Cara Berpikir Positif yang Benar

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Dalam percakapan sehari-hari, istilah berpikir positif sering kali terdengar seperti slogan motivasi. Seakan-akan iman Kristen hanyalah soal melihat sisi cerah dari hidup, menekan keluhan, dan meyakinkan diri bahwa “semua akan baik-baik saja.” Namun Roma 8:28 membawa kita jauh lebih dalam daripada sekadar sikap optimis. Ayat ini tidak mengajak kita menyangkal realitas penderitaan, tetapi mengundang kita untuk memandang hidup dari sudut pandang Allah yang berdaulat.

Rasul Paulus menulis ayat ini bukan dari ruang yang nyaman. Ia mengenal penderitaan, penolakan, kegagalan manusia, dan ketidakpastian hidup. Justru dari konteks itulah muncul keyakinan yang tegas:

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. Bukan hanya dalam hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga dalam peristiwa yang melukai, membingungkan, bahkan tampak sia-sia.

Perlu dicatat, janji ini memiliki konteks yang jelas. Paulus tidak mengatakan bahwa semua orang, tanpa kecuali, akan mengalami segala sesuatu menjadi baik. Janji ini ditujukan kepada “mereka yang mengasihi Allah” dan “yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.” Dengan kata lain, ini adalah janji relasional. Kebaikan yang dimaksud lahir dari hubungan dengan Allah, bukan dari formula universal yang bekerja otomatis.

Ketika Paulus berkata “segala sesuatu,” ia tidak sedang menyaring pengalaman hidup kita. Kegagalan, kesalahan, penyakit, kehilangan, ketidakadilan—semuanya termasuk. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa semua itu baik. Banyak hal dalam hidup ini sungguh jahat dan menyakitkan. Namun Roma 8:28 menegaskan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali. Ia sanggup menenun benang-benang gelap sekalipun ke dalam rancangan yang pada akhirnya membawa kebaikan sejati.

Lalu apa yang dimaksud dengan “kebaikan”? Inilah bagian yang sering disalahpahami. Kebaikan dalam Roma 8:28 bukanlah jaminan kenyamanan, kesuksesan, atau kebahagiaan instan. Ayat-ayat berikutnya menjelaskan bahwa tujuan Allah adalah agar kita “menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya.”

Kebaikan tertinggi menurut Allah adalah pembentukan karakter Kristus dalam diri kita. Itu adalah kebaikan jangka panjang, kebaikan kekal, yang sering kali ditempa melalui proses yang tidak nyaman.

Di sinilah berpikir positif yang benar berbeda dari optimisme manusiawi. Optimisme berkata, “Saya yakin semuanya akan beres karena saya berpikir positif.” Iman Kristen berkata, “Saya percaya Allah itu baik, berdaulat, dan setia, bahkan ketika saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi.” Fokusnya bukan pada kekuatan pikiran kita, melainkan pada karakter Allah.

A.W. Tozer, seorang pendeta terkenal, pernah menulis, “Apa yang muncul di pikiran kita ketika kita memikirkan Tuhan adalah hal yang paling penting tentang kita.” Kalimat ini menantang kita untuk jujur: siapakah Allah dalam bayangan pikiran kita? Apakah Ia Allah yang jauh dan acuh tak acuh, atau Allah yang dekat dan penuh kasih? Apakah Ia Allah yang hanya hadir ketika hidup berjalan mulus, atau Allah yang tetap bekerja di tengah kekacauan?

Pandangan kita tentang Allah akan membentuk cara kita menafsirkan hidup. Jika kita percaya bahwa Allah itu baik dan berdaulat, maka penderitaan tidak otomatis menghancurkan iman kita. Kita boleh berduka, bertanya, bahkan menangis, tetapi tidak putus asa. Sebaliknya, jika pandangan kita tentang Allah keliru—misalnya melihat Dia sebagai penguasa yang kejam atau tidak peduli—maka iman akan rapuh ketika diuji.

Alkitab menuntun kita untuk mengarahkan pikiran secara aktif. Filipi 4:8 mengingatkan kita untuk memikirkan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, dan patut dipuji. Ini bukan ajakan untuk menutup mata terhadap realitas, melainkan disiplin rohani untuk memusatkan pikiran pada kebenaran Allah di tengah realitas itu.

Berpikir positif yang benar adalah tindakan iman: memilih mempercayai janji Allah ketika perasaan dan keadaan berkata sebaliknya.

Pada akhirnya, Roma 8:28 adalah pesan pengharapan yang dalam. Ayat ini tidak menjanjikan hidup tanpa luka, tetapi menjanjikan Allah yang hadir, bekerja, dan setia. Ia mengundang kita untuk mengganti rasa takut dengan kepercayaan, kepahitan dengan pengharapan, dan keputusasaan dengan iman. Inilah berpikir positif yang benar—bukan karena hidup selalu baik, tetapi karena Allah selalu baik.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang berdaulat atas seluruh hidup kami. Ketika kami menghadapi hal-hal yang tidak kami mengerti, ajar kami untuk tetap percaya bahwa Engkau sedang bekerja. Ampuni kami jika sering kali kami mengukur kebaikan-Mu hanya dari kenyamanan hidup kami.

Perbarui cara kami memandang Engkau, ya Tuhan. Tanamkan dalam hati kami keyakinan bahwa rencana-Mu selalu lebih besar dan lebih baik daripada yang dapat kami pahami. Tolong kami untuk berpikir positif yang benar—berakar pada iman, bukan pada optimisme kosong; bersandar pada janji-Mu, bukan pada kekuatan kami sendiri.

Bentuklah kami menjadi semakin serupa dengan Kristus melalui setiap musim kehidupan. Biarlah damai sejahtera-Mu memelihara hati dan pikiran kami, sekarang dan selamanya.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Memberi Teladan bagi Sesama

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius‬ ‭4‬:‭12‬‬

Sering kali kita tidak menyadari bahwa hidup kita sering “dibaca” oleh orang lain. Bukan hanya oleh keluarga atau sesama orang percaya, tetapi juga oleh mereka yang belum mengenal Kristus. Cara kita berbicara, bersikap, mengambil keputusan, dan merespons situasi sulit menjadi semacam kesaksian diam yang berbicara lebih keras daripada khotbah panjang. Inilah yang ditekankan Rasul Paulus ketika ia menasihati Timotius agar menjadi teladan bagi orang-orang percaya.

Dalam 1 Timotius 4:12, Paulus tidak meminta Timotius untuk membuktikan diri lewat kemampuan intelektual atau wibawa usia, melainkan melalui kehidupan yang mencerminkan Kristus. “Jangan biarkan siapa pun memandang rendah kamu karena kamu masih muda,” tulis Paulus, “tetapi beri contoh dalam berbicara, dalam perilaku, dalam kasih, dalam iman dan dalam kemurnian.” Nasihat ini menunjukkan bahwa keteladanan Kristen lahir dari kehidupan sehari-hari yang dijalani dengan kesadaran akan hadirat Tuhan.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa hidup orang percaya seharusnya menjadi terang. Dalam Matius 5:16 Ia berkata bahwa terang itu harus bercahaya, bukan untuk meninggikan diri, tetapi supaya orang lain melihat perbuatan baik dan memuliakan Bapa di sorga. Dengan kata lain, keteladanan bukan tentang membangun reputasi rohani, melainkan tentang menghadirkan karakter Allah di tengah dunia yang gelap dan terluka.

