Pada waktu itu Petrus masih ada di bawah, di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar, dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Lalu ia pergi ke serambi muka (dan berkokoklah ayam). Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini adalah salah seorang dari mereka.” Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!” Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu. Markus 14: 66-72

Pernahkah Anda memakan buah simalakama? Saya harap Anda tidak mencoba memakan buah ini. Yang disebut “buah simalakama” adalah buah mahkota dewa (phaleria macrocarpa), yang memiliki rasa pahit dan beracun jika dimakan mentah, tetapi mngkin memiliki manfaat medis jika dikelola dengan benar. Dalam bahasa Indonesia, pepatah “bagai makan buah simalakama” menggambarkan situasi sulit di mana tidak ada pilihan yang baik, dan setiap keputusan bisa membawa dampak negatif.
Sering kali dalam hidup ini kita mengalami keadaan sulit di mana kita harus mengambil tindakan yang akan membawa rasa sakit atau penderitaan, tetapi jika kita tidak mengambil tindakan ada konsekuesi yang juga membawa rasa sakit atau penderitaan. Dalam hal ini, kita akan merasa bahwa keadaan yang kita alami adalah seperti makan buah simalakama. Itu juga yang dialami Petrus ketika Yesus sedang diadili menjelang penyaliban-Nya. Kepahitan yang dialami Petrus karena tindakan penyangkalannya, kemudian menyebabkan kepahitan yang sangat besar yang tidak pernah bisa dilupakannya (Yohanes 21:17),
Setiap hari kita kita harus mengambil tindakan besar dan kecil, di mana setiap tindakan akan membawa akibat yang berbeda. Jika suatu tindakan tidak akan membawa konsekuensi yang serius, mungkin kita bisa melakukannya tanpa berpikir panjang. Ini adalah logis. Walaupun demikian, sering kali kita mengambil tindakan yang tidak logis. Misalnya, jika dokter menyuruh kita untuk menjalani operasi. Kita mungkin merasa bahwa tindakan kita untuk mau dioperasi mempunyai risiko yang tidak menyenangkan. Walaupun demikian, kita mungkin kita tidak sadar bahwa jika kita memilih untuk tidak menjalani operasi, risiko akan menjadi jauh lebih besar dan mungkin saja fatal. Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali karena takut dianggap pengikut Yesus, adalah Petrus yang kemudian secara mendalam menyesali tindakannya. Sesudah Yesus bangkit, Petrus tiga kali mengaku bahwa ia mengasihi Yesus, tetapi ia tidak tahu bahwa ia akan mati dibunuh sebagai seorang martir karena pilihannya (Yohanes 21:18-19).
“Rasa sakit karena tindakan” mengacu pada ketidaknyamanan atau tantangan yang dialami saat mengambil langkah-langkah untuk mencapai tujuan atau membuat perubahan, sementara “rasa sakit karena akibat” mengacu pada hasil negatif atau penyesalan akibat kelambanan atau pilihan yang buruk. Rasa sakit akibat tindakan seringkali bersifat sementara, tetapi rasa sakit karena konsekuensi/akibat bisa kronis dan berbahaya. Pada umumnya, rasa sakit akibat tindakan seringkali kurang intens dan lebih mudah dikelola daripada rasa sakit karena akibat yang tidak mudah hilang.
Perlu kita ketahui bahwa kekuatiran atas kemungkinan munculnya rasa sakit karena tindakan (misalnya, karena hidup berdisiplin) adalah normal. Dalam banyak hal, kemungkinan rasa sakit ini justru sering dikaitkan dengan keputusan untuk mendorong diri melampaui zona nyaman, terlibat dalam kerja keras, atau membuat keputusan yang sulit. Contoh: Ketidaknyamanan belajar untuk ujian, mengerjakan proyek yang menantang, atau mengubah kebiasaan. Biasanya rasa sakit ini ada dalam jangka pendek dan dapat dikelola seiring dengan waktu dan usaha. Penderitaan semacam ini sering mengarah pada hasil positif, perbahan, pertumbuhan, dan kesuksesan.
