“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1:5-7

Saya sering menulis artikel tentang peran usaha dalam kehidupan Kristen. Hal ini lahir dari keprihatinan bahwa dalam hasrat kita untuk mengagungkan petunjuk-petunjuk Injil, kita berada dalam bahaya mengabaikan perlunya menaati perintah-perintah alkitabiah. Kekhawatiran saya adalah bahwa kita takut atau segan untuk menasihati satu sama lain, seperti yang dilakukan Kitab Suci, untuk berjuang, berjuang, menghidupkan, dan melakukan segala upaya demi kesalehan.
Keseganan kita biasanya disebabkan oleb beberapa pertanyaan:
- Bisakah orang percaya yang dibenarkan menyenangkan Tuhan dengan ketaatannya?
- Apakah orang pilihan akan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah ketika ia berbuat dosa?
- Bagaimana hubungan pembenaran dan pengudusan?
- Bisakah kita menaati Tuhan karena kita bukan orang yang sempurna?
- Tidakkah usaha hidup baik kita akan menyebabkan timbulnya kesombongan?
- Bagaimana Kitab Suci memotivasi kita untuk bisa taat?
Kekhawatiran saya adalah banyak pendeta dan umat Kristen di zaman ini tidak menganggap pengudusan sebagai sesuatu yang perlu sesudah pembenaran. Ini pandangan yang salah. Sangat umum bagi orang Kristen untuk berpikir (jika tidak diucapkan secara eksplisit): “Saya diselamatkan oleh kasih karunia dan terjamin akan kehidupan kekal. Tapi sekarang saya diharuskan untuk melakukan banyak pekerjaan untuk menjadikan diriku lebih baik. Tuhan memasukkanku ke dalam umat-Nya secara sepihak, tapi sekarang semuanya tergantung padaku untuk menjadi seperti Dia.” Karena itu, pembenaran terasa seperti kabar baik dan pengudusan terasa seperti hukuman. Karena itu banyak orang Kristen tidak mau memikirkannya.
Kita harus mengakui bahwa “pengudusan adalah proses yang sangat melelahkan.” Itu membutuhkan usaha kita. Namun upaya pengudusan kita adalah mempercayai kabar baik tentang pembenaran kita. Mengingat, meninjau kembali, dan menemukan kembali realitas pembenaran kita setiap hari, adalah kerja keras yang harus kita lakukan jika kita ingin bertumbuh. Pengudusan adalah kerja keras untuk kembali pada kepastian pengampunan yang sudah kita peroleh di dalam Kristus dan menekan tombol penyegaran berulang kali. Sekali lagi: pengudusan adalah kerja keras untuk membiasakan diri dengan pembenaran kita. Maksudnya dalah bahwa pengudusan membutuhkan kerja keras berjuang untuk percaya bahwa kita dibenarkan oleh iman saja, terlepas dari perbuatan baik atau kontribusi apa pun.
Saya setuju bahwa pengudusan membutuhkan perjuangan iman untuk mempercayai kabar baik injil pembenaran. Tetapi ini bukan satu-satunya upaya yang diperlukan dalam pengudusan. Bertumbuh dalam kesalehan adalah perjuangan iman – perjuangan untuk mempercayai kebenaran tentang pembenaran kita, pengangkatan kita sebagai anak, perjuangan untuk mempercayai semua yang Tuhan katakan tentang kita berdasarkan kesatuan kita dengan Kristus. Namun bertumbuh dalam kesalehan lebih dari sekadar percaya; itu juga menuntut kita untuk mematuhi. Perjanjian Baru memberi kita perintah, dan perintah ini mencakup lebih dari sekedar mengingat, meninjau kembali, dan menemukan kembali realitas pembenaran kita. Kita juga harus memakai, menunda, mematikan, bekerja, dan berusaha semaksimal mungkin.
Jelas, upaya ini selalu dihubungkan dengan kasih karunia Injil. Namun kita tidak bisa memperkecil “usaha” hanya sekedar percaya pada pembenaran. Kita haeus sadar bahwa setelah Petrus memerintahkan kita untuk “berusaha semaksimal mungkin” (2 Petrus 1:5), ia memperingatkan kita agar tidak lupa bahwa kita telah disucikan dari dosa-dosa kita sebelumnya (1:9). Jika kita menjalani kehidupan yang tidak saleh, kita menunjukkan bahwa dalam hal itu kita telah melupakan belas kasihan Tuhan dalam hidup kita. Penangkalnya adalah dengan mengingat siapa diri kita di dalam Kristus dan “semakin meneguhkan panggilan dan pilihanmu” (1:10).
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1:10
Pengudusan berasal dari Allah dan melalui iman, namun tidak seperti pembenaran, pengudusan tidak dilakukan melalui iman saja. Ketika kita bekerja keras untuk mengingat realitas pembenaran, kita juga harus bekerja keras dalam Roh untuk berhenti melakukan hal-hal yang berdosa dan mulai melakukan yang benar. Benar, ada banyak orang Kristen yang perlu mengetahui kabar baik tentang pengampunan yang mereka terima. Namun yang pasti, ada banyak orang yang mengaku Kristen (dan non-Kristen!) yang merasa dibenarkan namun tidak bertumbuh dalam kesalehan dan bahkan mungkin bukan anak-anak Tuhan. Mereka tidak ragu bahwa Tuhan mengasihi mereka. Mereka tidak khawatir kalau-kalau mereka tidak diterima. Mereka tidak punya masalah dengan kasih karunia. Tetapi mereka merasa tidak perlu bekerja keras untuk menemukan kembali arti pengampunan Tuhan.
Mereka sebenarnya perlu bekerja keras untuk hidup seolah-olah mereka telah mati terhadap dosa dan dibangkitkan bersama Kristus. Perjanjian Baru menyerukan kepada kita untuk mengambil tindakan; hal ini tidak memberitahu kita bahwa seluruh pekerjaan pengudusan akan dilakukan Tuhan untuk kita. Kita berada dalam ‘pertarungan iman yang baik’, dan kita sendiri harus melakukan perjuangan tersebut. Namun syukur kepada Tuhan, kita dimampukan untuk melakukannya; bagi kita yang percaya dan dibenarkan karena iman, dan dilahirkan kembali dari Roh Tuhan, kita mempunyai kesanggupan. Jadi metode pengudusan dalam Perjanjian Baru adalah untuk mengingatkan kita akan hal itu; dan setelah mengingatkan kita akan hal itu, ia berkata, ‘Sekarang, pergilah dan lakukanlah’. Kita semua membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk mempercayai apa yang benar dan melakukan apa yang benar. Kita mati terhadap dosa dalam kematian Kristus. Sekarang kita harus mematikan perbuatan daging hari demi hari sampai kita berjumpa dengan Dia.
Masalah hidup baik penting karena, di satu sisi, beberapa orang Kristen berusaha keras untuk menjadi lebih serupa dengan Yesus ketika mereka menyadari bahwa di dalam Kristus mereka telah mati terhadap dosa dan dibangkitkan bersama Kristus. Dan di sisi lain, beberapa orang Kristen terhambat dalam pengudusan mereka karena kurangnya usaha. Mereka malas dan mungkin terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Selain itu, ada orang-orang yang bingung dan bertanya-tanya mengapa pengudusan tidak secara otomatis mengalir dari pembenaran yang mereka terima. Pagi ini, mereka perlu diingatkan dan bangkit dan, seperti yang dinyatakan dalam ayat di atas:” Kamu harus dengan sungguh-sunguh berusaha”!
Disadur secara bebas dari “Gospel-Driven Effort” oleh Kevin DeYoung (2011)