Hal menaati pemimpin kita di dunia

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Ibrani 13:17

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13:1

Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teologi muda Jerman yang sangat terkenal, menulis sebuah buku yang berjudul : “Harga Yang Harus Dibayar Oleh Seorang Murid Kristus.” Buku ini dilatar-belakangi oleh pengalaman penulis sendiri yang mengalami pergumulan berat di dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Dua hari sebelum Hitler diangkat menjadi pemimpin di Jerman, Bonhoeffer menyampaikan sebuah khotbah melalui radio. Dalam khotbahnya, ia menyatakan pengagungan Hitler sebagai penyembahan berhala. Pemerintah Nazi Jerman menyetop siaran radio itu sebelum selesai. Dan mulai saat itu Bonhoeffer berjuang terus melawan Hitler. Bonhoeffer selalu menerima ancaman, namun ia menolak untuk menyerah.

Melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tulisannya ia selalu mengecam pemerintahan Hitler sebagai pemerintahan kafir yang akan dihukum oleh Allah. Oleh sebab itu ancaman terhadap dirinya makin gencar dan keras. Teman-temannya selalu berusaha menolongnya, mereka membujuk agar mau menyingkir ke Amerika untuk sementara waktu. Mereka telah berusaha agar Bonhoeffer dapat mengajar di Amerika paling sedikit dalam jangka waktu tiga tahun. Namun Bonhoeffer tidak kerasan di sana; ia berada di Amerika hanya sekitar satu bulan, kemudian kembali ke tanah airnya untuk melanjutkan perlawanan terhadap Hitler.

Pada tahun 1942 ketika pencobahan pembunuhan terhadap Hitler untuk kesekian kalinya gagal, ia ditawan oleh tentara Nazi. Selama tiga tahun ia hidup di dalam penjara, Bonhoeffer tidak berhenti menulis. Karena pendiriannya dan visinya tidak berubah, ia akhirnya dihukum gantung. Tragisnya, Bonhoeffer meninggal hanya beberapa hari sebelum Hitler bunuh diri, dan beberapa minggu sebelum tentara Nazi menyerah dalam perang dunia kedua.

Kisah kehidupan Bonhoeffer sudah banyak dipelajari orang Kristen. Mereka tertarik akan sikap Bonhoeffer yang berani melawan pimpinan negara. Benarkah sikap Bonhoeffer terhadap Hitler? Bagaimana orang Kristen harus bersikap terhadap para pemimpin mereka? Perlu dicatat bahwa ini menyangkut dua pimpinan yang berbeda: pimpinan gereja Tuhan di dunia dan pimpinan bangsa/negara. Marilah kita membahas Ibrani 13:17 dan Roma 13:1.

Ibrani 13 sebagian besar berisi daftar petunjuk praktis untuk kehidupan Kristen. Pesan umum dari ayat ini tampaknya adalah “janganlah membuat hidup para pemimpin rohanimu lebih sulit daripada yang sudah ada.”. Tokoh-tokoh ini menunjukkan iman meskipun mengalami kesulitan dan penganiayaan, dan mampu “berpegang teguh” untuk percaya kepada Tuhan. Penulis selanjutnya mengembangkan gagasan ini dengan mencatat bahwa orang Kristen harus mencontoh para pemimpin rohani dan dengan hati-hati menghindari perubahan doktrin (Ibrani 13:8–9). Menghormati pemimpin rohani adalah kunci untuk pemuridan (1 Tesalonika 5:12; Ibrani 13:7), sama pentingnya dengan jenis pembelajaran lainnya.

Ayat 17 khususnya mengingatkan pembaca bahwa mereka yang berada dalam posisi sebagai pemimpin rohani dijunjung oleh Tuhan. Surat-surat seperti Titus, 1 Timotius, dan 2 Timotius menjelaskan persyaratan ketat yang diterapkan kepada mereka yang mengaku mengajarkan Firman Tuhan. Yakobus 3:1 dengan jelas menunjukkan bahwa mereka yang berani mengajar akan dimintai pertanggungjawaban lebih besar oleh Allah. Orang-orang seperti itu tidak hanya lebih tahu (Ibrani 2:1-4; 10:29; Lukas 12:47-48), mereka juga sangat memengaruhi orang lain dalam perjalanan mereka bersama Kristus (Markus 9:42; 2 Petrus 2:1-3). Oleh sebab itu Tuhan membedakan mereka dari pimpinan dunia lainnya.

