Kita harus mengajar hal berbuat baik secara aktif

“Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.” Titus 3:8

Dalam teologi Kristen, perbuatan baik, atau sederhananya perbuatan, adalah tindakan dan perbuatan (eksternal) seseorang yang sejalan dengan ajaran moral, menekankan kasih sayang, amal, kebaikan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip alkitabiah, berbeda dengan hal internal atau rohani seperti karunia atau iman. Berakar pada keyakinan bahwa keimanan harus terwujud dalam tindakan positif, konsep ini menggarisbawahi pentingnya menghayati keimanan melalui kemurahan hati.

Kekristenan menekankan pentingnya terlibat dalam altruisme sebagai demonstrasi pengabdian mereka kepada Tuhan. Tindakan-tindakan ini, yang dipandu oleh ajaran moral dan etika Alkitab, dipandang sebagai ekspresi nyata dari cinta, ketaatan dan kebenaran dalam kerangka pandangan dunia Kristen. Konsep perbuatan baik sangat terkait dengan keyakinan teologis akan keselamatan melalui iman (sola fide) dan bukan cara untuk mendapatkan keselamatan, karena umat Kristiani berupaya mewujudkan rasa syukur mereka atas anugerah Tuhan dengan berpartisipasi aktif dalam tindakan pelayanan kepada orang lain.

Perspektif teologis Kristen menempatkan pentingnya kekuatan transformatif dari perbuatan baik dalam mengembangkan kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai humanisme Kristiani. Umat Kristen sering kali didorong untuk mengasihi sesamanya, peduli terhadap yang kurang beruntung, dan memajukan nilai-nilai moral dalam komunitasnya. Konsep ini seharusnya melampaui batas-batas denominasi, mencerminkan komitmen bersama terhadap tanggung jawab sosial dan upaya mencapai kehidupan bajik yang dipandu oleh prinsip-prinsip Kristiani. Pemahaman teologis tentang perbuatan baik seharusnya menjadi subjek wacana dan interpretasi dalam komunitas Kristen yang lebih luas.

Walaupun demikian, Alkitab memuat banyak hal negatif mengenai “perbuatan”, khususnya “melakukan hukum Taurat.” Paulus berulang kali menekankan bahwa kita dibenarkan karena iman kepada Kristus dan bukan karena melakukan hukum Taurat. Keselamatan “bukanlah hasil perbuatanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8). Namun “perbuatan baik” adalah persoalan lain. Berdasarkan penelusuran isi Alkitab, frasa “berbuat baik” muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tanpa kecuali, frasa ini digunakan dalam cara yang positif (seperti yang dilakukan Kristus) dan tidak ironis (seperti yang dilakukan orang Farisi) untuk menggambarkan aktivitas Kristen yang patut diteladani.

Hanya sedikit pasal yang menganjurkan perbuatan baik seperti Titus 3. Jika ada orang yang mengatakan kepada Anda bahwa Paulus dan Yakobus tidak sepakat tentang perlunya melakukan perbuatan baik, arahkan dia ke pasal ini. Di sini kita dapat mengidentifikasi tiga aspek perbuatan baik: landasannya, pentingnya, dan definisinya.

William Wilberforce (24 Agustus 1759 – 29 Juli 1833) adalah seorang politikus Inggris, seorang dermawan, dan pemimpin gerakan penghapusan perdagangan budak. Pada tahun 1785, ia mengalami pengalaman pertobatan dan menjadi seorang Evangelis Anglikan, yang mengakibatkan perubahan besar pada gaya hidupnya dan kepedulian seumur hidup terhadap reformasi. William Wilberforce, yang juga merupakan orang yang selalu berbuat baik, pernah mendefinisikan Kekristenan sebagai “sebuah skema . . . karena menjadikan buah-buah kekudusan sebagai akibat, bukan sebab, dari pembenaran kita dan rekonsiliasi dengan Tuhan.” Perbuatan baik adalah buahnya, bukan akarnya. Atau untuk mengubah analoginya, perbuatan baik adalah apa yang dilakukan di dalam rumah, namun bukan fondasi dari rumah tersebut.

Inilah tepatnya yang Paulus tekankan dalam Titus 3:8: “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia..” Perhatikan bahwa orang-orang yang diperintahkan untuk mengabdikan diri pada perbuatan baik adalah “orang-orang yang beriman kepada Tuhan”. Iman yang menyelamatkan dan perbuatan baik tidak seperti dua tangan kita yang terpisah—sebaliknya, iman kepada Tuhan adalah dasar dari perbuatan baik.

Paulus tidak mengacu pada iman umum akan keberadaan Allah, melainkan iman khusus terhadap kasih setia Allah kepada kita melalui Injil. Ketika kebaikan dan kemurahan hati Allah Juruselamat kita nyata, Ia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, melainkan karena kemurahan-Nya sendiri, melalui kelahiran baru dan pembaharuan Roh Kudus, yang dicurahkan-Nya. atas kita dengan limpahnya melalui Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, dan kita berhak menjadi ahli waris menurut pengharapan hidup yang kekal. (ayat 4–7)

Satu-satunya pesan yang dapat dipercaya untuk menghasilkan perbuatan baik adalah pesan yang mengatakan bahwa perbuatan kita tidak dapat menyelamatkan kita. Tampaknya berlawanan dengan intuisi, namun itulah Injil. Jika kita ingin sebuah rumah dipenuhi dengan perbuatan baik, pertama-tama kita harus meletakkan dasar yang kuat untuk hal tersebut.

