Mengapa peduli atas nasib orang lain?

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6:10

Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa ada seorang teman di Indonesia yang meninggal dunia secara tidak terduga. Tidak mengalami gejala sakit yang jelas, namun tiba-tiba mengalami kesulitan bernafas. Tidak sempat ke rumah sakit, beliau meninggal agaknya karena kekurangan oksigen. Bagaimana persisnya proses kejadiannya, saya kurang tahu. Namun gejala sulit bernafas secara tiba-tiba itu mungkin ada hubungannya dengan anafilaksis. Anafilaksis adalah reaksi alergi yang sangat berat dan bisa mengancam nyawa, yang harus ditangani sebagai keadaan darurat medis karena dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan dan penurunan tekanan darah drastis.

Sebagai orang awam dalam hal medis, saya kurang mengerti apakah anafilaksis sering terjadi di Indonesia. Tetapi, sepengetahuan saya banyak orang di Indonesia yang belum pernah mendengar hal itu. Dalam hati saya timbul pertanyaan apakah saya harus peduli akan hal itu? Adakah yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan? Bukankah Tuhan yang menentukan hidup-mati seluruh umat manusia? Kemudian saya teringat bahwa sebenarnya, saya dapat memberi info tentang antifilaksis kepada teman-teman WA saya. Jadi, saya mengirim beberapa artikel terpercaya dari internet tentang anafilaksis, dengan harapan bahwa teman-teman saya bisa meneruskannya ke orang lain. Saya berpikir bahwa sudah sewajarnya saya peduli akan nasib orang lain, karena pujii Tuhan, banyak teman saya yang mengingatkan saya tentang berbagai hal yang penting di masa lalu.

Galatia 6 memuat petunjuk tentang bagaimana orang percaya tidak boleh lelah berbuat baik kepada satu sama lain. Kita tidak boleh segan untuk berbuat baik sekalipun ada orang yang menuduh kita “sok” atau “ragu atas karunia keselamatan kita”. Kita harus mengerti bahwa Galatia 6:1–10 berfokus pada bagaimana orang-orang di dalam Kristus harus memperlakukan satu sama lain melalui kuasa Roh Allah.

Kita harus memulihkan mereka yang terperangkap dalam dosa dengan kelembutan dan kerendahan hati, dan kita harus saling membantu menanggung beban jasmani dan rohani satu sama lain. Karena itu, orang Kristen harus jujur kepada diri sendiri tentang apa yang Allah lakukan melalui kita. Kita harus bersyukur atas berkat-Nya dalam hidup jasmani maupun rohani kita. Dan karena itu kita harus bertanggung jawab atas apa yang telah Ia minta kita lakukan. Justru karena hidup kekal kita datang dari penanaman Roh Allah melalui iman kepada Kristus dan bukan melalui perbuatan daging, kita harus terus berbuat baik sebagai pernyataan syukur kita.

Paulus telah mendesak orang-orang Kristen di Galatia agar tidak jemu-jemu berbuat baik, melalui kuasa Roh Allah. Itu akan membuahkan hasil ketika “tanaman” datang, Paulus meyakinkan mereka tentang hal itu. Tanaman apa? Tanaman yang paling jelas adalah kehidupan kekal mereka sendiri di dalam Kristus. Selain itu, Paulus mungkin juga memiliki hasil positif lainnya dalam pikirannya, termasuk kehidupan kekal orang lain yang akan datang kepada Kristus. Selain itu, Paulus memikirkan pahala yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang Kristen yang melayani dengan baik dalam hidup ini (Matius 6:19-20). Karena itu adalah perintah Tuhan, kita harus peduli atas nasib orang lain.

Paulus menggambarkan kita semua yang ada di dalam Kristus sebagai bagian dari “keluarga iman.” Di dalam Kristus, kita adalah saudara kandung, dan Allah adalah Bapa kita. Berbuat baik kepada orang lain dalam keluarga kita adalah investasi yang akan membuahkan hasil bagi mereka dan bagi kita baik sekarang maupun selamanya agar nama Tuhan dipermuliakan. Berbuat baik adalah jawaban yang berlawanan dari apa yang dikatakan Kain kepada Tuhan:

Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Kejadian 4:9

Dalam kasus apa pun, musim tanam hanya berlangsung sebentar. Itu pada akhirnya harus berakhir. Paulus mengatakan ini, secara rohani, selagi kita hidup waktu yang ada adalah waktu menanam. Selama kita memiliki kesempatan untuk berbuat baik, untuk menginvestasikan hidup kita dengan kuasa Roh Allah dalam melakukan apa yang benar, kita harus menggunakannya. Ini termasuk berbuat baik dalam hal jasmani maupun rohani kepada semua orang tetapi secara khusus kepada sesama orang percaya.

Tinggalkan komentar