:8-10). Karena itu, Ia menolak tawaran kenyamanan duniawi dan mengajarkan kita untuk melakukan hal yang sama.

Yesus secara konsisten mengutuk keinginan manusia akan “dunia.” Terlepas dari harapan hampir semua orang, Dia tidak datang untuk membawa pengaruh politik bagi Israel. Ia mengkritik orang-orang munafik seperti orang Farisi karena memutarbalikkan kegiatan ibadah kepada Allah, yaitu memberi (Matius 6:1) dan berdoa (Matius 6:5), yang menjadi upaya untuk mendapatkan pujian dunia. Ia juga mengatakan bahwa kekayaan duniawi menciptakan penghalang yang kuat antara calon pengikut Kristus dan kerajaan Allah (Markus 10:17-25). Mengapa begitu?

Dalam hidup, kita sering membuat keputusan berdasarkan perhitungan untung dan rugi. Kita memilih pekerjaan, investasi, atau relasi dengan mempertimbangkan: “Apakah ini menguntungkan saya? Apa kerugiannya?” Prinsip ini wajar dan manusiawi. Namun, ketika berbicara tentang iman Kristen, perhitungan untung-rugi ini justru sering diputarbalikkan. Banyak manusia yang memandang bahwa menjadi orang percaya itu tidak hanya sia-sia, tetapi juga akan membawa kerugian. Dan banyak juga yang berpandangan bahwa jika orang benar-benar taat akan firman Tuhan, ia akan menjadi orang yang kurang berhasil dalam usahanya karena adanya batasan-batasan moral.

Jika dilihat secara obyektif, pada zaman sekarang untuk menjadi orang Kristen di negara kita tidaklah membawa ancaman, pelecehan, dan penistaan seperti yang dialami oleh murid-murid Yesus pada zamannya. Pada pihak yang lain, menolak Kristus tetap membawa kerugian besar — yaitu hilangnya keselamatan kekal.

Marilah kita sekarang mempetimbangkan “dua sisi koin”: satu sisi adalah keuntungan menjadi Kristen, sisi lain adalah risiko kehilangan bila menolak Kristus.

1. Sisi Pertama: Tidak Ada Kerugian Menjadi Kristen

Secara manusiawi, apa sebenarnya yang hilang kalau seseorang menjadi Kristen?

Menjadi Kristen berarti menerima anugerah Allah yang menghapus dosa. Itu bukan kerugian, melainkan pelepasan dari belenggu. “Jika Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36). Banyak orang mencari arti hidup melalui harta, karier, atau relasi, tetapi tetap kosong. Menjadi Kristen berarti hidup mendapat tujuan: memuliakan Allah. Itu bukan kerugian, melainkan kepenuhan.

Dunia menawarkan kebahagiaan yang rapuh. Iman Kristen memberi damai sejahtera yang melampaui akal. (Filipi 4:7).Dunia hanya bisa memberi jaminan sementara. Kristus memberi jaminan kekal. Rasul Paulus berkata: “Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:18).

Jadi, tidak ada kerugian sejati dalam menjadi Kristen. Bahkan jika secara duniawi kita harus kehilangan harta, kedudukan, atau relasi, semua itu tidak sebanding dengan keuntungan mengenal Kristus (Filipi 3:7-8).

2. Sisi Kedua: Risiko Menolak Kristus

Sebaliknya, apa risiko yang dihadapi orang yang menolak Kristus?

Hidup tanpa dasar rohani. Orang bisa sukses di dunia, tetapi tetap merasa kosong. Tanpa Kristus, manusia seperti kapal tanpa jangkar, mudah goyah diterpa badai hidup. Penolakan terhadap Kristus juga berarti tetap hidup dalam perbudakan dosa, tanpa kuasa pembebasan. Roma 6:23 berkata: “Upah dosa ialah maut.” Hilangnya keselamatan kekal adalah risiko terbesar, menolak Kristus berarti kehilangan hidup kekal. “Barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman.” (Yohanes 3:18).

Jika kita membandingkan, sisi pertama koin hanya berisi keuntungan, sedangkan sisi kedua koin penuh dengan kerugian. Maka, dari sudut pandang logis sekalipun, pilihan menjadi Kristen adalah keputusan yang paling masuk akal.

3. Mengapa Orang Tetap Menolak?

Lalu mengapa banyak orang tetap menolak, padahal menjadi Kristen tidak merugikan?

