Mengapa orang Kristen tidak boleh membanding-bandingkan ras

Pada tahun 1960an, keluarga saya mempersiapkan diri untuk pergi ke negara Tiongkok. Pada saat itu, pemerintahan Tiongkok memberi kesempatan untuk penduduk Indonesia keturunan Tionghoa untuk “pulang kandang”. Saya masih ingat bahwa keluarga saya mempersiapkan diri dengan membeli koper besi besar untuk memuat pakaian dan barang keperluan lainnya, itu karena perjalanan akan dilakukan dengan kapal laut. Selain itu, kami juga membeli berbagai alat rumah tangga yang disesuaikan dengan keadaan di “tanah leluhur”, termasuk setrika pakaian tenaga arang, karena listrik mungkin belum tersedia di tempat yang kami tuju.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, pemerintah Tiongkok secara tiba-tiba membatalkan program migrasi ini. Banyak orang yang kecewa dan mengalami kerugian finansial karena sudah menjual barang-barang dan bahkan rumah mereka. Tetapi, mereka tidak sadar waktu itu bahwa mereka termasuk orang yang beruntung, karena mereka terhindar dari Revolusi Budaya. Revolusi Budaya Tiongkok adalah gerakan sosial-politik yang berlangsung dari tahun 1966 hingga 1976. Revolusi Budaya Tiongkok menelan korban jiwa yang banyak dan menyebabkan kekacauan, kelaparan, dan stagnasi perekonomian. Sejarawan memperkirakan bahwa sekitar 500.000 hingga 2 juta orang meninggal dunia akibat Revolusi Budaya. Pada tahun 1981, Partai Komunis Tiongkok mengakui bahwa Revolusi Budaya adalah langkah yang salah.

Semenjak saat itu negara Tiongkok mengalami berbagai perubahan baik dalam bidang politik, hukum maupun ekonomi. Kemajuan ekonomi yang mulanya terjadi secara perlahan-lahan, menjadi sangat pesat selama 30 tahun terakhir. Dengan itu, muncullah persaingan antara dua negara: Amerika dan Tiongkok. Kedua negara berusaha untuk menjadi negara terbesar di dunia baik dalam bidang ekonomi, budaya, teknologi maupun militer. Kedua negara sering membuat propaganda untuk menarik perhatian negara lain agar mau “berkiblat” kepada mereka. Dengan adanya persaingan antara dunia Barat dan dunia Timur itu, tidak dapat dihindari adanya orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah lebih baik dari orang lain karena etnis mereka.

Etnis adalah pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri khas sosial yang membedakannya dari kelompok lain. Ciri-ciri tersebut meliputi bahasa, adat istiadat, kepercayaan, nilai, sejarah, dan hubungan kekerabatan. Etnis juga dikenal sebagai suku bangsa. Etnisitas adalah kesadaran kolektif individu sebagai bagian dari suatu kelompok etnis. Istilah yang paling umum digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan ras dan suku bangsa lain adalah “bangsa” (Ibrani, goyim; Yunani, ethne), meskipun Alkitab juga menggunakan istilah lain.

Bagaimana orang Kristen menagggapi masalah kebanggan etnis dan suku bangsa? Alkitab diilhami secara ilahi dan tidak dapat salah, jadi apa yang dikatakannya tentang golongan etnis menetapkan standar bagi apa yang diyakini dan dipraktikkan orang Kristen.

Dalam uraian berikut, saya menguraikan 12 ayat Alkitab yang menyentuh ras dan suku bangsa, dan saya memberikan penjelasan singkat tentang masing-masing ayat. Ke-12 ayat Alkitab ini mengikuti alur cerita narasi Alkitab: penciptaan, Kejatuhan, dan penebusan. Daftar ini bersifat ilustratif, bukan menyeluruh.

1. Diciptakan menurut Gambar Allah (Kejadian 1:27)

Menurut Kejadian 1:27, Allah menciptakan semua manusia menurut gambar-Nya, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Penciptaan manusia menurut gambar Allah merupakan dasar martabat dan kesetaraan manusia, serta kesucian hidup (Kejadian 9:6).

2. Dirusak oleh Dosa (Roma 5:12)

Meskipun diciptakan menurut gambar Allah dan diberkati untuk hidup di Firdaus, Adam dan Hawa tidak menaati Allah dan memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 3:1–24). Rasul Paulus mengajarkan dalam Roma 5:12 bahwa dosa Adam dan Hawa menjangkiti seluruh umat manusia, dan bahwa seluruh umat manusia meniru Pasangan Pertama dalam dosa mereka.
Dosa masuk ke dunia melalui satu orang, dan kematian melalui dosa, dan dengan cara ini kematian datang kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Jika digabungkan dengan poin pertama, ini berarti bahwa tidak ada ras atau suku bangsa yang lebih suci atau lebih berdosa daripada yang lain. Semua diciptakan sama, dan semua sama-sama jatuh.

