Hal menjadi garam dan terang dunia

”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5:13-14

Matius mencatat Khotbah Yesus di Bukit. Bagian sebelumnya mencatat Ucapan Bahagia, dan sekarang Kristus beralih ke serangkaian ajaran singkat tentang berbagai topik. Pertama, Yesus membahas perlunya para pengikut-Nya untuk hidup sesuai dengan kebajikan yang dijelaskan dalam Ucapan Bahagia. Ini diperlukan untuk menjadi “garam” dan “terang” di dunia.

Matius 5:13–20 menggambarkan peran penting yang dilayani oleh para murid dan pengikut Yesus di bumi. Mereka adalah garam dunia dan terang dunia. Metafora-metafora ini menggambarkan dampak yang seharusnya dimiliki orang Kristen di dunia. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi mereka untuk melakukan pekerjaan baik yang Tuhan berikan kepada mereka. Jika tidak, mereka tidak akan lagi berguna sebagai garam dan terang. Sebaliknya, mereka harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, membiarkan terang mereka bersinar di dunia yang gelap agar semua yang melihat akan memuliakan Tuhan. Ini adalah peran umat Tuhan selama hidup di dunia: bahwa mereka harus mengambil keputusan untuk menaati perintan Yesus tersebut.

Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Dulu, seperti sekarang, garam memiliki berbagai fungsi. Sebelum zaman pendinginan, garam digunakan secara luas sebagai bahan pengawet dengan menggosokkannya ke daging. Dalam beberapa kasus, garam dapat digunakan sebagai semacam pupuk. Tentu saja, garam juga digunakan untuk memberi rasa pada makanan. Panggilan Yesus bagi para pengikut untuk menjadi “garam dunia” membawa manfaat tersebut, secara simbolis, ke dalam kehidupan rohani kita.

Seperti garam yang mengawetkan daging agar tidak membusuk, orang-orang yang percaya kepada Yesus, yang tersebar di seluruh dunia, membantu menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam ketidakbertuhanan, amoralitas, kekacauan, dan penghakiman yang diakibatkannya. Garam mengubah rasa makanan secara permanen, sama seperti pengaruh orang-orang saleh dapat mengubah suatu budaya. Inti utamanya adalah bahwa orang Kristen melayani tujuan ilahi di dunia hanya dengan menjalani apa yang kita yakini tentang Yesus.

Orang Kristen berhenti melayani tujuan itu ketika kita berhenti hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan. Mungkin mereka sudah puas dengan karunia keselamatan yang mereka terima. Mungkin mereka merasa bahwa semua yang terjadi dalam hidup mereka, baik itu hal yang baik dan benar maupun hal yang jahat dan penuh dosa adalah sesuai dengan apa yang sudah ditentukan Tuhan. Ucapan Bahagia menempatkan tujuan hidup orang Kristen itu dalam konteksnya. Ketika para pengikut Yesus berhenti menjadi miskin dalam roh, hidup dalam pertobatan dan kelembutan, memiliki keinginan untuk kebenaran, dan berbelas kasih, mereka berhenti melayani Tuhan di bumi. Ini sama dahsyatnya, dan tidak terpikirkan, seperti jika garam kehilangan rasanya.

Beberapa orang menolak metafora ini dengan mengatakan bahwa garam tidak pernah kehilangan rasa asinnya, menurut ilmu kimia. Menurut mereka, ketika kita menjadi umat Tuhan kita menjadi garam dalam arti berbeda dengan orang lain karena adanya karunia Tuhan. Ini tidak tepat sasaran dan tidak benar dalam arti praktis. Ajaran Yesus dapat diartikan, sebagian, bahwa kualitas-kualitas tertentu sama bawaannya bagi orang percaya yang telah lahir baru seperti rasa asin bagi garam. Gagasan kehilangan sifat-sifat tersebut tidak terpikirkan. Dalam pengertian yang lebih praktis, garam yang digunakan orang setiap hari tidak murni secara kimiawi. Garam tersebut dapat diencerkan, atau bahkan terkontaminasi. Itu akan menghasilkan sesuatu yang seharusnya menjadi garam tetapi tidak terasa atau bertindak seperti garam lagi. Itu membuatnya tidak berguna, dan harus dibuang. Yesus menunjukkan hal yang sama dapat terjadi pada seorang murid yang berhenti hidup setia kepada Kristus di dunia. Intinya di sini bukanlah tentang hilangnya keselamatan, tetapi hilangnya tujuan. “Garam yang buruk” tidak dihancurkan atau dibakar, itu hanya diabaikan bersama dengan debu tanah.

Selanjutnya, Yesus membandingkan mereka dengan terang. Ia menyebut mereka “terang dunia,” bahkan. Terang merupakan simbol penting dalam pandangan dunia Yahudi. Sama seperti budaya Yunani yang menghargai pengetahuan, atau budaya Romawi yang menghargai kemuliaan, atau budaya Barat modern yang menggembar-gemborkan kebebasan, standar ideal budaya Ibrani adalah terang. Konsep ini sangat berperan dalam penjelasan Alkitab tentang kesalehan dan kebenaran (Amsal 4:18–19; Matius 4:16; Yohanes 8:12; 2 Korintus 4:6).

Secara rohani, tidak ada terang sejati di dunia ini selain Yesus Kristus. Namun, terang-Nya bersinar melalui setiap orang yang menjadi milik-Nya. Dengan cara ini, terang Kristus disebarkan ke dalam kegelapan di setiap sudut umat manusia. Bahwa terang ini dimaksudkan untuk terlihat oleh dunia juga penting. Yesus menambahkan metafora ini dengan merujuk pada sebuah kota yang terletak di atas bukit. Kota itu tidak dimaksudkan untuk disembunyikan; kota di atas bukit dimaksudkan untuk dilihat dan ditemukan bahkan dalam kegelapan malam. Pada zaman Kristus, tembok-tembok di sekeliling kota di atas bukit sering kali terbuat dari batu kapur putih, yang relatif mudah dilihat, bahkan pada malam yang redup.

Dengan cara yang sama, terang Kristus tidak dimaksudkan untuk disembunyikan di bumi. Terang itu dimaksudkan untuk bersinar terang dari semua orang yang menjadi milik Kristus. Terang itu dimaksudkan untuk ditemukan, dengan cara ini, oleh mereka yang masih berada dalam kegelapan. Yesus akan menambahkan poin ini dalam ayat berikutnya bahwa terang Kristus tidak boleh ditutupi dalam kehidupan para pengikut-Nya. Terang itu dimaksudkan untuk dilihat dan bukannya ditutupi dengan berbagai hal duniawi.

Hari ini, pertanyaan kepada kita semua: apakah kita sudah berupaya untuk menjadi garam dan terang dunia? Ataukan kita mengabaikan pentingnya untuk membagikan garam dan terang itu kepada seisi dunia? Kita harus sadar bahwa jika Tuhan sudah memungkinkan kita untuk menjadi garam dan terang dunia, kita harus mengambil keputusan untuk mau menggunakan hidup kita guna membawa orang lain kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita.

“Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah , yang telah kamu terima.” 2 Korintus 6:1

Tinggalkan komentar