Apakah Anda sering merasa khawatir?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5:7

Setiap orang pernah khawatir, setiap orang punya kekhawatiran. Itu adalah normal. Orang Kristen pun demikian, dan karena itu ayat di atas adalah sangat relevan. Setiap kali kekhawatiran muncul, kita menyerakannya kepada Tuhan agar kita akan mendapat kelegaan. Ini bukan berarti bahwa kemudian hidup kita akan bebas dari semua kekhawatiran. Kita harus sabar menunggu sampai kita bertemu dengan Tuhan muka dengan muka di surga untuk bisa hidup bebas dari segala penderitaan dan kekhawatiran.

Kekhawatiran dalam hidup di dunia banyak penyebabnya. Memasuki tahun 2025, tentu kita tahu bahwa adanya kebutuhan sehari-hari yang harus kita penuhi, adanya tugas pekerjaan atau pendidikan yang harus kita gumuli, adanya penyakit yang harus kita hindari atau obati, adanya orang-orang yang kurang ramah dan bahkan jahat kepada kita, dan sebagainya, bisa membuat kita khawatir. Ayat di atas sering dipakai sebagai nasihat bagi orang yang mengalami kekawatiran, sekalipun sebenarnya ayat itu muncul dalam konteks pelayanan dan pekerjaan sehari-hari dari orang percaya.

Ayat 1 Petrus 5:1–11 memberikan instruksi khusus kepada para penatua tentang cara memimpin kawanan domba Tuhan dengan rela, bersemangat, dan dengan teladan mereka sendiri. Ayat ini juga berlaku untuk semua orang Kristen dalam kegiatan sehari-hari karena mereka sebenarnya bekerja untuk Tuhan (Kolose 3:23). Petrus menulis bahwa kita semua harus hidup dalam kerendahan hati terhadap satu sama lain dan terhadap Tuhan, yang menentang orang yang sombong. Dalam kerendahan hati, kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Bapa yang peduli pada kita. Dalam kewaspadaan, kita harus tetap berpikiran jernih, waspada terhadap musuh kita, si iblis, yang berusaha menghancurkan kita. Kita melawannya dengan berfokus untuk tetap teguh dalam iman kita, dan memercayai Tuhan untuk menepati janji-janji-Nya.

Ayat di atas menyimpulkan pemikiran yang dimulai di ayat 6: “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Apa artinya? Orang Kristen harus pertama-tama merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang perkasa, percaya bahwa Dia akan meninggikan kita pada waktu yang tepat. Kita harus berhenti mencari kemuliaan atau kepentingan kita sendiri untuk bisa menerima pekerjaan dan tugas kita dan untuk bisa tunduk kepada orang lain. Kemudian, ketika waktunya tepat, Tuhan kita akan menggunakan tangan-Nya yang perkasa untuk meninggikan kita.

Ini adalah kata-kata dorongan yang besar, dan mungkin memberi keyakinan rohani, bagi mereka yang berjuang untuk tunduk kepada otoritas manusia yang sering terasa kejam. Ini berbicara kepada mereka yang bekerja dalam mayarakat, melayani tahun demi tahun tetapi hanya menerima sedikit penghargaan. Ini mendorong semangat mereka yang bertugas untuk menyediakan barang atau jasa yang dianggap kurang berharga dalam negara, masyarakat, gereja dan keluarga. Ketakutan alami manusia mungkin memberi tahu kita bahwa kita menyia-nyiakan hidup kita, kita berada di jalan yang salah, bahwa pilihan kita untuk melayani orang lain dengan rendah hati tanpa imbalan yang jelas adalah bukti bahwa kita adalah orang yang bodoh dan tidak berharga. Ini juga pesan iblis yang sering membuat anak Tuhan hidup dalam kesepian, keraguan, kesedihan dan kekecewaan. Ada rasa kuatir kalau-kalau Tuhan sudah melupakan kita atau bahkan menakdirkan kita untuk menderita.

Petrus menulis bahwa kitalah yang harus mengambil rasa takut itu dan menyerahkannya—melemparkannya—kepada Bapa, Allah kita. Bahkan, ia memberi tahu kita untuk menyerahkan semua penyebab kekhawatiran kita, segala sesuatu yang membuat kita khawatir, dan menyerahkannya kepada Tuhan yang sangat peduli pada kita. Ini bukan janji bahwa Tuhan akan menghilangkan segala sesuatu yang membuat kita khawatir. Selama kita hidup di dunia, Tuhan tidak berkewajiban untuk menandatangani naskah apa pun yang kita tulis untuk-Nya. Tetapi, ini adalah janji bahwa Tuhan yang perkasa akan menerima kekhawatiran kita, dan peduli terhadapnya. Ia akan menanggung kekhawatiran kita bagi kita. Ia dapat dipercaya untuk menanganinya dengan cara yang terbaik.

Pagi ini kita harus sadar bahwa perkataan Petrus adalah sebuah perintah. Bukanlah kehendak Tuhan bagi anak-anak-Nya untuk terus hidup di bawah beban-beban fisik maupun mental. Bukanlah Tuhan yang membuat atau menentukan kita menderita. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu perkasa dan peduli pada kita, kita seharusnya menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya secara teratur setiap hari.

Tinggalkan komentar