” …seperti ada tertulis: ”Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” Roma 3:10-12

Ayat di atas menyatakan bahwa semua orang sudah rusak. “Kerusakan total” adalah istilah yang bisa menbuat kita bingung. Orang-orang mengacaukan “kerusakan total” dengan apa yang kita sebut “kebobrokan total” – yaitu, manusia itu seburuk yang dia bisa lakukan. Tetapi ini tidak benar. Betapapun berdosanya kita, kita selalu dapat membayangkan diri kita bisa melakukan dosa yang lebih buruk daripada yang telah kita lakukan, dan bahkan lebih sering berbuat dosa yang lebih besar daripada yang kita bayangkan. Jadi tidak ada seorang pun di antara kita yang bejat total, bobrok semaksimal mungkin. Perlu diingat ketika kita berbicara tentang orang-orang berdosa dan kerusakan manusia, kita sedang berbicara tentang kejatuhan makhluk ciptaan Tuhan yang dulunya baik, tetapi penciptaan kita menurut gambar Tuhan tidak dimusnahkan atau dihapuskan bahkan oleh keberdosaan kita.
Istilah “kerusakan total” dapat ditafsirkan dalam banyak cara, karena kata “total” memang sangat ambigu. Tidak heran, sebagian teolog mengusulkan beberapa istilah yang lain, misalnya kerusakan pervasif, ketidakmampuan total, atau kerusakan radikal. Dalam hal ini, Alkitab mengatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).
Istilah “kerusakan radikal” mungkin adalah istilag yang paling cocok untuk menggambarkan “kerusakan total” manusia di hadapan TUhan. Istilah radikal adalah kata sifat, yang muncul pada abad ke-14 dari bahasa Latin radikalis, yang berasal dari kata radic atau radix, yang berarti “akar”. Dan penggunaan kata radikal yang paling awal memang berkaitan dengan kata akar secara literal, yang mengisyaratkan arti “dari, berkaitan dengan, atau berasal dari suatu akar”.
Alkitab mengajarkan kerusakan radikal umat manusia, bukan “kebobrokan total”. Keusakan radikal berarti tidak ada bagian dari diri kita yang tidak tersentuh oleh dosa. Pikiran kita, kemauan kita, dan tubuh kita dipengaruhi oleh kejahatan. Kita mengucapkan kata-kata yang penuh dosa, melakukan perbuatan yang penuh dosa, dan mempunyai pikiran yang tidak murni. Tubuh kita sendiri menderita akibat kerusakan akibat dosa. Jadi “kerusakan radikal” adalah istilah yang lebih baik untuk menggambarkan kondisi kita yang sudah jatuh daripada “kerusakan total”. Karena dosa ada pada inti kita dan bukan hanya pada bagian luar kehidupan kita, tetapi sudah mengakar dalam hidup kita. Maka Alkitab berkata dalam ayat di atas: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.“
Istilah “kerusakan radikal” mengartikan bahwa dosa berdampak pada keseluruhan pribadi, bahwa seluruh esensi kemanusiaan kita telah jatuh. Artinya, pikiran kita telah jatuh, keinginan kita telah jatuh, tubuh kita telah jatuh. Seluruh orang terperangkap dalam kejatuhan ini, sehingga semua manusia akan menemui hukuman kematian abadi jika tidak menerima karunia keselamatan Tuhan. Itulah kerusakan total manusia di mata Tuhan.
Pada pihak yang lain. kita harus menyadari bahwa sekalipun ayat di atas menyatakan bahwa di hadapan Tuhan tidak ada manusia yang benar, masih ada nilai yang luar biasa dalam diri setiap umat manusia, terutama jika dibandingkan dengan berbagai ciptaan Tuhan yang lain. Karena itu, sebagai orang Kristen kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk menghargai dan melindungi martabat seluruh umat manusia dari segala suku, ras, budaya, agama dan negara sebagai gambar Allah. Dalam hal ini, sekalipun sebagian orang Kristen tidak yakin, Allah tetap memberikan anugerah umum kepada semua manusia. Allah menjaga mereka melalui hukum moral dan hati nurani (Roma 2:14-16). Allah juga memakai hukum dan pemerintah untuk meminimalisasi kejahatan dalam dunia (Roma 13:1-7). Dalam kasus-kasus tertentu Allah bahkan langsung intervensi dalam hati manusia, misalnya kebaikan Raja Koresh yang mengijinkan bangsa Yehuda pulang ke negeri mereka (2 Tawarich 36:22).
