Apa arti kedaulatan Tuhan dalam hidup manusia?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Kedaulatan Tuhan mengacu pada fakta bahwa Tuhan memegang kendali penuh atas alam semesta. Kepercayaan akan kedaulatan Tuhan berbeda dengan fatalisme, yang mengingkari kehendak bebas manusia. Manusia mampu membuat pilihan sejati yang mempunyai konsekuensi nyata. Tuhan tidak secara langsung menyebabkan segala sesuatu terjadi, namun Dia mengijinkan semua itu terjadi. Dan pada akhirnya, kehendak Tuhan akan terkabul. Pada awalnya pernyataan-pernyataan ini mungkin tampak tidak penting bagi kehidupan sehari-hari seseorang dan lebih cocok untuk diskusi teologi. Namun kedaulatan Tuhan cukup praktis dan mempunyai dampak yang signifikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan karakteratau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Firdaus, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3). Dengan demikian, ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” kita memohon kepada Tuhan untuk meningkatkan kebenaran di dunia, membawa lebih banyak orang kepada pertobatan, dan memajukan kerajaan Putra-Nya. Ini juga menyangkut penyerahan hidup kita kepada-Nya.

Kedaulatan Tuhan (a) berdampak pada kehidupan sehari-hari karena menghilangkan semua alasan untuk khawatir. Kita dapat percaya bahwa pernyataan Alkitab tentang karakter Allah didukung oleh kemampuan-Nya. Tuhan tidak hanya mengasihi kita, tetapi Dia mempunyai kemampuan untuk memelihara kita. Mereka yang menjadi bagian dari keluarga Allah dapat menuntut janji dalam Roma 8:28 di atas. Kita dapat yakin bahwa Tuhan kita mampu melakukan segala sesuatu demi kebaikan kita, sekalipun kita tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana hal itu bisa terjadi.

Kedaulatan Tuhan berdampak pada kehidupan sehari-hari dimana kita dapat mempercayai pekerjaan pengudusan Tuhan dalam diri kita. Sering kali orang-orang Kristen merasa bahwa kedewasaan iman sepenuhnya bergantung pada mereka, seolah-olah Tuhan menyelamatkan kita dan kemudian mengharapkan kita melakukan sisanya. Orang-orang Kristen memang berperan dalam kedewasaan mereka sendiri. Sesuai dengan kehendak Tuhan (b) di atas, kita tentu saja dipanggil untuk taat, dan apa yang kita lakukan penting. Namun, dengan menyadari bahwa Allah berdaulat, kita juga percaya bahwa Dia akan membawa kita kepada kedewasaan (Galatia 3:3 dan Filipi 1:6). Ayat selanjutnya dari Roma 8 berbuntyi:

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Kalau begitu, apa yang harus kita katakan sebagai tanggapan terhadap hal-hal ini? Jika Tuhan di pihak kita, siapa yang bisa melawan kita? Keselamatan kita telah menjadi rencana kedaulatan Allah sejak kekekalan. Daripada fokus pada kinerja kita sendiri, kita bisa bersandar pada karakter Tuhan dan berfokus untuk benar-benar mengenal Dia sesuai dengan kehendak Tuhan (c).

Bahwa Allah berdaulat berdampak pada identitas kita. Ketika kita memahami betapa berkuasanya Tuhan dan betapa Dia mengasihi kita, kita dapat mengetahui bahwa kita aman di dalam Dia. Sebagai objek kasih Tuhan yang berdaulat, kita membiarkan Tuhan mendefinisikan kita dan memberi kita nilai hidup yang berbeda dengan standar duniawi. Ketika kita memahami bahwa Tuhan memegang kendali penuh, kita dibebaskan untuk menjalani hidup kita. Kita tidak perlu takut akan kegagalan atau kehancuran akhir (Roma 8:1). Kita tidak perlu takut akan ketidakberhargaan. Kita dapat yakin bahwa Tuhan akan menentukan jalannya dan itu akan baik. Kita dapat percaya bahwa Dia yang mengatakan bahwa Dia mengasihi kita mampu bertindak berdasarkan kasih itu dalam segala hal. Kita dapat percaya bahwa, bahkan ketika dunia tampak di luar kendali, Tuhanlah yang memegang kendali. Kita tahu karakter-Nya, jadi kita bisa memercayai Dia dengan kehidupan sehari-hari kita.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa kedaulatan Allah seharusnya berdampak positif pada kehidupan kita saat ini karena kedaulatan Allah membebaskan kita dari ketakutan dan kekhawatiran, memberi kita keyakinan pada Firman-Nya dan sifat-Nya, meyakinkan kita akan kasih-Nya yang terus-menerus bagi kita, dan ini memungkinkan kita menghadapi masa depan tidak menentu dengan keyakinan dan sukacita.

Tinggalkan komentar