3. Dihakimi Secara Tidak Memihak (Roma 2:11)

Semua manusia bersalah di hadapan Allah dan layak untuk dihakimi. Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah adalah hakim yang tidak memihak. Seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam Roma 2:11, “Allah tidak pilih kasih.” Paulus membuat pernyataan ini dalam konteks menjelaskan standar yang akan digunakan Allah pada Hari Penghakiman (Roma 2:1–16). Mengacu pada Mazmur 62:12 dan Amsal 24:12, ia menulis bahwa “Allah ‘akan membalas setiap orang menurut perbuatannya’” (Roma 2:6). Secara tersirat, Allah akan menggunakan standar yang sama baik seseorang adalah “Yahudi” atau “non-Yahudi” (Roma 2:9–10).

4. Dipilih untuk Memberkati Bangsa-Bangsa (Kejadian 12:1–3,7)

Kejadian 12:1–7 menggambarkan pemilihan atau seleksi Abraham (dan keturunannya) oleh Allah. Mudah untuk salah mengartikan pemilihan Abraham oleh Allah sebagai contoh keberpihakan, seolah-olah Allah lebih memihak satu kelompok orang daripada yang lain. Namun, pada kenyataannya, pemilihan Abraham bersifat misioner. Allah memilih Abraham dan keturunannya untuk memberkati bangsa-bangsa:

Tuhan telah berfirman kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari bangsamu dan dari rumah ayahmu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau; Aku akan membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan siapa yang mengutuk engkau akan Kukutuk; dan semua bangsa di bumi akan diberkati melalui engkau. … Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berkata, “Kepada keturunanmu [harfiah, benih] akan Kuberikan negeri ini” (ayat 1–3, 7).

Dalam Perjanjian Baru, rasul Paulus mencatat bahwa Kristus adalah penggenapan janji Allah kepada Abraham (Galatia 3:16): Janji-janji itu diucapkan kepada Abraham dan kepada keturunannya. Kitab Suci tidak mengatakan “dan kepada keturunan,” dalam arti banyak orang, tetapi “dan kepada keturunanmu,” yang berarti satu orang, yaitu Kristus.

5. Diperintahkan untuk Mengasihi Orang Asing (Imamat 19:34)

Karena Allah tidak memihak dan ingin memberkati bangsa-bangsa, Ia memerintahkan umat pilihan-Nya, Israel, untuk mengasihi orang asing, yaitu memperlakukan mereka dengan tidak memihak (Imamat 19:34):
Orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu harus diperlakukan seperti orang Israel asli. Kasihilah mereka seperti dirimu sendiri, karena kamu pun orang asing di Mesir. Akulah Tuhan, Allahmu.

6. Diperintah dengan Penuh Kemurahan Hati (Kisah Para Rasul 17:26)

Meskipun alur cerita Perjanjian Lama berfokus terutama pada umat pilihan Allah, Israel, kita tidak boleh salah menafsirkan ini sebagai berarti Allah tidak menyadari atau tidak terlibat dalam sejarah kelompok orang lain. Dalam Kisah Para Rasul 17:26, Paulus menyampaikan Injil kepada jemaat Areopagus. Ia berfokus pada tata kelola sejarah yang penuh pemeliharaan Tuhan, bahwa dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa, supaya mereka mendiami seluruh muka bumi; dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dalam sejarah dan batas-batas tanah mereka. Kristus tidak pilih-pilih dalam tawaran keselamatan-Nya kepada manusia.

7. Mesias untuk Semua Bangsa (Yesaya 42:1–7)

Para nabi Perjanjian Lama untuk menceritakan kedatangan seorang raja keturunan Daud yang akan menggenapi janji-janji Allah tidak hanya kepada Israel, tetapi juga kepada bangsa-bangsa. Kita melihat ini dalam Yesaya 42:1-7, di mana Allah mengatakan ini melalui nabi: “Lihat, ini hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan; Aku akan memberikan Roh-Ku kepadanya, supaya ia memberi keadilan kepada bangsa-bangsa. … Aku, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud yang benar; Aku akan memegang tanganmu. Aku akan memelihara engkau dan membuat engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia dan terang bagi bangsa-bangsa lain (ayat 1,6). Injil Matius mengutip nubuat ini dan menyatakan bahwa Yesus Kristus menggenapinya (Matius 12:15-21).

8. Semua Dibenarkan dengan Cuma-Cuma (Roma 3:22-24)

Dalam banyak hal, rasul Paulus merenungkan lebih dalam daripada penulis Perjanjian Baru lainnya tentang hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dalam pekerjaan Kristus. Kita telah melihat apa yang Paulus tulis tentang keberdosaan manusia dan ketidakberpihakan ilahi. Dalam Roma 3:22-24, ia berpendapat bahwa “semua” dipengaruhi oleh dosa dan dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus. Kebenaran ini diberikan melalui iman kepada Yesus Kristus kepada semua orang yang percaya. Tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan semua orang dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus.

Kristus tidak membeda-bedakan dalam tawaran keselamatan-Nya kepada umat manusia. Namun, kata semua di sini tidak berarti setiap orang akan diselamatkan terlepas dari apa yang mereka yakini. Paulus menulis “kepada semua orang yang percaya.” Ini menunjukkan bahwa Kristus membuat pendamaian bagi semua orang, sehingga setiap orang yang mengaku beriman kepada Yesus Kristus akan diselamatkan.

