“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6:6-9

Saya masih ingat di zaman saya masih di universitas, ketika seseorang menyapa teman setelah lama tidak berjumpa, terkadang muncul sapaan “wah tambah makmur ya?”. Ini mungkin bukan dimaksudkan bahwa sang teman terlihat kaya, tetapi telihat lebih gemuk. Ada beda besar di antara arti kata “makmur” dan “gemuk”, tetapi kesan banyak orang pada waktu itu adalah bahwa kemakmuran sering membuat orang gemuk karena adanya kesempatan dan kemampuan untuk sering membeli makanan yang serba enak.
Apakah kebanyakan orang ingin makmur? Mungkin saja! Siapa pula yang tidak ingin makmur, jika kemakmuran bisa membuka kemungkinan untuk hidup sehat? Dengan kemampuan finansiil kita bisa mengkonsumsi makanan “empat sehat lima sempurna”, hidup di rumah yang sehat, berolahraga di gym secara teratur dan pergi ke dokter untuk check up secara teratur. Lain halnya kalau orang sengaja memakai uangnya untuk sering makan enak, berpesta pora dan pergi ke tempat minum, karena semua itu akan membuat mereka sering ke dokter untuk berobat. Walaupun demikian, banyak orang Kristen yang memilih kecukupan daripada kemakmuran karena sadar akan dampak negatif kemakmuran. Kekayaan memang tidak menjamin bahwa orang merasa puas dan cukup, tetapi orang bisa merasa cukup tanpa menjadi kaya raya.
Bab 1 Timotius 6 melengkapi instruksi Paulus yang sangat praktis kepada teman dan muridnya, Timotius. Fokus utama dari bagian ini adalah perilaku Kristen yang tepat, dan menghindari kejahatan. Paulus memberikan beberapa kelemahan karakter yang umum pada mereka yang mengajarkan doktrin Kristen palsu. Ia juga memberikan peringatan keras tentang bahaya keserakahan dan materialisme. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan membuka diri terhadap hampir semua dosa lain yang dapat dibayangkan. Timotius diberi amanat yang jelas untuk menjunjung tinggi iman dan kesaksiannya, disertai berkat dan dorongan dari Paulus.
Ayat 1 Timotius 6:3–10 menggambarkan kelemahan karakter yang umum di antara para guru palsu. Mereka yang menolak untuk menerima doktrin yang benar sering kali dicirikan oleh sifat-sifat seperti keras kepala, keserakahan, fitnah, dan pertengkaran. Penyebab utama dari kesalahan-kesalahan ini adalah keengganan untuk menerima kebenaran, dan desakan untuk berpegang teguh pada ajaran-ajaran palsu yang mengajarkan bahwa mengejar kekayaan adalah baik karena sebagai anak-anak Tuhan yang mahakaya kita harus bisa kaya, dan dengan kekayaan kita akan lebih bisa memuliakan Tuhan. Paulus juga memberikan penjelasan yang lebih luas tentang bagaimana dan mengapa keserakahan dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Tidak adanya rasa cukup dan puas bisa menyebabkan berbagai dosa.
Ayat-ayat sebelumnya memang menggambarkan kelemahan yang umum pada guru-guru palsu. Ini termasuk aspek-aspek seperti pertengkaran, keserakahan, dan keras kepala. Iri hati juga disebutkan; guru palsu sering kali berusaha mendapatkan apa yang dimiliki orang lain. Ayat 6 sampai 10 adalah penjelasan singkat tentang pandangan Kristen yang benar tentang kekayaan. Berbeda dengan kehidupan yang penuh dosa dan keinginan untuk mendapatkan keuntungan oleh guru-guru palsu, “ibadah dengan rasa cukup memberi keuntungan besar.” Kesalehan dan ibadah adalah tema di seluruh 1 Timotius, dan dinyatakan beberapa kali dalam surat pendek ini.
Kepuasan/kecukupan adalah tema yang juga dikembangkan Paulus di tempat lain. Misalnya, Filipi 4:11 menyatakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dia bisa hidup baik dengan sedikit atau berkelimpahan karena dia tahu Tuhan dapat memenuhi kebutuhannya. Tetapi bagaimana ibadah dengan rasa cukup bisa menjadi keuntungan besar? Idenya secara harfiah adalah keuntungan atau keuntungan yang besar atau luar biasa. Mereka yang hidup dengan cara yang menghormati Tuhan, dan yang merasa puas dengan apa pun yang mereka miliki, memiliki kehidupan rohani yang kuat. Ini dapat membantu mereka melewati kesulitan hidup apa pun.
Ajaran ini menggemakan ayat-ayat Perjanjian Lama seperti Amsal 15:16 dan Mazmur 37:16.
“Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.” Amsal 15:16
“Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik.” Mazmur 37:16
Pagi ini, adalah panggilan bagi kita untuk tidak merasa terbebani oleh harta benda selama hidup di dunia, yaitu dengan memilih untuk memiliki hati yang ceria dengan menghitung berkat Tuhan yang sudah kita terima, terutama karunia keselamatan.
“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” Amsal 15:15