Ketika Dunia Maju — Tetapi Menjauh dari Allah

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri… lebih menyukai kesenangan daripada mengasihi Allah. Mereka beribadah secara lahiriah, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya.” 2 Timotius 3:1–5

Kita hidup di zaman yang ditandai oleh pertumbuhan teknologi yang pesat, terobosan ilmiah, dan konektivitas global. Harapan hidup bertambah panjang, berbagai penyakit telah ditemukan obatnya, dan informasi tersebar luas. Jika dilihat dari luar, manusia tampak semakin maju.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada sesuatu yang rusak. Di saat masyarakat berkembang dalam pengetahuan dan kemakmuran, mereka justru semakin menjauh dari Allah. Nilai moral yang dahulu menjadi dasar kehidupan bersama perlahan-lahan terkikis. Kemajuan teknologi tidak mampu memperbaiki hati manusia.

Apakah dunia ini semakin baik?

Dalam beberapa hal — ya. Hidup menjadi lebih nyaman, mudah, dan praktis.

Tetapi dalam hal yang paling penting — hati, relasi, dan iman — jawabannya sering kali adalah tidak.

Tanda-Tanda Dunia yang Menjauh dari Allah

Rasul Paulus mengingatkan Timotius bahwa di hari-hari terakhir, manusia akan lebih mencintai dirinya sendiri daripada Allah. Mereka akan menjadi hamba kesenangan, sombong, arogan, suka kekerasan, tidak tahu berterima kasih, dan tidak mampu mengendalikan diri (2 Timotius 3:1–5). Ini bukan hanya gambaran masa depan yang jauh — ini adalah realita yang kita lihat hari ini.

1. Meningkatnya Kejahatan Remaja

Di berbagai negara, kekerasan dan kejahatan di kalangan remaja semakin meningkat. Remaja yang dahulu dibesarkan dengan didikan, nilai-nilai moral, dan bimbingan orang tua, kini sering kali harus menjalani hidup tanpa arahan yang jelas. Keluarga yang hancur, ayah yang absen, dan nilai masyarakat yang menurun membuat banyak anak muda terjerumus ke pergaulan bebas, geng, narkoba, dan kekerasan.

Tanpa dasar kebenaran Allah, hati muda mudah terseret ke dalam pemberontakan dan kenakalan. Amsal 22:6 berkata, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya.” Namun, ketika iman ditinggalkan, didikan itu pun hilang — dan dampaknya nyata di mana-mana.

2. Hubungan yang Rusak dan Penuh Kekerasan

Allah merancang hubungan untuk mencerminkan kasih-Nya — terutama dalam pernikahan, yang menjadi gambaran hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Namun saat ini, banyak hubungan dirusak oleh kekerasan, manipulasi, dan egoisme.

Alih-alih komitmen, banyak orang mencari kekuasaan. Alih-alih kasih, yang dicari adalah kendali atas orang lain. Kekerasan dalam rumah tangga, manipulasi emosional, dan hubungan yang beracun menjadi hal yang biasa — bahkan di antara orang yang tampak rohani. Seperti yang Paulus katakan, mereka “beribadah secara lahiriah, tetapi memungkiri kekuatannya.” (2 Timotius 3:5)

Ketika rancangan Allah dalam hubungan diabaikan, yang muncul adalah luka dan kehancuran. Kasih tanpa pengorbanan berubah menjadi nafsu. Wewenang tanpa kerendahan hati berubah menjadi kekerasan.

3. Pernikahan Sejenis dan Etika Seksual yang Melenceng

Salah satu perubahan terbesar di zaman ini adalah redefinisi pernikahan dan etika seksual. Apa yang Allah tetapkan sebagai perjanjian antara pria dan wanita kini dianggap kuno, intoleran, bahkan dianggap membenci sesama. Pernikahan sejenis dilegalkan di banyak negara, dan ideologi gender menantang desain penciptaan Allah.

Roma 1:25 memperingatkan bahwa manusia akan “menukar kebenaran Allah dengan dusta.” Itulah yang terjadi — dunia menukar rancangan Allah dengan keinginan pribadi.

Penting untuk disadari: ini bukan soal membenci atau menghakimi. Setiap orang, tanpa kecuali, dikasihi Allah dan butuh anugerah-Nya. Namun sebagai pengikut Kristus, kita harus memahami bahwa merayakan sesuatu yang disebut dosa oleh Allah bukanlah kasih — itu justru menjerumuskan orang semakin jauh dari-Nya.

Masalah Utamanya: Hati Manusia

Masalah ini bukan sekadar perbedaan budaya atau pandangan politik — ini masalah hati manusia yang berdosa.

Yeremia 17:9 berkata bahwa hati manusia itu licik dan sangat jahat. Ketika manusia menolak Allah, mereka akan mencari pembenaran sendiri dan mengubah kebenaran menjadi kebohongan.

Yesus berkata dalam Matius 24:12:

“Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”

Bukankah itu yang kita lihat? Ketika dosa menjadi biasa, kasih menjadi dingin. Belas kasih tergantikan oleh egoisme. Kebenaran dikorbankan demi toleransi palsu.

Namun, di tengah semua itu, masih ada harapan.

Misi Allah Tidak Pernah Berubah

Yesus berjanji:

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” — Matius 24:14

Di tengah dunia yang gelap, misi Allah tetap berjalan. Injil tetap menjadi kuasa Allah yang menyelamatkan (Roma 1:16). Hati masih bisa diubahkan, hidup masih bisa dipulihkan, dan harapan tetap ada.

Peran kita bukanlah berputus asa, tetapi tetap berdiri teguh — hidup dan memberitakan kebenaran dalam kasih (Efesus 4:15), berdoa bagi yang terhilang, dan menjadi saksi yang setia.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Tetap Berpegang pada Kebenaran — Jangan biarkan budaya mendikte iman kita. Berdirilah teguh di atas Firman Allah. Mengasihi Tanpa Kompromi — Sampaikan kebenaran dengan kasih. Kita dipanggil bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan jiwa. Berdoa bagi Remaja dan Keluarga — Mereka berada di garis depan peperangan rohani. Doakan perlindungan, hati mereka, dan masa depan mereka. Hidup sebagai Terang di Tengah Kegelapan — Biarlah hidup kita mencerminkan kasih, integritas, dan pengharapan Kristus, meski dunia menolak kita.

Pertanyaan Refleksi:

  • Dalam hal apa saja saya mulai tergoda untuk mengikuti cara berpikir dunia?
  • Bagaimana saya bisa menyampaikan kebenaran Allah dengan kasih tanpa kompromi?
  • Langkah apa yang bisa saya lakukan untuk berdoa dan mendukung kaum muda, keluarga, dan orang-orang yang terjebak di dalam budaya zaman ini?

Doa Penutup;

Tuhan, ketika aku melihat dunia ini semakin mengejar keinginannya sendiri, tolong aku agar tidak tawar hati. Ajarku untuk tetap teguh dalam kebenaran-Mu, mengasihi dengan berani, dan setia di tengah budaya yang menolak Engkau. Aku berdoa bagi para remaja — lindungi mereka dari kekerasan, kebohongan, dan keputusasaan. Pulihkan hubungan yang rusak dan bebaskan mereka yang terikat dalam dosa dan tipu daya dunia. Bukalah mata mereka yang tersesat agar mengenal kasih dan kebenaran-Mu. Pakailah aku sebagai bejana kasih dan kebenaran-Mu, agar cahayaku tetap bersinar di dunia yang semakin gelap ini. Dalam nama Yesus, Amin.

Tinggalkan komentar