Manusia lebih suka kegelapan (Yohanes 3:19). Dosa memberi kenikmatan sesaat, dan manusia enggan meninggalkannya. Takut konsekuensi sosial dan ekonomi. Di banyak budaya, menjadi Kristen bisa berarti ditolak keluarga atau rekan sekerja. Di bidang ekonomi, menjadi Kristen berarti harus hidup dan bekerja dengan jujur. Adanya kesombongan hati membuat manusia ingin menyelamatkan diri dengan kebaikan sendiri, bukan tunduk pada anugerah. Iblis membutakan pikiran manusia (2 Korintus 4:4), dan kuasa rohani inilah yang menghalangi orang melihat terang Injil.

Inilah ironi: orang menolak kasih karunia yang sebenarnya tidak merugikan; hanya karena hati mereka mengeras, mereka tetap ingin untuk bebas melakukan apa saja yang mereka sukai.

4. Perhitungan Allah Bukan Seperti Perhitungan Dunia

Manusia menghitung untung-rugi dengan kacamata dunia, tetapi Allah memandang jauh ke depan. JIka dunia berkata: “Kalau ikut Yesus, kamu rugi. Kamu tidak bisa menikmati hidup bebas.” Firman Tuhan sebaliknya berkata: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.” (Markus 8:35).

Perspektif dunia menghitung dari sekarang ke hari esok. Perspektif Allah menghitung dari kekekalan ke kekinian. Inilah sebabnya banyak orang terjebak: mereka memilih keuntungan sesaat, tetapi rugi besar untuk selamanya.

5. Ilustrasi: Seperti Menukar Koin Emas dengan Koin Tembaga

Bayangkan seseorang memegang koin emas yang nilainya sangat besar. Lalu ia menukarnya dengan koin tembaga hanya karena koin itu lebih berkilau di bawah lampu. Secara logika, itu keputusan bodoh. Demikian pula orang yang menolak Kristus. Mereka menukar keselamatan kekal dengan kesenangan sementara. Mereka memilih koin tembaga dunia daripada koin emas Injil. Yesus sendiri berkata: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36).

Pagi ini, jika Anda belum percaya, jangan menunda tawaran keselamatan Yesus (Yohanes 3:16). Keselamatan bukan sekadar teori. Jika menjadi Kristen tidak merugikan, apa lagi yang ditunggu?

Jika Anda sudah percaya, doakanlah mereka yang masih menolak. Ingat, masalahnya bukan kurang bukti, tetapi hati yang belum terbuka. Hanya Roh Kudus yang bisa melunakkan. Dalam pelayanan kita, jangan takut dianggap “bodoh” karena memilih Kristus. Paulus berkata: “Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18).

Kehidupan iman memang seperti koin dengan dua sisi. Menjadi Kristen → tidak ada kerugian sejati, bahkan keuntungan kekal. Menolak Kristus → tampak bebas sesaat, tetapi berakhir dengan kerugian yang tak terbayangkan. Karena itu, jangan tertipu oleh kilau koin dunia yang sementara. Pilihlah Kristus, Sang Jaminan hidup kekal.

Doa Pentup:

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah mengingatkanku akan dua sisi kehidupan ini. Ampuni aku bila kadang masih tertarik pada “keuntungan dunia” yang sesaat. Tuntun aku untuk melihat bahwa di dalam Engkau ada keuntungan sejati, yaitu keselamatan yang kekal. Tolong aku juga untuk menjadi saksi bagi orang-orang yang masih menolak-Mu, supaya mereka tidak rugi untuk selama-lamanya. Amin.

Pengharapan di Tengah Bangsa yang Kacau

“Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya. Masakan bersekutu dengan Engkau takhta kebusukan, yang merancangkan bencana berdasarkan ketetapan? Mereka bersekongkol melawan jiwa orang benar, dan menyatakan fasik darah orang yang tidak bersalah.Tetapi TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku.” Mazmur 94: 20-22

“Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya”. Amsal 29: 4

Apa yang terjadi pada akhir bulan Agustus 2025 di berbagai kota di Indonesia membuat saya menghela nafas dalam-dalam. Mengapa ini harus terjadi? Tentunya ada rasa ketidakpuasan dalam masyarakat. Kita tentu tahu bahwa bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah dan jumlah penduduk yang besar. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: Mengapa Indonesia begitu sulit untuk maju? Jawabannya hampir selalu kembali pada satu akar masalah: kelemahan hukum.

Hukum seharusnya menjadi tiang penopang bangsa, tetapi sering kali justru menjadi alat permainan orang berkuasa. Aparat hukum yang seharusnya menegakkan keadilan justru bisa dipengaruhi uang, jabatan, dan koneksi. Tim pemberantasan korupsi yang dulu begitu disegani kini kehilangan taring. Nepotisme, kronisme, dan politik balas budi masih marak.

