”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14:26

Seorang Farisi mengundang Yesus ke jamuan makan malam formal. Di sana, Yesus mengajarkan pelajaran tentang ajakan untuk menjadi umat Tuhan dengan menggunakan undangan pesta sebagai temanya. Hal ini menekankan kerendahan hati orang yang diundang dan pentingnya tidak membuat alasan untuk tidak datang. Setelah makan malam, Yesus memperingatkan bahwa mereka yang berusaha mengikuti-Nya akan mengalami kesulitan. Mengapa? Orang-orang beriman harus “menghitung dampak menjadi pengikut Kristus” dan memahami aspek-aspek apa saja di dunia ini yang mungkin harus mereka tinggalkan.
Lukas 14:25–33 melanjutkan pelajaran Yesus tentang siapa yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah. Orang yang rendah hati, murah hati, dan tanggap akan menerima berkat Tuhan (Lukas 14:1–24). Tetapi, mereka yang ingin menjadi murid Yesus harus memperhitungkan harga yang harus dibayar untuk mengabdikan hidup mereka kepada-Nya dan memastikan bahwa mereka bersedia membayarnya. Masuk kerajaan Tuhan itu gratis karena karunia semata-mata, tapi menjadi warga negara surgawi yang berguna butuh pengorbanan. Bagian mengenai biaya pemuridan ini mirip dengan Matius 10:37–38.
Yesus memberikan definisi kepada orang banyak tentang seperti apa pemuridan itu. Kata “tidak dapat” dalam ayat di atas mempunyai arti non-realitas. Apa maksudnya? Menjadi murid Yesus berarti menjadikan Dia sebagai prioritas tertinggi: bahkan di atas orang-orang terkasih dan kehidupan. Jika tidak, itu bukanlah realitas. Mereka yang merasa Kristen tetapi tidak mau memprioritaskan Tuhan dalam hidup mereka, bukanlah orang Kristen sejati, tetapi orang yang hidup dalam impian sebab TUhan memberi kemampuan untuk itu kepada umat-Nya.
Ayat di atas agaknya sulit dimengerti. Alkitab dimaksudkan untuk ditafsirkan langsung, dalam arti bahwa Alkitab memaksudkan apa yang dikatakannya – namun apa yang dikatakannya tidak selalu dimaksudkan untuk berasal dari pembacaan kata-kata yang kaku, mekanis, dan dangkal. Para penulis Alkitab menggunakan metafora, antropomorfisme, dan kiasan lain termasuk hiperbola. “Hiperbola” adalah pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk mengungkapkan bobot pesan meskipun mungkin tidak mengungkapkan pesan yang spesifik. “Saya sangat lapar sehingga saya bisa makan seekor kuda” adalah contoh ungkapan hiperbola dalam bahasa Inggris modern. Contoh lainnya dalam bahasa Indonesia adalah ketika orang tua berkata kepada anaknya, “Aku sudah bilang padamu jutaan kali…”
Kita tahu bahwa Yesus berbicara secara hiperbolik karena ayat-ayat harus selalu dibaca sesuai konteks: dalam bagian tersebut, dalam kitab tersebut, dalam kitab-kitab lain yang ditulis oleh penulis yang sama, dan dalam keseluruhan Alkitab. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memerintahkan kita untuk menghormati orang tua kita, dan itu didorong oleh kasih agape (Keluaran 20:12; Efesus 6:1–3). Suami juga harus mengasihi istrinya (Efesus 5:28). Selanjutnya, salah satu sub-konteks yang ada di seluruh Alkitab adalah bahwa orang tua yang baik secara alami mengasihi anak-anak mereka (Lukas 11:11-13; Efesus 6:4). Mengasihi keluarga kita memang adalah hal yang alkitabiah. Tetapi itu tidak boleh melebihi kasih dan penghormatan kita kepada Tuhan. Jika kita dihadapkan kepada dua pilihan: menurut perintah orang tua atau perintah Tuhan, kita harus memilih Tuhan. Ini jelas merupakan hal yang sulit dilaksanakan, terutama dalam kebudayaan Timur.
Matius membahas ajaran serupa di mana Yesus menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:37). Seperti itui juga, Lukas memberikan konteksnya: kita harus memilih untuk mengikuti Yesus meskipun anggota keluarga kita tidak mau mengikuti Yesus, meskipun hal itu akan memecah hubungan keluarga (Lukas 12:51–53).
Yesus juga mengontekstualisasikan perkataan-Nya tentang membenci hidup sendiri. Kita harus rela kehilangan nyawa di bumi jika ingin hidup kekal. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25). ” Selamjutnya “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:36-37). Secara khusus, kita tidak boleh takut akan penganiayaan agama yang mengancam jiwa (Lukas 12:4-5) dan kita tidak boleh menghabiskan seluruh energi kita untuk memastikan bahwa kita memiliki kebutuhan hidup ketika kita perlu berfokus untuk mengikuti Yesus (Lukas 12: 22–23).
Jika diabaikan, ayat-ayat seperti itu bisa menjadi hal yang menakutkan. Mengapa? Jika disederhanakan, ayat-ayat itu menyatakan bahwa mereka yang tidak mau segera melepaskan hubungan keluarga mereka tidak bisa diselamatkan. Bagi banyak orang, hal itu bukanlah sesuatu yang dapat mereka pahami. Untuk mengutamakan Tuhan di atas kekayaan dan kenyamanan saja sultnya bukan main, apalagi meninggalkan orang-orang yang dikasihi. Namun jika kita membaca dalam konteks Kitab Suci, kita akan sadar bahwa untuk menjadi orang yang dapat menaati Yesus, kita harus mengalami pengudusan, yang merupakan proses yang panjang. Tak satu pun dari kita akan menjadi sempurna ketika kita mati. Belajar untuk menghargai Yesus lebih dari sekedar persekutuan duniawi yang kita miliki dengan orang-orang terdekat kita, dan lebih dari semua aspek kehidupan kita sendiri, adalah salah satu dari banyak hal yang harus kita kembangkan.
Hari ini kita harus sadar bahwa pada masa gereja mula-mula dan juga pada masa kini, mengutamakan hidup bersama Kristus adalah pilihan yang harus diambil oleh semua orang percaya: pilihan antara iman kepada Kristus atau hidup untuk orang-orang, hal-hal, dan benda-benda yang kita sayangi. Ini tidak mudah. Penolakan masyarakat dan bahkan penganiayaan jasmani maupun rohani sering kali menjadi bagian dari mengikut Yesus. Walaupun demikian kita harus sadar bahwa dalam kenyataannya murid Kristus adalah orang-orang yang mau terus belajar untuk mengutamakan Dia terlebih dahulu dan sepenuhnya, melebihi apapun. Bukan orang- orang yang hanya mengaku Kristen.