Konteks Ibrani 13:17 secara khusus berkaitan dengan ketundukan kepada para pemimpin Kristen di gereja. Namun, berbagai bagian Alkitab lainnya mendorong kita untuk tunduk kepada semua bentuk otoritas, bahkan pemerintahan sekuler (Roma 13:1–2; 1 Petrus 2:13–17). Tunduk kepada otoritas mencakup mengakui peran yang dimiliki para pemimpin dalam hidup kita dan mematuhi instruksi mereka. Mengenai hidup kita di dunia, tunduk kepada otoritas melibatkan pemenuhan tugas sipil kita dan mematuhi hukum negara. Pada pihak yang lain, dalam konteks gerejawi, tunduk kepada otoritas berarti menghormati para pemimpin gereja kita, mencari bimbingan mereka, menaati instruksi mereka, dan meniru mereka.

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” Ibrani 13:7

Seorang pemimpin rohani yang saleh dan mengajarkan kebenaran dimintai pertanggungjawaban langsung oleh Allah, dan harus bekerja untuk kebaikan orang lain. Ketika orang-orang di gereja atau kelompok tertentu membuat pendeta, penatua, guru, atau pemimpin lain untuk “berkeluh kesah”, mereka menambahkan beban yang tidak perlu pada beban yang sudah berat. Istilah Yunani yang digunakan di sini adalah stenazontes, yang merujuk pada kesedihan, erangan, atau keluh kesah. Singkatnya, mereka yang berada di bawah kepemimpinan rohani haruslah mau bekerja sama sebanyak mungkin, dan bukannya bersikap keras kepala atau sulit untuk bekerja sama.

Roma 13 membahas tiga bidang besar yang harus ditangani oleh orang Kristen yang mempersembahkan diri sebagai korban hidup. Pertama, karena Tuhan menempatkan setiap otoritas duniawi untuk melayani tujuan-Nya dan karena itu orang Kristen harus tunduk kepada mereka; sekalipun gagasan ini muncul dengan konteks tertentu. Kedua, kita harus mengasihi sesama (tanpa pengecualian) seperti mengasihi diri kita sendiri. Ketiga, kita dipanggil untuk hidup sebagai umat terang dan membuang perbuatan-perbuatan kegelapan seperti kemabukan, percabulan, dan kecemburuan. Kita harus mengenakan perlengkapan senjata terang untuk melawan kegelapan dan, pada kenyataannya melayani Kristus dan bukannya melayani keinginan kita sendiri.

Roma 13:1–7 menjelaskan tanggung jawab orang Kristen untuk hidup dalam ketundukan kepada otoritas manusia dalam pemerintahan dunia. Alasan yang diberikan adalah bahwa setiap pemimpin pemerintahan pada akhirnya ditetapkan atau diizinkan oleh Tuhan untuk tujuan-Nya sendiri. Secara umum, pemerintahan duniawi yang secara adil sudah terpilih, berfungsi untuk mengendalikan masyarakat dan menghukum mereka yang melakukan kejahatan. Pemerintah sekuler ini melakukan hal-hal ini atas nama Tuhan. Orang Kristen juga harus membayar pajak mereka untuk mendukung pekerjaan yang Tuhan lakukan ini. Selain itu, mereka yang ada di dalam Kristus berutang rasa hormat dan penghormatan kepada otoritas yang telah ditetapkan Tuhan.

Konsep ketundukan kepada otoritas memang sering bertentangan dengan sikap individualistis kita, di mana kita sering ingin berkuasa sebagai otoritas tertinggi. Bahkan di bawah kepemimpinan yang baik, ada orang-orang masih ingin memberontak. Sebagai contoh: seberapa sering kita melampaui batas kecepatan jalan raya meskipun mengetahui risiko yang terkait? Berapa banyak orang yang ingin mengurangi pajak pendapatan mereka dengan segala cara? Penolakan terhadap otoritas ini bisa ditelusur ke taman Eden, di mana Adam dan Hawa memberontak terhadap Tuhan (Kejadian 3:1–7).