Kadang-kadang pendeta atau pimpinan gereja yang terlalu menekankan kedaulatan Tuhan bisa merasa gelisah terhadap perbuatan baik. Mereka mungkin berpikir: “Beritakan saja Injil, dan perbuatan baik akan terjadi dengan sendirinya tanpa adanya fokus yang berkelanjutan pada hal tersebut.” Namun hal ini tidak kita lihat dalam Titus 3. Sebaliknya, Paulus mengatakan hal-hal seperti “Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik” (ayat 14) dan “agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik (ayat 8). Ada hal mendesak di sini yang sering kali dibungkamkan dalam khotbah di gereja, padahal menurut ayat di atas perbuatan baik harus diajarkan secara aktif. Mengapa demikian?

Pembelajaran pasif didefinisikan sebagai “metode pembelajaran atau pengajaran di mana siswa menerima informasi dari instruktur dan menganalisanya.” Secara mendasar, hal ini berarti seorang siswa akan mendengarkan dan membaca materi serta melakukan refleksi dalam hati tanpa melakukan refleksi atau peninjauan lebih lanjut. Sebaliknya, metode pembelajaran aktif meminta siswa untuk terlibat dalam pembelajarannya dengan berpikir, berdiskusi, menyelidiki, dan mencipta. Di kelas, siswa melatih keterampilan, memecahkan masalah, menghadapi pertanyaan kompleks, membuat keputusan, mengusulkan solusi, dan menjelaskan ide dengan kata-kata mereka sendiri melalui tulisan dan diskusi. Mereka berbuat secara nyata.

Perbuatan baik memerlukan pengabdian yang nyata dalm hidup kita. Bagaimanapun, untuk itulah kita “diciptakan dalam Kristus Yesus” (Efesus 2:10). Kita harus secara aktif “belajar” melakukannya. Kemampuan untuk melakukan perbuatan baik memang ditanamkan ke dalam diri kita ketika kita dilahirkan kembali—sehingga potensinya ada. Namun sebenarnya melakukan hal-hal tersebut merupakan keterampilan yang dipelajari (seperti mengendarai sepeda atau membaca), dan bagian dari pemuridan Amanat Agung adalah mengajar orang untuk melakukannya (Matius 28:20).

Sama seperti tipe Injil sosial yang progresif sering kali ingin menekankan perbuatan baik tanpa mengikutsertakan Injil, maka tipe pesan Reformed yang berpusat pada kedaulatan Tuhan terkadang ingin menekankan Injil tanpa mendorong orang untuk mengabdikan diri pada perbuatan baik. Yang pertama berupaya membangun rumah tanpa meletakkan fondasi, sedangkan yang kedua ingin meletakkan fondasi tanpa membangun apa pun di atasnya. Keduanya bertentangan dengan Titus 3, dan keduanya tidak menghiasi doktrin Allah Juruselamat kita seperti yang Paulus maksudkan. Keduanya adalah kesalahan pengajaran Kristen.

Di ayat 8, ketika berbicara tentang perbuatan baik, Paulus berkata, “Hal-hal itu baik dan bermanfaat bagi manusia.” Berbeda dengan “pertengkaran bodoh” dan “pertengkaran mengenai hukum Taurat” (ayat 9), perbuatan baik membantu orang lain. Lalu dalam ayat 14, Paulus berkata, “Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.” Anda melihat suatu kebutuhan, dan Anda mencoba untuk memenuhinya—itu pekerjaan yang disenagi Tuhan. Perbuatan baik adalah luapan kasih kepada Kristus yang memenuhi kebutuhan sesama. Itu adalah bagian penting dari hidup baru, seperti yang dilakukan Zakheus (Lukas 19:8).

Perbuatan baik dapat memenuhi kebutuhan besar atau kecil, material atau spiritual, dan penerimanya bisa siapa saja. Jelas bahwa “perbuatan baik” bukanlah suatu kategori sempit yang harus kita cermati untuk menemukannya. Ladangnya sudah matang, kebutuhannya banyak, dan peluangnya ada di mana-mana. “Tidak seorang pun berhak bermalas-malasan,” kata William Wilberforce. Di dunia seperti ini, Anda selalu dapat menemukan “beberapa ketidaktahuan untuk diinstruksikan, beberapa kesalahan untuk diperbaiki, beberapa ingin memberikan, beberapa kesengsaraan untuk meringankan.”

Injil memberitahu bahwa suatu hari Anda akan berjumpa dengan Yesus muka dengan muka. Ketika hari itu tiba, Anda akan mendengar Yesus berkata, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Matius 25:34-36).

Pagi ini kita harus menyadari bahwa jika hari itu datang hidup kita tidak percuma dan kerja keras kita tidak akan sia-sia. Inilah yang justry ingin diciptakan oleh Yesus “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.(Titus 2:14). Maka janganlah kita menjadi lelah dalam berbuat baik. Sebaliknya, marilah kita belajar mengabdikan diri pada perbuatan baik.

Tinggalkan komentar