Jika kita tidak percaya, itu adalah pilihan kita

“Lalu Ia menjawab: ”Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” Lukas 8:10

Lukas 8:4–15 memperkenalkan berbagai cara orang menanggapi Injil. Sang Penabur – Yesus -menyebarkan “benih” Injil, dan orang-orang menerima atau menolak pesan tersebut dalam tingkat yang berbeda-beda. Perumpamaan tentang penabur juga terdapat dalam Matius 13:1–23 dan Markus 4:1–20.

Dalam konteks percaya, banyak orang mengartikan ayat di atas bahwa Tuhanlah yang membuat orang tertentu untuk tidak percaya, supaya mereka bisa dihukum. Tetapi, itu bukanlah pengertian yang benar. Jika ada orang yang dihukum, pada akhirnya mereka akan mengerti bahwa mereka pantas dihukum karena apa yang dilakukan dalam hidup mereka. Mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan.

Ayat ini mempunyai dua konteks yang berbeda. Yang pertama adalah amanat Tuhan kepada nabi Yesaya dalam Yesaya pasal 6. Tuhan memerintahkan Yesaya untuk menyebarkan firman-Nya: peringatan kepada bangsa Israel bahwa jika mereka tidak berbalik dari dosa mereka akan dikirim ke pengasingan. Tuhan tahu bangsa Israel tidak mau mendengarkan, tapi Dia tetap mengutus Yesaya untuk pergi. Dengan melakukan hal ini, Tuhan membuktikan bahwa Dia melakukan upaya dengan itikad baik untuk menyelamatkan umat manusia dan Dia membuktikan bahwa bangsa Israel layak menerima hukuman pengasingan. Bangsa Israel tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang semena-mena.

Konteks kedua terdapat dalam perumpamaan tersebut. Yesus telah mengajarkan perumpamaan tentang penabur kepada banyak orang. Sekelompok kecil murid menanyakan kepada-Nya arti perumpamaan tersebut (Lukas 8:9); Matius mencatat bahwa mereka juga bertanya kepada-Nya mengapa Dia menggunakan perumpamaan (Matius 13:10).

Orang-orang yang mendengar Yesus diwakili oleh tiga jenis tanah (Lukas 8:5-7). Dengan berbicara dalam perumpamaan, Yesus memberikan ujian kepada orang-orang. Ada orang-orang yang mendengar Injil tetapi tidak berupaya untuk menanggapinya dengan serius dan membiarkannya mengubah hidup mereka. Jika mereka memilih untuk merenungkan perumpamaan tersebut dan menerima maknanya, mereka lulus ujian dan terbukti menjadi murid-murid-Nya. Jika perhatian mereka teralihkan oleh kesulitan dan kesenangan dunia, itulah keputusan mereka – mereka memilih untuk tidak mencoba memahami, dan karena itu mereka tidak akan memahaminya.

Apa yang terjadi di zaman Yesus berarti nubuatan Yesaya masih digenapi sampai sekarang – dimana-mana ada orang-orang yang masih menolak Firman Tuhan. Bahkan itu terjadi di gereja, di kalangan orang mengaku Kristen. Selama pelayanan-Nya, keluarga Yesus dan para imam serta orang-orang Farisi gagal dalam ujian tersebut. Namun keluarga-Nya dan banyak pemimpin agama kemudian menjadi percaya (Kisah Para Rasul 1:14; 6:7). Kondisi penolakan Kristus dapat bersifat sementara.

Lukas berfokus pada tanggung jawab manusia untuk mendengarkan ketika Firman Tuhan disampaikan. Mereka yang tidak mengikuti Kristus perlu mendengar bahwa keselamatan adalah bagi mereka yang bertobat dan percaya. Mereka yang ingin menjadi orang percaya, perlu mengalami pengudusan setiap hari melalui bimbingan Roh Kudus. Adalah penting untuk setiap orang Kristen untuk tidak mendukakan Roh KUdus yang akan membimbing mereka ke arah kebenaran.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Yohanes 16:13

Bagi kita, ini berarti kita perlu membaca Alkitab dan merenungkan apa yang dikatakannya serta melaksanakannya dalam hidup kita.. Mazmur 119:27 adalah sinopsis yang bagus dari pasal ini: “Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.” Inilah maksud Lukas dalam pasal ini. Kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Ketika Tuhan mengungkapkan kebenaran-Nya, kita bertanggung jawab untuk mendengarkan dan menerimanya, dan kemudian melaksanakannya. Tetapi, sebagian orang Kristen percaya bahwa sekali percaya, mereka akan tetap percaya sekalipun tidak melaksanakan firman-Nya.

Bangsa Israel pada zaman Yesaya mempunyai kebenaran Allah dalam Hukum Taurat, namun mereka menjalaninya dengan setengah hati. Mengikuti Tuhan dengan setengah hati itu berbahaya. Hal ini mungkin terlihat baik dari luar, namun hal ini menunjukkan iman yang sangat lemah sehingga tidak dapat menyelamatkan (Yakobus 2:26). Jadi, Tuhan menghilangkan sedikit pemahaman yang dimiliki bangsa Israel; seperti yang kemudian Yesus katakan,

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” (Lukas 8:18 ).

Orang Kristen yang bersikeras bahwa Allah tidak akan pernah menempatkan penghalang antara kebenaran dan manusia adalah orang yang memberontak; mereka bahwa Yesus adalah batu sandungan (1 Korintus 1:23). Memang benar bahwa Allah “sabar terhadap kamu, tidak menghendaki supaya ada yang binasa, tetapi supaya semua orang bertobat” (2 Petrus 3:9). Namun Dia juga mengatakan kepada para murid bahwa jika suatu kota tidak menerima kabar baik-Nya, para murid harus “mengebaskan debu dari kakimu sebagai kesaksian terhadap mereka” (Lukas 9:5).

Ketika seseorang dengan sengaja mengeraskan hatinya terhadap Tuhan, Dia berhak dan bisa menghilangkan hambatan itu. Hati yang mengeras, bukan kejahatan, adalah alasan Yesus berbicara dalam perumpamaan. Mereka yang hatinya melunak terhadap Kristus dan kebenaran-Nya, seperti para murid yang bertanya, akan mencari maknanya dan menghasilkan buah (Lukas 8:8). Mereka yang memiliki hati yang keras tidak akan membiarkan Firman Tuhan masuk ke telinga mereka, mengabaikan semua itu dan malah membiarkan musuh mengambilnya (Lukas 8:5). Bagi mereka ini sampai akhir hidup tidak akan ada karunia untuk mengerti arti kebenaran.

Kata “rahasia” mengacu pada sesuatu yang bersifat pribadi, atau tidak diungkapkan, yang berasal dari pengetahuan Tuhan. Sekalipun hati seseorang lembut terhadap kebenaran Tuhan, bukan berarti kebenaran itu mudah dipahami secara perorangan. Para murid menanyakan maksud Yesus, dan Dia memberikannya (Lukas 8:11-15). Saat ini, setiap orang percaya memiliki Roh Kudus (1 Korintus 2:10-16), dan Tuhan telah memberikan itu kepada sanak keluarga dan teman-teman yang sudah percaya. Sejak hari pertama, gereja mengandalkan komunitas dan pengajaran para pemimpin untuk mengungkapkan kebenaran-Nya (Kisah Para Rasul 2:42). Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mengerti arti firman Tuhan haruslah mau untuk belajar bersama-sama dengan orang seiman, di persekutuan dan di gereja. Jika kita masih tidak percaya kepada kebenaran dan melaksanakannya, itu adalah pilihan kita. Kesabaran Tuhan ada batasnya.

Tinggalkan komentar