Pada pihak yang lain, rasa sakit karena akibat adalah berupa penyesalan. Rasa sakit ini muncul dari kelambanan, kesempatan yang terlewatkan, atau pilihan yang tidak selaras dengan nilai atau aspirasi seseorang. Contoh: Menyesal karena tidak mengejar cita-cita, tidak mengambil kesempatan, atau tidak belajar dari kesalahan. Untuk orang Kristen, mungkin ini terjadi jika kita ditegur Roh Kudus ketika kita mengabaikan firman Tuhan. Hal ini bisa berlangsung lama dan karena itu sering kali membebani pikiran dan emosi seseorang. Seperti yang dialami Petrus pada setelah ia menyangkali Yesus tiga kali, penderitaanmya berlangsung terus sampai ia mendapat perintah Yesus yang sudah bangkit, untuk ketiga kalinya, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21:17).
Rasa sakit mana yang lebih baik , dalam mengambil tindakan atau dalam mengalami akabibat tindakan kita? Meskipun kedua jenis rasa sakit bisa terasa perih, rasa sakit akibat tindakan umumnya dianggap sebagai pilihan yang lebih ringan. Rasa sakit karena tindakan seringkali merupakan langkah yang diperlukan menuju kemajuan dan kesuksesan, sementara rasa sakit karena akibat dapat menjadi pengingat konstan dan penyesalan yang kronis. Dalam hal mengikut Yesus, merangkul ketidaknyamanan atas tindakan yang sesuai dengan firman Tuhan, bahkan ketika itu menantang iman kita, dapat mengarah pada kehidupan yang lebih memuaskan karena adanya manfaat yang kekal.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:29
Pada saat menjelang hari Paskah 2025, jika kita ingat bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai umat-Nya, kita dapat berdiri dengan aman dalam mengambil tindakan dalam hidup. Roh Kudus akan memimpin kita dalam keadaan apa pun, sehingga kita tidak khawatir akan rasa sakit yang akan kita alami jika kita hidup dalam terang-Nya. Sekalipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah mengambil tindakan, kita dapat mengetahui, sebagai orang percaya, bahwa tujuan Allah bagi kita selalu agar kita menjadi seperti Kristus.
Apa pun yang kita alami dan rasakan saat ini, ada keamanan mutlak di hadapan Tuhan. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Tuhan. Sekalipun kita pernah mengambil tindakan yang salah, dan saat ini kita menderita karenanya, kita bisa memohon kepada Tuhan akan pengampunan-Nya. Kasih Kristus memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan Abba Bapa. Dalam mengambil tindakan, kita siap menderita bersama Kristus bersama dengan seluruh umat Kristen, sambil menunggu Tuhan menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan pertolongan Roh, kita yakin bahwa Allah bersama kita dalam setiap tantangan kehidupan.
Allah telah menjadwalkan masuknya kita ke dalam keluarga-Nya jauh sebelum kita dilahirkan. Jika Allah mengetahui tentang kita sebelum kita dilahirkan, Ia juga yang mengatur keselamatan kita. Apa yang di alami Petrus ketika ia menyangkal Yesus tiga kali, sudah diramalkan oleh Yesus sebelumnya. Dengan demikian, Dia pasti mengetahui tentang pencobaan dan penderitaan kita sekarang, dan apa yang akan terjadi di masa depan. Itu seharusnya memberi kita penghiburan yang besar saat kita menunggu untuk bersama Bapa kita selamanya. Kita percaya bahwa Tuhan menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya. Bagi orang Kristen yang taat kepada Yesus, tidaklah ada istilah “bagai makan buah simalakama”. Marilah kita dengan teguh melangkah bersama Yesus sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari mendatang. Selamat menyambut hari Paskah!