“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” Mazmur 27:10

Mazmur 27:7–14 mengungkapkan bahwa Daud, meskipun ia menyerahkan imannya kepada Tuhan, tidak kebal dari rasa takut. Pada bagian awal mazmur ini, Daud menyatakan alasannya untuk yakin kepada Tuhan. Namun di sini, David tampaknya memohon perlindungan Tuhan yang dibutuhkannya. Mengapa demikian? Seperti orang lain, David mengalami kecemasan dan terombang ambing di antara iman dan masalah kehidupan. Namun, bukannya menyerah pada rasa takut, Daud memilih untuk memercayai Tuhan, mengingatkan dirinya akan perlindungan Tuhan, dan datang kepada Tuhan dalam doa. Mazmur ini diakhiri dengan ekspresi lain dari kepercayaannya kepada Tuhan.
Apa maksud Mazmur 27:10? Daud tidak menyatakan dalam ayat ini bahwa orangtuanya telah benar-benar menelantarkannya. Menurut 1 Samuel 22:3–4, ketika Daud melarikan diri dari Saul, orang tuanya ada bersamanya. Karena khawatir terhadap keselamatan mereka, Daud menyerahkan mereka kepada raja Moab. Permintaannya kepada raja adalah, “Izinkanlah ayahku dan ibuku tinggal padamu, sampai aku tahu, apa yang dilakukan Allah kepadaku.” Pada ayat ini, Daud sebenarnya menggunakan ekspresi puitis untuk menunjukkan betapa yakinnya dia akan penyelamatan Tuhan. Doanya sekadar mencatat bahwa pemeliharaan Tuhan terhadap dirinya melebihi pemeliharaan orangtuanya. Nada kalimat ini, dalam konteksnya, seperti mengatakan “Meskipun…”.
Daud memaparkan alasan mengapa ia harus yakin akan perlindungan Tuhan. Daud kemudian beralih, hampir secara tiba-tiba, ke dalam permohonan yang tulus agar Tuhan menyelamatkan dia dari musuh-musuhnya. Kesan yang kita peroleh dari Mazmur 27 ini adalah Daud mengalami kesepian dan kegelisahan alamiah manusia dan menyikapinya dengan mengingatkan dirinya sendiri akan kebaikan Tuhan. Mazmur ini diakhiri dengan kepastian yang sama seperti yang diungkapkan ketika Mazmur itu dimulai.
“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!” Mazmur 27:13-14
Memang masalah kesepian dan kekuatiran itu masalah yang sangat umum di kalangan apa pun. Mereka yang muda mungkin kesepian karena hidup jauh dari orang tua atau karena ditinggal teman atau sanak saudara. Mereka yang sudah tua mungkin kesepian setelah ditinggal atau dilupakan oleh suami, istri, saudara, atau anak tersayang. Dalam kesepian, seseorang mungkin hidup di tengah keramaian, tetapi tetap merasakan bahwa hati dan pikirannya serasa kosong dan karena itu hidup serasa tidak ada artinya.
Sungguh, Tuhan mengasihi dan memelihara anak-anak-Nya. Rasul Petrus memerintahkan kita untuk menyampaikan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa Dia peduli pada kita.
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.1 Petrus 5:7
Lebih lanjut, Ibrani 13:5–6 meyakinkan kita bahwa kita dapat mengandalkan Tuhan sebagai penolong kita karena Dia telah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan atau mengabaikan kita.
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ”Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13:5-6
Kesepian dan kekuatiran adalah salah satu musuh besar manusia modern. Manusia yang makin individualis. Tiap orang, tua maupun muda, harus bisa menangani hidupnya sendiri. Teman, anak dan keluarga tidak dapat lagi diharapkan untuk memberi dukungan. Kekecewaan mungkin datang silih berganti dan segala aktivitas pelarian ternyata hanya memberi kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Hanya satu yang tidak pernah berubah: Tuhan itu ada dan Ia tetap mengasihi umatNya. KepadaNya kita berharap, didalam Dia kita menemukan kedamaian.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28