Rakyat kecillah yang menjadi korban utama. Mereka bekerja keras, membayar pajak, tetapi tetap menanggung beban hidup yang berat. Subsidi dipotong, harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja semakin sempit. Ironisnya, di saat yang sama, elite politik tetap menikmati fasilitas dan tunjangan mewah.

Amsal 29:4 menyatakan bahwa raja yang adil membuat negeri menjadi teguh, tetapi orang yang suka menarik banyak pajak meruntuhkannya. Sungguh tepat menggambarkan kondisi kita: keadilan rapuh, karena banyak yang lebih mencintai uang daripada kebenaran.

Hukum Allah Tidak Pernah Gagal

Namun di tengah kegelapan ini, kita memiliki penghiburan yang pasti. Mazmur 94:20-22 menegaskan bahwa Allah tidak akan bersekutu dengan takhta kebusukan. Artinya, sekalipun ada pemimpin yang menggunakan hukum untuk menindas, Allah tidak pernah berpihak kepada mereka. Mazmur ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhanlah tempat perlindungan sejati. Perlindungan kita bukan pada sistem hukum manusia yang bisa dibeli, tetapi pada Allah yang adil. Ia adalah Gunung Batu keselamatan kita—kokoh, teguh, tidak tergoyahkan.

Karena itu kita tidak boleh lupa, penghakiman Tuhan pasti datang. Pemimpin yang korup mungkin tampak bebas untuk sementara, tetapi pada akhirnya mereka tidak akan luput dari keadilan Allah.

Rasa Pesimis Itu Wajar

Banyak orang percaya merasa pesimis: “Bisakah bangsa ini maju? Bukankah semua pemimpin sama saja? Apakah usaha melawan korupsi tidak sia-sia?”

Nabi Habakuk pernah berseru dengan nada serupa: “Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.” Habakuk 1:3.

Keluhan ini sah-sah saja. Itu tanda bahwa hati kita masih peka pada ketidakadilan. Tetapi kita tidak boleh berhenti di situ. Iman Kristen mengajarkan: di balik pesimisme manusia, selalu ada pengharapan dalam Tuhan.

Panggilan untuk Orang Percaya

Lalu apa yang harus kita lakukan?

  • Hidup Benar: Paulus menasihati jemaat di Filipi 2:15 berkata: “Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Kita dipanggil untuk berbeda. Meskipun dunia ini korup, kita tidak boleh ikut-ikutan.
  • Menjadi Garam dan Terang: Yesus berkata: “Kamu adalah garam dunia … Kamu adalah terang dunia.” (Matius 5:13–16). Garam mencegah pembusukan, terang mengusir kegelapan. Meski peran kita kecil, hidup benar bisa memberi dampak besar bagi sekitar.
  • Mendoakan Bangsa dan Pemimpin: 1 Timotius 2:1–2 menegaskan bahwa kita harus mendoakan semua pemimpin. Bukan karena kita selalu setuju dengan mereka, tetapi karena doa orang benar sanggup mengubah keadaan.

Dalam Segala Keadaan, Tuhan Tetap Raja

Yesaya 33:22 menegaskan: “Sebab TUHAN adalah Hakim kita, TUHAN adalah yang memberi hukum bagi kita, TUHAN adalah Raja kita; Dia akan menyelamatkan kita.”

Inilah dasar pengharapan kita. Dunia boleh runtuh oleh korupsi, bangsa boleh rapuh karena hukum yang lemah, tetapi Allah tetap Raja. Dialah Hakim tertinggi, Pemberi hukum sejati, dan Juruselamat kita.

Sejarah sudah membuktikan: kerajaan besar pernah runtuh—Babel, Romawi, bahkan kekuatan modern—tetapi Kerajaan Allah tidak pernah bisa digoyahkan.

Antara Pesimisme dan Pengharapan

Jadi, bolehkah kita pesimis? Ya, terhadap sistem manusia. Tetapi kita tidak boleh putus asa. Karena iman Kristen tidak berdiri di atas kesempurnaan pemimpin dunia, melainkan pada Kristus yang adil. Kita boleh kecewa dengan keadaan sekarang, tetapi kita harus tetap optimis kepada Allah. Mazmur 94 menutup dengan indah: “Tetapi TUHAN adalah tempat perlindunganku, Allahku adalah gunung batu keselamatanku.”

Inilah pegangan kita. Meski bangsa ini lemah, kita memiliki Allah yang kuat. Meski hukum manusia gagal, hukum Allah tidak pernah gagal. Meski pemimpin mengecewakan, Allah tetap Raja atas segala raja.