Kembali ke soal “kerusakan total”, Anda mungkin heran, mengapa semua orang dikatakan tidak ada yang baik, termasuk para nabi, rasul dan semua orang Kristen. Bukankah kita menjumpai banyak orang yang murah hati, penyabar, suka menolong orang lain dsb.? Jika kita bandingkan, memang ada beberapa orang jauh lebih jahat dibandingkan yang lain. Dibandingkan dengan Adolf Hitler misalnya, orang berdosa biasa tampak seperti orang suci. Dengan demikian, tentunya ada orang yang terlihat lebih baik dari yang lain. Namun jika kita mengarahkan pandangan kita pada standar kebaikan tertinggi – karakter suci Tuhan – kita menyadari bahwa apa yang tampak sebagai kebaikan di tingkat duniawi sebenarnya sudah rusak pada intinya. Rusak secara radikal.
Kebaikan manusiawi seperti itu disebut relatif karena tidak diukur berdasarkan standar tertentu yang mutlak. Jika diukur dengan standar ilahi yang mutlak, kesalehan itu hanya seperti kain kotor (Yesaya 64:6). Dari definisi ini terlihat dengan jelas adanya perbedaan antara kebaikan relatif (menurut pandangan manusia) dan kebaikan mutlak (menurut standar Allah). Kebaikan yang sesungguhnya hanya bisa terjadi jika didasarkan pada iman yang benar, sesuai dengan hukum Allah dan dilandasi motivasi untuk memuliakan Allah.
Karena kondisi inilah maka Alkitab berkata: kita “mati karena pelanggaran dan dosa” (Efesus 2:1); “terjual di bawah kuasa dosa” (Roma 7:14); berada dalam “tawanan hukum dosa” (Roma 7:23); dan “pada dasarnya orang-orang yang harus dimurkai” (Efesus 2:3). Semua kebaikan yang dilakukan manusia di luar Kristus adalah kebaikan relatif. Yesus menyatakan bahwa orang berdosa dapat berbuat baik kepada orang lain, walaupun kasih itu terbatas pada orang lain yang berbuat baik kepada mereka (Matius 5:46-47; Lukas 6:33). Seorang ayah dapat mengasihi anaknya meskipun tanpa kelahiran baru dari Roh Kudus (Matius7:11; Lukas 11:13). Orang-orang Farisi juga berbuat kebaikan sekalipun hanya untuk memuliakan diri sendiri (Matius 6:2, 5, 16).
Sayang sekali, istilah kerusakan total dan kebaikan relatif sering disalah gunakan oleh sebagian orang Kristen sebagai alasan untuk menolak tanggung jawab kepada Tuhan, mengabaikan prinsip moralitas yang sejalan dengan Alkitab, dan menolak keharusan untuk menjalani hidup baik sesuai dengan perintah Tuhan. Semua itu ditolak karena merasa tidak mampu, atau merasa tidak perlu, karena tidak akan mengubah sifat hakiki manusia yang bobrok, sekalipun Roh Kudus sudah dikatuniakan kepada setiap orang percaya dan Tuhan mampu menggerakkan manusia manapun untuk melalukan apa yang dikehendaki-Nya. Hari ini kita harus percaya bahwa manusia tidak bobrok sebobrok-bobroknya, tetapi sudah rusak sampai ke dalam hati kita. Hanya melalui kuasa Roh Kudus yang menghidupkan kita dapat dikeluarkan dari keadaan kematian rohani ini. Allahlah yang menghidupkan kita ketika kita menjadi hasil karya-Nya (Efesus 2 :1-10).