Rencana belum tentu menjadi kenyataan

“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus 4: 13-14

Apa yang menyebabkan perdebatan dan pertikaian di antara orang-orang Kristen kepada siapa Yakobus menulis suratnya? Mereka hidup dengan hikmat duniawi. Pandangan yang salah ini mengatakan bahwa manusia harus melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup ini, bahkan jika itu menyakiti atau merugikan orang lain. Yakobus mengatakan bahwa hidup seperti itu adalah seperti perzinahan, karena menolak hikmat Tuhan dan merangkul hikmat dunia.

Yakobus 4:13-17 berfokus pada kesombongan dalam merencanakan kesuksesan kita sendiri tanpa mengakui bahwa kita bergantung pada Allah. Adalah sangat bodoh untuk mengabaikan fakta bahwa kita tidak dapat melihat masa depan. Hidup kita pendek dan rapuh. Ini tidak berarti tidak pernah membuat rencana. Sebaliknya, kita harus selalu membuat rencana dengan kesadaran bahwa rencana itu hanya dapat berhasil jika Allah mengizinkannya. Sikap lain apa pun adalah berdosa, sombong, dan picik.

Memang, pada umumnya orang selalu mempunyai keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu di masa depan. Hal ini lebih umum di kalangan orang yang belum mencapai usia uzur, tetapi sekalipun mereka yang sudah pensiun tidaklah jarang ditemui mereka yang mempunyai rencana masa depan sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Masa depan adalah relatif, buat mereka yang masih anak-anak menjadi orang dewasa barangkali tidak atau belum pernah terpikirkan, tetapi mereka yang sudah termasuk dewasa tetapi masih tergolong muda mungkin mempunyai berbagai cita-cita dan rencana hidup yang diharapkan untuk tercapai sebelum datangnya usia tua. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, begitulah nasihat yang sering diberikan kepada orang muda; tetapi bagi yang sudah pensiun mungkin pandangan hidup sudah berubah untuk menerima apa yang ada.

Ayat-ayat di atas menetapkan apa yang harus dilakukan orang Kristen dalam hidup sehari-hari, dalam hal rencana bisnis/kegiatan sehari-hari. Masalahnya di sini bukan pada pembuatan rencana—Yakobus tidak mengatakan bahwa perencanaan adalah dosa, atau bodoh. Masalah yang Yakobus ceritakan, dengan menggunakan contoh ini, adalah sikap mengandalkan diri sendiri. “Besok, aku akan melakukan ini atau itu.” Ayat 16 menunjukkan sikap sombong yang dimaksudkan Yakobus di balik kata-kata ayat ini. Membuat pernyataan seperti itu, karena percaya diri pada kemampuan sendiri, dan tanpa kerendahan hati, adalah tidak bijaksana untuk tidak dikatakan mengundang bencana.

Yakobus telah membahas masalah mengikuti proses berpikir dunia, yang berbeda dengan hikmat Tuhan. Di sini, Yakobus membayangkan seorang pengusaha yang menyatakan bagaimana ia akan menghasilkan lebih banyak uang, bagaimana ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidup. Dalam konteksnya, ini dimaksudkan sebagai orang yang membuat rencana sesuai dengan pola dunia. Apa yang halal dan lazim di dunia dianggap tidak salah. Sekalipun mereka sadar bahwa itu bukan yang disenangi Tuhan, mereka membuat rencana dan bertekad untuk menaatinya dengan kekuatannya sendiri dan dengan kekuatan kehendaknya sendiri. Sekalipun tidak mengatakannya dengan terang-terangan, mereka pada hakikatnya percaya bahwa itu adalah free will atau kehendak bebas manusia yang diberikan Tuhan. Itu bukanlah kehidupan ketergantungan yang Allah panggil untuk dijalani oleh anak-anak-Nya.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit dan berusaha mencapainya, dan juga bukan untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa – tetapi untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Tambahan pula, Yesus mengatakan bahwa dua hukum utama yang harus dijalankan manusia seumur hidup adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 37-40).

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil yang baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri atau demi anak-cucu. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Orang Kristen harus bertobat dan mendekatkan diri kepada Tuhan lagi. Tuhan akan memberikan kasih karunia kepada mereka yang sadar. Kita harus percaya kepada-Nya untuk menyediakan apa yang kita butuhkan, menjadi Hakim kita, dan mengangkat kita pada waktu-Nya.

Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa semua rencana kita bergantung pada-Nya, dan Dia dapat mengubahnya kapan saja. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini. Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan di tahun yang akan datang!

Tinggalkan komentar