Mengapa Anda merayakan Natal pada tanggal 25 Desember?

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:11-14

Dua hari lagi kita akan merayakan hari Natal. Tetapi tidak semua orang Kristen merayakannya pada tanggal 25 Desember. Itu karena tanggal 25 Desember bukan hari kelahiran Yesus. Lebih lanjut, sebagian orang Kristen menyatakan bahwa perayaan Natal sekarang ini bersifat pagan.

Tanggal 25 Desember mulai dipakai sebagai tanggal Natal pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga seperti yang diusulkan oleh sejarawan Sextus Julius Africanus. Africanus, menulis volume berjudul Chronographiai, sebuah risalah Kristen mula-mula yang berupaya membahas sejarah dunia secara kronologis mulai dari penciptaan hingga zamannya. Berdasarkan perhitungan pembacaan Injil Lukas dan Matius, Africanus menyimpulkan bahwa Yesus dikandung pada tanggal 25 Maret. Untuk kelahirannya, ia menghitung sembilan bulan ke depan yang membuatnya jatuh pada tanggal 25 Desember.

Africanus tidak sendirian dalam menentukan tanggal kelahiran Yesus. Seorang kontemporer dari Africanus, Hippolytus dari Roma, menulis komentar mengenai kitab Daniel pada awal abad ketiga di mana ia juga menyatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Pada tanggal ini juga ada perayaan pagan. Karena itu ada orang Kristen yang menyatakan bahwa hari Natal yang kita kenal tidak seharusnya dirayakan.

Memang benar Sol Invictus, festival memperingati Dewa Matahari Romawi, jatuh pada tanggal 25 Desember. Namun, ada bukti sejarah bahwa festival ini jatuh pada awal bulan Desember, bukan pada akhir bulan Desember. Dalam karyanya The Origins of the Liturgical Year, sejarawan Thomas Talley berpendapat bahwa “lebih mungkin Kaisar Romawi Aurelian memindahkan Sol Invictus ke tanggal 25 Desember untuk bersaing dengan laju pertumbuhan agama Kristen”.

Thomas Talley membuat pengamatan yang menarik bahwa pada abad ketiga dan keempat, agama Kristen jelas-jelas sedang bangkit dan para penganut paganisme tradisional Romawi sedang terjun bebas. Pergeseran praktik keagamaan ini sebenarnya dimulai satu abad sebelumnya pada masa Romawi, tulis  Gaius Plinius Caecilius Secundus, yang dikenal sebagai Pliny the Younger. Pliny adalah seorang pengacara Romawi yang sukses dalam menuntut korupsi, pejabat pemerintah (termasuk bendahara), dan penulis surat-surat terkenal yang melukiskan gambaran penting dunia Romawi sepanjang masa hidupnya.Pliny mencatat (mungkin secara hiperbolik) bahwa kuil-kuil Romawi menjadi kosong karena begitu banyak warga Romawi yang berpindah agama menjadi Kristen. Julian, yang menjadi Kaisar Romawi selama tiga tahun pada abad keempat, menulis tentang rasa frustrasinya terhadap kurangnya pengabdian agama Romawi terhadap berhala, dan secara khusus menyalahkan umat Kristen atas krisis iman orang Romawi ini.

Semua data ini membuat kita bingung: apakah pada abad ketiga dan keempat semakin banyak orang Kristen yang meniru orang-orang kafir, yang jumlah penganutnya menurun tajam, dalam upaya terakhir untuk mengubah mereka yang tidak percaya? Atau, sebaliknya, apakah orang-orang kafir yang putus asa itu meniru orang-orang Kristen yang iman dan praktiknya semakin populer? Berdasarkan semua bukti yang ada, semakin banyak sejarawan kuno yang menunjukkan bahwa kesimpulan terakhir adalah yang benar.

Selain Sol Invictus, yang tampaknya ditetapkan pada tanggal 25 Desember setelah umat Kristen mengakui bahwa itu adalah tanggal kelahiran Yesus – tidak ada hari raya dan perayaan pagan kuno lainnya yang jatuh pada tanggal tersebut. Tetapi, Saturnalia, dirayakan 14 hari sebelum bulan Januari. Perlu diingat bahwa kalender Romawi kuno pada saat itu memiliki dua hari lebih banyak di bulan Desember dibandingkan kalender kita saat ini, yang menempatkan Saturnalia pada tanggal 17 Desember. Pesta Brumalia dan Bacchus juga dirayakan di awal musim, pada akhir November.

