Pertumbuhan adalah tanda kehidupan (Bagian 1)

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18

Musim dingin hampir berakhir, dan suhu udara makin bertambah hangat. Berlawanan dengan bagian utara dunia yang akan memasuki musim gugur, musim semi di Australia dimulai pada bulan September. Pada akhir musim dingin ini, banyak orang yang membersihkan halamannya dari daun-daun yang jatuh dari pohon selama musim gugur dan musim dingin, sambil memotong ranting-ranting pohon yang berlelebihan. JIka pohon masih sehat, tentu musim semi akan membawa daun-daun baru. Pohon yang masih hidup tentu bisa terus bertumbuh, sekalipun bentuk dan skala pertumbuhannya tidak tetap sama selama hidup.

Pertumbuhan orang Kristen juga seperti pertumbuhan pohon. Dalam Mazmur 84 orang Kristen sebagai peziarah digambarkan sebagai orang yang semakin kuat berjalan sampai dia mencapai Sion. Selain itu, Paulus dalam Kolose 2:6-7 berbicara tentang orang Kristen yang berakar di dalam Kristus dan dibangun di dalam Dia, dan bertumbuh di dalam Dia dalam segala hal. Bagi orang Kristen, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa kita dilahirkan kembal; tetapi, sebagai bayi yang baru lahir mereka harus bertumbuh di dalam Kristus.

Banyak orang Kristen dilahirkan kembali ketika mereka masih muda. Dengan berlangsungnya waktu, mereka tentunya menjadi makin dewasa. Begitu juga ketika sebuah pohon cemara mencapai usia 60 atau 70 tahun, tentunya ia sudah tumbuh menjadi pohon yang besar. Bagaimana dengan kita? Orang Kristen tidak boleh berhenti bertumbuh, tetapi harus tetap bertumbuh di dalam Tuhan. Ini menyiratkan bahwa ketika kita telah mencapai sisi kehidupan yang lebih jauh, kita tidak akan bertindak seperti “anak-anak” lagi. Saat kita menjadi orang Kristen yang dewasa, kita juga bisa menerima makanan yang keras, tidak seperti seorang bayi rohani hanya bisa minum susu.

“Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.” 1 Korintus 3:2

Kita patut bertanya pada diri sendiri secara pribadi: Berapa banyak kita telah bertumbuh di dalam Tuhan sejak kita menjadi seorang Kristen? Atau, jika kita telah menjadi dewasa selama beberapa waktu, seberapa besar kita bertumbuh selama ini? Apakah kita masih tumbuh? Apakah kita mau tumbuh?

Kita menemukan dalam kata-kata rasul Petrus di atas suatu pemikiran yang menghibur, tetapi juga nasihat yang menyadarkan – menghibur karena ketika kita bertumbuh kita akan memiliki lebih banyak buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Pada pihak yang lain, kita mungkin merasa sedih ketika kita menyadari betapa sedikitnya pertumbuhan kita selama ini.

Dengan cara apa kita harus bertumbuh? Ayat tulisan rasul Petrus di atas mengatakan bahwa kita harus bertumbuh “dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”. Ini berarti bahwa kita semakin menyadari fakta bahwa keselamatan hanya oleh kasih karunia, dan oleh karena itu Tuhanlah yang layak menerima segala kemuliaan. Bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus berarti kita belajar mengenal Dia lebih dalam melalui pengalaman. “Pengenalan” melibatkan persekutuan kasih. Di sini artinya kita bertambah dalam kasih Kristus, sehingga Dia terus-menerus menjadi Tuhan yang lebih kita kasihi. Ini menyiratkan bahwa kita semakin menaati perintah-perintah-Nya dan hidup menurut Firman-Nya.

Bertumbuh secara rohani pertama-tama berarti kita bertumbuh dalam pengetahuan akan dosa-dosa kita, pengetahuan bahwa kita di dalam diri kita sendiri adalah orang-orang berdosa yang terhilang tanpa harapan dan tak berdaya. Pada usia 50 tahun kita harus mengetahui hal ini lebih dari pada usia 20 tahun. Indikator yang baik dari pertumbuhan (growth) Kristen (bedakan dengan perbuatan baik, good works, dari orang Kristen) adalah kesadaran bahwa dosa-dosa kita membawa rasa sedih, yang kita rasakan bersama Paulus:

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7:15

Orang yang sering tidak merasakan adanya kesalahan dalam hidupnya, adalah orang yang tidak banyak bertumbuh di dalam Tuhan. Dan orang yang tetap melakukan hal yang salah dengan sengaja sekalipun ia bisa menghindarinya adalah orang yang tidak pernah bertumbuh atau mati rohaninya. Bersama Daud, kita bisa mengenang kembali masa muda kita, dan berkata,

“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.” Mazmur 25:7

.

Tinggalkan komentar