Doa Penutup:

“Tuhan, kami melihat berbagai kekacauan dan hati kami sering pesimis. Hukum lemah, korupsi merajalela, rakyat kecil menderita. Tetapi kami percaya Engkau tidak merestui apa yang jahat. Engkau tetap Raja, Hakim yang adil, dan Gunung Batu keselamatan kami. Tolong kami untuk hidup benar, menjadi garam dan terang, dan selalu menaruh pengharapan pada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.”

Paradoks Tomas: Percaya Tanpa Melihat

“Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”Yohanes 20:29

Setiap orang memiliki cara sendiri dalam merespons iman. Ada yang percaya dengan sederhana, ada yang ragu-ragu, ada pula yang menuntut bukti konkret. Salah satu contoh paling terkenal dalam Alkitab adalah Tomas, seorang murid Yesus.

Tomas tidak mudah diyakinkan hanya dengan kesaksian teman-temannya. Ia berkata dengan tegas: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (Yohanes 20:25).

Namun, ketika Yesus benar-benar menampakkan diri dan mengizinkan Tomas menyentuh-Nya, yang keluar dari mulut Tomas bukan lagi keraguan, melainkan pengakuan iman yang luar biasa: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).

Di sinilah letak paradoks Tomas: ia menuntut bukti, tetapi ketika bukti itu diberikan, ia justru takluk, bukan karena logika semata, melainkan karena perjumpaan dengan Kristus. Yesus lalu memberikan penegasan yang berlaku sampai sekarang: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Bukti Bukan Jaminan

Banyak orang berkata: “Kalau saja Tuhan memberi bukti nyata, aku akan percaya.” Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa bukti tidak selalu menghasilkan iman.

Dalam Lukas 16:19-31, Yesus menceritakan kisah orang kaya dan Lazarus. Orang kaya itu yang ada di alam maut meminta supaya Lazarus diutus untuk memperingatkan saudara-saudaranya. Tetapi Abraham menjawab: “Jika mereka tidak mendengarkan Musa dan para nabi, mereka juga tidak akan mau diyakinkan sekalipun seorang bangkit dari antara orang mati.” (ayat 31).

Artinya, hati yang keras tidak akan luluh hanya karena bukti. Bahkan kebangkitan Kristus sendiri tidak membuat semua orang percaya; sebagian justru menutup hati dan mencari alasan lain. Bukti bisa dilihat, tetapi iman membutuhkan hati yang terbuka.

Paradoks Iman: Bukti Menguatkan, Bukan Membentuk

Paradoks Tomas mengajarkan kita bahwa bukti memang bisa menguatkan iman, tetapi bukan fondasi iman. Fondasi iman adalah kepercayaan kepada pribadi Kristus, bukan pada argumentasi logika semata. Bukti iman sering kali datang kemudian, mengonfirmasi apa yang sudah kita percayai.

Ibrani 11:1 berkata: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman selalu mendahului bukti lengkap. Jika semua sudah jelas, itu bukan lagi iman, melainkan pengetahuan.

Ketika Bukti Diberikan, Apa Respon Kita?

Yesus tidak menolak permintaan Tomas. Ia dengan penuh kasih menunjukkan bekas luka-Nya. Tetapi Yesus juga menegaskan: “Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yohanes 20:27).

Inilah kuncinya: bukti tidak dimaksudkan untuk memanjakan keraguan, tetapi untuk memanggil orang pada keputusan. Tomas akhirnya mengambil keputusan iman terbesar dalam hidupnya: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Paradoks Tomas mengingatkan kita bahwa bukti dari Tuhan tidak diberikan untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan untuk membawa kita pada pertobatan dan penyembahan. Mereka yang hanya ingin dipuaskan secara rasionil tidak akan memperoleh iman yang menyelamatkan.

Bahaya Menunda dengan Alasan “Belum Ada Bukti”

Banyak orang zaman sekarang berkata: “Kalau Tuhan nyata, biar Dia membuktikan diri. Kalau ada mujizat besar, baru saya percaya.” Tetapi pola pikir ini sering menjadi jebakan. Seperti yang Yesus katakan dalam Lukas 16:31, sekalipun ada orang mati bangkit, hati yang keras tetap tidak mau percaya. Mereka akan mencari penjelasan lain, atau menolak dengan alasan baru.

Masalahnya bukan kurang bukti, tetapi kurang kerendahan hati. Tuhan tidak menawar iman dengan harga bukti. Iman sejati justru lahir dari sikap hati yang mau percaya meski tidak semua pertanyaan terjawab. Mereka yang ingin penjelasan secara rasionil adalah orang-orang yang sombong di hadapan Tuhan.

Berbahagialah yang Tidak Melihat, Namun Percaya

Yesus menyebut kita “berbahagia” jika kita percaya tanpa melihat. Mengapa?