Mengingat semua perayaan ini akan jatuh sebelum tanggal 25 Desember, maka jika perayaan Natal orang Kristen merupakan upaya untuk meniru dan menggantikan perayaan pagan, maka mereka melakukan hal yang bodoh. Mengapa? Orang-orang kafir bisa saja dengan mudah merayakan hari raya kafir tradisional mereka pada hari-hari dan bulan-bulan menjelang tanggal 25 Desember dan dengan mudah merayakan Natal di akhir bulan, bukan sebagai pengganti tetapi sebagai tambahan.

Kenyataannya umat Kristiani telah mengakui dan merayakan inkarnasi dan kelahiran Yesus selama beberapa dekade sebelum munculnya berita tentang adanya perayaan kafir lainnya pada tanggal 25 Desember. Pada tahun 386 M, John Chrysostom mengatakan bahwa Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember dan menggambarkannya sebagai “tradisi lama”. Kalender Philocalian, sebuah dokumen yang dibuat pada tahun 354 M untuk seorang Kristen Romawi kaya Valentinus, mencantumkan Natal sebagai hari libur pada tanggal 25 Desember.

Manakah yang lebih utama. merayakan Paskah atau Natal? Jika perayaan Paskah dikaitkan dengan perintah Yesus kepada para murid-Nya untuk merayakan Perjamuan Kudus di hari Jumat Agung, tidak ada satupun dalam Kitab Suci yang memerintahkan kita untuk merayakan kelahiran Yesus. Namun, hanya karena Alkitab tidak pernah secara spesifik memerintahkan kita merayakannya bukan berarti kita tidak boleh merayakan hari bahagia ini. Yesus sendiri melakukan perjalanan ke Yerusalem, sebagaimana dicatat dalam Yohanes 10, untuk merayakan hari raya pentahbisan, yang sekarang lebih dikenal sebagai Hanukkah.

Dibandingkan dengan Natal, Hanukkah bukanlah perayaan yang Alkitab nyatakan agar umat Allah turut serta di dalamnya. Hanukkah adalah perayaan orang Yahudi yang berasal dari periode antar-perjanjian, waktu antara kitab terakhir Perjanjian Lama dan permulaan kitab pertama Perjanjian Baru. Perayaan ini dimulai pada abad ke-2 SM, memperingati pemulihan Yerusalem dan peresmian Bait Suci kedua pada awal pemberontakan Makabe. Sudah tentu ini tidak ada hubungannya dengan orang Kristen bukan Yahudi.

Yesus tidak mempunyai masalah bepergian ke Yerusalem untuk merayakan hari raya pentahbisan. Meskipun tidak diperintahkan dalam Kitab Suci, hal ini sepenuhnya konsisten dengan Kitab Suci. Inkarnasi dan kelahiran Kristus, bersama dengan kematian dan kebangkitan Yesus, merupakan dua peristiwa yang paling menakjubkan sepanjang sejarah umat manusia. Karena itu, kita ingin meluangkan waktu khusus untuk merayakan peristiwa luar biasa ini. Kita dengan sengaja menyisihkan waktu dalam setahun seperti Adven, untuk mengantisipasi kedatangan Juruselamat kita.

Sebagian orang Kristen tetap berpendapat bahwa tidaklah baik kita merayakan Natal pada saat orang pagan merayakan hari yang sama untuk maksud tercela. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa Rasul Paulus menulis kepada gereja di Korintus mengenai mereka yang khawatir mengenai makan daging yang dipersembahkan kepada berhala:

“Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ”tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.” Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ”allah”, baik di sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak ”allah” dan banyak ”tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” 1 Korintus 8:4-6.

Tuhan membuat segalanya baik, dan hanya karena adanya orang-orang yang mencoba menafsirkan firman Tuhan menurut pengertian mereka, bukan berarti kita harus meniru mereka. Sekalipun sesuatu mempunyai arti bagi seorang penyembah berhala, bukan berarti demikianlah cara Tuhan melihatnya. Tuhan melihat hati kita, apakah kita merayakan Natal dengan ketulusan dan rasa syukur atas kasih-Nya, atau hanya sekadar untuk bersukaria.

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” Kolose 2:16

Selamat menyongsong hari Natal!

Tinggalkan komentar