Perkataan kita sering menjadi pintu pertama yang dilihat orang. Ucapan yang lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan akan membawa damai, pengharapan, dan penguatan. Sebaliknya, kata-kata yang sembrono, kasar, penuh kemarahan, atau merendahkan dapat merusak kesaksian kita dalam sekejap. Paulus mengingatkan agar perkataan orang percaya tidak memberi celah bagi orang lain untuk mencela iman kita, melainkan justru menyingkapkan kebijaksanaan dan kasih karunia Kristus.

Namun keteladanan tidak berhenti pada kata-kata. Perilaku kita sehari-hari—bagaimana kita bersikap saat tidak diperhatikan, bagaimana kita berlaku jujur ketika ada kesempatan untuk berkompromi—itulah cermin iman yang sesungguhnya. Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah memberikan teladan agar mereka melakukan hal yang sama. Ia membasuh kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan rendah hati yang mengajarkan bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah dinyatakan melalui pelayanan.

Kasih menjadi kunci dari seluruh kehidupan Kristen. Kasih yang sejati tidak memilih-milih dan tidak menuntut balasan. Ketika kita mengasihi dengan tulus, mengampuni dengan rela, dan tetap berbuat baik meski disalahpahami, dunia melihat sesuatu yang berbeda. Kasih seperti inilah yang membuat iman Kristen hidup dan dapat dirasakan, bukan hanya diperdebatkan.

Iman juga tampak dalam cara kita mempercayakan hidup kepada Tuhan, terutama pada saat keadaan yang sulit. Ketika kita tetap berharap, berdoa, dan melangkah dalam ketaatan meski jalan tidak jelas, iman kita menjadi kesaksian yang kuat. Tidak heran Paulus berani berkata, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Ia tahu bahwa hidupnya, dengan segala kelemahan manusiawi, sedang diarahkan untuk meneladani Tuhan.

Kemurnian melengkapi seluruh kesaksian ini. Kemurnian bukan hanya soal tindakan lahiriah, tetapi juga motivasi hati. Di dunia yang semakin kabur batas benar dan salah, komitmen untuk hidup kudus menjadi tanda bahwa kita sungguh-sungguh milik Tuhan. Kemurnian menunjukkan bahwa hidup kita tidak dikendalikan oleh keinginan diri, melainkan oleh kehendak Allah.

Memberi teladan bagi sesama bukan berarti kita harus sempurna. Justru dalam kerendahan hati, dalam pertobatan yang terus-menerus, dan dalam ketergantungan pada anugerah Tuhan, keteladanan itu menjadi nyata. Ketika orang lain melihat hidup kita, kiranya mereka tidak melihat kehebatan kita, tetapi melihat Kristus yang hidup dan bekerja di dalam kita hari demi hari.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, terima kasih untuk firman-Mu yang mengingatkan kami akan panggilan untuk hidup sebagai teladan. Bentuklah hati dan hidup kami agar semakin serupa dengan Kristus. Jagalah perkataan kami, arahkan langkah kami, dan murnikan motivasi kami. Biarlah hidup kami menjadi terang yang memuliakan nama-Mu dan membawa orang lain lebih dekat kepada-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Apakah Kita Selalu Harus Bertanggung Jawab atas Dosa Kita?

“Janganlah seorang pun berkata ketika ia dicobai, ‘Aku sedang dicobai oleh Allah’; karena Allah tidak dapat dicobai oleh kejahatan, dan Dia sendiri tidak menggoda siapa pun. Tetapi setiap orang tergoda ketika dia terbawa dan terpikat oleh nafsunya sendiri.” Yakobus 1:13–14

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam perenungan iman adalah ini: jika Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, lalu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas dosa kita? Pertanyaan ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sangat praktis. Cara kita menjawabnya akan memengaruhi bagaimana kita memandang kesalahan, pertobatan, dan pertumbuhan rohani.

Alkitab dengan jelas mengajarkan dua kebenaran yang berjalan bersamaan: Tuhan 100% berdaulat, dan manusia 100% bertanggung jawab. Segala sesuatu terjadi di bawah pengetahuan dan rencana-Nya, tetapi itu tidak pernah berarti bahwa Tuhan adalah sumber dosa atau penyebab manusia jatuh, sekalipun kejatuhannya mungkin terjadi setelah ada faktor eksternal. Kedaulatan Tuhan tidak menghapus tanggung jawab manusia; justru keduanya berdiri berdampingan dalam ketegangan.

Yakobus menegaskan dengan sangat tegas bahwa Tuhan tidak pernah menggoda siapa pun. Tuhan tidak mengirim sesuatu atau seseorang untuk menjatuhkan seseorang ke dalam dosa. Godaan tidak berasal dari Allah, melainkan dari dalam diri manusia sendiri. Setiap orang tergoda ketika ia “terbawa dan terpikat oleh nafsunya sendiri.” Dosa bukan pertama-tama berasal dari masalah keadaan, lingkungan, atau tekanan luar, melainkan dari masalah hati. Inilah kebenaran yang sering kali tidak nyaman, karena lebih mudah menyalahkan faktor di luar diri kita daripada mengakui kondisi batin kita sendiri.

Sejak awal sejarah manusia, kecenderungan untuk menggeser kesalahan sudah terlihat. Adam menyalahkan Hawa, bahkan secara tersirat menyalahkan Tuhan yang “memberikan perempuan itu” kepadanya. Harun menyalahkan bangsa Israel ketika anak lembu emas dibuat. Pola ini terus berulang hingga hari ini. Kita menyalahkan iblis, orang lain, budaya, masa lalu, atau kelemahan pribadi, seakan-akan semua itu membebaskan kita dari tanggung jawab moral. Namun Alkitab tidak memberi ruang untuk pelarian semacam itu.

Yehezkiel 18:20 menyatakan dengan lugas: “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.” Pernyataan ini menekankan akuntabilitas pribadi. Setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri di hadapan Allah. Memang benar bahwa manusia tidak sanggup mencapai standar kekudusan Tuhan dengan kekuatannya sendiri, tetapi ketidakmampuan itu tidak menghapus tanggung jawab. Justru di sinilah kita menyadari betapa seriusnya dosa dan betapa besar kebutuhan kita akan anugerah.

Yakobus 1:15 melanjutkan bahwa keinginan yang dibiarkan akan melahirkan dosa, dan dosa yang sudah matang akan melahirkan maut. Dosa bukanlah peristiwa yang tiba-tiba; ia bertumbuh dari keinginan yang tidak ditundukkan kepada Tuhan. Karena itu, pertanggungjawaban pribadi bukan hanya tentang perbuatan yang tampak, tetapi juga tentang sikap hati yang kita pelihara setiap hari. Dosa hari ini mungkin terjadi karena adanya dosa-dosa sebelumnya.

Namun, Alkitab juga berhenti pada titik yang sangat penting: tanggung jawab bukan berarti hidup dalam penghukuman yang berkepanjangan. Bagi orang percaya, pengakuan dosa bukanlah pintu menuju rasa bersalah yang menghancurkan, melainkan jalan menuju pemulihan. “Jika kita mengaku dosa kita, Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita,” demikian janji dalam 1 Yohanes 1:9.