Iman seperti itu murni. Ia tidak bergantung pada pengalaman visual, tetapi pada janji Allah. Iman seperti itu berharga. Petrus berkata: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada-Nya, meskipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.” (1 Petrus 1:8). Iman seperti itu dihargai Tuhan dan akan bertahan dalam segala keadaan. Bukti bisa diperdebatkan berdasarkan kemampuan manusia dan keadaan yang berubah-ubah, tetapi pengalaman iman adalah abadi.

Aplikasi dalam Hidup Kita

Jika kita mengeluh, jangan menunggu tanda ajaib untuk percaya bahwa Tuhan mendengar. Doa adalah tindakan iman. Dalam penderitaan, janganlah kita menuntut bukti bahwa Tuhan peduli. Salib Kristus sudah cukup sebagai bukti kasih-Nya. Dalam pelayanan, jangan menunggu hasil instan sebagai bukti bahwa kerja kita tidak sia-sia. Firman Tuhan berkata: “Dalam Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58). Dalam penginjilan, jangan kecewa jika orang lain menolak meski sudah melihat bukti hidup kita. Iman tetap pekerjaan Roh Kudus, bukan logika semata.

Paradoks Tomas mengingatkan kita bahwa iman bukanlah menunggu bukti sempurna, tetapi merespons panggilan Kristus. Tomas akhirnya bersujud dan mengaku: “Ya Tuhanku dan Allahku!” — itulah puncak iman seorang murid. Yesus kemudian menyapa kita semua yang hidup setelah peristiwa itu: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Itulah berkat yang berlaku bagi setiap orang percaya hingga hari ini.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, aku sering seperti Tomas yang ragu dan menuntut bukti. Ampuni aku. Bukalah mataku untuk melihat bahwa salib-Mu dan kebangkitan-Mu sudah cukup sebagai bukti kasih dan kuasa-Mu. Ajar aku untuk percaya meski tidak semua pertanyaan terjawab. Teguhkan imanku, agar aku bisa berkata dengan segenap hati: Ya Tuhanku dan Allahku! Amin.

Dari Buta Firman ke Melek Firman

“Kamu menyelidiki Kitab-Kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” (Yohanes 5:39-40)

Bagian Injil Yohanes ini merangkum poin penting tentang perbedaan antara melihat, mendengar dan percaya. Seseorang yang menolak untuk percaya tidak dapat diyakinkan, apa pun bukti yang diberikan (Yohanes 5:40). Yesus mengkritik para pemimpin agama setempat karena tidak mau mendengar suara Allah (Yohanes 5:37-38).

Ayat ini menunjukkan penyebab sebenarnya dari ketidakpercayaan orang-orang munafik religius ini. Masalah mendasarnya sama dengan semua orang yang menolak Yesus Kristus: mereka tidak percaya karena mereka tidak mau percaya. Bagi mereka, bukti sebanyak apa pun tidak akan cukup untuk mengatasi hal itu (Lukas 16:31).

Sebenarnya bukti ada banyak, terutama dalam Kitab Suci. Yesus juga menunjukkan bukti kesaksian manusia (Yohanes 5:33) dan mukjizat-mukjizat-Nya sendiri (Yohanes 5:36). Mereka dapat dikatakan buta, tuli dan bisu terhadap bukti tersebut karena mereka tidak mau percaya kepada Yesus.

Pada zaman sekarang, kita mengenal istilah “buta huruf” sebagai sebutan bagi orang yang tidak bisa membaca. Istilah ini terasa pas, karena sekalipun huruf itu ada di depan mata, orang tersebut tidak dapat menangkap maknanya. Namun, bila dipikirkan lebih dalam, ada juga sisi lain yang bisa kita bayangkan: seseorang bisa saja tahu huruf itu ada, tetapi tidak bisa menyebutkannya — seakan-akan “bisu huruf.” Atau, ada orang yang sudah didiktekan bunyi huruf berulang-ulang, tetapi tidak mampu memahami — seolah-olah “tuli huruf.”

Ketiga gambaran ini — buta, bisu, tuli — bukan hanya cocok untuk dunia literasi, yang bisa dipakai dalam tulisan bernada humor, tetapi juga bisa menjadi cermin rohani yang serius. Banyak orang Kristen hari ini mengalami kondisi serupa: buta terhadap Firman, bisu untuk bersaksi, dan tuli terhadap teguran Allah. Persis seperti keadaan sewaktu Yesus masih ada di dunia.

1. Buta Huruf Rohani: Mata Terbuka, Hati Tertutup

Orang yang buta huruf rohani sebenarnya bisa melihat Alkitab. Mereka bisa memegangnya, membuka halaman demi halaman, bahkan mungkin membacanya. Tetapi mata rohani mereka tertutup: mereka tidak menangkap pesan yang terkandung di balik huruf-huruf itu.

