“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1:3-4

Saat ini, penduduk sepanjang pesisir tenggara negara bagian Queensland di Ausralia merasa gundah dan berdebar-debar karena adanya berita tentang akan datangnya angin topan Alfred pada hari Jumat pagi mendatang. Angin topan (cyclone) yang diramalkan akan mempunyai tingkat 2 atau 3 ini akan mendarat di sekitar kota Brisbane, membawa curah hujan 500 mm atau lebih dalam waktu beberapa jam, disertai dengan angin kencang yang bisa mencapai kecepatan setidaknya 150 km/jam. Semua penduduk kota Brisbane dan sekitarnya (termasuk saya yang tinggal di Sunshine Coast) sudah diperingatkan untuk bersiap-siap untuk menghadapi bahaya banjir dan angin kencang yang bisa memakan korban jiwa.
Adalah kenyataan bahwa adanya bencana alam di suatu tempat membawa penderitaan yang besar bagi penduduknya. Tidak hanya rumah penduduk bisa musnah, tetapi jalan raya, gedung sekolah dan pertokoan juga sering mengalami kesusakan berat. Sesudah terjadinya bencana alam, biasanya perlu waktu 2-3 tahun untuk memulihkan kehidupan masyarakat yang terkena musibah itu. Walaupun demikian, sekalipun bencana alam membawa hal-hal yang menyedihkan, itu juga bisa membawa hal yang baik dengan adanya banyak orang yang yang merasa terpanggil untuk memberi sumbangan atau berbagai bentuk bantuan lainnya kepada mereka yang terkena bencana. Karena itu, sering kali mereka yang terkena musibah sering kali tidak dapat melupakan kebaikan dan pertolongan dari sesama manusia. Bagi mereka yang beriman, tentunya ada rasa syukur karena mereka masih selamat sekalipun harus kehilangan tempat tinggal dan harta. Musibah adalah suatu hal yang buruk, tetapi bisa menghasilkan apa yang baik.
Ayat 2 Korintus 1:3–11 berisi pujian yang mendalam kepada Allah atas penghiburan-Nya bagi semua orang yang sedang menderita. Paulus menghubungkan penderitaan orang Kristen dengan penderitaan Kristus. Hal ini menunjukkan kepada jemaat Korintus bagaimana penderitaan Paulus dan penghiburan yang diterimanya dari Tuhan selama penderitaan itu telah mendatangkan manfaat bagi mereka. Paulus baru saja mengalami penderitaan yang berat, yang membawa dia dan rekan-rekannya ke ambang kematian. Tuhan yang membangkitkan orang mati telah menyelamatkan mereka. Karena itu, Paulus mengundang jemaat Korintus untuk berpartisipasi dalam perayaan kuasa Tuhan dengan terus berdoa bagi Paulus dan rekan-rekannya serta mengucap syukur atas pembebasan Tuhan.
Paulus menegaskan bahwa penderitaannya dan penghiburan yang diterimanya dari Tuhan telah mendatangkan manfaat bagi jemaat Korintus. Paulus sering kali memulai surat-suratnya dengan mengucap syukur kepada Tuhan bagi mereka yang kepadanya ia menulis surat, dan juga berdoa bagi mereka dengan cara tertentu. Tetapi, kali ini suratnya berbeda. Ia memulai dengan berfokus pada penghiburan Tuhan bagi mereka yang mengalami kesengsaraan. Seperti yang akan diungkapkan ayat-ayat berikutnya, Paulus menyatakan bahwa ada peristiwa yang sangat traumatis dalam hidupnya. Alih-alih berdoa bagi para pembacanya, ia akan meminta mereka untuk berdoa baginya.
Perlu kita perhatikan bahwa Paulus memulai suratnya dengan memuji Tuhan dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus sering kali memfokuskan doanya kepada Tuhan Bapa, sesuatu yang hanya mungkin melalui iman pribadi kepada Kristus Sang Anak, yang adalah Tuhan kita (Yohanes 14:6). Paulus menyebut Tuhan dengan dua nama: Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan.