Amsal 28:13 menegaskan prinsip ini: “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Menyembunyikan dosa hanya memperpanjang keterikatan kita padanya. Membantah adanya dosa, justru menambah dosa Sebaliknya, pengakuan yang jujur membuka jalan bagi belas kasihan dan perubahan hidup.

Puncak pengharapan kita terletak pada karya Kristus. Kita bertanggung jawab atas dosa kita, tetapi kita tidak menanggung hukumannya sendirian. “Ia sendiri menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di atas kayu salib,” tulis Petrus, “supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.” (1 Petrus 2:24). Salib adalah tempat di mana keadilan dan belas kasihan Allah bertemu. Di sanalah tanggung jawab manusia diakui, dan anugerah Allah dinyatakan sepenuhnya.

Renungan ini mengajak kita untuk berhenti menyalahkan dan mulai bertobat; berhenti bersembunyi dan mulai datang kepada terang. Tuhan yang berdaulat memanggil kita untuk hidup dalam tanggung jawab yang rendah hati, sambil bersandar penuh pada anugerah-Nya.

Doa Penutup

Tuhan yang kudus dan penuh kasih, kami mengakui bahwa sering kali kami lebih cepat menyalahkan daripada mengaku. Ajarlah kami untuk jujur melihat hati kami sendiri, dan berani bertanggung jawab atas dosa-dosa kami di hadapan-Mu. Terima kasih karena Engkau tidak meninggalkan kami dalam rasa bersalah, tetapi menyediakan pengampunan melalui Yesus Kristus. Tolong kami untuk meninggalkan dosa, hidup dalam pertobatan yang sejati, dan berjalan dalam kebenaran oleh kuasa Roh Kudus. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Sudah Diselamatkan atau Belum?

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma‬ ‭8‬:‭30‬‬

Pertanyaan tentang keselamatan adalah salah satu pertanyaan paling sering—dan paling sensitif—dalam kehidupan orang Kristen. Topik ini sudah beberapa kali saya bahas dalam beberapa tahun yang telah lalu.

Walaupun demikian, baik di bangku gereja, dalam percakapan kelompok kecil, maupun dalam perenungan pribadi, kalimat ini kerap muncul: “Dia sudah diselamatkan atau belum?” Bahkan tidak jarang pertanyaan itu diarahkan ke diri sendiri: “Saya ini sebenarnya sudah selamat atau belum?”

Namun jika kita jujur dan teliti, pertanyaan itu sendiri sesungguhnya kurang tepat. Keselamatan bukanlah sesuatu yang berada di wilayah “sudah” atau “belum” seolah-olah ia sebuah proses administratif yang menunggu kelengkapan syarat. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Diselamatkan atau tidak?” Karena keselamatan, menurut kesaksian Alkitab, adalah tindakan Allah yang berdaulat, bukan hasil usaha manusia yang bertahap.

Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa keselamatan berakar pada keputusan Allah sendiri. Paulus menulis dalam ayat di atas bahwa mereka yang dipilih-Nya, ditentukan-Nya, dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya, dan dimuliakan-Nya. Rangkaian ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan proyek manusia, melainkan karya Allah dari awal sampai akhir. Jika demikian, ketika kita berkata bahwa seseorang “belum selamat”, secara tidak sadar kita sedang menyelipkan unsur lain sebagai penentu keselamatan—yaitu perbuatan, konsistensi, atau kualitas iman manusia.

Di sinilah perdebatan besar dalam Kekristenan muncul: apakah keselamatan dapat hilang? Di satu sisi ada pandangan keselanatan abadi—sering diringkas sebagai “sekali diselamatkan, selalu diselamatkan”. Pandangan ini menegaskan bahwa jika seseorang sungguh dilahirkan kembali, maka keselamatannya dijaga oleh Allah sendiri. Yesus berkata bahwa tidak seorang pun dapat merebut domba-domba-Nya dari tangan-Nya (Yohanes 10:28–29). Paulus pun menyatakan keyakinannya bahwa Allah yang memulai pekerjaan baik akan menyelesaikannya (Filipi 1:6).

Di sisi lain, ada pandangan keselamatan bersyarat, yang menekankan bahwa manusia dapat meninggalkan iman melalui ketidaktaatan yang terus-menerus atau kemurtadan. Ayat-ayat seperti Ibrani 6:4–6 sering dikutip sebagai peringatan serius bahwa seseorang bisa jatuh dan gagal bertahan sampai akhir. Bagi kelompok ini, keselamatan bukan hanya soal awal yang benar, tetapi juga ketekunan sampai akhir. Jika belum tekun, maka belum selamat.

Namun sering kali perdebatan ini menjadi buntu karena kedua pihak berbicara dengan pendekatan yang berbeda. Banyak kebingungan muncul karena tidak dibedakannya antara status dan persekutuan. Seorang anak yang melanggar orang tuanya tetaplah anak, tetapi persekutuannya dengan orang tua itu bisa terganggu. Itu seperti kisah anak yang hilang. Demikian pula orang percaya: dosa dapat merusak keintiman dan sukacita dalam relasi dengan Tuhan, tetapi tidak serta-merta membatalkan status sebagai anak Allah.

Alkitab tidak pernah memanggil kita untuk hidup dalam ketakutan akan kehilangan keselamatan setiap kali kita jatuh. Sebaliknya, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan sebagai buah dari keselamatan itu sendiri.

Ketaatan bukanlah syarat agar tetap diselamatkan, melainkan bukti bahwa seseorang sungguh telah disentuh oleh kasih karunia. Sebagai contoh, orang Kristen tidak rajin ke gereja untuk mendapat keselamatan. Tetapi, mereka yang benar-benar anak Tuhan tentu mempunyai kerinduan untuk ke gereja.

Jika keselamatan harus terus-menerus dipertahankan oleh usaha manusia, maka kasih karunia bukan lagi kasih karunia.

Pertanyaan sejati bagi kita bukanlah, “Apakah keselamatan bisa hilang?” melainkan, “Apakah hidup saya mencerminkan orang yang telah menerima anugerah keselamatan?”

Iman yang sejati memang bertahan, tetapi ketahanan itu bukan karena kekuatan manusia, melainkan karena kesetiaan Allah. Orang percaya boleh bergumul, jatuh, dan bangkit kembali—namun Tuhan tetap memegang mereka. Maka ketika kita merenungkan pertanyaan “Sudah diselamatkan atau belum?”, biarlah kita mengarahkannya kembali kepada Kristus.

Keselamatan bukan soal menghitung kegagalan kita, melainkan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang setia. Keyakinan kita bukan karena kuatnya iman kita kepada Tuhan, tetapi karena kuatnya genggaman Tuhan atas kita.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih karunia, kami mengakui bahwa sering kali hati kami gelisah dan pikiran kami dipenuhi keraguan. Kami menilai diri kami sendiri dan orang lain dengan ukuran manusia, seolah-olah keselamatan dapat dihitung dari perbuatan dan konsistensi kami. Ampuni kami, ya Tuhan.

Ajarlah kami untuk beristirahat dalam anugerah-Mu. Teguhkan iman kami bahwa Engkaulah yang menyelamatkan, memelihara, dan menyempurnakan hidup kami. Ketika kami jatuh, tariklah kami kembali. Ketika kami menjauh, lembutkanlah hati kami. Biarlah hidup kami menjadi respons syukur, bukan usaha untuk membuktikan diri. Kami menyerahkan hidup kami ke dalam tangan-Mu yang setia.

