Hidup dalam Kesederhanaan Agar Yesus yang Bersinar

“Ingatlah akan orang-orang miskin.” Galatia 2:10

“Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Matius 5:16

“Crazy Rich Asians” adalah film komedi romantis yang penuh warna, lucu, dan menampilkan kemewahan serta dinamika keluarga Asia di Singaupra yang menarik. Namun di balik semua kemewahan dan hiburan tersebut, film ini justru lebih merayakan gaya hidup ultra-kaya daripada mengkritisinya. Padahal, perilaku yang ditampilkan dalam film sering kali bertentangan dengan nilai-nilai umum masyarakat, seperti kesederhanaan, kesetaraan, dan kebersamaan.

Meskipun film ini menonjolkan budaya Asia dan ketegangan antara nilai-nilai Timur dan Barat, ia tidak benar-benar mempertanyakan atau mengkritik gaya hidup mewah yang berlebihan. Sebaliknya, kekayaan dan status sosial justru digambarkan sebagai kebanggaan. Alih-alih mempertanyakan nilai-nilai status dan penampilan luar, film ini justru menormalkan atau bahkan merayakan gaya hidup tersebut. Padahal dalam kenyataannya, gaya hidup seperti ini bisa menciptakan jurang sosial, memperkuat elitisme, dan menjauhkan diri dari nilai-nilai masyarakat luas seperti kerendahan hati dan kepedulian sosial.

Dalam masyarakat multikultural seperti Singapura (latar cerita film ini) atau banyak negara-negara lain (tempat sebagian besar penonton berasal), ada harapan sosial akan kesederhanaan, kesetaraan, dan keterbukaan. Gambaran tentang kelompok ultra-kaya yang eksklusif dan penuh gengsi ini — meskipun mungkin berdasarkan kenyataan — terasa berseberangan dengan semangat inklusif dan kebersamaan masyarakat umum. Oleh sebab itu, ilmuwan politik Universitas Nasional Singapura, Ian Chong, memberi komentar bahwa film ini mewakili apa yang terburuk dari Singapura dengan menghilangkan aspek orang miskin dan yang terpinggirkan, sehingga murni menampilkan orang-orang Tionghoa yang kaya semata.

Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk hidup lebih mewah, lebih hebat, dan lebih menonjol, suara lembut Yesus memanggil kita ke jalan yang sebaliknya: jalan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih terhadap sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita.

Yesus tidak hidup di istana, tidak menunggangi kuda kerajaan, dan tidak memakai jubah yang berkilau. Ia lahir di kandang yang hina, dibesarkan di kota kecil yang dianggap rendah (Nazaret), dan selama pelayanannya, Ia seringkali tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Lukas 9:58). Namun justru dari hidup yang sederhana itulah kemuliaan Allah dinyatakan — bukan melalui harta atau status, tetapi melalui kasih, pengorbanan, dan kebenaran.

Kasih yang Terlihat dalam Perhatian kepada yang Lemah

Dalam Galatia 2:10, Paulus mengingatkan bahwa ketika ia diterima oleh para pemimpin gereja di Yerusalem, satu hal yang mereka tekankan kepadanya adalah: “Ingatlah akan orang-orang miskin.” Ini bukan sekadar saran sosial, tapi sebuah panggilan spiritual. Orang miskin adalah gambaran nyata dari dunia yang telah jatuh — dunia yang penuh ketimpangan dan penderitaan. Ketika kita mengingat mereka, kita tidak hanya sedang membantu secara sosial, tetapi kita sedang membawa terang Kristus masuk ke dalam kegelapan dunia.

Yesus sendiri menjadikan pelayanan kepada orang miskin sebagai bagian inti dari misi-Nya:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin…” Lukas 4:18

Melalui perhatian kita kepada orang-orang yang kesulitan — entah itu yang secara ekonomi miskin, secara mental terbebani, atau secara rohani tersesat — kita sedang melanjutkan karya Kristus di dunia ini.

