“Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: ”Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” Roma 3:8

Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya bergantung pada apa tujuan atau sasarannya dan cara apa yang digunakan untuk mencapainya. Jika tujuannya baik dan mulia, dan cara yang kita gunakan untuk mencapainya juga baik dan mulia, maka tujuan memang menghalalkan cara tersebut. Namun bukan itu yang dimaksudkan kebanyakan orang ketika mereka menggunakan ungkapan tersebut.
Kebanyakan orang menggunakan frasa itu sebagai alasan untuk mencapai tujuan mereka melalui cara apa pun yang diperlukan, tidak peduli betapa tidak bermoral, ilegal, atau tidak menyenangkannya cara tersebut. Arti dari ungkapan tersebut biasanya seperti: “Tidak masalah bagaimana Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, selama Anda mendapatkannya.”
Ajaran ini bukan saja ada dalam masyarakat, tapi juga dalam agama tertentu yang mengajarkan bahwa setiap orang memetik apa yang diperbuatnya. Ini prinsip alami. Jika seseorang berbuat apa yang baik – yang mengurangi penderitaan sesamanya atau memperbaiki keadaan orang lain – ia akan mendapat pahala. Masalahnya, umtuk mencapai apa yang “baik” itu, tidak ada keharusan untuk menggunakan cara yang baik. Karena itu, orang mungkin melakukan kebohongan “kecil”, menyuap, dan hal-hal lain yang bisa dikatakan dosa, untuk bisa memperoleh apa yang bermanfaat bagi orang lain. Ini bisa terjadi karena dalam ajaran agama itu, Tuhan tidak ikut campur tangan dalam kehidupan manusia.
Frasa “tujuan menghalalkan cara” biasanya melibatkan tindakan yang salah untuk mencapai tujuan yang positif dan membenarkan tindakan yang salah dengan menunjukkan hasil yang baik. Contohnya adalah berbohong dalam resume untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan membenarkan kebohongannya dengan mengatakan bahwa penghasilan yang lebih besar akan memungkinkan si pembohong untuk menafkahi keluarganya dengan lebih baik. Alasan lain mungkin membenarkan aborsi bayi demi kebebasan ibunya. Berbohong dan menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah keduanya salah secara moral, namun menafkahi keluarga dan menyelamatkan nyawa seorang wanita adalah benar secara moral. Lalu, bagaimana ajaran Kristen tentang hal ini?
Dalam ayat di atas, Paulus menjawab tuduhan fitnah dari beberapa penuduhnya yang mengatakan bahwa hasil logis dari ajaran Paulus adalah untuk memprovokasi orang agar berbuat dosa lebih banyak demi menghasilkan lebih banyak kebaikan: “Mengapa tidak berbuat jahat, supaya kebaikan datang?” Paulus menggambarkan hal ini sebagai argumen manusiawi (Roma 3:5). Argumen yang jelas tidak masuk akal.
Sesuai dengan ajaran Paulus, orang Kristen percaya bahwa mereka diselamatkan bukan karena perbuatan mereka, tetapi semata-mata karena kemurahan Tuhan. Hal ini, sampai sekarang, sering menimbulkan kesan kepada banyak orang bahwa orang Kristen tidak perlu menjalani hidup yang baik, karena anugerah Tuhan pasti lebih besar dari dosa orang percaya. Lebih ekstrem lagi, mereka menuduh bahwa orang Kristen bebas untuk berbuat jahat karena mereka percaya bahwa kasih Tuhan adalah mahabesar.
Sebenarnya, ini adalah ide yang begitu bodoh sehingga Paulus bahkan tidak mau repot-repot memperdebatkannya, setidaknya tidak sekarang. Fakta bahwa Allah tetap adil dan setia dalam menghadapi keberdosaan manusia tidak berarti bahwa Allah ingin manusia semakin berdosa. Ini berarti bahwa Ia konsisten dengan natur-Nya sendiri.
