“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23:4

Pernahkah Anda merasa takut? Adalah normal jika orang merasa takut ketika menghadapi situasi tertentu. Rasa takut adalah kemampuan yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia agar manusia menyadari adanya bahaya dan mengerti akan batas-batas kemampuannya. Orang yang tidak mengenal takut mempunyai risiko untuk tidak menyadari adanya situasi yang mengancam jiwanya – itu tentu saja bisa membawa bahaya besar.
Dalam bidang medis, situasi yang mengancam jiwa adalah situasi yang memiliki kemungkinan besar menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Situasi ini memerlukan perhatian medis segera dan dapat mencakup kondisi seperti pendarahan berat, kesulitan bernapas, kehilangan kesadaran, atau cedera serius. Walaupun demikian, seseorang yang selalu memikirkan adanya bahaya dan risiko yang mengancan kesehatannya tentu akan hidup dalam tekanan jiwa karena rasa tahut yang terus menerus (phobia).
Sebenarnya ada banyak hal yang bisa mendatangkan situasi yang bisa mengancam jiwa kita. Hidup memang tidak pernah tanpa tantangan, tetapi keberanian untuk menghadapi tantangan hidup sebenarnya baik untuk kita. Jika kita selalu berusaha menghindari ancaman dan tantangan, mungkin kita harus mengurung diri dalam kandang yang steril. Betapa membosankan dan terbatasnya hidup ini jika kita tidak pernah mau menghadapi tantangan!
Ada orang-orang yang menyebut rasa takut dan kuatir sebagai berkat bagi orang beriman. Saya setuju. Rasa takut kepada Tuhan hanya dimiliki oleh orang percaya. Rasa takut atas hukuman Tuhan hanya dimiliki oleh mereka yang sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu dan mahaadil. Dengan demikian, setiap orang percaya tentunya berusaha untuk menaati firman Tuhan. Walaupun demikian, setiap orang yang takut akan Tuhan tidak dijanjikan untuk mengalami hidup tanpa bahaya. Justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita akan dimusuhi oleh orang dunia dan bisa mengalami banyak tantangan kehidupan.
Beberapa ayat Alkitab membahas konsep ancaman untuk orang percaya. Salah satu yang menonjol adalah Matius 5:11, yang menyatakan, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”. Selain itu, Matius 10:22 mengatakan, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”. Ayat-ayat ini, bersama dengan ayat-ayat lainnya, menunjukkan bahwa penganiayaan dapat menjadi pengalaman umum bagi mereka yang mengikuti Kristus atau menjalani kehidupan yang benar.
Adanya situasi yang mencengkam bisa menjadi sarana penyempurnaan yang berkelanjutan dalam wadah pengudusan Tuhan, sehingga orang Kristen dapat merasakan bahwa ia dijadikan alat yang lebih baik untuk tujuan-Nya. Selain itu, melalui rasa sakit dan penderitaan, seseorang bisa tumbuh dalam karunia rohani tertentu. Misalnya, orang bisa dikaruniai dengan empati yang lebih besar terhadap orang lain serta kemampuan untuk benar-benar mendengarkan hati seseorang yang bermasalah. Berkat lain dari rasa takut adalah bahwa pengalaman seseorang dapat menjadi mercusuar harapan bagi orang lain yang perlu melakukan perjalanan berbahaya melalui “lembah kekelaman” seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas.
Dengan 6 ayat, Mazmur 23 termasuk dalam daftar mazmur yang sedikit jumlah ayatnya. Mazmur terpendek dalam Alkitab adalah Mazmur 117, yang hanya terdiri dari dua ayat. Mazmur 117 juga merupakan bab terpendek dalam seluruh Alkitab. Mazmur 23, yang juga cukup pendek, dikenal karena pesannya yang sederhana dan universal tentang kepercayaan kepada Tuhan. Ayat 4 dari Mazmur 23 ini sering dibacakan ketika keadaan yang kurang baik terjadi.
Mazmur 23:4–6 berubah dari suasana dari ketenangan yang digambarkan dalam ayat 1–3. Bagian ini muram, tetapi mengandung kepastian bahwa Tuhan melindungi domba-domba-Nya dan memenuhi hari-hari mereka dengan berkat-Nya. Bagian ini berbeda dari tiga ayat pertama karena berbicara langsung kepada Tuhan, gembala Daud. Dalam ayat 1–3 Daud berbicara tentang Tuhan, tetapi dalam ayat 4–6 ia berbicara kepada Tuhan.
Daud bersyukur atas perlindungan dan bimbingan Tuhan. Domba-domba yang dijaga oleh seorang gembala yang terampil dituntun ke makanan dan air, serta dilindungi dari bahaya. Dengan cara yang sama, Daud memuji Tuhan karena memberinya kedamaian. Pengetahuan tentang perlindungan dan pemeliharaan Tuhan merupakan penghiburan yang luar biasa. Mazmur ini menggabungkan tema-tema tentang berkat, pembelaan, kepastian, dan pemeliharaan dari Tuhan.
Daud dapat berjalan melewati jurang yang gelap, bahkan mungkin kematian, tanpa rasa takut, karena Tuhan berjalan bersamanya. Daud menjelaskan bahwa ia tidak takut karena “Engkau besertaku.” Menarik untuk mengamati bahwa “dalam lembah kekelaman” mendekatkan Daud kepada Tuhan. Ia memanggil Tuhan dengan sebutan “Engkau,” sedangkan di tempat-tempat yang damai ia memanggil Tuhan dengan sebutan “ia.”
Seorang gembala pada zaman Alkitab membawa gada dan tongkat untuk melindungi domba-dombanya. Gada adalah tongkat yang pendek, tebal, dan berat, mirip dengan apa yang orang modern sebut sebagai tongkat pemukul, seperti yang dipakai polisi. Gada ini digantung pada ikat pinggang gembala. Tongkat adalah galah yang panjang dan ringan dengan ujung yang melengkung, yang digunakan gembala untuk memindahkan, menghitung, dan memeriksa domba-dombanya di malam hari ketika mereka kembali ke kandang.
Daud percaya bahwa Tuhan akan melindunginya, sama seperti seorang gembala melindungi domba-dombanya dari binatang yang menyerang. Yesus, Sang Gembala yang Baik, selalu menyertai orang percaya (Yohanes 10:11, 14). Ia berjanji akan selalu menyertai kita (Matius 28:20). Ia menyertai kita saat kita berjalan “dalam lembah kematian” sama pastinya seperti Ia menyertai kita “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2). Yesus berkata, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28).
Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup sebagai orang Kristen bukanlah berarti hidup yang penuh kenyamanan. Sebaliknya, hidup kita penuh dengan tantangan karena kita harus berusaha hidup menurut firman Tuhan. Dunia membenci kita, iblis berusaha menjatuhkan kita. Tetapi, satu hal yang kita tahu, seperti Daud yang mempunyai seorang Gembala yang setia, kita pun memiliki Gembala yang sama. Gembala yang tidak penah berubah. Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia senantiasa menyertai kita dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, adanya rasa takut dan rasa kuatir justru aan membuat kita makin bergantung kepada-Nya.
Kepada Allah pengharapanku
Di darat, laut, di waktu manapun
KepadaNya ‘ku percaya
Bapa di Surga sumber hidupku
Walaupun badai, ombak menderu
Aku berharap pada Allahku
‘Ku tak gentar, kar’na ‘ku tau
Tuhan s’lalu menjaga hidupku