Dalam nama Yesus Kristus, Juruselamat kami. Amin.

Berubahnya Fokus Kehidupan

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani‬ ‭12‬:‭2‬‬

Banyak orang Kristen rindu bertumbuh dalam iman. Kita ingin hidup lebih dekat dengan Tuhan, lebih tenang, lebih dewasa secara rohani. Namun dalam kenyataan sehari-hari, pertumbuhan itu sering terasa lambat, bahkan terhenti. Bukan karena kita meninggalkan Tuhan, melainkan karena begitu banyak hal yang perlahan mengalihkan perhatian kita dari-Nya, sehingga fokus kehidupan kita berubah.

Alkitab menggambarkan iman sebagai sebuah perlombaan. Dalam perlombaan, bukan hanya tujuan yang penting, tetapi juga fokus. Penulis Ibrani menasihati kita untuk menanggalkan segala beban yang merintangi dan berlari dengan mata tertuju kepada Yesus. Ini menunjukkan bahwa ada hal-hal tertentu—bahkan yang tampaknya ringan dan wajar—yang bisa menjadi penghalang serius bagi pertumbuhan iman.

Kisah Marta dan Maria memberikan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Marta sibuk melayani, melakukan sesuatu yang baik dan perlu. Namun kesibukannya membuat ia gelisah dan kehilangan ketenangan. Maria memilih duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya.

Ketika Yesus berkata kepada Marta bahwa hanya satu hal yang perlu, Ia tidak sedang menolak pelayanan, tetapi mengingatkan bahwa relasi dengan Tuhan tidak boleh dikorbankan demi kesibukan, sebaik apa pun alasannya.

Yesus juga menjelaskan hal ini melalui perumpamaan tentang penabur. Sementara perumpamaan ini intinya adalah bagaimana orang-orang menangani firman Tuhan, perumpamaan ini juga membahas bagaimana mereka menjalankan iman mereka.

Benih firman yang jatuh di antara duri tetap bertumbuh, tetapi kemudian tercekik dan tidak berbuah. Duri-duri itu adalah kekhawatiran hidup, keinginan akan kenyamanan, kesibukan, dan kesenangan dunia. Firman Tuhan memang diterima, tetapi tidak diberi ruang yang cukup untuk berakar. Banyak orang percaya hidup dengan iman seperti ini: ada iman, tetapi dangkal; ada kehidupan rohani, tetapi tidak bertumbuh dewasa.

Ironinya adalah banyak orang Kristen yang semakin lama semakin aktif dalam kegiatan gereja, tetapi semakin mundur dalam mempelajari Firman dengan sungguh-sungguh. Energi sudah dipakai untuk hal-hal jasmani, tetapi makanan rohani dilupakan. Mungkin juga karena mereka merasa sudah cukup mengetahui ayat-ayat Alkitab, atau merasa yakin sudah terpilih. Tetapi, jika hidup mulai terguncang, mereka akan sadar bahwa sesuatu sudah berubah.

Pengalaman Petrus berjalan di atas air menegaskan hal yang sama. Selama ia memandang Yesus, ia dapat berjalan di atas gelombang. Namun ketika perhatiannya tertuju pada angin dan ombak, ia mulai tenggelam. Badai sudah ada sejak awal, tetapi yang berubah adalah fokus Petrus. Demikian juga dalam kehidupan kita kalau kita berfokus pada persoalan hidup dan bukan kepada Tuhan.

Tantangan dan tekanan hidup tidak selalu membuat iman runtuh—yang sering melemahkan iman adalah perhatian yang terpecah.

Di zaman modern, gangguan iman itu semakin kuat dan semakin halus. Teknologi dan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Tanpa disadari, kita menjadi terbiasa hidup dengan pikiran yang terus-menerus terganggu. Notifikasi, pesan, dan konten yang tidak pernah habis membuat kita sulit diam. Keheningan kemudian terasa canggung, bahkan membosankan. Akibatnya, waktu untuk doa, perenungan firman, dan kehadiran di hadapan Tuhan sering tersingkir—bukan karena kita menolaknya, tetapi karena kita selalu berkata “sebentar lagi”.

Kegiatan sosial belum tentu dosa. Namun ketika ia menguasai perhatian, membentuk kebiasaan, dan mengisi hati lebih daripada firman Tuhan, ia secara perlahan mengurangi kedalaman iman dan kasih kita kepada Tuhan.

Di sinilah peringatan pastoral menjadi penting, terutama bagi generasi muda, tetapi juga bagi kita semua. Iman tidak bisa bertumbuh dalam kehidupan yang terus-menerus terburu-buru, sibuk, dan penuh kebisingan. Iman bertumbuh melalui kedekatan kita pada Tuhan.

Yesus mengingatkan bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan. Hati yang terbagi akan kehilangan arah. Kolose memperingatkan agar kita tidak ditawan oleh cara berpikir dunia, sementara Matius 6 menasihati kita untuk tidak hidup dalam kekhawatiran tentang hari esok. Semua ini mengajak kita untuk membuat pilihan sadar: kepada siapa kita memberikan perhatian dan kepercayaan kita.

Namun Alkitab juga penuh pengharapan. Ibrani 12 mengajak kita kembali menatap Yesus. Roma 8 mengingatkan bahwa pikiran yang tertuju pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera. Filipi 4 menegaskan bahwa doa adalah jalan keluar dari kecemasan. Tuhan tidak meminta kesempurnaan, tetapi hati yang mau diarahkan kembali kepada-Nya.

Pertumbuhan iman terjadi ketika kita dengan sengaja memberi ruang bagi Tuhan—melalui doa, firman, keheningan, dan kehidupan komunitas—di tengah dunia yang terus menarik perhatian kita ke arah lain.

Pada akhirnya, pertumbuhan iman bukan soal melakukan lebih banyak hal yang “rohani”, melainkan soal memandang lebih dalam kepada Kristus agar kita mendapat pertolongan-Nya.

Adanya gangguan-gangguan hidup saat ini tidak harus menjadi penyebab kita mengabaikan perlunya pertumbuhan iman. Itu seharusnya kita terima sebagai peringatan yang penuh anugerah kepada kita.

Kita harus sadar bahwa adanya persoalan dan pencobaan, baik yang bersifat pribadi, atau yang ada di keluarga, sekolah, kantor, dan gereja adalah seperti topan di laut yang menyingkapkan kelemahan kita dan mengundang kita untuk lebih bersandar pada Tuhan. Ketika mata iman kita tertuju kepada Yesus, iman kita akan terus dibentuk, dimurnikan, dan disempurnakan oleh-Nya.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami mengakui bahwa hati kami mudah teralihkan. Dunia ini menawarkan begitu banyak hal yang menarik perhatian kami, hingga kami sering kehilangan keheningan di hadapan-Mu. Ampunilah kami ketika kami lebih sibuk dengan dunia daripada dengan Engkau.

Tolong kami menanggalkan setiap beban yang menghambat pertumbuhan iman kami. Ajarilah kami untuk kembali memusatkan pandangan kepada Yesus, pelopor dan penyempurna iman kami. Berilah kami kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi dan keberanian untuk menciptakan ruang bagi-Mu dalam hidup kami.

