Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ibrani 11:6

Ayat di atas adalah ayat populer dari kitab Ibrani, dan juga mudah disalahpahami di luar konteks. Dengan sendirinya, ayat tersebut menyajikan sebuah kebenaran yang cukup mudah untuk dipahami. Yakni, perhatian Allah yang pertama dan utama adalah pada iman kita – sikap kita terhadap-Nya dan percaya kepada-Nya – bukan pada perbuatan kita. Ini tidak membuat perilaku dan moral kita menjadi tidak penting. Sebaliknya: apa yang kita lakukan mencerminkan apa yang benar-benar kita percayai (Yakobus 2:14-17). Namun, seperti yang ditunjukkan oleh ayat ini, sekadar “melakukan perbuatan baik” bukanlah yang Allah cari. Mereka yang ingin menyenangkan Tuhan perlu memiliki iman, bukan kesepakatan sederhana untuk bekerja bagi Dia, dan bukan kerja sama dengan Dia karena terpaksa.
Masalah dengan mengutip atau membaca ayat ini di luar konteksnya adalah momok “keyakinan buta”, atau angan-angan. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian sebelumnya, penulis Ibrani tidak menganjurkan sikap yang mudah tertipu dan berangan-angan. Sebaliknya, seluruh surat ini merupakan latihan bukti dan logika. Maksud penulis dimaksudkan untuk menekankan keutamaan iman yang sejati karena perbuatan yang tidak tulus dan kepatuhan robotik tanpa kepercayaan yang benar kepada Tuhan tidaklah ada artinya. Pelajaran ini diberikan sebagai bagian dari penjelasan tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang tindakannya membuktikan iman mereka sekalipun mereka bukan orang yang sempurna. Tokoh-tokoh seperti Abraham dan Daud pernah dan sering melanggar perintah Tuhan dan mereka telah melakukan pelanggaran moral dalam hidup mereka; tetapi karena iman, mereka dibenarkan.
Begitu banyak di dalam surat-surat Perjanjian Baru yang secara keliru dianggap ditujukan kepada orang yang tidak percaya, padahal surat itu ditulis untuk orang Kristen. Surat Ibrani adalah contoh Kitab Suci yang memberikan bimbingan kepada orang percaya yang dewasa tentang bagaimana hidup dengan iman – bagaimana menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Sementara langkah pertama yang jelas untuk menyenangkan Tuhan adalah diselamatkan dengan percaya pada karya penebusan Kristus, adalah iman yang terus-menerus dan hidup dari orang percaya yang mengasihi Tuhan dan sesama.
Hanya orang percaya yang bisa menyenangkan Tuhan. Kita menyenangkan Tuhan ketika kita dibenarkan (keselamatan awal), tetapi kita juga menyenangkan Tuhan melalui kehidupan yang dikuduskan (keselamatan yang berkelanjutan). Hanya melalui kebenaran Kristus yang kita yakini kita dapat menyenangkan Allah, “karena tanpa iman tidak mungkin menyenangkan Dia.” Tetapi begitu kita diselamatkan, kita harus menyenangkan Dia dengan hidup oleh iman. Begitu kita percaya kepada-Nya, kita harus, “percaya bahwa Dia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia.” Setelah diselamatkan melalui iman yang membenarkan, orang percaya harus terus mempercayai Dia, dengan mempercayai Firman-Nya, hidup dengan iman, dan dengan rajin mencari wajah-Nya hari demi hari.
Setelah kita percaya pada kasih karunia Allah yang menyelamatkan melalui iman kepada Kristus, kita juga harus percaya bahwa, “Ia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia,” sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci. Ada sukacita di surga ketika seorang berdosa percaya, tetapi kita benar-benar menyenangkan Dia ketika kita hidup dengan iman. Kita menyenangkan Dia ketika kita tidak dipengaruhi oleh berbagai masalah dan godaan dalam hidup. Jika kita berhasrat untuk menyenangkan Bapa Surgawi kita, kita harus hidup dengan iman dan bukan dengan melihat. Kita percaya bahwa Tuhan melihat apa yang kita perbuat sekalipun kita tidak dapat melihat Dia. Kita harus percaya bahwa jika kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan standar kecucian dan moral Allah, yaitu dengan mengabaikan suara Roh Kudus, kita akan mendukakan Dia.