Karena Tuhan berdiri di posisi hakim atas semua orang, Ia juga merupakan sumber segala belas kasihan. Alih-alih menghakimi semua orang yang berdosa—yaitu kita semua—Ia dengan cuma-cuma memberikan belas kasihan-Nya kepada mereka yang datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Yohanes 3:16–18). Paulus memahami bahwa di tengah penderitaan dan kesengsaraan kita, kita yang termasuk orang percaya harus mengingat bahwa Allah telah memberikan kita belas kasihan dan menyelamatkan kita, dan akan terus melakukannya.
Tuhan juga adalah Allah sumber segala penghiburan. Dalam penderitaan, orang Kristen sejati tidak lari dari Allah untuk mencari kelegaan dari rasa sakit mereka; mereka justru berlari kepada-Nya sebagai sumber penghiburan. Penghiburan Allah merupakan tema utama dari 2 Korintus. Beberapa bentuk kata yang diterjemahkan sebagai penghiburan, paraklesis dalam bahasa Yunani, muncul 29 kali dalam surat ini. Gagasan kata tersebut lebih dari sekadar kelegaan sesaat dari rasa sakit; kata itu juga melibatkan dorongan dan penguatan. Penghiburan Allah memungkinkan kita untuk berhenti berjuang dengan kekuatan kita sendiri melawan penderitaan dan kesengsaraan kita, agar kita bisa beristirahat, menjadi kuat, dalam kekuatan-Nya.
Masuk akal jika Paulus memulai dengan berfokus pada belas kasihan dan penghiburan Allah bagi mereka yang sedang “menderita,” yang berarti penderitaan yang sulit. Paulus sendiri telah mengalami peristiwa traumatis tidak lama sebelum menulis surat ini kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 1:8). Ia sekarang melanjutkan bahwa Allah menghibur orang percaya dalam segala penderitaan kita. Paulus sengaja menggunakan kata “segala” dua kali berturut-turut untuk menunjukkan bahwa Allah menyediakan segala sesuatu bagi orang Kristen dalam bermacam-macam (segala) jenis penderitaan. Allah tidak pernah menjadi solusi parsial untuk penderitaan kita, meskipun Ia bisa menolong kita dalam berbagai cara. Ia adalah sumber segala belas kasihan dan penghiburan bagi mereka yang terluka.
Penderitaan yang digambarkan Paulus kemungkinan ada hubungannya dengan penganiayaan karena iman kepada Kristus atau penentangan terhadap Injil. Namun, kita tidak perlu membatasi penerapan ayat-ayat ini. Allah menghibur anak-anak-Nya ketika mereka menderita, apa pun penyebabnya. Penghiburan di sini berarti lebih dari sekadar kelegaan sementara dari rasa sakit atau merasa tenang, seperti dalam pengertian modern dari kata tersebut. Ini melibatkan kemampuan untuk beristirahat karena Tuhan menanggung beban kita dan memberi kita kekuatan untuk terus maju.
Penderitaan kita dalam hidup ini sering kali terasa tidak berarti jika dibandingkan dengan penderitaan yang dialami banyak orang lain. Alkitab memberikan tujuan bagi penderitaan kita. Jika kita telah dihibur oleh Tuhan—dikuatkan, didorong, dibebaskan dari beban—Tuhan juga memberi kita kesempatan untuk menyampaikan penghiburan kepada orang lain yang sedang menderita. Dalam pengertian itu, penghiburan Tuhan dapat direproduksi dan diulang. Tuhan tetap menjadi sumbernya, tetapi orang percaya dapat terus membagikan penghiburan Tuhan kepada orang lain yang menderita seperti mereka.
Pagi ini marilah kita merenungkan jdul renungan di atas: Adanya penderitaan seharusnya membuat kasih kita mengalir. Siapa yang bisa memiliki lebih banyak empati dan belas kasihan bagi seseorang yang sedang menderita, secara batiniah atau lahiriah, daripada orang percaya yang telah mengalami penderitaan yang sama karena penyebab yang sama? Siapa yang lebih mampu mengungkapkan bagaimana Tuhan menghibur mereka pada saat yang sama daripada seseorang yang telah menempuh jalan yang sama? Kita yang sudah menerima belas kasihan dan penghiburan Allah, seharusnya bisa menyalurkan kasih Allah kepada sesama kita yang sedang menderita.