Umur kita selalu bertambah

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Mazmur 90:10

Mazmur 90, yang mungkin merupakan mazmur tertua, dibuka dengan pernyataan Musa tentang Tuhan sebagai tempat tinggal Israel yang kekal, tetapi dengan cepat beralih ke pengakuan tentang kehidupan manusia yang singkat di bumi.

Mazmur 90:3–10 merefleksikan singkatnya hidup manusia dan adanya murka Allah. Kejahatan manusia adalah alasan mengapa Tuhan mengarahkan murka-Nya sehingga umur manusia menjadi terbatas.

Angka tujuh puluh sebenarnya memiliki makna sakral dalam Alkitab yang terdiri dari faktor-faktor dari dua angka sempurna, tujuh (mewakili kesempurnaan) dan sepuluh (mewakili kelengkapan dan hukum Allah). Dengan demikian, angka tersebut melambangkan tatanan rohani yang sempurna yang dilaksanakan dengan segala kuasa. Angka tersebut juga dapat mewakili periode penghakiman.

Dalam hal umur, seseorang memang dapat hidup sekitar 70 atau 80 tahun, kecuali jika ada penyakit atau kemalangan. Ini bisa dibilang panjang jika dibandingkan dengan umur kucing, tapi pendek jika dibandingkan dengan umur kura-kura dari Galapagos.

Pendek atau panjang, hidup manusia penuh dengan kerja keras dan masalah. Mengingat singkatnya hidup, Musa meminta Tuhan untuk memenuhi umat-Nya dengan hikmat. Ia juga meminta Tuhan untuk menyatakan karya-Nya, menunjukkan kuasa-Nya, memberikan kebaikan-Nya, dan memberkati bani Israel.

Alkitab tidak secara langsung menyatakan bahwa Tuhan telah membatasi rentang hidup manusia. Orang-orang zaman dahulu bisa mencapai umur yang sangat panjang, menurut standar saat ini. Beberapa orang menafsirkan Kejadian 6:3 sebagai perkiraan umur maksimum manusia setelah banjir di zaman Nuh adalah 120 tahun. Hal ini didukung oleh sejarah—pria tertua yang terverifikasi, Jiroemon Kimura (1897–2013), mencapai usia 116 tahun. Wanita tertua yang terverifikasi, Jeanne Calment (1875–1997), meninggal pada usia 122 tahun. Umur-umur yang tidak biasa tersebut mewakili mereka yang cukup beruntung karena adanya faktor-faktor pendukung. Namun, bagi kebanyakan orang, umur rata-rata secara global adalah 72 tahun.

Ungkapan Musa tentang singkatnya hidup dalam ayat di atas sangat menyentuh karena apa yang ia lihat selama pengembaraan Israel di padang gurun. Mereka yang melakukan perjalanan melalui padang gurun mengalami cobaan berat dan akhirnya meninggal sebelum usia tua. Banyak dari mereka meninggal tanpa pernah melihat Tanah Perjanjian yang mereka harapkan (Bilangan 14:33–35).

Pernyataan yang berulang dalam silsilah Kejadian 5 adalah “lalu ia mati.” Adam, manusia pertama, kehilangan nyawanya setelah jatuh dalam dosa, dan ia juga kehilangan kehidupan yang damai di Taman Eden. Ia tidak langsung mati secara fisik, tetapi ia benar-benar mati. Terlepas dari berapa lama seseorang hidup di bumi, kematian akan datang “segera,” dari sudut pandang sejarah.

Ayat di atas menggemakan sentimen yang ditemukan di bagian lain Kitab Suci, bahwa kehidupan manusia pada dasarnya pendek dan rapuh (Yakobus 4:14; Lukas 12:19–20). Dalam tradisi Yahudi, 70 tahun melambangkan seumur hidup. Pada usia 70 tahun, seseorang mencapai seivah, yang berarti usia tua, tetapi kata tersebut juga dikaitkan dengan kebijaksanaan. Namun, Tuhan tidak menjanjikan bahwa setiap orang akan hidup sampai tujuh puluh atau delapan puluh tahun.

Waktu kita ada di tangan Tuhan, dan bagi sebagian orang perjalanan mereka di bumi jauh lebih singkat. Yesus disalibkan ketika Dia masih berusia 30-an; martir pertama, Stefanus, juga mungkin masih muda ketika dia dihukum mati karena imannya (lihat Kisah Para Rasul 7).

Poin sebenarnya yang ingin disampaikan pemazmur adalah bahwa tidak peduli siapa kita, waktu kita di bumi terbatas, dan suatu hari kematian akan menjemput kita. Kematian adalah kenyataan, dan tidak seorang pun menghindarinya—tidak peduli seberapa kuat mereka atau berapa tahun mereka hidup:

“Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.” Mazmur 90:5

Pagi ini, ayat di atas membawa kita pada dua pertanyaan yang sangat penting. Pertama, bagaimana kita harus mempersiapkan diri menghadapi kematian? Banyak orang yang mungkin menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan karier atau menimbun harta mereka—namun tidak pernah meluangkan waktu lima menit untuk memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada mereka ketika mereka meninggal. Mereka terlalu sibuk untuk bisa merenungkan firman Tuhan.

Jika kita mengenal Kristus, kita tahu bahwa hidup ini bukanlah segalanya, dan di depan kita ada surga. Pertanyaan lainnya adalah: Bagaimana seharusnya kita menjalani hari-hari yang Tuhan berikan kepada kita? Akankah kita hidup untuk diri kita sendiri—atau akankah kita hidup untuk kemuliaan Tuhan?

Tinggalkan komentar