Semua orang sudah berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan

“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13:4-5

Bagi sebagian orang, malapetaka seperti adanya gempa bumi di Myanmar dan Thailand beberapa hari yang lalu bisa menimbulkan tanda tanya. Apakah yang terjadi di kedua negara itu sehingga ada banyak orang yang mengalami kematian yang tragis? Jika orang tewas karena mengalami kecelakaan ketika mengebut, itu dapat dimengerti. Jika seseorang tewas karena ditabrak oleh orang lain yang mengebut, itu pun bisa diterimai sebagai nasib malang. Walaupun demikian, ada yang berpendapat bahwa adanya kematian yang tidak “normal” adalah karena adanya kesalahan besar atau dosa yang diperbuat manusia kepada Tuhan. Benarkah begitu?

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca berita media tentang seorang pengemudi mobil di Jawa Timur yang meninggal ketika sebuah kotak kontainer pengangkut barang dari kapal (shipping container) terguling jatuh dari truk yang mengangkutnya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana hal seperti itu bisa terjadi karena setiap kontainer seharusnya dikunci dengan alat khusus ke bak truk pengangkutnya. Tetapi malang tak dapat ditolak, pengemudi mobil di sebelah truk tidak sempat melarikan diri ketika kontainer besi yang beratnya beberapa ton itu kemudian jatuh terguling secara tiba-tiba. Apakah pengendara mobil itu tewas secara mengenaskan karena dihukum Tuhan?

Alkisah, pada waktu itu berita tersebar bahwa Pilatus membunuh beberapa orang Yahudi dari Galilea. Rupanya, orang-orang itu pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban, mungkin untuk Paskah. Mereka bermaksud baik, tetapi tewas secara menyedihkan. Yesus menunjukkan bahwa tragedi ini tidak membuktikan bahwa orang yang mati secara tidak “normal” sudah melakukan kesalahan besar kepada Tuhan. Kematian orang-orang itu adalah akibat dari kekerasan yang mengerikan dan tidak adil, tetapi itu bukannya sesuatu hal yang harus dihunungkan dengan murka Tuhan. Kemudian dalam ayat 4 dan 5, Yesus menyebut sebuah contoh lain tentang kematian yang tidak “normal”. Sebuah menara di waduk di Yerusalem telah runtuh, menewaskan delapan belas orang. Seperti korban Pilatus, mereka yang terbunuh oleh menara itu tidak melakukan dosa tertentu untuk pantas menerima hukuman ini. Mengapa begitu?

“Pelanggar hukum” mengacu pada seseorang yang berutang besar. Tetapi, malapetaka di atas bukan hukuman langsung dari Allah atas dosa mereka. Allah tidak mengurung orang-orang yang paling berdosa di Yerusalem di bawah menara dan kemudian menggunakan jari-Nya untuk menjatuhkan menara. Meskipun Tuhan memegang kendali atas segala sesuatu, tidak semua yang terjadi pada seseorang merupakan respons langsung dari Tuhan atas dosa pribadinya. Runtuhnya menara adalah tragedi fisik secara spontan yang terjadi dengan izin Tuhan.

Runtuhnya menara Siloam tidak disebutkan dalam catatan sejarah lainnya, dan, karena Alkitab tidak memberikan perincian lebih lanjut tentang keruntuhan bangunan itu, kita tidak dapat memastikan untuk apa menara itu dibangun atau mengapa runtuh. Tragedi itu jelas diketahui oleh para pendengar Yesus. Siloam adalah daerah di luar tembok Yerusalem di sisi tenggara kota. Ada sebuah kolam yang dialiri mata air di sana, yang menjadi tempat terjadinya salah satu mukjizat Kristus (Yohanes 9). Menara Siloam mungkin merupakan bagian dari sistem saluran air atau proyek konstruksi yang dimulai oleh Pilatus. Bagaimanapun, menara itu runtuh, dan delapan belas orang tewas dalam bencana itu.

Baik Alkitab maupun tulisan-tulisan di luar Alkitab tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kekerasan Pilatus terhadap orang-orang Galilea atau runtuhnya menara Siloam. Itu tidak berarti bahwa peristiwa-peristiwa ini tidak terjadi, hanya saja dalam konteks Kekaisaran Romawi yang lebih besar, peristiwa-peristiwa itu adalah peristiwa-peristiwa kecil. Sayang bahwa sebagian orang Kristen membesar-besarkan peristiwa-peristiwa itu dan memakainya untuk mengajarkan bahwa kematian yang tragis adalah berasal dari dosa yang besar.

