Hidup baru karena lahir baru

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Dalam hal ini, sebenarnya istilah “Kristen hidup baru” adalah lebih tepat.

Lalu, apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan di mana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan di mana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Pada waktu Yesus disalib, di sebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegur dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali karena dengan imannya, dosanya sudah diampuni oleh Tuhan. Tetapi, ia tidak sempat untuk menjalani hidup baru.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43

Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi hanya melalui penebusan darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru semata-mata adalah karunia Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Lahir baru adalah karunia dari Allah dan terjadi seketika dan sekali (bukan suatu proses). Melalui kelahiran baru, Roh Allah menghidupkan roh manusia agar mampu mendengar suara Allah yang dikumandangkan melalui firman-Nya dalam Alkitab. Suara Gembala akan didengar oleh domba-domba-Nya, demikianlah firman-Nya akan didengar oleh kita, anak-anak Allah (Yohanes 10:27). Ketika kita mulai mendengar dan mampu merespons firman-Nya dengan benar, saat itulah kita akan mulai mengalami hidup yang diubahkan, yaitu hidup baru. Kelahiran baru tidak dapat diketahui secara persis kapan terjadinya.

Bagaimana dengan hidup baru? Apakah kita dapat tahu kapan dimulainya hidup baru? Tentu! Awal dari hidup baru adalah pertobatan. Pada saat Anda bertobat, saat itu adalah permulaan hidup baru. Firman Allah yang kita dengar akan menyadarkan kita siapakah Allah dan siapakah kita. Allah adalah Allah yang suci yang membenci dosa, sedangkan kita adalah orang-orang yang berdosa (Roma 3:23) dan sepatutnya dibuang dan dimusuhi oleh Allah (Kolose 1:21). Kesadaran inilah yang membawa kita kepada respons pertama dari hidup baru, yaitu pertobatan. Pertobatan menyadarkan bahwa tanpa anugerah Allah, kita binasa selama-lamanya, tanpa Kristus yang mati dan bangkit, kita tidak memiliki harapan untuk selamat dari hukuman kekal (Lukas 13:3). Pertobatan membawa kita kepada kerendahan hati untuk mengakui bahwa tanpa Allah, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5).

Jadi, hidup baru dalam Kristus adalah hidup yang diawali dengan pertobatan untuk kembali kepada Allah dan dengan sukarela (bebas tanpa paksaan) meninggalkan hidup yang lama (berpusat pada diri) dan berbalik untuk hidup bagi Kristus (berpusat pada Allah). Hidup baru ini bukan peristiwa seketika, tetapi suatu perjalanan panjang hidup orang Kristen yang terus-menerus belajar dan dibentuk, dari bayi-bayi rohani menjadi dewasa dalam Tuhan Yesus (1Petrus 2:2). Kita rindu menyerahkan seluruh hidup kita untuk hidup selaras dengan kehendak-Nya. Tetapi, ini baru bisa menjadi sempurna ketika kita berjumpa dengan Kristus muka dengan muka.

Alkitab memberikan pengertian yang sangat jelas bahwa setelah kelahiran baru, kita akan mampu merespons suara Allah melalui firman-Nya karena roh kita sekarang hidup dan kita akan bertumbuh menjadi “manusia ciptaan baru” yang tidak lagi hidup bagi diri sendiri, melainkan hidup “di dalam Kristus” dan bagi Kristus.

“… karena kamu telah menanggalkan manusia lamamu bersama dengan perbuatan-perbuatannya. Kenakanlah manusia baru, yang terus-menerus diperbarui dalam pengetahuan sesuai dengan gambar dari Penciptanya.” Kolose 3:9-10

Ayat ini menolong kita memahami bahwa hidup baru “di dalam Kristus” menghasilkan manusia baru yang memiliki pola atau cara hidup yang baru dan meninggalkan cara hidup manusia lama. Hidup baru “di dalam Kristus” adalah menjadi manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk semakin berpusat pada Allah dan hidup menurut kehendak Allah. Bukan orang Kristen yang tidak pernah berubah cara hidupnya.

“Perbaruilah roh pikiranmu. Kenakanlah manusia yang baru, yang diciptakan dalam rupa Allah dalam keadilan dan kekudusan yang sejati. ” Efesus 4:23-24

Menjadi manusia baru bukanlah keinginan atau kemauan manusia, melainkan kehendak Allah. Manusia tidak akan sadar akan perlunya hidup baru tanpa dibimbing Tuhan. Hanya oleh kuasa Roh-Nya, manusia baru akan mengalami transformasi sehingga roh dan pikirannya akan diperbarui senantiasa.

