Siapakah musuh Anda?

Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” 2 Korintus 11: 14-15

Apakah ada orang yang tidak mempunyai musuh? Anda mungkin mengenal seorang yang begitu ramah kepada semua orang, dan disenangi oleh semua orang. Mungkin saja Anda merasa bahwa tidak ada orang yang memusuhi Anda karena Anda selalu berbaik hati kepada semua orang. Mungkin juga, Anda menasihati anak Anda untuk berteman dengan semua orang, agar tidak mempunyai musuh. Teman sejati adalah sulit didapat, satu musuh saja sudah terlalu banyak – mungkin itu nasihat Anda. Tetapi dalam kenyataannya, setiap orang Kristen pasti mempunyai musuh sekalipun ia tidak sadar. Yesus bahkan mempunyai banyak musuh, dan pada akhirnya Ia disalibkan karena ulah orang-orang yang menjahati-Nya.

Musuh adalah orang yang tidak menyukai atau membenci orang lain dan berusaha menyakiti, menentang, dan melawan orang yang menjadi lawannya. Jadi, musuh Tuhan adalah orang yang menentang kehadiran dan tujuan Tuhan di dunia ini. Iblis dan pengikutnya.

Setelah pertobatan kita kepada Kristus, kita mendapatkan beberapa musuh yang berusaha menghambat pertumbuhan rohani kita dan bahkan menyebabkan kita meninggalkan jalan kesetiaan. Beberapa dari musuh ini bersifat eksternal. Misalnya, dunia yang sudah jatuh dalam dosa membenci Kristus dan semua orang yang dipersatukan dengan-Nya oleh iman (Yohanes 7:7), dan dunia ini berusaha membuat kita berbagi prioritas dan kasih secara tidak teratur. Musuh lainnya adalah musuh internal. Kita harus berperang melawan kedagingan -sisa-sisa dari sifat kita yang berdosa – jika kita ingin mengembangkan kasih terhadap apa yang Allah kasihi (Roma 8:1-11).

Musuh terbesar yang harus kita hadapi dalam pengudusan kita juga bersifat eksternal. Kita berbicara tentang iblis, malaikat yang jatuh yang telah memberontak melawan Tuhan dan berupaya mengajak orang lain untuk ikut serta dalam perjuangannya. Iblis adalah musuh yang nyata, meskipun banyak orang yang menganggapnya enteng. Kita jarang mendengar orang-orang berjuang mati-matian melawan iblis di saat ini, namun catatan sejarah gereja dipenuhi dengan kisah-kisah tentang orang-orang kudus yang berperang melawan iblis dan antek-anteknya. Martin Luther, misalnya, sering menulis tentang pertarungannya melawan iblis, bahkan mengaku pernah melihatnya sesekali. Masuk akal jika Luther memiliki pengetahuan pengalaman yang begitu kuat tentang iblis, karena iblis sangat suka menyerang Injil, dan Luther berada di garis depan dalam pemulihan Injil terbesar sejak masa para rasul.

Iblis kemungkinan besar mengincar sasaran yang lebih besar daripada kebanyakan dari kita, namun itu tidak berarti kita tidak akan diserang oleh roh jahat atau setan. Kita tidak boleh menganggap bahwa sebagai anak Tuhan, kita tidak dapat disiksa iblis. Kita tahu bahwa ada sekumpulan setan yang mengikuti petunjuk iblis (Markus 5:1-20), dan kita akan berada dalam bahaya rohani yang besar jika kita tidak siap untuk mengakui pekerjaan mereka.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Tidak semua musuh yang kita hadapi mempunyai iblis di baliknya. Sifat kedagingan kita dan dunia tidak memerlukan bantuan dalam menggoda kita untuk berbuat dosa. Namun, iblis berkeliaran di bumi seperti singa, berupaya memangsa mangsanya, dan kita perlu menyadari bagaimana dia dan pasukannya sering kali menampilkan diri. Musuh-musuh licik ini sering kali tidak terlihat jahat. Faktanya, mereka cenderung menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:14-15).

Iblis dan pengikutnya dapat dan bahkan sering menyembunyikan apa yang jahat di bawah apa yang kelihatannya baik, indah, dan menarik. Mereka memutarbalikkan kebenaran, menjadikan kebohongan tampak masuk akal di telinga kita karena mereka berusaha membawa kita ke dalam kesalahan rohani yang serius. Misalnya, ke arah kesimpulan bahwa sesudah diselamatkan kita pasti aman dan bahagia. Hanya orang-orang Kristen yang bijak yang akan mengenali iblis ketika ia sedang bekerja. Oleh karena itu, kita harus berupaya untuk “melatih daya pengamatan kita melalui praktik yang terus-menerus untuk membedakan yang baik dari yang jahat” (Ibrani 5:14). Kita melakukan ini dengan bertumbuh dalam pemahaman kita akan doktrin alkitabiah.

Selain iblis, Alkitab menyebutkan banyak musuh lain dari Allah dan umat-Nya. Siapa pun yang tidak menaati perintah Tuhan dinyatakan sebagai musuh Tuhan. Dosa membuat kita menentang Allah: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat” (Kolose 1:21a). Rasul Paulus menyebut orang-orang berdosa yang belum diselamatkan sebagai musuh Allah: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5: 10).

Alkitab mengidentifikasi Setan, iblis, sebagai musuh spesifik Allah (1 Timotius 5:14-15). Sepanjang sejarah, sebagai musuh Tuhan, Setan berupaya menggagalkan rencana Tuhan, merugikan manusia, dan menjauhkan mereka dari Tuhan. Sepanjang sejarah umat Israel, umat Allah berjuang melawan musuh-musuh yang berkomitmen untuk menghancurkan mereka. Bangsa Mesir, Kanaan, Filistin, dan Babilonia hanyalah beberapa dari sekian banyak bangsa musuh yang kejam dan menindas yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Bangsa-bangsa tersebut, ketika menentang umat Allah, dianggap sebagai musuh Allah, dan Allah berperang demi kepentingan Israel (lihat 2 Raja-Raja 19). Sampai sekarang, bangsa Israel masih mengalami hal ini, sekalipun keadaan itu mungkin berkaitan dengan sikap mereka yang menentang Kristus.

Hari ini kita diingatkan bahwa Kristus sudah memberikan teladan bagi umat Kristiani untuk diikuti setiap kali mereka menghadapi musuh-musuh Allah dan ancaman-ancaman mereka: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.’” (1 Petrus 2:21–24).

Tinggalkan komentar