Ketika tragedi menimpa, seperti yang terjadi di menara Siloam, wajar saja jika orang-orang mulai bertanya mengapa. Pikiran-pikiran muncul seperti mungkin para korban memang pantas menerimanya. Mungkin mereka orang jahat, dan mungkin juga mereka berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan itulah sebabnya hal-hal buruk terjadi pada mereka. Namun, terkadang orang-orang yang terdampak tragedi tampaknya bukan orang jahat. Terutama ketika korbannya adalah anak-anak. Mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang baik? Mengapa Lukas menyebutkan kedua kejadian di atas?

Dalam mengomentari kejatuhan menara Siloam, Yesus menolak empat asumsi yang sering dibuat orang:

  • Penderitaan sebanding dengan dosa.
  • Tragedi adalah tanda pasti penghakiman Allah.
  • Hal-hal buruk hanya terjadi pada orang jahat.
  • Kita berhak membuat penghakiman seperti itu.

Untuk setiap asumsi ini, Yesus menolaknya.

Lukas rupanya ingin mengajar kita bahwa maksud Yesus dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa orang-orang meninggal secara tiba-tiba setiap hari. Anda tidak dapat menghindari kematian. Yang dapat Anda lakukan adalah memastikan bahwa Anda dibenarkan di hadapan Tuhan sehingga setelah kematian fisik, Ia akan membawa Anda pulang kepada-Nya. Suatu hari nanti tidak akan ada lagi air mata, kekerasan, atau tragedi yang tidak masuk akal (Wahyu 21:4).

Lukas 13:1–5 menguraikan pelajaran yang baru saja diajarkan Yesus. Dalam Lukas 12:57–59, Yesus memberi tahu orang banyak untuk berdamai dengan orang lain yang telah mereka sakiti. Sekarang, Yesus memakai tragedi dunia nyata untuk menunjukkan bahwa menjadi “orang saleh” tidak akan melindungi kita dari kematian fisik. Namun, pertobatan kepada Tuhan akan melindungi kita dari kematian kekal.

Yesus menggunakan contoh-contoh dunia nyata untuk menunjukkan bahwa tragedi dan kematian dapat menimpa siapa saja, bahkan orang benar. Karena itu, tidak seorang pun boleh menunda saat untuk berdamai dengan Tuhan karena waktu hampir habis. Yesus menyembuhkan seorang wanita di sinagoge, pada hari Sabat, yang memicu respons marah. Yesus menegur pemimpin sinagoge, lalu berkhotbah tentang penyebaran Injil yang tak terelakkan ke seluruh dunia. Namun, Ia juga mencatat bahwa kebanyakan orang akan menolak pesan ini, termasuk orang-orang Israel. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa waktu yang ada masih panjang.

Yesus mengulangi peringatan-Nya. Ia mengajar orang banyak tentang prioritas dalam hidup. Ia memulai dengan perumpamaan tentang seorang petani kaya yang menuai panen yang sangat banyak sehingga ia bisa pensiun. Namun, ia meninggal malam itu. Dalam kematian, ia tidak membutuhkan lumbung-lumbungnya yang penuh dengan gandum dan ia tidak mencurahkan usaha apa pun untuk membangun hubungannya dengan Tuhan. Ia menghargai harta duniawi yang tidak berarti dengan mengorbankan jiwanya yang kekal (Lukas 12:15-21).

Maksud Yesus adalah bahwa kematian menimpa semua orang, dan terkadang kematian itu datang secara tiba-tiba dan tidak adil. Inilah alasan lebih lanjut mengapa orang perlu bertobat dari dosa-dosa mereka dan berdamai dengan Tuhan sekarang. Pesannya sama bagi kita. Kita memiliki waktu yang terbatas di bumi dan kita tidak tahu kapan itu akan berakhir (Yakobus 4:14; 2 Korintus 6:2). Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk mengalami “pertobatan menjelang ajal.” Jauh lebih baik untuk memanfaatkan waktu yang kita miliki, mengakui dosa-dosa kita, menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, dan memastikan kita akan hidup selamanya di surga bersama Tuhan.

Apakah Anda berasal dari Galilea atau Yerusalem, dari Jakarta atau Surabayaa, dari desa atau kota; apakah Anda kaya atau miskin, muda atau tua; apakah Anda menganggap diri Anda sebagai orang berdosa atau orang suci; dan apakah Anda ingin memikirkan hal-hal rohani atau tidak—faktanya adalah Anda berada di bawah penghakiman Tuhan kecuali Anda bertobat dan beriman kepada Yesus.

Tinggalkan komentar