Bahaya Kemewahan Tanpa Belas Kasih dan Kepedulian

Kekristenan bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta. Alkitab tidak melarang kekayaan. Namun, Yesus dengan jelas memperingatkan bahwa kekayaan bisa menjadi batu sandungan bagi iman kita jika tidak dibarengi dengan hati yang tunduk kepada Tuhan. Ketika hidup kita berpusat pada pencapaian materi, kita bisa kehilangan fokus pada hal yang lebih penting: kasih kepada Allah dan kepada sesama.

“Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6:21

Kemewahan bisa membuat kita lupa. Lupa bahwa di luar tembok rumah kita ada orang-orang yang tidak bisa makan tiga kali sehari. Lupa bahwa kemuliaan hidup bukan diukur dari merek pakaian, tetapi dari seberapa dalam kita mengasihi. Lupa bahwa kita dipanggil bukan untuk mengangkat diri sendiri, tetapi untuk membiarkan Yesus bersinar melalui hidup kita.

Kemewahan juga bisa menciptakan dinding sosial yang tinggi, membuat kita hidup dalam dunia sendiri yang jauh dari realitas penderitaan orang lain. Tanpa sadar, kita menjadi seperti orang kaya dalam perumpamaan Yesus, yang berpesta setiap hari, sementara Lazarus tergeletak di pintu rumahnya (Lukas 16:19–31).

Kesederhanaan sebagai Cermin Kristus

Kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup hemat. Kesederhanaan dalam iman Kristen adalah bentuk ketaatan dan penyembahan. Hidup sederhana membuka ruang bagi Kristus untuk bersinar — karena ketika kita tidak sibuk menonjolkan diri, maka cahaya-Nya bisa bersinar tanpa halangan.

Yesus berkata:

“Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Matius 5:16

Apa arti terang kita? Terang yang benar tidak akan pernah pudar. Bukan rumah besar, bukan mobil mahal, bukan status di media sosial. Terang itu adalah kasih, kebaikan, kesetiaan, dan kerendahan hati. Ketika kita hidup tidak untuk kemuliaan diri, tetapi untuk kemuliaan Kristus, maka orang akan melihat sesuatu yang berbeda — dan itu akan menarik mereka kepada Tuhan.

Contoh Hidup: Gereja yang Memberi Hidup

Gereja mula-mula di Kisah Para Rasul 2 adalah contoh luar biasa dari kesederhanaan dan kasih. Mereka hidup bersama, saling berbagi, tidak ada yang berkekurangan. Mereka bukan sekadar jemaat yang rajin ibadah, tapi juga komunitas yang hidup dalam kasih dan keterbukaan.

Hari ini, dunia sangat membutuhkan gereja seperti itu — bukan gereja yang hanya sibuk membangun gedung megah dan mewah seperti di negara kita, tetapi yang benar-benar peduli pada orang-orang yang kesulitan. Kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus, dan setiap dari kita bisa memilih untuk hidup dalam kesederhanaan, agar Kristus dikenal — bukan karena penampilan kita, tapi karena hati kita.

Mengapa Yesus Yang Harus Bersinar, Bukan Kita

Kita semua, jika jujur, punya keinginan untuk dikenali, dipuji, dan dihormati. Tapi dalam terang Injil, kita diajak untuk merendahkan diri:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3:30

Ketika Yesus bersinar melalui kita, hidup kita menjadi berkat sejati. Kita mungkin tidak viral, tidak terkenal, tidak menonjol — tapi kita membawa perubahan yang kekal. Dunia tidak butuh lebih banyak selebritas; dunia butuh lebih banyak orang yang seperti Kristus.

Pertanyaan Refleksi:

  • Apakah aku hidup dengan tujuan agar Yesus dikenal, atau agar diriku dihormati?
  • Seberapa besar kepedulianku terhadap orang miskin dan yang sedang dalam kesulitan?
  • Apakah aku bersedia mengubah gaya hidupku demi membagikan lebih banyak kasih dan berkat kepada orang lain?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkau hidup dalam kesederhanaan namun penuh kemuliaan. Ajarku untuk hidup tidak demi kemuliaan diri, tapi agar Engkau bersinar melalui hidupku. Bukalah mataku untuk melihat mereka yang menderita, dan berikan hatiku belas kasihan seperti hati-Mu. Aku serahkan hidupku untuk menjadi saluran kasih dan terang-Mu. Dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar