Boleh marah, tapi ada syaratnya

“Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.” Markus 3:5

Markus 3:1–6 menceritakan kisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang pria dengan tangan yang lumpuh pada hari Sabat. Peristiwa ini secara khusus menegaskan kedaulatan-Nya atas hari Sabat. Pada saat yang sama, peristiwa ini juga dapat dianggap sebagai yang pertama dari lima kisah tentang berbagai reaksi orang terhadap pelayanan awal Yesus, yang terlihat di bab 3. Sejak awal pelayanan Yesus, permusuhan orang Farisi perlahan-lahan tumbuh. Kini, tindakan provokatif Yesus membuat para guru agama menganggapnya melampaui batas, dan karena itu orang Farisi bersekutu dengan orang Herodian untuk merencanakan kejahatan terhadap Yesus.

Inti dari Sepuluh Perintah Allah adalah untuk menghormati Tuhan dan manusia. Hukum Musa menjelaskan cara menyembah Tuhan dan menghormati orang lain. Namun, alih-alih mengutamakan Tuhan dan orang lain, orang Farisi mengutamakan hukum demi hukum itu sendiri. Mereka membangun pagar peraturan tambahan di sekeliling ketetapan Tuhan. Mereka berusaha memastikan tidak seorang pun akan melanggar hukum Taurat. Dalam semangat mereka terhadap hukum, mereka melupakan tujuan hukum. Ini mirip orang Kristen di zaman ini yang lebih mementingkan peraturan gereja dan ajaran teologi dari pada firman dan perintah Tuhan untuk mengasihi Dia dan sesama nanusia.

Hari Sabat merupakan contoh ideal tentang perbedaan antara kedua konsep ini. Tuhan memberikan hari Sabat kepada manusia sebagai waktu istirahat dari pekerjaan, yang dimaksudkan untuk memuliakan-Nya dan menyegarkan para pengikut-Nya. Sebaliknya, legalisme orang Farisi mengikat orang-orang. Pendekatan mereka atas hukum mencekik manusia dengan larangan-larangan yang terlalu rinci, yang merusak sukacita dan istirahat yang seharusnya disediakan oleh hari Sabat. Akibatnya, dan khususnya dalam Markus 3, orang Farisi menolak karunia Tuhan dan menuntun orang lain untuk menolaknya juga.

Sikap orang Farisi ini membuat Yesus marah sekaligus berduka. Ia digambarkan dengan kata Yunani orgēs dan syllypoumenos. Kata pertama adalah kata umum yang merujuk pada murka atau kemarahan. Kata kedua didasarkan pada istilah yang kurang umum yang menyiratkan “memberi” atau “berbagi” kesedihan. Yesus marah sekaligus sedih, demi orang-orang di sekitar-Nya, karena reaksi orang-orang Farisi kepada pelayanan Yesus kepada masyarakat.

Kata “degil” atau “keras kepala” berasal dari akar kata Yunani porosis, dan berarti “sangat keras kepala sehingga pikiran menjadi tumpul, keras hati, atau mati rasa. Perlu dicatat bahwa kata “hati” dalam bahasa Yunani memiliki akar kata kardia, dan melambangkan sumber kehidupan, kebijaksanaan, dan kemauan batiniah. Kebijaksanaan orang-orang Farisi ditutupi dengan kekerasan hati yang menjadi penghalang hubungan antara mereka dan Tuhan. Karena kedegilan orang Farisi, Yesus menjadi marah.

Kemarahan memang tidak selalu merupakan dosa. Ada jenis kemarahan yang disetujui Alkitab, yang sering disebut “kemarahan yang benar.” Allah marah (Mazmur 7:11), dan kemarahan orang percaya dapat diterima (Efesus 4:26). Memang aua kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang bisa diterjemahkan sebagai “kemarahan.” Yang satu berarti “gairah, energi” dan yang lainnya berarti “gelisah, mendidih.” Secara alkitabiah, kemarahan adalah energi yang diberikan Allah yang dimaksudkan untuk membantu kita memecahkan masalah. Kemarahan semacam ini ada gunanya.

Contoh kemarahan yang benar termasuk kemarahan Daud karena mendengar nabi Natan menceritakan ketidakadilan (2 Samuel 12) dan kemarahan Yesus atas bagaimana beberapa orang Yahudi telah menajiskan ibadah di bait Allah di Yerusalem (Yohanes 2:13-18). Perhatikan bahwa tidak satu pun dari contoh kemarahan ini melibatkan pembelaan diri, tetapi pembelaan terhadap orang lain atau terhadap suatu prinsip.

Belajar dari perilaku Yesus, kita harus mau belajar untuk marah dalam menegakkan kebenaran dan dengan cara benar. Sekalipun kemarahan itu sendiri pada dasarnya bukanlah dosa, tetapi dapat menjadi dosa jika kemarahan tersebut mengarah pada tindakan, perkataan, atau pikiran yang merugikan, atau jika kemarahan tersebut berkembang menjadi kebencian dan kepahitan. Kemarahan menjadi dosa jika tidak ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, tetapi untuk ego atau kepentingan diri sendiri.

Kemarahan sementara sebagai respons terhadap situasi yang sulit, jika ditangani dengan cara yang sehat dan tidak dibiarkan berlarut-larut, pada dasarnya bukanlah dosa. Mengekspresikan amarah dengan tepat, seperti mengomunikasikan perasaan kita dengan tenang dan sopan, bukanlah dosa. Kemarahan yang ditujukan pada ketidakadilan atau kesalahan, didorong oleh keinginan akan kebenaran dan keadilan, dapat menjadi emosi yang positif.

Alkitab menganjurkan kita untuk marah tetapi tidak berbuat dosa, memperingatkan agar tidak membiarkan amarah menguasai dan mengarah pada tindakan atau pikiran yang merugikan. Alkitab tidak mengutuk semua kemarahan, karena Yesus juga menunjukkan kemarahan di Bait Suci. Akan tetapi, Alkitab memperingatkan agar tidak membiarkan kemarahan mengendalikan kita ke arah dosa, dan karena itu menekankan pentingnya pengampunan dan rekonsiliasi.

Membiarkan kemarahan berkembang menjadi kebencian dan keinginan untuk membalas dendam dapat menyebabkan hubungan yang rusak dan hati yang selalu dipenuhi dengan hal-hal yang negatif tentang orang lain. Ketika kemarahan mengarah pada tindakan yang kemudian bisa menimbulkan rasa sesal, seperti berteriak, memukul, atau mengatakan hal-hal yang menyakitkan, kemarahan tersebut bukan lagi sekadar emosi, tetapi tindakan yang berdosa.

Menggunakan bahasa atau nada yang keras atau kasar, dapat menjadi dosa, terutama jika dimaksudkan untuk menyakiti atau merendahkan seseorang. Memendam amarah secara berkelanjutan dan menolak mengampuni orang lain dapat menghambat pekerjaan Roh Kudus dan menghambat pertumbuhan rohani. Mengingat-ingat kesalahan orang lain di masa lalu, selalu berakhir dengan mudahnya untuk menjadi marah lagi di masa depan.

Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan membalas kejahatan dengan kebaikan (Kejadian 50:21; Roma 12:21). Ini adalah kunci untuk mengubah kemarahan kita menjadi kasih. Sebagaimana tindakan kita mengalir dari hati kita, demikian pula hati kita dapat diubah oleh tindakan kita (Matius 5:43-48). Dengan kata lain, kita dapat mengubah perasaan kita terhadap orang lain dengan mengubah cara kita bertindak terhadap orang tersebut.

Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan berkomunikasi dalam kasih untuk menyelesaikan masalah. Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan mengenali dan mengakui kemarahan kita yang sombong dan/atau penanganan kemarahan kita yang salah sebagai dosa (Amsal 28:13; 1 Yohanes 1:9). Pengakuan ini harus ditujukan kepada Tuhan dan kepada mereka yang telah terluka oleh kemarahan kita. Kita tidak boleh meremehkan dosa dengan memaafkannya atau menyalahkan orang lain.

Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan membalas kejahatan dengan kebaikan (Kejadian 50:21; Roma 12:21). Ini adalah kunci untuk mengubah kemarahan kita menjadi kasih. Sebagaimana tindakan kita mengalir dari hati kita, demikian pula hati kita dapat diubah oleh tindakan kita (Matius 5:43-48). Yaitu, kita dapat mengubah perasaan kita terhadap orang lain dengan mengubah cara kita memilih untuk bertindak terhadap orang tersebut. Kita harus bertindak untuk menyelesaikan bagian kita dari masalah tersebut (Roma 12:18). Kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain bertindak atau menanggapi, tetapi kita dapat membuat perubahan yang perlu dan bisa dilakukan di pihak kita.

Amarah seharusnya dipadamkan dalam semalam (Efesus 4:26), tetapi mengatasi penyebab amarah tidak dapat dilakukan dalam semalam. Namun melalui doa, pelajaran Alkitab, dan mengandalkan Roh Kudus Tuhan, kecenderungan munculnya amarah yang tidak benar dapat diatasi. Kita mungkin sudah lama membiarkan amarah mengakar dalam kehidupan kita melalui kebiasaan dan karena adanya lingkungan yang kurang baik, tetapi kita juga dapat berlatih menanggapi dengan benar hingga hal itu juga menjadi kebiasaan baru dan Tuhan bisa dimuliakan melalui usaha kita.

Pagi ini kita harus mau belajar untuk bisa marah demi kebenaran Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan, dengan tujuan dan cara yang benar. Tujuan tidak boleh menghalalkan cara. Kita harus bisa memahami situasi atau pikiran apa yang cenderung memicu amarah kita. Kita harus sadar bahwa tiap orang mempunyai kelemahan dalam hal tertentu. Kita harus siap untuk mengampuni, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, karena hal itu dapat membantu melepaskan kepahitan yang memicu amarah. Kita harus beralih cara, dengan mementingkan doa dan iman untuk mencari bimbingan dan kekuatan untuk mengelola amarah dan untuk membuat pilihan yang bijaksana, dengan selalu bertujuan untuk mencapai rekonsiliasi.

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:29-32

Tinggalkan komentar