“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Efesus 1: 3-8

Doktrin predestinasi secara khusus berkaitan dengan pertanyaan tentang tujuan akhir kita. Hanya ada dua tujuan yang terbuka bagi kita sebagai manusia. Pada akhirnya, tujuan itu adalah surga atau neraka, yaitu berada dalam keadaan selamat atau berada dalam keadaan terkutuk. Predestinasi berkaitan dengan hal-hal yang terjadi sebelum (“pre”) kita tiba di tempat tujuan (“destinasi”) itu. Itu berkaitan dengan keterlibatan Tuhan dalam hasil akhir hidup kita.
Ketika kita berbicara tentang doktrin predestinasi, kita tidak berbicara secara khusus tentang pertanyaan apakah Tuhan secara langsung menyebabkan terjadinya kecelakaan mobil, atau apakah Anda telah ditentukan sebelumnya untuk duduk di kursi yang Anda duduki saat ini. Memang ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan secara langsung menetapkan ha-hal seperti di atas karena mereka mempunyai pandangan fatalis. Mereka menafsirkan ayat dibawah ini sebagai pernyataan bahwaTuhan adalah penyebab langsung dari setiap kejadian di alam semesta.
“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Matius 10:29-31
Predestinasi tidak berkaitan dengan pertanyaan sehari-hari tentang apakah saya ditakdirkan untuk menyapu lantai hari ini atau tidak. Itu akan jatuh di bawah tajuk teologis pemeliharaan (providence) yang pada prinsipnya menyatakan bahwa Tuhanlah yang memberi kemungkinan untuk terjadinya suatu hal. Pertanyaan-pertanyaan mengenai perbuatan kita dalam hidup di dunia adalah pertanyaan yang sah untuk teologi, tentang seberapa banyak kedaulatan Allah terlibat dalam tindakan dan aktivitas kita sehari-hari dan seterusnya. Tetapi doktrin predestinasi adalah berkaitan dengan pertanyaan tentang keselamatan di surga.
Predestinasi berkaitan dengan pilihan Tuhan terkait keselamatan manusia. Barangkali tampak aneh bagi Anda, tetapi semua orang Kristen di zaman ini setuju bahwa predestinasi adalah sesuatu yang Tuhan lakukan. Mungkin juga mengejutkan Anda bahwa dua aliran teologi Protestan terbesar, Arminian dan Reformed, setuju bahwa Tuhan membuat pilihan ini tentang tujuan akhir kita bahkan sebelum kita dilahirkan, seperti apa yang tertulis dalam ayat-ayat Efesus 1: 3-8 di atas.
Pandangan pertama: Pilihan Tuhan untuk menyelamatkan Anda adalah berdasarkan pengetahuan-Nya sebelumnya tentang sesuatu yang Dia lihat di koridor waktu dan melihat bahwa Anda akan melakukannya. Misalnya, melihat ke bawah koridor waktu, Dia tahu bahwa Anda akan menanggapi Injil secara positif, bahwa Anda akan memilih Kristus ketika ada kesempatan bagi Anda, dan kemudian, karena mengetahui bahwa Anda akan memilih Kristus, Allah memilih Anda untuk diselamatkan. Tetapi Dia mendasarkan pilihan itu pada pengetahuan-Nya sebelumnya tentang keputusan Anda. Jadi Tuhan memilih Anda untuk diselamatkan, tetapi Dia memilih Anda karena sesuatu yang Dia lihat sebelumnya dalam hidup Anda. Keputusan Anda untuk memilih Kristus adalah hal yang menyelamatkan Anda.
Pandangan kedua: Apa yang Tuhan lihat sebelumnya dalam hidup Anda tidak ada hubungannya dengan pilihan-Nya atas Anda. Pilihan-Nya semata-mata karena kesenangan kehendak-Nya tanpa mempertimbangkan apa pun yang mungkin atau tidak mungkin Anda lakukan di masa depan. Walaupun demikian, respon Anda tetap diperlukan atas tawaran keselamatan yang datang dari Allah. Allah sudah memberikan karunia-Nya yang berupa iman, yang membuahkan pertobatan, kepada mereka yang dipilih-Nya. Untuk itu Anda harus memelihara iman Anda dengan kesetiaan seumur hidup seperti apa yang ditulis rasul Paulus.
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4:7-8
Gereja Katolik mengizinkan berbagai pandangan tentang predestinasi, tetapi ada poin-poin tertentu yang tegas: “Allah tidak menakdirkan siapa pun untuk pergi ke neraka; untuk dibuang ke neraka, diperlukan penolakan yang disengaja terhadap Allah (dosa moral yang berat), dan ketekunan di dalam dosa sampai akhir” (KGK 1037). Itu juga menolak gagasan pemilihan oleh Allah tanpa syarat, dan sebaliknya menyatakan bahwa ketika Allah “menetapkan rencana kekal-Nya, Allah memasukkan di dalamnya unsur kehendak bebas setiap orang terhadap kasih karunia-Nya” (KGK 600).
Dengan adanya perbedaan pandangan teologis di atas, terjadilah perdebatan yang cukup sering antar golongan. Tetapi, apa yang disetujui oleh setiap orang Kristen adalah bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang berdaulat. Bagaimana kedaulatan Allah bekerja dalam masalah keselamatan adalah apa yang memisahkan pandangan-pandangan di atas. Paulus menjelaskan hal ini dalam kitab Roma 9.
