Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal, yang menggambarkan perjuangan Raul Paulus dalam hidup kerohaniannya. Dikatakannya bahwa sekalipun ia tahu apa yang baik dan ingin melakukannya, ia justru melakukan apa yang tidak dikehendakinya, yaitu apa yang jahat. Ayat ini sering dipakai oleh sebagian orang Kristen untuk menyatakan bahwa kalau Paulus saja tidak bisa melakukan apa yang baik, tentu saja mereka tidak akan bisa berbuat baik untuk Tuhan. Jadi, usaha umat Kristen untuk melakukan apa yang baik akan sia-sia dan hanya menunjukkan kesombongan. Orang Kristen dengan kelemahannya, tidaklah perlu memikirkan perlunya berbuat baik. Kurang disadari bahwa arti ayat ini bukanlah tentang Paulus yang gagal untuk melakukan perintah Tuhan untuk hidup dalam terang-Nya, tetapi tentang sulitnya orang Kristen untuk hidup menurut firman Tuhan jika mereka hanya bersandar pada kekuatan sendiri.
Dalam Roma 7, Paulus menulis tentang hubungan antara hukum – perintah yang diberikan oleh Allah – dan keberdosaan manusia. Dia mulai dengan menjelaskan bahwa mereka yang ada di dalam Kristus telah dibebaskan dari kewajiban agama yang bertalian dengan hukum Musa, yang membuat seluruh umat manusia gagal untuk menaatinya. Paulus menjelaskan bagaimana kita dibebaskan dari tuntutan hukum Taurat untuk kesempurnaan manusia, melalui kematian dan kebangkitan dalam Kristus yang pada saatnya akan menyempurnakan orang percaya. Karena melalui kematian Yesus membuat kita mati dari kehidupan rohani yang lama, dan melalui kebangkitan-Nya kita dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru.
Paulus menggunakan ilustrasi tentang hukum pernikahan. Seorang wanita yang suaminya telah meninggal tidak lagi wajib untuk tetap setia kepadanya. Dia bebas menikah dengan pria lain. Dengan cara yang sama, kematian kita bersama Kristus membebaskan kita dari kewajiban kita terhadap hukum dan memungkinkan kita untuk melayani Allah dalam apa yang Paulus sebut sebagai jalan baru Roh (Roma 7:1-6).
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa ajaran Paulus tentang kebebasan dari hukum berarti bahwa ia percaya hukum itu sendiri adalah penyebab dosa. Dia bersikeras bahwa dia tidak menganggapnya demikian. Sebaliknya, itu adalah hukum yang mengungkapkan dosa-dosanya. Dia menyadarii bahwa dia tamak setelah diberitahu oleh hukum untuk tidak mengingini. Tetapi, sebagai manusia berdosa, karena ia mengetahui bahwa ketamakan adalah dosa justru membuatnya makin mengingini! Seperti Adam dan Hawa, sifat pemberontak kita sering membuat kita memilih untuk melanggar aturan hanya demi melanggar aturan. Hukum lama menjanjikan kehidupan kepada Paulus jika dia dapat mematuhi semua perintah-perintah, tetapi dia menemukan bahwa dia tidak dapat melakukannya. Dalam pengertian itu, hukum justru menghukumnya sampai mati. Namun demikian, Paulus menggambarkan hukum itu kudus, benar, dan baik (Roma 7:7-12). Manusialah yang lemah dan berdosa.
Paulus kemudian menggambarkan pengalamannya yang menyedihkan tentang keinginan untuk melakukan apa yang baik dan sebaliknya mendapati dirinya melakukan apa yang berdosa. Para teolog tidak setuju atas pendapat bahwa Paulus menggambarkan dirinya sebelum dia menjadi seorang Kristen, ketika dia mencoba untuk mengikuti hukum. Berdasarkan bentuk waktu dari bahasa Yunani yang digunakan, Paulus tampaknya sedang menggambarkan pergumulan yang terus menerus dari seorang percaya melawan dosa selama hidup, dan bukan pergumulan melawan dosa yang sudah diampuni ketika dia diselamatkan (Roma 7:13-23).
Di seluruh tulisannya, Paulus berdiri di atas gagasan bahwa siapa pun tidak dapat sepenuhnya taat kepada hukum. Itu sebabnya hukum tidak bisa membuat kita benar di hadapan Tuhan. Juga benar bahwa orang-orang Kristen yang telah dibebaskan dari kuasa dosa seringkali masih merasa bahwa pengaruh dosa yang kuat sangat sulit untuk diatasi (lihat Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4). Menjadi umat Tuhan memberi seseorang kekuatan untuk mengatasi dosa (1 Korintus 10:13; Roma 6:17), tetapi itu tidak membuat dia tidak berdosa (1 Yohanes 1:9-10).
Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat. Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4.
Setelah menggambarkan adanya jurang antara niatnya untuk berbuat baik dan tindakan dosanya di dunia nyata, Paul berteriak dengan frustrasi bahwa dia adalah orang yang malang dan bertanya siapakah yang akan membebaskannya dari pengaruh dosa. Dia menanggapi jeritan hatinya dengan berterima kasih kepada Tuhan melalui Yesus Kristus, menyiratkan bahwa dia telah dan/atau akan menemukan pembebasan yang sempurna itu hanya melalui iman kepada Kristus (Roma 7:24–25).
Jauh dari sempurna, manusia adalah mahluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapapun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Seperti apa yang ditulis Paulus, hidup lama harus berubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa seperti yang dinyatakan oleh hukum Tuhan, haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2
Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk istimewa yang tidak memerlukan Tuhan. Mahluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak, kebebasan, dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.
Seringkali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita.
Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikut-Nya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita, karena “aku adalah aku” dan “Tuhan mau menerima aku sebagaimana adanya”. Atau juga “Tuhan yang berdaulat sudah menetapkan semua bagian dari hidupku”. Sebaliknya, kita harus mengakui setiap dosa dan kelemahan kita, agar Tuhan yang maha kasih memberikan pengampunan dan kekuatan, sehingga kita bisa burubah, makin hari makin sempurna di dalam Dia.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23