Paulus menuliskan dalam 2 Korintus 3:14 bahwa pikiran orang Israel menjadi tumpul, sehingga mereka tidak mengerti isi Kitab Suci, “karena hanya Kristus sajalah yang dapat menyingkapkannya.”

Banyak orang hari ini rajin membaca Alkitab sebagai rutinitas, tetapi Firman tidak menembus hati mereka. Seperti kaca mata yang buram, mereka hanya melihat huruf, bukan makna. Buta huruf rohani berarti hadir di gereja, mendengar khotbah, tetapi tidak melihat Yesus di balik semua itu.

2. Bisu Huruf Rohani: Tahu Kebenaran, Diam Membisu

Kondisi kedua adalah bisu huruf rohani. Inilah orang Kristen yang tahu Firman, tetapi tidak berani atau tidak mau mengucapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yesus berkata dalam Matius 10:32, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku.” Tetapi betapa banyak dari kita yang memilih diam. Kita tahu apa yang benar, tetapi bibir kita terkunci. Kita malu bersaksi di lingkungan kerja, kita segan menegur dengan kasih, kita takut ditolak bila menyebut nama Yesus.

Bisu huruf rohani juga berarti tidak menghidupi Firman dalam perbuatan. Firman itu tersimpan di kepala, tetapi tidak keluar dalam ucapan dan tindakan. Seperti lilin yang disimpan di bawah gantang, sinarnya tidak terlihat.

3. Tuli Huruf Rohani: Mendengar, Tapi Tidak Mengerti

Jenis ketiga adalah tuli huruf rohani. Orang seperti ini sering mendengar Firman, tetapi tidak pernah menanggapi. Mereka masuk gereja, mendengar khotbah, mungkin bahkan mencatat ayat, tetapi ketika keluar, mereka tidak berubah.

Yesaya 6:9-10 menggambarkan umat yang “mendengar dengan telinga, tetapi tidak mengerti; melihat dengan mata, tetapi tidak menanggap.” Tuhan Yesus pun mengutip nubuat itu dalam pengajarannya.

Tuli huruf rohani sering terjadi karena hati yang keras, kesombongan dan kurangnya kasih. Kita mendengar teguran, tetapi menutup telinga. Kita mendengar perintah untuk mengampuni, tetapi tetap menyimpan dendam. Kita mendengar panggilan untuk melayani, tetapi lebih memilih kenyamanan.

4. Kristus Membuka Mata, Telinga, dan Lidah

Syukur kepada Allah, Yesus datang bukan hanya untuk memberi pengajaran, tetapi untuk menyembuhkan keterbatasan rohani kita. Dalam Injil, Yesus sering menyembuhkan orang buta, orang bisu, dan orang tuli. Itu bukan hanya mujizat jasmani, tetapi juga tanda rohani.

Ia membuka mata yang buta supaya kita melihat kebenaran (Lukas 24:31: “mata mereka terbuka dan mereka mengenal Dia”). Ia melepaskan lidah yang kelu supaya kita berani bersaksi (Markus 7:37: “Ia membuat orang bisu berkata-kata”). Ia membuka telinga yang tuli supaya kita mendengar suara-Nya (Markus 7:35: “terbukalah telinganya”).

Inilah kabar baik Injil: kita yang buta, bisu, dan tuli secara rohani dapat dipulihkan oleh Yesus. Tanpa Yesus, kita tidak berdaya.

5. Dari Buta Firman ke Melek Firman

Ada perbedaan besar antara sekadar mengenal huruf-huruf Firman dengan mengalami hidup dalam Firman. Orang Farisi pada zaman Yesus sangat tekun menyelidiki Kitab Suci. Mereka tahu hukum Taurat, mereka hafal ayat-ayat, tetapi mereka gagal melihat Yesus sebagai pusat dari Kitab itu.

Yesus menegaskan dalam ayat pembukaan dari Yohanes 5:39-40 bahwa huruf-huruf Kitab Suci bersaksi tentang Dia, tetapi orang Yahudi tetap tidak mau datang kepada-Nya. Mereka berhenti pada huruf, tetapi tidak sampai kepada hidup.

Kita pun bisa jatuh pada jebakan yang sama. Kita bisa menjadi “ahli huruf” Alkitab, pandai mengutip ayat, tetapi tidak hidup di dalamnya. Firman seharusnya bukan hanya informasi, tetapi transformasi kehidupan. Hidup lama yang penuh dosa diubah menjadi hidup baru dalam terang-Nya.