“Aku sudah disalibkan dengan Kristus. Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku. Hidup yang sekarang ini kuhidupi dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah, yang mengasihi aku dan telah memberikan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2:20

Sebagaimana Yesus katakan, hidup baru “di dalam Kristus” tidak lagi hidup sekadar hidup, tetapi hidup yang memberi banyak buah. Kristuslah yang menjadi Pokok Anggur dan kita yang telah dipersatukan dengan Kristus pasti kita akan menghasilkan buah-buah yang memuliakan Allah.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Yohanes 15:7-8

Hidup baru adalah hidup dalam Roh. Setelah dilahirkan kembali, Allah menghendaki kita tidak lagi hidup dalam daging, yaitu hidup yang hanya menuruti kehendak diri sendiri. Lalu, bagaimana kita dapat meninggalkan hidup dalam daging? Kita harus hidup dalam Roh karena Rohlah yang akan memberi hidup (Yohanes 6:63).

Mengapa kita harus hidup dalam Roh? Ketika kita menerima kelahiran baru dalam roh, manusia lama kita (yang hidup dalam dosa) tidak secara otomatis mati atau tidak ada lagi. Sekalipun Roh Kudus sudah tinggal dalam hati kita setelah kita menjadi orang percaya, kita masih sering membiarkan manusia lama kita menguasai pikiran dan hati kita. Itulah sebabnya, kita harus secara sadar mau mematikan kuasa daging kita agar kita hidup dalam Roh (Galatia 5:16).

Kita hidup dalam Roh ketika kita membiarkan Roh Kudus memimpin kita sehingga kita dapat berpikir, berbicara, dan bertindak sesuai dengan firman Allah (Roma 8:5). Inilah yang disebut sebagai hidup dalam Roh. Roh Kuduslah yang pada dasarnya memimpin kita, bukan diri kita sendiri yang sering dikuasai oleh kedagingan kita. Allah tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri dalam kehidupan dunia yang penuh godaan ini karena Ia tahu kita tidak mampu berjalan sendiri. Oleh karena itu, Allah mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk menjadi Penolong bagi anak-anak-Nya.

Roh Kudus aan menyucikan hidup orang percaya. Yohanes 16:8-11 mengajarkan kita tentang peran Roh Kudus dalam menginsafkan manusia akan dosa. Roh Kudus berkarya dalam hati orang percaya dengan menerangi dan menyadarkan akan dosa, yang jauh dari kehendak Allah. Dengan cara demikian, Roh Kudus bekerja dan menyucikan manusia yang berdosa kembali kepada Allah. Perubahan itu terlihat melalui pekerjaan Roh Kudus setelah melahirbarukan dan membentuk kehidupan baru yang meninggikan dan memuliakan Kristus Yesus. Melalui lahir baru dan hidup baru, orang percaya dapat memiliki arah baru dan pengharapan baru.

Roh Kudus aan memelihara iman orang percaya sampai akhir hayatnya. Hidup baru adalah awal dari pemeliharaan dan penyertaan hidup orang percaya oleh Roh Kudus hari lepas hari. Seseorang yang telah memiliki hidup baru akan memiliki kesadaran baru secara rohani. Roh Kudus akan mengajarkan dan mengarahkan orang percaya untuk semakin mengenal dan mengasihi-Nya. Melalui peran Roh Kudus dalam memelihara orang percaya, kita akan menikmati persekutuan dalam Bapa dan Putra selama-lamanya (Yohanes 14:16).

Ketika menjalani kehidupan baru kita, kita menyadari bahwa manusia lama kita masih tetap ada dan tidak dihilangkan sekalipun kita telah dipersatukan dengan Kristus. Ingatlah, akan kedudukan kita “di dalam Kristus”, kita dinyatakan kudus dan sempurna oleh Allah karena Kristus. Memang keadaan kita selama di dunia masih bisa berbuat dosa, tetapi ketika kita memercayai dan berpegang kepada kenyataan bahwa kita sudah sempurna “di dalam Kristus” dan Kristus di dalam kita, maka kita menerima kekuatan untuk menolak hidup dalam manusia lama kita (kedagingan/dosa) dan berani hidup sebagai anak Tuhan.

Hari ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Dengan bimbingan Roh Kudus, kita berusaha untuk hidup makin hari makin baik. Perbuatan yang benar atau baik dalam hidup baru adalah sambutan kita kepada kasihNya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap hidup bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum lahir baru, dan karena itu tidak bisa bertobat. Tidak ada kemungkinan lain.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Tinggalkan komentar