Melalui kuasa Roh Kudus, bentuklah kami menjadi umat yang dewasa secara rohani, berakar dalam firman-Mu, dan berbuah bagi kemuliaan nama-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Damai di antara Kekacauan

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”Filipi 4:7

Dalam satu minggu, mungkin masih ada satu hari di mana kita bisa dengan tenang pergi ke gereja. Tetapi, ada hari-hari lain ketika hidup kita terasa begitu berat. Dunia ini sepertinya bergerak terlalu cepat, sementara hati kita tertinggal dalam kelelahan. Berita buruk datang silih berganti, persoalan dan pertikaian tidak kunjung selesai, dan masa depan terasa kabur. Di tengah situasi seperti ini, damai sering dianggap sebagai sesuatu yang jauh—bahkan mustahil. Namun Alkitab berbicara tentang damai dengan cara yang sangat berbeda.

Damai yang dijanjikan Tuhan bukanlah hasil dari keadaan yang ideal, melainkan kehadiran Allah yang nyata.

Rasul Paulus menulis tentang damai sejahtera ketika hidupnya sedang dibatasi, bukan dibebaskan. Ia berada di penjara, namun justru dari sanalah ia bersaksi tentang damai yang melampaui segala akal.

Damai menurut firman Tuhan bukan sekadar perasaan tenang. Dalam pemahaman iman Israel, damai—shalom—adalah keutuhan hidup. Hati yang dijaga, pikiran yang ditenangkan, dan jiwa yang berakar pada Tuhan. Shalom tidak menunggu kekacauan berhenti; shalom hadir karena Tuhan tetap memegang kendali, bahkan ketika dunia tampak tak terkendali.

Ada kalanya damai itu tidak masuk akal. Secara manusiawi, situasi seharusnya membuat kita gelisah, takut, atau putus asa. Namun di situlah damai Tuhan bekerja—bukan karena masalah hilang, tetapi karena hati kita ditopang oleh keyakinan bahwa Tuhan setia.

Damai ini tidak bersandar pada kemampuan kita dalam mengatur hidup, melainkan pada kesediaan kita mempercayakan hidup kita kepada Kristus.

Damai juga bukan sikap pasif. Alkitab tidak meminta kita menutup mata terhadap kenyataan atau berpura-pura kuat. Tuhan mengundang kita membawa semua kecemasan itu kepada-Nya. Setiap kekhawatiran yang kita akui di hadapan Tuhan adalah langkah iman. Kita tetap peduli, tetap bertanggung jawab, tidak berserah pada “nasib”, tetapi tidak membiarkan kecemasan menguasai hati. Ada ketenangan yang lahir ketika kita berhenti memikul beban sendirian.

Di balik semua itu, ada pengharapan yang lebih besar. Yesus sendiri berkata bahwa di dunia ini akan ada penderitaan, tetapi Ia juga berkata bahwa Ia telah mengalahkan dunia. Hidup ini bukan tanpa arah, dan penderitaan bukan akhir dari cerita. Ketika kita mengingat bahwa Kristus sudah menang, hati kita belajar tenang.

Damai bertumbuh dari keyakinan bahwa masa depan ada di tangan Tuhan, bukan di tangan kekacauan.

Damai Tuhan juga menuntun kita menjalani hidup dengan tertib dan penuh kasih. Damai bukan berarti menjauh dari dunia, tetapi hadir dengan sikap yang benar. Dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam komunitas iman, kita dipanggil untuk menjadi alat damai—membangun, bukan merusak; menguatkan, bukan menambah luka.

Damai sejati selalu membawa harmoni di mana Tuhan menempatkan kita.

Yesus menyebut damai sebagai pemberian-Nya sendiri. Damai itu bukan seperti yang diberikan dunia—yang mudah hilang ketika keadaan berubah. Damai Tuhan bertindak seperti penjaga yang setia, memelihara hati dan pikiran kita agar tidak dikuasai ketakutan atau kepahitan. Ketika emosi kita naik turun, damai Tuhan tetap menopang.

Damai ini dipelihara ketika kita melatih diri untuk datang kepada Tuhan setiap hari—dalam doa yang jujur, dalam perenungan firman, dan dalam kesediaan untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Ada saatnya kita perlu memberi jarak dari suara-suara yang terus menimbulkan kecemasan, agar hati kita kembali peka pada suara Tuhan.

Damai juga tumbuh ketika kita tidak berjalan sendiri, melainkan hidup dalam komunitas iman yang saling menguatkan dan saling mendoakan.

Sering kali, damai menjadi semakin nyata ketika kita mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan melayani orang lain. Dalam memberi, hati kita justru dikuatkan. Dalam meringankan beban sesama, Tuhan meringankan beban kita sendiri.

Pada akhirnya, damai bagi orang percaya bukanlah emosi yang rapuh. Damai adalah keyakinan yang dalam bahwa Tuhan setia, bahwa Kristus memegang hidup kita, dan bahwa di tengah kekacauan dunia, hati kita aman di dalam tangan-Nya.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami datang kepada-Mu dengan hati yang sering kali gelisah dan letih.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, kami rindu akan damai sejahtera-Mu yang sejati.

Ajarlah kami mempercayakan hidup kami sepenuhnya kepada-Mu.

Peliharalah hati dan pikiran kami dalam Kristus Yesus.

Bentuklah kami menjadi pembawa damai di mana pun Engkau menempatkan kami.

Kami bersandar pada kesetiaan-Mu, hari ini dan sampai selama-lamanya.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kedewasaan Dalam Kristus

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13:11

Ada satu kenyataan yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari: seseorang bisa bertambah umur, tetapi tidak selalu bertambah dewasa. Rambut bisa memutih, jabatan bisa bertambah, pengalaman hidup bisa semakin banyak, tetapi kedewasaan batin belum tentu ikut bertumbuh. Hal yang sama juga dapat terjadi dalam kehidupan rohani. Seseorang bisa lama menjadi orang Kristen, rajin beribadah, aktif melayani, bahkan dikenal sebagai “tokoh rohani”, tetapi di dalam batin masih mudah tersinggung, mudah marah, sulit mengampuni, dan sulit diajar.

Itulah sebabnya Paulus menulis dengan begitu jujur: ada masa kanak-kanak, dan ada panggilan untuk menjadi dewasa. Kedewasaan rohani bukan peristiwa sesaat, melainkan perjalanan seumur hidup. Itu bukan hasil dari lamanya seseorang berada di gereja, tetapi hasil dari relasi yang terus-menerus dengan Kristus.

Kedewasaan dalam Kristus dimulai dari perubahan pusat hidup. Dulu pusatnya adalah “aku”: perasaanku, pendapatku, posisiku, hakku, kenyamananku. Tetapi semakin seseorang bertumbuh, pusat itu perlahan berpindah kepada Kristus: kehendak-Nya, kebenaran-Nya, kasih-Nya, dan tujuan-Nya. Perubahan ini tidak selalu dramatis. Sering kali itu terjadi secara perlahan, hampir tidak terasa, seperti akar yang tumbuh dalam tanah—tidak terlihat, tetapi kuat menopang kehidupan.

Kedewasaan secara rohani tidak diukur dari seberapa lantang orang berbicara tentang iman, tetapi dari bagaimana ia hidup saat tidak ada orang lain yang melihat. Dari caranya memperlakukan keluarga di rumah. Dari cara ia merespons orang yang menyakiti. Dari bagaimana ia berbicara tentang orang lain. Dari bagaimana ia menghadapi kemarahan, kekecewaan, dan penderitaan.