Jangan sekadar membaca Alkitab sebagai buku biasa, tetapi mintalah Roh Kudus membuka mata hati kita. Turutlah perintah Tuhan dan janganmengabaikannya dalam ketulian. Janganlah kita bisu, tapi bagikanlah kebenaran, baik lewat kesaksian maupun lewat tindakan kasih. Tapi semua ini tidak mudah jika kita bergantung pada diri sendiri. Kita harus jujur mengakui bahwa seringkali kita ini buta, bisu, dan tuli huruf rohani. Tetapi syukur, Yesus datang untuk menyembuhkan kita. Ia ingin membuka mata kita agar melihat kebenaran, membuka telinga kita agar mendengar suara-Nya, dan membuka mulut kita agar berani mengaku dan bersaksi.

Pertanyaan reflektif:

  • Apakah Anda membaca Alkitab hanya untuk kewajiban, ataukah sungguh-sungguh mencari Kristus di dalamnya?
  • Apakah telinga rohani Anda peka mendengar suara Tuhan, ataukah Anda memilih tuli terhadap perintah-Nya?
  • Apakah Anda hanya tahu Firman, ataukah juga bersuara dan bertindak sesuai Firman?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering buta terhadap Firman-Mu, bisu untuk bersaksi, dan tuli terhadap suara-Mu. Bukalah mataku agar aku melihat kemuliaan-Mu. Bukalah telingaku agar aku mendengar panggilan-Mu. Bukalah mulutku agar aku berani menyatakan kasih-Mu. Jadikan aku bukan hanya pembaca huruf, tetapi pelaku Firman yang hidup. Amin.

Mengasihi Semua Orang Bukan Berarti Bersahabat dengan Semua Orang

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15:33

Di zaman ini, banyak orang bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Jika orang bisa memilih dengan siapa ia bergaul dalam alam nyata, seringkali orang kurang peduli dengan siapa ia berkomunikasi dalam alam maya seperti di Facebook atau WhatsApp. Walaupun demikian, semua orang Kristen selayaknya berhati-hati dalam memilih teman dan bergaul, di mana saja dan kapan saja. Mengapa begitu?

Setiap orang Kristen dipanggil untuk hidup di tengah dunia, bukan mengasingkan diri darinya. Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang (Matius 5:13–16), yang artinya kehadiran kita harus bisa memberi rasa, pengaruh, dan membawa terang Kristus ke dalam lingkungan kita, baik dalam alam nyata maupun maya. Salah satu cara paling nyata adalah melalui sikap kita dalam pergaulan.

Namun, di sinilah letak ketegangan: kita harus ramah kepada semua orang, tetapi tidak semua orang bisa menjadi sahabat dekat kita. Ramah (friendly) kepada semua orang dan bahkan mengasihi semua orang adalah panggilan universal bagi setiap pengikut Kristus, tetapi untuk mendapat sahabat (friends) kita membutuhkan hikmat, batasan, dan kerelaan untuk memilih dengan bijak.

Ramah kepada Semua Orang

Yesus sendiri memberi teladan yang sempurna. Ia dikenal sebagai “sahabat orang berdosa” (Matius 11:19). Ia makan bersama pemungut cukai, berbincang dengan perempuan Samaria, dan bahkan menyentuh orang kusta yang dianggap najis. Sikap-Nya melampaui batas sosial dan budaya pada zaman itu. Ia mau berkomunikasi dengan semua orang dengan rasa kasih. Ia mau dekat (friendly) kepada semua orang, karena itu kita juga harus friendly kepada semua orang. Menjadi “friendly” berarti: Ramah dalam tutur kata (Kolose 4:6), menghormati semua orang (1 Petrus 2:17), dan mengupayakan damai (Roma 12:18). Dengan kata lain, sikap friendly adalah ekspresi kasih yang bersifat terbuka. Tidak ada alasan bagi orang Kristen untuk bersikap kasar, sombong, atau pilih kasih dalam pergaulan.

Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Sahabat

Di sisi lain, Alkitab dengan tegas memperingatkan tentang pengaruh buruk dari pergaulan yang salah. Amsal 13:20 berkata: “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Ada perbedaan besar antara ramah kepada semua orang dan menjadikan semua orang sahabat. Persahabatan melibatkan kepercayaan, pengaruh, dan kesetiaan. Karena itu, sahabat yang salah bisa menarik kita menjauh dari Kristus.

Contoh nyata terlihat dalam kisah Salomo. Walaupun ia raja yang bijak, istri-istrinya yang berasal dari bangsa asing akhirnya mencondongkan hatinya kepada berhala (1 Raja-raja 11:4). Persahabatan yang salah arah bisa menghancurkan iman seseorang.