Sebab Ia berfirman kepada Musa: ”Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9:15
Roma 9 dimulai dengan Paulus menggambarkan penderitaannya bagi bangsanya Israel dalam penolakan mereka terhadap Kristus. Setelah menggambarkan semua keistimewaan yang diberikan Allah kepada bangsa Yahudi sebagai suatu bangsa, Paulus menegaskan bahwa Allah akan menepati janji-janji itu. Namun, tidak setiap orang yang lahir di Israel adalah milik Israel, tulisnya. Tuhan berhak untuk menunjukkan belas kasihan kepada beberapa dan bukan yang lain, seperti yang ditunjukkan Paulus dari Kitab Suci. Tuhan itu seperti tukang tembikar yang menciptakan beberapa bejana untuk kehancuran dan yang lainnya untuk kemuliaan. Allah telah memanggil umat-Nya baik dari bangsa lain maupun Yahudi untuk beriman kepada Kristus.
Roma 9:1–18 mendapati Paulus patah hati atas penolakan terhadap Kristus oleh bangsanya, orang Yahudi. Mereka telah diberi begitu banyak berkat sebagai umat pilihan Allah, dan Paulus menegaskan bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya kepada Israel. Namun, tidak semua orang yang lahir di Israel adalah benar-benar bani pilihan-Nya, tulis Paulus. Demikian juga, tidak semua orang mengaku Kristen adalah benar-benar orang pilihan-Nya. Contoh-contoh khusus dari bani Israel diberikan untuk menunjukkan bahwa Allah memang memilih mereka yang akan menerima karunia-Nya. Ia kemudian juga mempertimbangkan apakah pilihan ini, menurut kebijakan-Nya, adalah adil. Dengan demikian, pada saat penghakiman akhir, tidak ada seorang pun yang dapat berdalih dan menyatakan bahwa Allah tidak adil.
Sebelumnya, Paulus telah menolak gagasan bahwa Allah tidak adil dalam memilih Yakub dan bukan Esau untuk menerima janji-janji perjanjian-Nya bahkan sebelum anak laki-laki kembar itu lahir (Roma 9:12-14). Kemudian Paulus mengutip perkataan Tuhan kepada Musa dari Keluaran 33:19. Tuhan memberikan kepastian bahwa Dia akan bersama Musa saat memimpin anak-anak Israel. Nyatanya, Tuhan sedang bersiap untuk menyatakan diri-Nya kepada Musa dengan membiarkan Musa melihat sekilas kemuliaan-Nya. Dia telah setuju untuk menunjukkan kepada Musa manifestasi fisik dari sifat sejati-Nya (Keluaran 33:21–23).
Dalam konteks itu, Tuhan berkata bahwa Dia akan menunjukkan belas kasihan dan kasih sayang kepada siapa pun yang Dia pilih. Hak untuk memutuskan siapa yang menerima karunia (karunia apa pun, bukan hanya keselamatan) dari Tuhan adalah keputusan yang diberikan secara tepat oleh Tuhan sendiri. Paulus menawarkan kutipan ini untuk menunjukkan bahwa Tuhan tetap berhak memilih untuk diri-Nya sendiri, hanya berdasarkan diri-Nya sendiri, kepada siapa Dia akan memberikan perkenanan-Nya. Tuhan tidak harus mengandalkan kriteria lain atau memakai satu standar “baik dan buruk” untuk membuat pilihan seperti itu karena setiap orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 4:23).
Mungkin itu bukan argumen yang sangat meyakinkan bahwa Tuhan adalah adil dalam memilih satu dari yang lain. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh perikop ini, Paulus belum selesai membuat kasusnya. Ayat berikutnya berbunyi:
“Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” Roma 9:16
Jelas bahwa manusia menerima keselamatan berdasarkan kedaulatan Allah untuk memilih, dan itu adalah bergantung kepada kemurahan hati Allah, yaitu kepada kasih-Nya. Kasih Allah yang sangat besar kepada seluruh umat manusia memungkinkan semua umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dan seharusnya binasa, untuk bisa mendapatkan pengampunan dan menerima keselamatan. Itu jika mereka mempunyai iman kepada-Nya dan bertobat dari hidup lamanya, karena keselamatan hanya datang melalui iman dan pertobatan yang dimungkinkan oleh Allah sendiri.
Pagi ini, sebagai orang percaya, kita tidak hanya yakin atas kedaulatan Tuhan, tetapi juga kepada kemurahan dan kasih-Nya. Jika kita terlau terpukau pada kedaulatan Tuhan kita akan meremehkan kasih-Nya kepada setiap ciptaan-Nya dan mengabaikan respon manusia kepada panggilan-Nya. Sebaliknya, jika kita terlalu menekankan kasih-Nya, kita akan lupa bahwa Tuhan berhak memutuskan apa saja, menurut apa yang disenangi-Nya, dan tidak dapat dipengaruhi oleh tindakan manusia. Teologi Predestinasi tidaklah menentukan apakah kita diselamatkan atau tidak, tetapi akan memengaruhi bagaimana kita hidup di dunia sebagai orang Kristen.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16