9. Dicurahkan atas Semua Orang (Kisah Para Rasul 2:17)

Kristus tidak hanya menawarkan pembenaran kepada semua ras dan suku bangsa, tetapi Ia juga mencurahkan Roh Kudus tanpa pandang bulu. Lukas mencatat pencurahan Roh Kudus dan khotbah Petrus tentang hal itu dalam Kisah Para Rasul 2:1-41. Mengacu pada Yoel 2:28, Petrus mengatakan ini dalam Kisah Para Rasul 2:17: “Pada hari-hari terakhir, demikianlah firman Allah, Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia.” Dalam Kitab Kisah Para Rasul, Lukas menceritakan kisah penyebaran Injil dari Yerusalem ke Yudea dan Samaria ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8). Pada titik-titik kritis dalam narasi tersebut, Roh Kudus turun ke atas orang-orang yang bertobat untuk menunjukkan kepada Gereja bahwa Allah sedang memasukkan kelompok-kelompok orang baru dalam tubuh Kristus. Ini jelas dalam Kisah Para Rasul 10, di mana Injil pertama kali datang kepada orang bukan Yahudi Kornelius dan seisi rumahnya melalui khotbah Petrus. Ketika merenungkan peristiwa ini kemudian, Petrus berkata: “Allah, yang mengenal hati manusia, telah menunjukkan bahwa Ia telah menerima mereka dengan memberikan Roh Kudus kepada mereka, sama seperti kepada kita. Ia tidak membedakan antara kita dengan mereka, sebab Ia telah menyucikan hati mereka oleh iman” (Kisah Para Rasul 15:8–9).

10. Orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (Galatia 3:28)

Salah satu implikasi utama dari dibenarkan oleh iman dan dibaptis dalam Roh Kudus adalah bahwa ras dan etnis tidak dapat digunakan untuk membedakan keanggotaan dalam tubuh Kristus. Galatia 3:28 menjelaskan hal ini dengan jelas, dan juga menunjukkan bahwa baik status sosial ekonomi maupun status biologis tidak dapat digunakan sebagai penanda batas: Tidak ada orang Yahudi atau orang bukan Yahudi, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Inti pernyataan ini bukanlah bahwa orang Kristen kehilangan identitas ras atau etnis mereka ketika mereka mengikuti Kristus, atau bahwa mereka berhenti menjadi laki-laki atau perempuan, atau kaya atau miskin. Intinya adalah bahwa orang Kristen tidak dapat menggunakan hal-hal ini untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih disukai (atau kurang disukai) oleh Tuhan. Kesatuan dalam tubuh Kristus melarang penggunaan penanda identitas ini untuk tujuan tersebut.

11. Misi untuk Semua Bangsa (Matius 28:18–20)

Karena Yesus Kristus adalah Mesias bagi semua bangsa, karena semua orang telah berdosa dan dihakimi tanpa pandang bulu, karena Kristus mati untuk memberikan pembenaran bagi semua orang melalui iman, dan karena Roh Kudus telah dicurahkan kepada semua manusia, Gereja memiliki mandat untuk membawa Injil kepada setiap bangsa. Itulah inti dari Amanat Agung yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada para pengikut-Nya sebelum Kenaikan-Nya (Matius 28:18–20): “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

12. Kumpulan Besar Orang Banyak (Wahyu 7:9-10)

Akhirnya, kita harus memperhatikan bahwa Kitab Wahyu menggambarkan akhir sejarah manusia sebagai kumpulan besar orang di hadapan takhta Allah dalam penyembahan (Wahyu 7:9-10): Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Pagi ini kita harus menyadari bahwa pada sepanjang sejarah manusia, orang-orang telah menggunakan ras dan etnis untuk membedakan diri mereka dari orang lain. Terlalu sering, alih-alih mengenali gambar Allah dalam diri satu sama lain, manusia telah meninggikan kelompok ras dan etnis mereka di atas kelompok ras dan etnis lainnya. Hal ini makin terlihat pada zaman sekarang, di mana berbagai media seperti (TikTok, Facebook dan Youtube) bisa dipakai untuk pemujaan ras, etnis dan bangsa tertentu. Sayangnya, bahkan beberapa gereja Kristen dan banyak orang Kristen menyerah pada godaan superioritas ras dan etnis.

Dari tinjauan singkat 12 ayat Alkitab utama ini, jelaslah bahwa Allah tidak menoleransi rasisme atau etnosentrisme dalam bentuk apa pun. Ia menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Jika kita memandang seluruh umat manusia, sebenarnya hanya satu genus yang tercakup: marga manusia. Ketika manusia jatuh, Allah bermaksud menebus semua orang. Ia menyelesaikan penebusan di dalam Kristus, menerapkannya melalui Roh Kudus, dan memanggil Gereja untuk bertindak tanpa memihak dan mencerminkan keberagaman surga dalam keanggotaan dan misinya kepada bangsa-bangsa.

Disadur bebas dari Twelve Bible Verses about Race and Ethnicity, George P. Wood

Tinggalkan komentar