Alih-alih memperdebatkan hal ini lebih lanjut, Paulus hanya mengatakan hal ini tentang mereka yang menuduhnya menyuruh orang untuk terus berbuat dosa: “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” Dengan kata lain, mereka yang menghalalkan segala cara pantas menerima murka Allah. Ia akan kembali membahas tantangan ini secara lebih rinci dalam Roma 6:
“Jadi, sekarang, apa yang akan kita katakan? Apakah kita akan terus berbuat dosa supaya Allah semakin memberikan kita anugerah?” Roma 6:1
Dilema tujuan dan cara adalah skenario yang populer dalam diskusi etika. Biasanya, pertanyaannya seperti ini: “Jika Anda bisa menyelamatkan dunia dengan membunuh seseorang, apakah Anda akan melakukannya?” Jika jawabannya adalah “ya”, maka hasil yang benar secara moral membenarkan penggunaan cara-cara yang tidak bermoral untuk mencapainya. Namun ada tiga hal berbeda yang perlu dipertimbangkan dalam situasi seperti ini: moralitas tindakan, moralitas hasil, dan moralitas orang yang melakukan tindakan. Orang Kristen bukannya orang yang tidak mementingkan hal moral, tetapi justru sangat berhati-hati dalam melangkah dalam hidup.
Tentu saja dari sudut pandang alkitabiah, yang diabaikan dari pembahasan ini adalah karakter Tuhan, hukum Tuhan, dan pemeliharaan Tuhan. Karena kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kudus, adil, penyayang dan benar, maka siapa pun yang menyandang nama-Nya harus mencerminkan tabiat-Nya (1 Petrus 1:15-16). Pembunuhan, kebohongan, pencurian, dan segala bentuk perilaku berdosa adalah ekspresi dari sifat dosa manusia, bukan sifat Tuhan. Bagi orang Kristen yang sifatnya telah diubah oleh Kristus (2 Korintus 5:17), tidak ada pembenaran atas perilaku tidak bermoral, tidak peduli motivasi atau akibat yang ditimbulkannya. Memang kita tidak diselamatkan karena bermoral baik, tetapi jika kita sudah diselamatkan, tentunya kita mengerti mengapa kita harus taat kepada hulum-Nya.
Dari Tuhan yang kudus dan sempurna ini, kita mendapatkan hukum yang mencerminkan sifat-sifat-Nya (Mazmur 19:7; Roma 7:12). Sepuluh Perintah Allah memperjelas bahwa pembunuhan, perzinahan, pencurian, kebohongan dan keserakahan tidak dapat diterima di mata Tuhan dan Dia tidak membuat “klausa pelarian” untuk motivasi atau rasionalisasi. Perhatikan bahwa Dia tidak berkata, “Jangan membunuh, kecuali dengan melakukan hal itu kamu akan menghasilkan sesuatu yang baik”. Ini disebut “etika situasional”, dan hal ini tidak terdapat dalam hukum Tuhan. Jadi, jelas sekali, dari sudut pandang Allah tidak ada tujuan yang menghalalkan cara untuk melanggar hukum-Nya.
Sayang sekali, banyak orang Kristen yang siap melakukan hal-hal yang kurang baik dengan alasan “demi kemuliaan Tuhan”. Untuk mencapai tujuan gereja, mungkin orang bersedia untuk berbohong. Mungkin, orang berkata: “Jika kita jujur, tidak ada gereja baru yang bisa didirikan”. Atau, “jika kita tidak berani mengambil jalan pintas, kita tidak akan memcapai tujuan”. Dalam diskusi mengenai hal-hal semacam ini, kita harus sadar akan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak sekadar menciptakan dunia, mengisinya dengan manusia, dan kemudian membiarkan mereka bekerja sendiri tanpa pengawasan dari-Nya. Sebaliknya, Tuhan mempunyai rencana dan tujuan bagi umat manusia yang telah Dia wujudkan selama berabad-abad.
Hari ini kita belajar bahwa mereka yang tidak mengenal Tuhan atau percaya kepada tuhan yang keliru, mungkin mau menghalalkan segala cara mereka untuk mencapai tujuan mereka. Wlaupun demikian, mereka yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan tidak punya alasan apa pun untuk melanggar perintah Tuhan dalam usaha untuk mencapai tujuan mereka.








