Berapa besar iman yang Anda miliki?

Ia berkata kepada mereka: ”Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17:20

Pada waktu itu, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung yang tinggi. Di sana, mereka melihat-Nya “berubah rupa” menjadi bentuk ilahi yang bersinar. Mereka juga melihat Kristus berbicara dengan Musa dan Elia tetapi diperintahkan untuk tidak membicarakan peristiwa ini sampai saatnya tiba.

Pada saat itu, seorang ayah yang putus asa memohon pertolongan kepada sembilan murid yang tertinggal ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung. Putra ayah itu sedang dirasuki setan, dan mengalami kejang-kejang epilepsi serta sering jatuh ke dalam air atau api. Murid-murid itu tidak dapat mengusir setan itu (Markus 9:14–29). Mereka telah gagal dalam tugas yang sangat penting. Yesus, yang jengkel dengan keraguan para murid-Nya, menegur setan itu dan menyembuhkan anak laki-laki itu.

Para murid benar-benar ingin memahami apa yang salah (Matius 17:18–19). Mereka telah bertanya kepada-Nya secara pribadi, jauh dari orang banyak, mengapa mereka tidak dapat mengusir setan itu. Yesus menanggapi mereka secara langsung, tetapi relatif ramah dalam ayat ini. Inti dari kegagalan mereka adalah “iman mereka yang kecil.” Mereka tidak mempercayai kuasa yang sebelumnya diberikan kepada mereka oleh Yesus (Matius 10:8) atau mereka tidak percaya kuasa seperti itu dapat dijalankan melalui mereka. Mungkin mereka melihat kasus khusus ini terlalu sulit. Bahwa mereka dapat melakukan mukjizat dengan menggunakan kuasa Kristus, merupakan kenyataan yang mencengangkan. Di sini Yesus menyingkapkan bahwa kunci kuasa itu adalah iman kepada-Nya.

Bagian dari pelajaran di sini adalah potensi iman yang sejati. Dalam memberikan peringatan ini, Kristus sekali lagi menyebutkan biji sesawi kecil sebagai metafora untuk iman yang hidup dan aktif (Matius 13:31–32). Bahkan dengan jumlah iman sekecil itu, Yesus berkata, mereka akan dapat menyuruh gunung untuk pindah dan gunung itu akan melakukannya. Bahkan dengan sedikit iman pada kuasa dan otoritas-Nya, tidak ada yang mustahil bagi mereka. Kita tidak tahu sejauh mana iman para murid itu kurang; mungkin kejang epilepsi telah mengejutkan mereka dan menyebabkan iman mereka goyah.

Yesus menggunakan momen itu untuk menekankan kuasa iman, tidak peduli seberapa besarnya (ayat 20). Bahwa iman dapat memindahkan gunung bukanlah ungkapan harfiah, itu adalah metafora yang berarti iman dapat melakukan hal yang mustahil (lihat 1 Kor. 13:2). Tentu saja, kuasa tidak melekat dalam iman itu sendiri; iman bukanlah cara ajaib untuk memanipulasi kenyataan. Sebaliknya, iman itu efektif karena iman adalah sarana yang dengannya kita memperoleh bantuan dari Allah sendiri, yang bersama-Nya segala sesuatu mungkin terjadi (Matius 19:26). Iman adalah keyakinan, seperti komentar John Calvin, bahwa “Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, jika kita tetap membuka pintu untuk menerima kasih karunia-Nya”.

Hal di atas adalah pelajaran yang penting dan kuat bagi para murid dan kita sendiri. Dalam keadaan yang tidak terilhat kritis, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Tetapi, jika ada hal yang sangat mengejutkan atau menguatirkan, kita mungkin menjadi sangat kuatir dan takut. Jika demikian, pagi ini kita ditegur oleh Yesus seperti apa yang terjadi pada murid-murid Yesus. Teguran Yesus adalah untuk memulihkan kembali iman kita.

Kita bisa melihat bahwa para murid yang sudah ditegur Yesus itu pada akhirnya akan melakukan banyak mukjizat yang tampaknya mustahil selama sisa hidup mereka di bumi. Kuasa untuk melakukannya tidak akan pernah datang dari kemampuan atau kebaikan atau status mereka sendiri. Itu akan selalu datang melalui anugerah khusus mereka, yang dimungkinkan oleh iman mereka kepada Yesus yang mereka pelihara.

Perlu diingat, ayat di atas tidak mendefinisikan iman secara menyeluruh; dengan demikian, bacaan ini harus dibaca bersama dengan bacaan lain seperti 1 Yohanes 5:14, yang menekankan pentingnya kehendak Allah ketika kita berdoa. Seperti yang ditulis Dr. John MacArthur: “Iman sejati, menurut definisi Kristus, selalu melibatkan penyerahan diri kepada kehendak Allah” (The MacArthur Bible Commentary). Dengan iIman kita percaya bahwa Allah dapat melakukan apa saja, tetapi dengan iman kita juga mengantisipasi hanya hal-hal yang telah Ia janjikan, dan bukannya mengharapkan apa yang di luar kehendak-Nya.

Tinggalkan komentar