Perintah Tuhan untuk hidup damai

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” Kolose 3:15

Anda tentu setuju dengan pendapat umum bahwa tidaklah mudah bagi kita untuk hidup dengan orang lain. Sekalipun seseorang sudah hidup bersama orang lain selama bertahun-tahun, berbagai masalah tetap bisa timbul karena setiap orang mempunyai karakter dan kemauan yang berbeda. Tidak ada dua orang yang bisa persis sama secara lahir dan batin, sekalipun mereka bisa dilahirkan sebagai kembar identik.

Karena hubungan yang baik antar manusia tidaklah mudah dilakukan, demi kedamaian hidup ada orang-orang yang mencoba hidup menyendiri. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian tanpa berinteraksi dengan orang lain. Orang bisa menjadi gila jika dipaksa untuk hidup terasing dari orang lain. Tuhan mengerti akan kelemahan manusia ini, dan karena itu Ia menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam (Kejadian 2:28).

Kita tahu bahwa ada dua perintah utama dari Tuhan kepada kita dalam hidup di dunia. Sebagai orang Kristen kita terus berusaha untuk bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita. Jika mengasihi Tuhan seperti itu adalah sulit, mengasihi sesama kita tidaklah mudah. Kita tahu bahwa kita juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada saudara seiman, tetapi untuk mempertahankan hubungan kita dengan sesama orang Kristen terkadang sulitnya bukan main.

Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. ” Galatia 6:10

Mungkin lebih mudah bagi kita untuk berinteraksi dengan orang yang bukan Kristen. Hal ini bisa disebabkan karena harapan kita kepada saudara seiman adalah berbeda dengan harapan kita terhadap orang lain yang tidak seiman. Mungkin kita lebih bisa memahami mengapa seseorang tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan jika mereka bukan orang Kristen. Kita bisa menerima kenyataan bahwa orang yang tidak seiman bukanlah saudara kita. Mereka mungkin memusuhi kita. Pada pihak yang lain kita sering merasa kecewa, sedih dan bahkan marah jika diperlakukan secara kurang baik oleh saudara seiman. Bagaimana kita sebagai orang Kristen harus bertindak dalam suasana demikian?

Kolose 3:12–17 mengikuti nasihat Paulus tentang dosa-dosa yang harus dihindari dengan mencantumkan sifat-sifat positif yang harus ditiru oleh orang Kristen dalam hidup bermasyarakat. Di antaranya adalah hidup yang memiliki belas kasihan, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan. Yang lebih penting daripada yang lainnya adalah kasih, yang tidak hanya mengilhami sifat-sifat lainnya, tetapi juga yang mengikat orang Kristen bersama-sama sebagai satu keluarga, di bawah Kristus.

Paulus kemudian membuka gagasan tentang mengikuti Kristus yang mencakup setiap aspek kehidupan kita: apa pun yang kita pikirkan atau lakukan, sebagai orang percaya, harus sesuai dengan teladan Tuhan kita Yesus Kristus (Kolose 3:17). Hal ini menuntut kita untuk mengambil keputusan untuk hidup baik seperti apa yang dikehendaki Tuhan. Apa yang baik tidaklah terjadi atau muncul secara otomatis dalam hidup kita tanpa usaha kita setelah kita menjadi orang Kristen.

Dalam Kolose 3, Paulus memberikan petunjuk yang jelas kepada orang Kristen tentang menjalani iman kepada Kristus. Karena orang percaya telah diselamatkan oleh Kristus, mereka seharusnya tidak berpartisipasi dalam dosa yang menjebak orang yang tidak percaya. Percabulan, kecemburuan, fitnah, dan balas dendam tidak boleh menjadi bagian dari kehidupan orang Kristen. Sebaliknya, orang percaya harus berpartisipasi dalam kesalehan dengan menunjukkan belas kasihan, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan. Di atas segalanya, para pengikut Kristus harus menunjukkan kasih. Paulus juga memberikan petunjuk khusus bagi mereka yang tinggal di rumah tangga Kristen, termasuk suami, istri, anak-anak, dan pembantu.

Dalam Kolese 3 ayat 12 hingga 14, Paulus telah memberikan delapan sifat positif yang harus ditiru atau dilakukan oleh orang Kristen. Di ayat 13, ia menulis tentang dua cita-cita tambahan bagi orang percaya untuk dikejar.

Pertama, ia memanggil orang percaya untuk hidup dalam damai. Damai, bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23), dicatat dalam surat ini sebagai sesuatu yang berasal dari Allah Bapa kita (Kolose 1:2). Kita menerima damai dengan Allah melalui darah salib (Kolose 1:20). Damai berarti “memerintah” dalam hati kita, artinya hati harus mengatur cara hidup kita. Orang percaya tidak dipanggil untuk hidup dalam kekerasan atau pertengkaran satu sama lain, tetapi untuk hidup dalam damai. Ini membuuhkan kemauan kita untuk tunduk kepada bimbingan Roh Kudus.

Penting untuk mengingat konteks pernyataan ini. Paulus tidak merujuk pada damai dalam arti “perasaan bahagia.” Dalam ayat-ayat sebelumnya, ia membahas perlunya orang Kristen untuk bertoleransi, mengasihi, dan saling mendukung. Dalam ayat ini, setelah menyebutkan damai, Paulus kembali berbicara tentang persatuan yang dimiliki orang Kristen. Dengan Kristus sebagai kepala, kita semua adalah bagian dari “tubuh” rohani, yaitu gereja. Kedamaian di dalam tubuh membutuhkan kedamaian di antara bagian-bagiannya. Setiap kelompok orang percaya akan mengalami konflik internal pada waktu-waktu tertentu, tetapi mencari kedamaian secara terus-menerus akan membantu kita menyelesaikan masalah dalam konteks kasih Kristen.

Sifat kedua yang disebutkan Paulus dalam ayat ini nampak sederhana: sikap bersyukur. Paulus menyebutkan rasa syukur beberapa kali dalam surat ini, yang menunjukkan pentingnya rasa syukur dalam kehidupan Kristen (Kolose 1:3; 2:7; 3:16–17; 4:2). Rasa syukur dalam segala keadaan membuat pikiran kita bisa menjadi cerah dalam setiap keadaan. Sekalipun ada masalah yang kita alami dalam hubungan kita dengan orang lain, adanya rasa syukur membuat kita dapat melihat apa yang baik yang sudah kita alami, bukan apa yang buruk saja, dalam hubungan kita dengan orang lain. Rasa bersyukur membuat pikiran yang baik selalu menang atas pikiran yang jelek terhadap orang lain.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita harus berusaha untuk membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita dalam segala keadaan, dan tidak melawan pekerjaan Roh Kudus yang telah memanggil seluruh umat Tuhan untuk menjadi satu tubuh. Kira juga diperintahkan untuk selalu bersyukur, karena itu akan meneguhkan iman kita dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup bersama orang lain.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3:17

Tinggalkan komentar