“Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6:20-22

Pernahkah anda merasa malu? Tentunya setiap orang pernah mengalami peristiwa yang memalukan dalam hidupnya. Mungkin itu hanya soal kecil seperti memakai pakaian yang kurang sesuai ke pesta, atau hal yang lebih besar seperti lupa mengerjakan tugas penting yang diberikan atasan.
Untuk hal yang kecil, biasanya orang lebih mudah melupakan rasa malunya, tetapi ada hal-hal lain yang signifikan yang membuat rasa malu sulit hilang dari pikiran. Dalam hal ini, ada hal yang sekalipun terasa kecil untuk seseorang, merupakan hal yang besar untuk orang lain. Walaupun demikian, ada orang yang tidak pernah merasa malu sekalipun ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain merasa sangat malu. Tidak tahu malu, istilahnya. Tetapi rasa malu karena dosa adalah soal pribadi, dan tiap orang agaknya mempunyai kesadaran yang berbeda.
Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Hal ini menyebabkan rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus membawa kita menjadi seperti Yesus dan hidup kekal. Kita harus mengabdi pada kebenaran, bukannya dosa. Ini adalah ciri orang Kristen yang sejati.
Roma 6:15–23 menanyakan mengapa kita tidak boleh terus berbuat dosa setelah kita beriman kepada Kristus dan tidak lagi berada di bawah hukum Musa. Paulus menjawab bahwa kita dapat terus menjalani hidup dalam perbudakan dosa secara sukarela, sesuai dengan kodrat lama kita, jika kita tidak melawan dosa. Sebaliknya, jika kita benar-benar orang pilihan, kita akan hidup seolah-olah kebenaran adalah majikan kita, dan dalam arti tertentu, memang demikianlah kebenaran menentukan cara hidup kita. Kita harus menaati kebenaran dibandingkan keinginan kita yang berdosa, karena kita sekarang memahami konsekuensi dosa. Daripada malu dan mati, kita harus mengabdi pada Tuhan yang memberikan hidup kekal sebagai anugerah.
Paulus hanya mengemukakan dua realitas yang mungkin terjadi pada umat manusia. Pada awalnya, kita semua adalah budak dosa, yang berarti kita berada di bawah paksaan untuk menuruti keinginan dosa kita. Sebaliknya, mereka yang menyatakan iman yang menyelamatkan dalam Kristus adalah “budak kebenaran,” yang berarti kita begitu dekat dengan Kristus sehingga sudah menjadi sifat kita untuk melayani kebenaran.
Hal ini tidak memberikan ruang bagi pilihan ketiga. Manusia tidak bisa mandiri secara moral atau netral. Orang Kristen tidak boleh mengabaikan dosa karena merasa sudah diampuni Tuhan. Tidak ada pilihan moral selain melayani dosa atau melayani kebenaran. Hal ini konsisten dengan ayat-ayat Alkitab lainnya, yang menggambarkan hanya dua kategori kemanusiaan yang kekal: orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia hanya melalui iman (Efesus 2:8; Wahyu 22:1–5), dan orang berdosa yang menolak Allah dan terpisah dari Allah untuk selamanya (Yohanes 12:48; Wahyu 20:11–15).
Kemudian Paulus mempertimbangkan keuntungan dari kedua pilihan tersebut. Seperti di bagian lain dari kitab Roma, ia berbicara dari sudut pandang orang percaya yang telah diselamatkan—kata “kita” yang ia maksudkan adalah mereka yang beragama Kristen, bukan semua manusia. Di sini Paulus menulis bahwa ketika kita masih menjadi budak dosa, sebelum percaya kepada Kristus dan menjadi Kristen, kita bebas dalam hal kebenaran. Karena kita tidak mempunyai identitas di dalam Kristus, kita tidak mempunyai mandat atau panggilan untuk melakukan apa yang benar. Itu adalah sebuah kebebasan, dalam arti tertentu, tulis Paulus. Dia akan menunjukkan dalam ayat-ayat berikut bahwa kehendak bebas manusia semacam itu harus dibayar mahal.
“Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya?” Dan bagaimana hasilnya? Itulah pertanyaan yang Paulus ajukan mengenai pernyataannya pada ayat 20. Di sana, ia menulis bahwa sebelum pembacanya menjadi Kristen, mereka bebas dari kebenaran. Artinya, mereka tidak mempunyai keharusan, tidak ada paksaan, untuk melakukan apa yang benar di mata Allah. Sebagian orang mungkin melihat kebebasan dari kebenaran ini sebagai hal yang berharga, namun Paulus segera menunjukkan bahwa hal ini selalu mengarah pada rasa malu dan kematian, jika dibandingkan dengan kehidupan masa depan penuh sukacita yang dapat kita bayangkan. Paulus menantang para pembacanya untuk menggambarkan apa yang sebenarnya mereka peroleh dari hidup bebas dari kebenaran. Buah apa yang dihasilkannya? Hasil apa yang didapat dari hal itu?
Akibat jangka panjang dari hidup bebas dari kendali kebenaran adalah rasa malu. Kita semua yang pernah menuruti keinginan untuk bebas dari kebenaran sebelum kita percaya kepada Kristus mungkin merasa malu dengan konsekuensi yang timbul karena menuruti keinginan kita yang berdosa. Ini adalah semacam “rasa malu”, sebuah evaluasi yang tepat atas rasa sakit yang ditimbulkan oleh pilihan-pilihan kita yang penuh dosa. Memang ada banyak dosa yang bisa menghancurkan hidup kita di dunia. Yang lebih parah lagi bagi mereka yang terus hidup bebas dari kebenaran adalah kematian rohani. Semua dosa pada akhirnya mengarah pada kematian kekal dan keterpisahan dari Tuhan di neraka. Ini adalah “buah” utama dari kehidupan yang bebas dari kendali kebenaran Tuhan.
Hari ini, marilah kita menganalisa hidup pribadi kita. Marilah kita memikirkan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita sampai sekarang. Apakah kita sudah memakai segala apa yang kita punyai untuk memuliakan Tuhan dalam segala kesempatan yang diberikan-Nya? Apakah kita merasa puas dengan pujian orang lain atas hidup kita yang terlihat indah di depan umum? Ataukah kita secara pribadi mengakui bahwa kita masih sering mementingkan apa yang kita senangi saja dan melupakan rasa malu kepada Tuhan yang sudah mencurahkan kasih-Nya yang sungguh besar kepada kita? Semua itu hanya bisa dijawab oleh setiap orang percaya secara pribadi sesuai dengan panggilan Tuhan dan bukannya dengan mendengarkan pendapat dunia. Semoga pencerahan Roh Kudus bisa kita rasakan dan sadari dalam hidup kita.
“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20