Buah Roh menjadi tanda yang paling nyata. Kasih yang tidak pilih-pilih. Sukacita yang tidak bergantung pada keadaan. Damai yang tidak mudah goyah. Kesabaran terhadap orang yang sulit. Kelemahlembutan dalam perkataan. Penguasaan diri dalam emosi. Semua ini bukan hanya hasil latihan karakter dan pekerjaan otak, tetapi hasil dari hidup yang melekat kepada Kristus. Tanpa Kristus, sulitlah orang mengalami perubahan batin yang terus menerus dan bersifat permanen.

Kedewasaan juga terlihat dalam ketergantungan pada Tuhan. Seperti sebuah paradoks, semakin dewasa secara rohani, seseorang justru semakin sadar bahwa ia tidak sanggup hidup benar tanpa Tuhan. Ia tidak lagi sok kuat, tidak lagi sok rohani, tidak lagi merasa paling benar. Ia belajar berdoa bukan hanya saat krisis, tetapi sebagai napas hidup sehari-hari. Ia belajar bersandar kepada Tuhan bukan hanya saat gagal, tetapi juga saat berhasil. Ia tahu bahwa Tuhan adalah sumber apa yang baik.

Lalu selama hidup pasti ada penderitaan. Di sinilah kedewasaan benar-benar diuji. Orang yang belum dewasa mudah berkata, “Mengapa Tuhan izinkan ini terjadi?” Orang yang mulai dewasa belajar berkata, “Tuhan, apa yang Engkau sedang bentuk dalam diriku melalui ini?” Bukan berarti ia tidak menangis, bukan berarti ia tidak lelah, tetapi hatinya tidak lagi memberontak—ia belajar percaya. Ia belajar untuk hidup dalam damai, seperti seekor domba yang dipanggul gembalanya.

Kedewasaan rohani juga mengubah orientasi hidup: dari minta “dilayani” menjadi mau “melayani”. Dari “milikku” menjadi “titipan Tuhan”. Dari “kenyamananku” menjadi “kebaikan bersama”. Orang yang dewasa tidak lagi hidup untuk membesarkan diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama.

Yesus berkata, siapa yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Ini bukan bahasa heroik, tetapi bahasa kehidupan sehari-hari: belajar mengalah, belajar diam, belajar mengampuni, belajar setia, belajar taat, belajar melayani tanpa pujian, belajar melakukan apa yang benar meski tidak dipuji.

Bagaimana kita bisa bertumbuh? Bukan dengan pencitraan rohani, tetapi dengan kejujuran di hadapan Tuhan. Dengan doa yang jujur. Dengan membaca Firman bukan untuk membenarkan diri, tetapi untuk mau diubah. Dengan persekutuan yang saling menegur dalam kasih. Dengan refleksi diri yang rendah hati. Dengan pertobatan yang terus-menerus.

Kedewasaan Kristen bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus bertumbuh. Bukan tentang terlihat suci, tetapi tentang hati yang mau dibentuk. Bukan tentang posisi, tetapi tentang karakter. Bukan tentang gelar rohani, tetapi tentang keserupaan dengan Kristus.

Pagi ini, mungkin itulah doa terdalam setiap orang percaya: bukan agar hidup kita tampak besar, tetapi agar hidup kita makin lama makin serupa dengan Yesus. Itulah kedewasaan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, kami datang dengan hati yang rindu bertumbuh. Kami sadar bahwa sering kali kami sudah lama mengenal-Mu, tetapi masih membawa banyak sifat kanak-kanak dalam hati kami: ego, gengsi, amarah, kepahitan, dan keakuan.

Kami mohon, bentuklah kami dengan kasih-Mu. Ajari kami bertumbuh dalam karakter, bukan hanya dalam aktivitas rohani. Ajari kami bergantung kepada-Mu, menjaga perkataan kami, setia dalam penderitaan, dan rendah hati dalam keberhasilan.

Bentuklah hidup kami menjadi cermin kasih Kristus, agar orang lain tidak hanya mendengar tentang Engkau, tetapi melihat Engkau melalui hidup kami.

Jadikan kami umat yang dewasa, bukan hanya dewasa usia, tetapi dewasa iman, dewasa kasih, dan dewasa ketaatan.

Di dalam nama Yesus, kami berdoa dan berserah. Amin..

Bagaimana Anda tahu kalau Anda sudah mengampuni seseorang?

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:32

Pengampunan adalah salah satu perintah Yesus yang paling sering kita ucapkan, tetapi paling sulit kita jalani. Kita tahu secara teologis bahwa kita harus mengampuni, tetapi secara emosional kita sering bertanya dalam hati: bagaimana saya tahu bahwa saya sungguh-sungguh sudah mengampuni? Apakah pengampunan itu berarti rasa sakitnya hilang? Apakah berarti hubungan harus kembali seperti semula? Ataukah cukup dengan berkata, “Saya sudah memaafkan,” meski hati masih terasa sesak?

Efesus 4:32 memberi kita petunjuk yang sangat praktis. Rasul Paulus tidak memulai dari perasaan, melainkan dari tindakan dan sikap hati: ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Artinya, ukuran pengampunan sejati bukanlah apakah luka itu sudah sepenuhnya sembuh, melainkan apakah hidup kita mulai mencerminkan karakter Allah yang penuh anugerah.

Pengampunan sejati selalu melibatkan pelepasan. Kita melepaskan hak untuk membalas, melepaskan keinginan untuk mencari kesalahan orang lain dan dorongan untuk menghakimi, dan melepaskan orang tersebut dari “utang” moral yang kita simpan di dalam hati.

Selama ini mungkin kita tidak membalas secara terbuka, tetapi dalam batin kita masih menyimpan catatan kesalahan mereka. Kita mengulangnya dalam pikiran, menggunakannya sebagai senjata batin untuk membenarkan kemarahan kita. Selama catatan itu masih kita simpan, pengampunan belum sungguh terjadi.

Salah satu tanda pengampunan yang mulai nyata adalah ketika kita berhenti menggunakan masa lalu sebagai alat untuk melukai. Kita tidak lagi mengungkit kesalahan mereka untuk menang dalam percakapan, atau untuk membenarkan jarak emosional yang kita bangun. Kita tidak lagi menuntut agar mereka “membayar” rasa sakit yang kita alami. Kita tidak lagi menuntut mereka untuk meminta maaf kepada kita. Di titik ini, kita mulai memahami bahwa pengampunan bukan berarti melupakan, tetapi memilih untuk tidak menagih.

Efesus 4:32 juga berbicara tentang kebaikan. Ini bukan kebaikan yang palsu atau terpaksa, melainkan sikap hati yang tidak lagi berniat jahat. Kita mungkin belum siap untuk akrab kembali, tetapi kita tidak lagi berharap yang buruk terjadi atas mereka. Kita tidak lagi tertarik untuk mencari kelemahan mereka dan kesalahan mereka terhadap orang lain. Bahkan, kita mampu bersikap adil, sopan, dan manusiawi. Kebaikan ini adalah buah dari hati yang tidak lagi dikuasai kepahitan.

Tanda lain yang lebih dalam adalah munculnya kasih sayang—tenderhearted. Ini tidak berarti kita membenarkan kesalahan mereka, tetapi kita mulai melihat mereka sebagai manusia yang rapuh, berdosa, dan membutuhkan anugerah, sama seperti diri kita sendiri. Kita menyadari bahwa di hadapan Allah, posisi kita tidak lebih tinggi dari mereka. Kesadaran ini melunakkan hati kita dan menghancurkan kesombongan rohani yang sering tersembunyi di balik kemarahan.

Kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita jika kita sendiri ingin diampuni oleh Tuhan.

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Lukas‬ ‭6‬:‭37‬‬

Karena itu, jika kita sudah benar-benar mengampuni, kita akan bisa dengan sungguh-sungguh berdoa mohon pengampunan dari Tuhan untuk dosa kita sendiri.

“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;” Matius‬ ‭6‬:‭12‬‬

Bagi banyak orang, titik balik pengampunan terjadi ketika mereka akhirnya bisa berdoa bagi orang yang melukai mereka. Awalnya mungkin doa itu masih kaku dan singkat. Namun perlahan, doa berubah: dari sekadar kewajiban, menjadi kerinduan agar Tuhan bekerja dalam hidup orang tersebut. Saat kita bisa berharap yang baik bagi mereka—bukan karena mereka layak, tetapi karena Allah itu baik—kita tahu bahwa sesuatu telah berubah di dalam hati kita.

Pengampunan juga ditandai dengan kepercayaan kepada keadilan Tuhan. Kita berhenti bermain sebagai hakim, dan menyerahkan penghakiman kepada Dia yang adil dan penuh belas kasih. Kita percaya bahwa Tuhan lebih mampu menangani ketidakadilan daripada diri kita sendiri. Dengan demikian, kita dibebaskan dari beban berat yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan untuk kita pikul.

Sebaliknya, jika kita masih dikuasai kepahitan, mudah tersulut emosi ketika mengingat peristiwa lama, atau secara sadar menahan kebaikan, itu bukan tanda kegagalan iman, melainkan undangan untuk datang kembali kepada salib. Di sana kita diingatkan bahwa kita diampuni bukan karena kita pantas, tetapi karena kasih karunia semata.

Pengampunan sejati bukanlah satu momen dramatis, melainkan sebuah perjalanan ketaatan. Namun setiap langkah kecil menuju kebaikan, belas kasih, dan kepercayaan kepada Tuhan adalah bukti bahwa anugerah Kristus sedang bekerja di dalam diri kita.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih dan panjang sabar, kami datang kepada-Mu dengan hati yang sering terluka dan berat. Engkau tahu betapa sulitnya mengampuni, terutama ketika luka itu dalam dan keadilan terasa jauh. Ajarlah kami mengampuni bukan dengan kekuatan kami sendiri, melainkan dengan mengingat bagaimana Engkau telah mengampuni kami di dalam Kristus.

Lunakkanlah hati kami yang keras, lepaskan kepahitan yang kami simpan, dan gantikan dengan kebaikan serta belas kasih. Ajari kami mempercayakan keadilan kepada-Mu, dan berjalan dalam kebebasan anak-anak Allah. Biarlah hidup kami mencerminkan anugerah-Mu, sehingga melalui pengampunan, nama-Mu dipermuliakan.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Memilih Empati, Bukan Sukacita

“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok, supaya Tuhan tidak melihatnya dan menganggapnya jahat, lalu memalingkan murkanya dari pada orang itu.” Amsal 24:17–18

Ada sesuatu yang sangat manusiawi—dan sekaligus sangat berbahaya—dalam diri kita: kecenderungan untuk merasa lega, bahkan senang, ketika orang yang mengganggu kita akhirnya jatuh. Dalam hati kita mungkin berkata, “itu sudah sepantasnya.” Dunia menyebutnya sebagai poetic justice (keadilan puitis). Media sosial pun sering merayakannya. Namun firman Tuhan justru menegur kecenderungan itu dengan sangat tegas. Perasaan itu tidak seharusnya muncul di hati orang Kristen sebagai reaksi terhadap orang yang tidak disenangi.

Amsal 24:17–18 tidak sedang membela kejahatan atau meniadakan keadilan. Firman ini berbicara tentang kondisi hati. Tuhan menaruh perhatian bukan hanya pada apa yang terjadi pada orang lain, tetapi pada apa yang terjadi di dalam hati kita ketika itu terjadi. Ketika kita bersukacita atas kejatuhan orang lain—bahkan musuh kita—Tuhan melihatnya bukan sebagai kebenaran, melainkan sebagai kejahatan hati yang tersembunyi.

Mengapa demikian? Karena sukacita atas penderitaan orang lain sering kali lahir bukan dari cinta akan kebenaran, melainkan dari dendam yang terpelihara. Itu mungkin juga berarti bahwa kita sebelumnya tidak pernah berdoa agar mereka insaf. Kita mungkin tidak mendoakan kejatuhan mereka atau ingin membalas, tetapi hati kita bersorak secara diam-diam. Dan di situlah masalahnya. Tuhan tidak hanya menilai perbuatan, tetapi juga motivasi kita yang terdalam.

Alkitab berulang kali mengajak umat Tuhan untuk mempercayakan keadilan kepada-Nya. Tuhan adalah Hakim yang adil dan sempurna, sedangkan penilaian kita sering kali tercemar oleh luka, emosi, dan kepentingan pribadi. Ketika kita merasa senang atas apa yang menimpa orang lain, seolah-olah kita sedang duduk di kursi hakim—kursi yang bukan milik kita, tetapi milik Tuhan pencipta alam semesta.

Lebih dari itu, sikap bersukacita atas kemalangan orang lain merusak kesaksian Kristus dalam hidup kita. Yesus tidak dikenal karena sorak-sorai atas kehancuran musuh-Nya, melainkan karena belas kasihan-Nya terhadap orang berdosa. Di kayu salib, Ia tidak berseru, “Akhirnya Aku menang atas kalian,” tetapi berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Kasih seperti inilah yang menjadi tanda murid Kristus.

Di sinilah empati menjadi sangat penting. Empati bukan berarti menyetujui dosa atau membenarkan kesalahan. Empati berarti melihat manusia di balik kegagalannya. Menyadari bahwa kejatuhan seseorang bukanlah tontonan, melainkan tragedi. Bahwa di balik kesalahan itu ada jiwa yang rapuh, keluarga yang terluka, dan masa depan yang hancur.

Seperti kita ketahui bahwa hukum Tuhan (Mitzvah) yang paling penting dalam Kitab Suci adalah untuk mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita. Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa hukum yang kedua, yang sama dengan itu, adalah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. (Matius‬ ‭22‬:‭36-40)

Sehubungan dengan hal mengasihi sesama, perlu dicatat bahwa empati bukan sekadar bersimpati. Simpati adalah rasa kasihan atau iba dari luar (merasa “untuk” orang lain), sedangkan empati adalah kemampuan merasakan emosi yang sama dan “bersama” orang lain, menempatkan diri pada posisi mereka, dan memahami kondisi mereka secara mendalam.

Simpati bersifat lebih dangkal dan bisa muncul tanpa pernah mengalami kondisi tersebut, sementara empati lebih mendalam, melibatkan pemahaman kognitif dan afektif, serta seringkali memicu keinginan untuk membantu menyelesaikan masalah, bukan hanya berdiam diri atau menyampaikan kritik.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk bercermin. Kita mudah lupa bahwa kita sendiri pernah—dan mungkin masih—jatuh berkali-kali. Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita dulunya adalah musuh Allah, tetapi diselamatkan bukan karena kelayakan, melainkan karena kasih karunia (Roma 5:10). Jika Tuhan memperlakukan kita dengan belas kasihan, bagaimana mungkin kita menolak menunjukkan empati kepada sesama kita?