Yesus dan Lingkaran Persahabatan-Nya

Yesus memang ramah kepada semua orang, tetapi lingkaran sahabat-Nya lebih kecil. Ia memilih 12 murid untuk hidup bersama-Nya. Dari 12 itu, ada 3 murid terdekat (Petrus, Yakobus, Yohanes). Bahkan di antara 3 itu, Yohanes disebut “murid yang dikasihi Yesus”.

Jelas bagi kita bahwa Yesus yang sempurna pun tidak membuka diri secara sama rata kepada semua orang. Ini menjadi teladan bagi kita: ramah kepada semua, tetapi membatasi sahabat dekat hanya kepada mereka yang bersama kita berjalan dalam kebenaran.

Pergaulan Yesus dengan Pelacur dan Pemungut Cukai

Salah satu ciri paling menonjol dari pergaulan Yesus adalah kedekatan-Nya dengan orang-orang yang dipandang hina: pelacur, pemungut cukai, dan mereka yang dikucilkan. Yesus hadir tanpa menghakimi, tetapi menawarkan pertobatan. Seorang perempuan yang dikenal sebagai pendosa datang menangis dan mengurapi kaki-Nya dengan minyak (Lukas 7:36–50). Yesus tidak menolaknya, melainkan mengampuni dan memulihkan hidupnya.

Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah lebih besar daripada dosa, tetapi selalu diiringi panggilan: “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” Yesus merangkul pemungut cukai dengan kasih yang mengubahkan. Matius, seorang pemungut cukai, dipanggil menjadi murid-Nya (Matius 9:9–13). Zakheus, kepala pemungut cukai, berubah total setelah Yesus mau singgah di rumahnya. Ia mengembalikan uang hasil penipuan dan memberi separuh hartanya kepada orang miskin (Lukas 19:1–10). Yesus makan bersama mereka sebagai tanda penerimaan.

Dalam budaya Yahudi, makan bersama adalah simbol persekutuan. Dengan melakukan itu, Yesus menunjukkan kasih yang melampaui tembok pemisah. Namun, Ia tidak pernah kompromi dengan dosa. Ia tidak membiarkan mereka untuk tetap hidup dalam dosa. Ia tidak menganggap bahwa cara hidup mereka adalah “normal”. Kehadiran-Nya justru menantang mereka untuk bertobat dan hidup baru.

Prinsip bagi kita:

Friendly atau ramah kepada semua orang, termasuk mereka yang dianggap hina. Tetap menjaga kekudusan, tidak ikut larut dalam dosa atau menerima dosa sebagai hal yang normal atau netral. Mengharapkan pertobatan, bukan sekadar menjalin relasi sosial.

Prinsip Bijak dalam Memilih Sahabat

Beberapa prinsip Alkitabiah:

  • Carilah sahabat yang takut akan Tuhan (Mazmur 119:63).
  • Ujilah kesetiaan sahabat (Amsal 17:17).
  • Jangan berkompromi dengan dosa (2 Korintus 6:14).

Aplikasi bagi Hidup Kita

Di lingkungan kerja, kita harus ramah kepada semua, tetapi tetap berhati-hati untuk tidak kompromi dengan ketidakjujuran dan dosa. Di keluarga besar, kita harus menebar kasih, tetapi menjaga diri dari kebiasaan buruk. Di komunitas, kita mau berkomunikasi dengan mereka yang hidup dalam dosa tetapi tidak mengangap mereka sebagai sahabat kita, dan bahwa dosa mereka adalah masalah pribadi yang tidak mempengaruhi iman kita. Dengan demikian, pergaulan kita harus menjadi cermin kasih Kristus, dan sahabat-sahabat yang kita pilih menjadi penolong dalam perjalanan iman kita dan keluarga kita.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya sudah menunjukkan keramahan dan kasih Kristus kepada semua orang?
  • Apakah saya terlalu membuka diri kepada orang yang bisa menjauhkan orang lain dari Tuhan?
  • Siapa saja sahabat dekat saya saat ini, dan apakah mereka menolong saya untuk bertumbuh dalam iman dan untuk hidup dalam kekudusan?
  • Apakah persahabatan saya saat ini sudah memuliakan Kristus?

Doa Penutup:

“Tuhan Yesus, terima kasih karena darah-Mu telah membersihkan aku dari dosa dan menjadikanku anak Allah. Tolong aku agar hidupku selalu memuliakan Engkau, termasuk dalam pergaulan dan persahabatan. Ajarlah aku untuk ramah kepada semua orang, tetapi juga bijak memilih sahabat yang sejati. Biarlah persahabatan yang aku bangun membawa aku semakin dekat kepada-Mu dan menjadi kesaksian tentang kasih-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa, Amin.”