Mengapa kita harus humanis?

”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Matius 5:13

Matius mencatat Khotbah Yesus di Bukit. Bagian sebelumnya mencatat Ucapan Bahagia, dan sekarang Kristus beralih ke serangkaian ajaran singkat tentang berbagai topik. Pertama, Ia membahas perlunya para pengikut Yesus untuk hidup sesuai dengan kebajikan yang dijelaskan dalam Ucapan Bahagia.

Matius 5:13–20 menggambarkan peran penting yang dilayani oleh para murid dan pengikut Yesus di bumi. Mereka adalah garam dunia dan terang dunia. Metafora-metafora ini menggambarkan dampak yang seharusnya dimiliki orang Kristen di dunia. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi mereka untuk melakukan pekerjaan baik yang Tuhan berikan kepada mereka. Jika tidak, mereka tidak akan lagi berguna sebagai garam dan terang. Sebaliknya, mereka harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, membiarkan terang mereka bersinar di dunia yang gelap agar semua yang melihatnya akan memuliakan Tuhan. Inilah konsep orang Kristen humanis.

Sebagai orang Kristen yang humanis, kita diminta untuk memengaruhi budaya masyarakat untuk kebaikan. Ini merupakan mandat budaya yang kita terima dari Tuhan. Mandat budaya, dalam pengertian yang paling alkitabiah, adalah kewajiban pribadi kita untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada kehendak Tuhan, khususnya termasuk cara kita berinteraksi dengan orang lain melalui pemerintahan dan masyarakat.

Humanisme Kristen mengatakan bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Segala sesuatu harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kesombongan atau promosi diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan spiritual dalam segala hal yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan dan jalani. sebagai orang humanis, orang Kristen percaya bahwa ini termasuk kehidupan intelektual, kehidupan artistik, kehidupan rumah tangga, kehidupan ekonomi, kegiatan politik, keadilan sosial, hubungan ras, penegakan hukum dan penataan lingkungan.

Seperti garam yang mengawetkan daging agar tidak membusuk, orang-orang percaya kepada Yesus, yang tersebar di seluruh dunia, membantu menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam ketidakbertuhanan, amoralitas, kekacauan, kemelaratan dan ketidakadilan. Garam mengubah rasa makanan secara permanen, sama seperti pengaruh orang-orang saleh dapat mengubah suatu budaya. Inti utamanya adalah bahwa orang Kristen melayani tujuan ilahi di dunia hanya dengan menjalani apa yang kita yakini tentang Yesus. Menjadi orang Kristen bukan hanya sekadar beriman, tetapi juga mewujudkan iman itu dengan perbuatan baik kepada sesama dan masyarakat untuk memuliakan Tuhan.

Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Dulu, seperti sekarang, garam memiliki berbagai fungsi. Sebelum adanya lemari pendingin, garam digunakan secara luas sebagai bahan pengawet dengan menggosokkannya ke daging. Tentu saja, garam juga digunakan untuk memberi rasa pada makanan. Panggilan Yesus bagi para pengikutnya untuk menjadi “garam dunia” membawa manfaat tersebut, secara simbolis, ke dalam kehidupan rohani kita.

Seperti garam yang sangat berguna dalam kehidupan, manusia memiliki martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia adalah agen yang otonom, rasional, dan bermoral itu sendiri merupakan cerminan bahwa mereka diciptakan dengan imago Dei (gambar Allah). Nilai manusia diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasih-Nya bagi orang-orang (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan perumpamaan-Nya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37).

Orang Kristen memahami bahwa semua harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh ke dalam pengetahuan penuh tentang setiap hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; lih. Kolose 1:9). Sebagai orang yang humanis, orang Kristen menghargai budaya manusia tetapi mengakui adanya efek noetik (yaitu, intelektual) dari sifat manusia yang sudah jatuh (1 Korintus 1:18–25) dan adanya pengaruh dosa di dalam setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Karena itu, humanisme Kristen mengatakan bahwa manusia hanya bisa mencapai potensi yang murni dan penuh dalam menjalankan mandat budaya ini ketika ia memasuki hubungan yang benar dengan Kristus. Pada saat keselamatan, ia menjadi ciptaan baru dan dapat mengalami pertumbuhan dalam setiap bidang kehidupan (2 Korintus 5:17) sehingga ia bisa berguna untuk memajukan dan menertibkan masyarakat. Pada waktu ia diselamatkan, ia merasakan bahwa itu hanya karena karunia Tuhan dan karena itu ia ingin menyatakan rasa syukurnya dengan berbuat berbagai kebajikan untuk masyarakat selama hidup di dunia.

Orang Kristen berhenti melayani tujuan itu ketika mereka berhenti hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan. Ketika para pengikut Yesus berhenti menjadi miskin dalam roh, tidak lagi hidup dalam pertobatan dan kelembutan, tidak memiliki keinginan untuk kebenaran, dan bisa berbelas kasih, mereka berhenti melayani tujuan mereka di bumi. Mereka berhenti menjadi orang Kristen yang humanis. Ini sama dahsyatnya, dan tidak terpikirkan, seperti jika garam kehilangan rasanya. Garam tersebut mungkin sudah diencerkan, atau bahkan terkontaminasi dengan berbagai racun. Itu akan menghasilkan sesuatu yang seharusnya menjadi garam tetapi tidak terasa atau bertindak seperti garam lagi. Itu membuatnya tidak berguna, dan harus dibuang.

Hari ini kita belajar bahwa Yesus menunjukkan hal yang sama dapat terjadi pada seorang murid yang berhenti hidup setia kepada Kristus di dunia. Intinya di sini bukanlah tentang hilangnya keselamatan, tetapi hilangnya tujuan. “Garam yang buruk” tidak dihancurkan atau dibakar, itu hanya diabaikan bersama dengan debu tanah. Orang Kristen sejati percaya bahwa gereja harus terlibat aktif dalam budaya dan bahwa mereka harus menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat manusia sambil mencegah dan melawan semua pengaruh yang tidak manusiawi di dunia.

Tinggalkan komentar