Jangan jemu untuk berdoa dan berbuat baik

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Lukas 18:1-8

Yesus baru saja menjelaskan kepada para murid seperti apa dunia ini saat Ia kembali. Pada waktu itu, kebanyakan orang-orang sudah tidak pernah memikirkan Tuhan. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari, menikah, sibuk bekerja, berpesta-pora, dan membuat rencana. Seperti orang-orang pada zaman Nuh dan Lot, mereka tidak akan menyadari bahwa penghakiman sudah dekat. Saat Yesus datang, Ia akan memisahkan para pengikut-Nya dari mereka yang menolak-Nya. Bahkan hubungan antar manusia yang paling dekat pun akan hancur (Lukas 17:22–37).

Tetapi, para murid tampaknya putus asa dengan peringatan Yesus. Mengapa demikian? Para murid ragu bahwa penghakiman Tuhan terhadap musuh-musuh mereka akan pernah datang. “Putus asa” berarti kehilangan motivasi terhadap sesuatu yang positif: gagal mempertahankan tekad tentang suatu subjek atau ide. Yesus tahu para pengikut-Nya akan menghadapi lebih banyak kesulitan daripada yang mereka alami sekarang. Sebagian besar dari 12 murid Yesus akan mati sebagai martir. Seperti itu, kita juga melihat keadaan dunia yang sudah bobrok saat ini dan bertanya-tanya apakah Tuhan akan pernah mendatangkan keadilan-Nya. Jawaban Yesus adalah “teruslah berdoa”.

Melihat keraguan muridnya, Yesus memberi perumpamaan tentang janda yang tekun. Perlu dicatat, hanya Lukas yang menulis tentang perumpamaan ini. Yesus membandingkan Allah dengan hakim yang korup yang hanya akan memberikan keadilan kepada seorang janda ketika ia merasa terganggu oleh permintaannya yang tidak kunjung berhenti. Berbeda dengan hakim itu, Tuhan yang mahaadil tentu ingin memberikan keadilan kepada para semua pengikut-Nya, sebagian di saat sekarang dan sepenuhnya ketika Yesus kembali. Tetapi, seperti janda itu kita harus mau meminta dalam doa dengan tekun dan dengan iman. Yesus selanjutnya menunjukkan bahwa iman yang benar itu rendah hati, tidak memuji diri sendiri (Lukas 18:9-14), seperti anak kecil (Lukas 18:15-17), dan membuat kita mmengabaikan hal-hal duniawi tetapi sebaliknya, berpegang teguh kepada jandi Allah (Lukas 18:18-30).

Berdoa untuk kedatangan Yesus kembali dan keadilan yang akan Dia datangkan “selalu” tidak berarti kita perlu berdoa secara aktif setiap detik dalam keadaan terjaga. Itu berarti kita harus tekun berdoa dengan teratur. Yesus memberi kita perintah: “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Perintah ini penting, terutama saat kita merasa putus asa atau lelah dalam usaha berbuat baik. Kelelahan adalah pergumulan yang umum bagi orang percaya di setiap generasi, terutama jika apa yang benar sudah tidak banyak mendapat perhatian masyarakat. Bagian ini, dengan kontras yang kuat antara janda dan hakim yang tidak adil, memberikan dorongan dan wawasan praktis tentang bagaimana kita dapat terus berbuat baik tanpa menjadi jemu-jemu, sekalipun lingkungan kita mencemooh cara hidup kita. Ini tidak mudah dilakukan dan karena itu kita mendapat tiga pengingat untuk membantu kita tetap pada jalan yang benar.

  1. Doa yang Tekun Menopang Kita

Perumpamaan Yesus tentang janda yang tekun dan hakim yang tidak adil menekankan perlunya doa yang terus-menerus. Tekad sang janda untuk mencari keadilan meskipun ditolak berulang kali menjadi contoh bagi kita untuk terus-menerus membawa beban dan keinginan kita di hadapan Tuhan. Yesus mendorong kita untuk tidak patah semangat saat jawaban tertunda atau saat kita tidak melihat hasil langsung. Doa yang tekun bukanlah tentang membuat Tuhan lelah, tetapi tentang memperdalam kepercayaan kita pada karakter dan waktu-Nya.

  1. Kelelahan dalam Berbuat Baik Itu Wajar

Kehilangan semangat adalah salah satu hal yang paling mudah dilakukan dalam kehidupan Kristen. Mengikuti perintah Kristus dan melayani orang lain bisa melelahkan, terutama ketika kita melihat sedikit buah yang terlihat. Sebenarnya, kita tidak perlu kegigihan dalam berdoa jika kita hanya berniat untuk berhenti melakukan hal-hal buruk; tetapi, kita perlu kegigihan dalam berdoa untuk terus melakukan hal-hal baik. Kelelahan dalam berbuat baik bukanlah tanda kegagalan; itu adalah panggilan untuk terus mengandalkan kekuatan Tuhan. Pesan perumpamaan itu mendorong kita untuk bertekun dalam menghadapi keputusasaan, mengingatkan kita bahwa kegigihan adalah kunci ketahanan rohani.

  1. Janji tentang Hadiah di Masa Depan

Yesus meyakinkan kita bahwa kegigihan dalam doa dan perbuatan baik tidak sia-sia. Tuhan itu adil dan penuh belas kasihan, dan Dia akan segera mendatangkan keadilan kepada orang-orang pilihan-Nya. Janji ini mendorong kita untuk bertahan, dengan kesadaran bahwa kesetiaan kita akan diberi pahala pada waktu Tuhan yang sempurna.

Hari ini, jika kita membaca perintah Yesus untuk tetap berdoa, itu berarti bahwa kita tidak boleh cepat patah semangat dalam menghadapi tantangan hidup — bertekunlah dalam doa, teruslah berbuat baik, dan percayalah pada kesetiaan Tuhan untuk menopang hidup kita. Tuhan bukanlah hakim yang tidak adil dan yang hanya mementingkan diri sendiri. Tuhan adalah Hakim yang mahaadil dan mahakasih, yang selalu mau menanggapi doa-doa yang disampaikan kepada-Nya dengan iman.

Tinggalkan komentar