Paulus dalam Roma 13 beralih ke masalah tentang bagaimana orang Kristen yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah harus berinteraksi dengan pemerintah duniawi kita saat ini. Ia menjelaskan doktrin Alkitab tentang ketundukan kepada otoritas manusia, sesuatu yang juga diajarkan Petrus (1 Petrus 2:13–17). Sekali lagi, mereka yang ada di dalam Kristus dipanggil untuk memisahkan diri mereka dari orang yang tidak percaya dan mempercayai Allah, untuk membayar kewajiban mereka melalui pihak yang berwenang, yang kita pandang baik maupun yang kita anggap jahat.

Paulus dengan jelas menyatakan bahwa hal ini berlaku untuk setiap orang. Ia menyerukan agar kita tunduk kepada otoritas pemerintah, meskipun ia tidak mengatakan bahwa kita harus menaati mereka dalam semua kasus. Paulus (Kisah Para Rasul 17:7; 2 Korintus 11:24–25) dan para rasul lainnya menolak untuk menaati perintah untuk berhenti memberitakan Injil, misalnya (Kisah Para Rasul 5:27–29). Pada zaman Hitler, ada orang Kristen yang menolak untuk melaporkan adanya orang Yahudi dikampungnya karena adanya risiko bagi orang Yahudi untuk ditangkap dan dibunuh oleh tentara Jerman. Akan tetapi, orang Kristen harus tunduk kepada mereka yang berwenang dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan Firman Allah.

Mengapa kita harus tunduk kepada pimpinan duniawi? Paulus menjelaskan dengan jelas: Setiap otoritas di dunia ditetapkan oleh Allah. Ini tentu saja mencakup pemimpin yang baik, pemimpin yang jahat, dan semua orang di antaranya. Ini adalah pengakuan bahwa pemerintahan manusia—secara umum—adalah otoritas yang sah, dan bahwa orang Kristen tidak dapat menggunakan iman mereka sebagai alasan untuk pelanggaran hukum sipil. Allah menempatkan semua pemimpin dunia pada tempatnya karena alasan-alasan khusus yang sering tidak kita mengerti.

Apakah kita harus tunduk kepada pemimpin negara yang kita anggap tidak pantas untuk dihormati? Kita harus ingat bahwa Paulus menulis surat ini kepada orang-orang Kristen di Roma. Pemerintahan Roma menguasai sebagian besar dunia yang dikenal pada saat itu. Pemerintahan itu dipimpin oleh Kaisar Nero dari tahun 54–68 M. Nero terkenal karena perlakuannya yang kejam dan tidak adil terhadap orang Kristen, di antara kelompok-kelompok lainnya. Kita tidak boleh berasumsi bahwa Paulus menulis kata-kata ini dengan enteng. Ia menyadari implikasi dari ajarannya; tidak mudah bagi kita untuk tunduk kepada pemimpin dunia yang kita anggap tidak pantas untuk memimpin. Bahkan dalam masyarakat modern seperti kita, kita masih berkewajiban untuk tunduk kepada otoritas, sama seperti yang dilakukan orang-orang Kristen mula-mula di lingkungan yang tidak bersahabat dan tidak bertuhan.

Perlu dicatat, ini bukanlah tentang nasionalisme buta atau ketaatan mutlak kepada manusia. Ketundukan kita kepada pemerintah juga harus diimbangi oleh kesetiaan kita kepada kerajaan Allah. Kita menghormati dan tunduk kepada otoritas, tetapi kita harus siap untuk menaati Allah lebih dari pada menaati manusia ketika situasi mengharuskan kita untuk memilih (Kisah Para Rasul 5:29).

Bagaimana dengan pemimpin gereja yang menyalahgunaan otoritas gereja? Sayangnya, penyalahgunaan rohani merupakan kenyataan yang menyedihkan di banyak gereja, dan kita harus memahami bahwa itu bukanlah rencana Tuhan untuk kerajaan-Nya di dunia. Dalam situasi seperti itu, kita harus mengingat otoritas Tuhan berada di atas semua otoritas, dan kesetiaan kita terutama kepada-Nya. Kita harus menghadapi dan menjauhkan diri dari semua bentuk penyalahgunaan rohani, terlepas dari konsekuensi yang dirasakan. Jika seorang pemimpin gereja mengeksploitasi posisinya, ia dapat dianggap sebagai guru palsu (2 Petrus 2:3) dan harus dihindari (Roma 16:17–18).

Tinggalkan komentar