“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.’ 1 Yohanes 3:1

Bagi orang yang tidak mengenal Tuhan yang kita imani, cara hidup orang Kristen sejati mungkin dipandang sebagai keanehan. Jika dunia memandang bahwa hidup itu adalah sesuatu kebebasan yang harus dipakai dan dinikmati, orang Kristen sejati seakan menjauhkan diri dari apa yang dianggap nikmat dan nyaman oleh dunia. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa kita berusaha untuk hidup baik karena kita percaya adanya Allah yang gemar menghukum manusia. Tetapi itu bukan apa yang diimani orang Kristen. Bab ketiga dari 1 Yohanes sebagian besar berfokus pada konsep kasih Allah. Karena kasih-Nya, Allah tidak hanya menyebut kita anak-anak-Nya, Dia benar-benar menjadikan kita anak-anak-Nya. Bahkan ketika kita masih hidup dalam dosa, Allah sudah mengasihi kita (Roma 5:8).
Kitab 1 Yohanes 3:1–3 menyoroti kasih Allah yang luar biasa bagi kita. Dia tidak hanya bersedia menyebut kita anak-anak-Nya, kita benar-benar adalah anak-anak-Nya. Sebagian dari transformasi itu terjadi secara langsung, tetapi belum semua yang akan kita alami terungkap. Selama kita hidup di dunia, kita tetap bisa jatuh dalam dosa dan mengalami hal-hal yang tidak nyaman dan bahkan berbagai penderitaan. Hanya ketika Kristus kembali, kita akan melihat semua yang telah Dia persiapkan bagi kita. Keselamatan kita dan kemuliaan dari Allah akan bisa terlihat oleh semua makhluk ciptaan Allah.
Menjadi anak Allah dipandang sebagai tanda kasih yang besar dari Allah Bapa. Yohanes secara khusus menyebutkan bahwa orang percaya tidak hanya “dianggap anak-anak Allah;” orang percaya benar-benar adalah anak-anak Allah. Tema ini berhubungan erat dengan kata-kata Yohanes 1:12: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” Anak-anak Allah adalah mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan percaya dalam nama-Nya sebagai Mesias yang telah bangkit.
Yohanes menyoroti konsep ini dengan menggunakan istilah Yunani ideate, yang berarti, “lihatlah!” Gagasan bahwa Allah mengasihi kita untuk menjadikan kita anak-anak-Nya adalah salah satu aspek Injil yang menakjubkan. Yohanes kemudian mencatat mengapa orang yang tidak percaya tidak “mengenal” orang percaya: Orang yang tidak percaya tidak mengenal Kristus. Seperti yang digunakan oleh Yohanes, konsep “mengenal” melibatkan lebih dari sekadar informasi. Ini merujuk pada rasa keintiman, persekutuan, dan koneksi.
Dunia yang tidak percaya tidak memiliki hubungan dengan Kristus. Karena itu, mereka tidak memiliki hubungan baik dengan anak-anak-Nya. Jika cara hidup kita tidak berbeda dengan orang dunia, dan kita dengan senang hati bergaul dan mengikuti cara hidup mereka, itu mungkin menandakan bahwa kita sendiri belum sadar akan kasih Allah. Anak-anak Allah harus semakin menjadi seperti Bapa, terlepas dari apakah orang lain mengenali kita atau tidak. Kita adalah anak-anak Allah yang sangat dikasihi-Nya, terlepas dari keadaan kita saat ini. Yohanes juga menjelaskan bagaimana dosa, termasuk kebencian, tidak pernah merupakan hasil dari hubungan yang benar dengan Allah. Orang Kristen, berbeda dengan dunia, seharusnya melakukan lebih dari sekadar ”merasakan” kasih; kita juga harus melakukannya.
Pagi ini kita harus menyadari bahwa sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Jarena itu setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, harus berusaha menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. Kita tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak ingin berbuat dosa lagi. Setiap orang yang tetap hidup dalam dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.