Menunggu dengan iman

“Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.” Mazmur 5:3 TB

“Sebab kepada-Mu aku berdoa, ya TUHAN, dengarlah seruanku di waktu pagi. Pagi-pagi kubawa persembahanku dan kunantikan jawaban-Mu, ya TUHAN.” Mazmur 5:3 BIS

Pernahkah Anda berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, tetapi seakan-akan Dia tidak mendengar doa Anda? Saya katakan “seakan-akan” karena sudah tentu tidak ada seorang pun yang bisa melihat Tuhan atau memastikan apakan Ia mendengarkan seruan kita. Jika kita lama menunggu jawaban-Nya, dan jawaban itu tidak kunjung muncul, kita mungkin merasa bahwa Tuhan mungkin mengabaikan doa kita. Dan itu sering juga terjadi dalam hidup setiap Kristen sejati, yang percaya sekalipun tidak melihat bahwa Ia selalu mendengarkan doa anak-anak-Nya.

Mazmur 5 dimulai dengan doa Daud yang mendesak agar Tuhan memperhatikan rintihan dan tangisannya. Ayat yang sama tapi berasal dari dua versi Alkitab yang berlainan saya tampilkan di atas, karena versi Terjemahan Baru (TB) ternyata justru yang paling berbeda jika dibandingkan dengan versi Alkitab lain, baik dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) terlihat adanya penekanan atas penantian dari si pembawa doa.

Dalam versi TB, Daud menyebut Tuhan sebagai Rajanya dan Tuhannya, dan versi BIS menunjukkan bahwa Daud berdoa di pagi hari dan menantikan jawaban Tuhan. Daud percaya bahwa Allah tidak menyukai orang jahat tetapi membinasakan orang-orang yang jahat, berdusta, haus darah, atau penipu. Dia mengantisipasi bahwa Tuhan yang mengasihinya akan mengizinkan dia memasuki tabernakel, di mana dia akan melakukan ibadah yang penuh hormat. Daud berdoa memohon pimpinan Tuhan agar dia bisa lolos dari musuh-musuhnya, yang dia identifikasi sebagai orang yang tidak memiliki kebenaran dan kejam. Dia berdoa lebih lanjut agar Tuhan membuat para pemberontak tersebut menanggung akibat pelanggaran mereka. Mazmur Daud ditutup dengan seruan kepada orang-orang benar untuk bernyanyi kegirangan saat mereka berlindung kepada Tuhan, dan Daud meminta Tuhan untuk memberkati dan melindungi orang-orang benar.

Mazmur 5:1–3 dimulai seperti Mazmur 4, ketika Daud berdoa kepada Tuhan dengan penuh perasaan. Nyanyian Daud ini mirip dengan Mazmur 3 dan 4. Ketiganya diciptakan oleh Daud ketika ia melarikan diri dari putranya yang memberontak dan suka membunuh, Absalom, ke padang gurun (2 Samuel 15-18). Doa Daud yang sangat intens bukanlah satu-satunya contoh pergumulan doa manusia yang mengalami masalah besar. Doa-doa intensif lainnya ada di Alkitab untuk meminta pertolongan Tuhan, termasuk doa Yunus dari dalam perut ikan besar (Yunus 2) dan doa Yesus di Taman Getsemani (Lukas 22:39–44; Ibrani 5:7). Mazmur 7:1–2 juga menyinggung doa khusyuk Daud agar diselamatkan dari kejaran musuh.

Daud memulai setiap hari dengan berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan mendengar suaranya. Dia mempersiapkan doanya sebagai pengorbanan kepada Tuhan. Jika para imam Israel mempersiapkan kurban hewan dengan menempatkan setiap potongan hewan secara berurutan di atas mezbah (Imamat 1:8) dan dengan meletakkan roti secara berurutan di atas meja di tabernakel (Imamat 24:8), dengan caranya sendiri Daud dengan cermat mengatur bagian-bagian doanyai secara berurutan di hadapan Tuhan. Daud adalah orang yang mampu berdoa seperti seorang biduan, dan itu karena Daud diberi kemampuan besar oleh Tuhan untuk berpuisi dan bernyanyi.

Mungkin kita tidak bisa berdoa dengan “luwes” seperti Daud. Itu bukan masalah. Tetapi, doa kita tidak harus kaku, formal, atau mekanis, sekalipun tidak boleh sembarangan. Jika kita menggunakan Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-13 sebagai contoh, kita akan menemukan beberapa komponen penting. Doa yang baik selalu mencakup pemujaan, penyerahan diri pada kehendak Tuhan, permohonan, pengakuan dosa, dan permohonan bimbingan.

Jika kita terbiasa dengan cara berdoa di gereja kita, doa pribadi tidaklah perlu mengikuti cara yang sama. Jika kita berdoa, kita dianjurkan untuk masuk ke kamar, dan karena itu kita bisa secara intim berdoa kepada-Nya.

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:6

Daud menambahkan dalam Mazmur 5:3 bahwa dia tidak hanya berdoa tetapi juga berjaga-jaga. Ia konsisten dan penuh harap menantikan jawaban doanya. Doa bukan hanya berguna untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, tetapi juga melatih kita untuk bersabar dan berserah. Kita tidak dapat memaksa Tuhan dengan mengulang-ulang pemohonan yang sama. Kita tidak bisa mempengaruhi Tuhan dengan mengucapkan janji-janji besar kita untuk berbuat sesuatu jika Ia mengabulkan permintaan kita. Kita juga tidak dapat memaksa Tuhan dengan kemarahan kita. Kepada Yunus yang marah, Tuhan berkata: “Layakkah engkau marah?” (Yunus 4:2-11).

Pagi ini, jika kita berdoa, biarlah kita bisa berdoa seperti doa Daud di atas. Janganlah ragu untuk berseru kepada-Nya, janganlah lupa untuk mempersembahkan pujian kepada-Nya, dan berharaplah kepada pertolongan-Nya dengan iman.

Tinggalkan komentar