“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.“ Efesus 6:10

Apakah Anda bisa melihat bagaimana orang Kristen hidup dan bekerja di dunia? Banyak orang Kristen yang hidupnya tidak berbeda dengan orang bukan Kristen. Bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa orang Kristen hanya terlihat seperti orang yang jujur dan saleh pada hari Minggu saja, selama berada di gereja. Begitu keluar dari gedung gereja, mereka sama saja dengan orang lainnya. Sebagai orang yang mengaku Kristen, mereka mungkin belum pernah belajar dari Efesus 6 tentang cara hidup di dunia.
Paulus memulai surat Efesus 6 dengan memberikan instruksi khusus kepada anak-anak dan ayah, masing-masing menekankan kepatuhan dan kesabaran. Ia juga mengarahkan para pelayan untuk melayani dengan keikhlasan dan niat baik, seolah-olah bekerja untuk Kristus. Para majikan diperingatkan untuk tidak bersikap kasar karena Tuhan yang sama yang menghakimi semua orang tanpa pilih kasih. Paulus kemudian menyatakan bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk menggunakan alat yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertahan dari serangan iblis dan menolak godaan dunia. Ini dibayangkan sebagai bagian perlengkapan perang seorang prajurit.
Paulus mengingatkan orang-orang percaya bahwa kehidupan Kristen berarti ikut serta dalam peperangan rohani. Dari pengalamannya sendiri, sang rasul mengetahui bahwa pertentangan itu nyata dan peperangannya sangat sengit: “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” (Efesus 6:12–13).
Efesua 6 ayat 10 sampai 18 adalah bagian Alkitab yang terkenal dan banyak digunakan. Ayat-ayat ini memberikan garis besar setiap bagian dari perlengkapan senjata Allah yang bersifat metaforis. Masing-masing bagian berhubungan dengan bidang kehidupan spiritual yang penting untuk bersandar pada kekuatan Tuhan. Penggambaran Paulus mengenai komponen-komponen ini akan diakhiri dengan fokus pada doa (Efesus 6:18-20), sekali lagi memohon kekuatan dan kesuksesan kepada Tuhan dalam pertempuran. Hanya dengan mengandalkan Tuhan, melalui alat spiritual ini, kita dapat mengatasi kejahatan spiritual dan berhasil mewujudkan kehendak Tuhan.
Ayat 10 di atas memperkenalkan dasar dari keseluruhan dari instruksi Paulus. Yakni kekuatan, melalui Tuhan, dan dari Tuhan. Karena orang-orang percaya terlibat dalam peperangan rohani yang terus-menerus melawan kuasa kegelapan, mereka tidak dapat bertahan tanpa kuasa Allah. Menjadi kuat di dalam Tuhan dan kuasa kuasa-Nya sangat penting untuk menjalani kehidupan Kristen yang menang atas godaan dosa.
Penting bagi kita untuk memahami apa yang dimaksud dengan “menjadi kuat di dalam Tuhan”. Dalam bahasa Yunani aslinya, istilah ini merupakan kata kerja kalimat pasif yang berarti “dibuat (lebih) mampu atau mampu melakukan suatu tugas.” Menjadi kuat di dalam Tuhan tidak berarti membangun kekuatan Anda sendiri. Orang percaya tidak dapat menguatkan dirinya sendiri; sebaliknya, mereka harus diberdayakan atau diperkuat oleh Tuhan.
Hanya ketika hidup kita diposisikan di dalam Tuhan, dalam kesatuan dengan Dia, barulah kita memiliki kekuatan yang tepat untuk mengalahkan musuh. Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4–5).
Pemberdayaan orang percaya datang dari keberadaannya di dalam Yesus. Di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi di dalam Kristus kita mempunyai segenap kekuatan kuasa-Nya. Melalui panggilan tinggi Allah dalam Kristus Yesus, kuasa Tuhan membuat kita mampu berjuang. Dia menguatkan kita dengan segala yang kita butuhkan untuk tugas apa pun.
Ketika Paulus mendorong orang percaya untuk “menjadi kuat di dalam Tuhan,” dia memanggil mereka untuk setia—untuk tinggal di dalam Kristus dan percaya pada kuasa Tuhan dalam segala hal dalam hidup. Kekuatan Kristen sejati datang dari kesadaran kita akan ketergantungan sepenuhnya pada Tuhan. Inilah yang Paulus maksudkan ketika ia menulis, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).