Terlalu sering, mereka yang memulai kehidupan Kristennya dengan iman, berhenti bersandar pada kebenaran Kitab Suci. Mereka mengalihkan pandangan dari Yesus dan mulai meragukan firman Tuhan dan pentingnya hukum dan perintah Tuhan. Mereka sering lalai dalam mencari Tuhan, bahkan ada yang meninggalkan cinta pertamanya. Ada beberapa orang yang kembali kepada kedagingan, menuruti kehidupan daging. Beberapa mencoba untuk menyenangkan Tuhan melalui perbuatan yang dipandang baik oleh manusia, atau mencapai hasil yang membawa nama baik bagi gereja. Tetapi semua itu akan sia-sian jika dilakukan bukan untuk kemuliaan Tuhan. Pada pihak yang lain, ada orang yang mengadopsi budaya umat Israel dan melakukan perbuatan-perbuatan menurut hukum Taurat, hanya untuk merasa yakin bahwa mereka adalah orang yang terpilih.
Orang Kristen yang mencoba untuk hidup dengan kekuatan mereka sendiri atau mengandalkan perbuatan baik mereka sendiri tidak akan menyenangkan Tuhan, karena mereka tidak mempercayai Firman-Nya – karena iman adalah bukti dari hal-hal yang tidak terlihat. Iman pada firman Tuhan adalah apa yang menyenangkan Dia. Kita menyenangkan Dia ketika kita diselamatkan, tetapi kita harus menyenangkan Dia sepanjang kehidupan Kristen kita, dengan percaya bahwa janji-janji-Nya adalah benar dan dengan percaya bahwa Dia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia – dengan iman.
Meskipun persatuan kita dengan Tuhan tidak akan pernah putus setelah kita dilahirkan ke dalam keluarga-Nya, persekutuan kita dengan-Nya bisa rusak ketika kita meninggalkan kehidupan yang mempercayai Tuhan dan ketergantungan pada Firman-Nya dan mulai mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tuhan tahu bahwa tanpa pertolongan dan bimbingan Kristus, kita pada akhirnya akan gagal karena Dia berkata, “tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Namun terlalu sering kita mencoba setiap cara yang mungkin sebelum akhirnya kita harus mengakui ketidakmampuan kita dan kemudian mencari pertolongan-Nya.
Terlalu sering kita lupa bahwa mereka yang rajin mencari Dia, dibalas dengan anugerah-Nya yang cukup untuk menghadapi masalah hidup. Mereka yang dengan tekun mencari Dia, menghasilkan buah Roh yang indah, sehingga mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dewasa dalam iman, yang menyenangkan Bapa Surgawi kita. Ketika kita beristirahat dalam kekuatan-Nya yang cukup dalam hidup kita, kita selalu menemukan bahwa hanya itu yang kita butuhkan; tetapi seberapa sering kita melupakan kedamaian sempurna yang Dia janjikan, hanya karena kita mengandalkan diri sendiri di hadapan Juruselamat kita, atau karena memilih hidup sesuai dengan standar dunia daripada apa yang telah Allah firmankan dan janjikan.
Pagi ini kita harus percaya bahwa semakin kita mempercayai firman Tuhan, percaya semua yang Dia katakan, beriman pada janji-janji-Nya, percaya Dia adalah pemberi upah bagi orang yang dengan sungguh-sungguh berusaha mengenal Dia, semakin kita akan bertumbuh dalam kasih karunia, dewasa dalam iman, berjalan dalam roh dan kebenaran dan menyenangkan Dia – karena barangsiapa yang memiliki banyak, lebih banyak lagi yang akan diberikan. Mereka yang mengabaikan firman dan perintah Tuhan akan mengalami kekeringan rohani yang pada akhirnya membawa kesengsaraan selama hidup di dunia akibat dosa yang makin menguasai hidup mereka.