Empati menolong kita untuk berkata, “Jika bukan karena anugerah Tuhan, aku pun bisa berada di posisi itu.” Sikap ini meruntuhkan kesombongan rohani dan menumbuhkan kerendahan hati. Ia mengubah respons kita dari ejekan menjadi doa, dari sorak-sorai menjadi air mata, dari penghakiman menjadi uluran tangan. Ini juga mencegah kita untuk menggosipkan masalah orang yang tidak kita senangi.

Dalam dunia yang cepat menghakimi dan gemar mempermalukan, panggilan orang percaya justru berbeda. Kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih Kristus—kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi bersukacita dalam kebenaran. Kasih yang berharap akan pemulihan, bukan kehancuran.

Pada akhirnya, Alkitab menyerukan hati yang penuh belas kasihan dan dukungan. Bukan hati yang bergembira ketika orang lain menderita, merasa itu sudah sepantasnya, atau diam-diam menyombongkan diri. Empati adalah bukti bahwa kita sungguh memahami Injil—bahwa kita hidup oleh anugerah, dan karena itu dipanggil untuk mengalirkannya kepada orang lain.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Kami mengakui bahwa hati kami sering keras dan mudah bersukacita atas kejatuhan orang lain. Ampunilah kami, ya Tuhan, ketika kami lebih mengikuti dorongan daging daripada suara Roh-Mu.

Ajarlah kami untuk mempercayakan keadilan sepenuhnya kepada-Mu, dan bukan mengambil alih peran-Mu sebagai Hakim. Lembutkan hati kami agar dipenuhi empati, kasih, dan belas kasihan—seperti yang telah Engkau tunjukkan kepada kami di dalam Kristus.

Mampukan kami menjadi saksi kasih-Mu di tengah dunia yang terluka, sehingga melalui sikap dan respons kami, nama-Mu dimuliakan.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Bahaya Stres dan Kecemasan

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6:27

Stres dan kecemasan adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Alkitab tidak pernah menampilkan manusia beriman sebagai pribadi yang kebal terhadap rasa takut, gelisah, atau tertekan. Daud pernah merasa jiwanya tertekan sampai remuk. Elia pernah ingin mati karena kelelahan batin. Bahkan murid-murid Yesus dilanda panik ketika badai mengguncang perahu mereka. Namun Kitab Suci juga dengan jujur menunjukkan bahwa kecemasan, meskipun bukan “dosa yang mematikan”, adalah kekuatan yang berbahaya—perlahan, diam-diam, tetapi memadamkan api kehidupan rohani bila dibiarkan.

Yesus dalam Matius 6 berbicara tentang kekhawatiran bukan sebagai kegagalan moral semata, melainkan sebagai beban yang tidak perlu dan tidak berguna. Ia bertanya dengan nada yang lembut namun menusuk: “Siapa di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan satu jam saja pada hidupnya?” Pertanyaan ini membuka mata kita bahwa kecemasan bukan hanya menyakitkan, tetapi juga sia-sia. Ia menguras energi dan merusak kesehatan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Alkitab sering membingkai kecemasan sebagai penyakit yang mengganggu—penyakit batin yang memecah pikiran, membebani hati, dan secara perlahan menggerogoti kepercayaan kepada Allah. Amsal 12:25 dengan sangat realistis berkata, “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang.” Banyak orang yang kelihatannya tetap berjalan, bekerja, dan tersenyum, tetapi jiwanya membungkuk—lelah, berat, dan kehilangan sukacita. Kecemasan membuat seseorang “lumpuh”: sulit berpikir jernih, sulit berdoa dengan tenang, dan sulit berharap dengan utuh. Ini bukan hanya pengamatan psikologis modern; ini adalah kebijaksanaan Alkitab sejak ribuan tahun lalu.

Yesus juga memperingatkan bahwa kecemasan memiliki daya rusak rohani yang serius. Dalam perumpamaan tentang penabur, Ia berkata bahwa “kekhawatiran hidup ini” dapat mencekik firman, sehingga hidup menjadi tidak berbuah (Markus 4:19). Firman Tuhan mungkin didengar, dipahami, bahkan disetujui, tetapi tidak pernah bertumbuh karena dicekik oleh rasa takut akan masa depan, ancaman sosial, tekanan ekonomi, kondisi kesehatan, atau keadaan dunia. Kecemasan tidak selalu membuat seseorang meninggalkan iman, tetapi sering membuat iman menjadi mandul—tidak menghasilkan damai, ketekunan, dan kasih.

Yang menarik, dalam Lukas 21:34 Yesus menempatkan kecemasan sejajar dengan pesta pora dan kemabukan. Ini mengejutkan, karena kita cenderung menganggap kecemasan sebagai sesuatu yang “sepi” atau “sopan”. Namun Yesus melihatnya sebagai beban hati yang sama-sama merusak kewaspadaan rohani. Pesta pora dan kemabukan merusak tubuh secara kasar; kecemasan merusak jiwa secara halus. Keduanya membuat hati berat dan mata iman tumpul.

Namun Injil tidak berhenti pada peringatan. Yesus tidak hanya menunjukkan bahaya kecemasan, tetapi juga menawarkan jalan pembebasan: mempercayakan hidup kepada Bapa yang memelihara. Ia menunjuk burung di udara dan bunga di ladang—bukan untuk meromantisasi hidup, tetapi untuk menegaskan karakter Allah. Allah adalah Bapa yang tahu, peduli, dan setia. Kekhawatiran sering kali bukan soal kurangnya iman kepada kuasa Allah, tetapi kurangnya kepercayaan pada kebaikan-Nya.

Dalam perspektif iman Kristen, kita diingatkan bahwa hidup ini berada di bawah providensia (pemeliharaan) Allah yang berdaulat. Tidak ada satu detik pun yang berada di luar perhatian-Nya. Menyadari hal ini tidak serta-merta menghapus stres, tetapi menempatkannya di tempat yang benar. Kita belajar membawa kecemasan ke hadapan Tuhan, bukan menyangkalnya, tetapi menyerahkannya. Kita berhenti memikul beban yang tidak pernah dimaksudkan untuk kita tanggung sendirian.

Kecemasan mungkin datang, tetapi ia tidak harus berkuasa. Ia boleh mengetuk pintu, tetapi tidak harus menjadi tuan rumah. Dalam Kristus, kita dipanggil untuk hidup bukan tanpa masalah, tetapi dengan kepercayaan—bahwa hidup kita ada di tangan Bapa yang baik, dan tidak satu pun kekhawatiran kita dapat menambah satu jam pun pada hidup ini.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Engkau mengenal hati kami yang mudah gelisah dan pikiran kami yang cepat dipenuhi kekhawatiran. Kami mengakui bahwa sering kali kami memikul beban yang tidak Engkau minta kami tanggung.

Ampunilah kami ketika kecemasan lebih kami dengarkan daripada suara-Mu. Ajarlah kami mempercayakan hidup kami sepenuhnya kepada pemeliharaan-Mu.

Berilah kami hati yang tenang, iman yang bertumbuh, dan pengharapan yang teguh di dalam Kristus. Biarlah Firman-Mu tidak dicekik oleh kekhawatiran, tetapi berbuah dalam hidup kami.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.