Pengharapan di Tengah Bangsa yang Kacau

“Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya. Masakan bersekutu dengan Engkau takhta kebusukan, yang merancangkan bencana berdasarkan ketetapan? Mereka bersekongkol melawan jiwa orang benar, dan menyatakan fasik darah orang yang tidak bersalah.Tetapi TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku.” Mazmur 94: 20-22

“Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya”. Amsal 29: 4

Apa yang terjadi pada akhir bulan Agustus 2025 di berbagai kota di Indonesia membuat saya menghela nafas dalam-dalam. Mengapa ini harus terjadi? Tentunya ada rasa ketidakpuasan dalam masyarakat. Kita tentu tahu bahwa bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah dan jumlah penduduk yang besar. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: Mengapa Indonesia begitu sulit untuk maju? Jawabannya hampir selalu kembali pada satu akar masalah: kelemahan hukum.

Hukum seharusnya menjadi tiang penopang bangsa, tetapi sering kali justru menjadi alat permainan orang berkuasa. Aparat hukum yang seharusnya menegakkan keadilan justru bisa dipengaruhi uang, jabatan, dan koneksi. Tim pemberantasan korupsi yang dulu begitu disegani kini kehilangan taring. Nepotisme, kronisme, dan politik balas budi masih marak.

Rakyat kecillah yang menjadi korban utama. Mereka bekerja keras, membayar pajak, tetapi tetap menanggung beban hidup yang berat. Subsidi dipotong, harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja semakin sempit. Ironisnya, di saat yang sama, elite politik tetap menikmati fasilitas dan tunjangan mewah.

Amsal 29:4 menyatakan bahwa raja yang adil membuat negeri menjadi teguh, tetapi orang yang suka menarik banyak pajak meruntuhkannya. Sungguh tepat menggambarkan kondisi kita: keadilan rapuh, karena banyak yang lebih mencintai uang daripada kebenaran.

Hukum Allah Tidak Pernah Gagal

Namun di tengah kegelapan ini, kita memiliki penghiburan yang pasti. Mazmur 94:20-22 menegaskan bahwa Allah tidak akan bersekutu dengan takhta kebusukan. Artinya, sekalipun ada pemimpin yang menggunakan hukum untuk menindas, Allah tidak pernah berpihak kepada mereka. Mazmur ini juga mengingatkan kita bahwa Tuhanlah tempat perlindungan sejati. Perlindungan kita bukan pada sistem hukum manusia yang bisa dibeli, tetapi pada Allah yang adil. Ia adalah Gunung Batu keselamatan kita—kokoh, teguh, tidak tergoyahkan.

Karena itu kita tidak boleh lupa, penghakiman Tuhan pasti datang. Pemimpin yang korup mungkin tampak bebas untuk sementara, tetapi pada akhirnya mereka tidak akan luput dari keadilan Allah.

Rasa Pesimis Itu Wajar

Banyak orang percaya merasa pesimis: “Bisakah bangsa ini maju? Bukankah semua pemimpin sama saja? Apakah usaha melawan korupsi tidak sia-sia?”

Nabi Habakuk pernah berseru dengan nada serupa: “Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.” Habakuk 1:3.

Keluhan ini sah-sah saja. Itu tanda bahwa hati kita masih peka pada ketidakadilan. Tetapi kita tidak boleh berhenti di situ. Iman Kristen mengajarkan: di balik pesimisme manusia, selalu ada pengharapan dalam Tuhan.

Panggilan untuk Orang Percaya

Lalu apa yang harus kita lakukan?

  • Hidup Benar: Paulus menasihati jemaat di Filipi 2:15 berkata: “Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Kita dipanggil untuk berbeda. Meskipun dunia ini korup, kita tidak boleh ikut-ikutan.
  • Menjadi Garam dan Terang: Yesus berkata: “Kamu adalah garam dunia … Kamu adalah terang dunia.” (Matius 5:13–16). Garam mencegah pembusukan, terang mengusir kegelapan. Meski peran kita kecil, hidup benar bisa memberi dampak besar bagi sekitar.
  • Mendoakan Bangsa dan Pemimpin: 1 Timotius 2:1–2 menegaskan bahwa kita harus mendoakan semua pemimpin. Bukan karena kita selalu setuju dengan mereka, tetapi karena doa orang benar sanggup mengubah keadaan.

Dalam Segala Keadaan, Tuhan Tetap Raja

Yesaya 33:22 menegaskan: “Sebab TUHAN adalah Hakim kita, TUHAN adalah yang memberi hukum bagi kita, TUHAN adalah Raja kita; Dia akan menyelamatkan kita.”

Inilah dasar pengharapan kita. Dunia boleh runtuh oleh korupsi, bangsa boleh rapuh karena hukum yang lemah, tetapi Allah tetap Raja. Dialah Hakim tertinggi, Pemberi hukum sejati, dan Juruselamat kita.

Sejarah sudah membuktikan: kerajaan besar pernah runtuh—Babel, Romawi, bahkan kekuatan modern—tetapi Kerajaan Allah tidak pernah bisa digoyahkan.

Antara Pesimisme dan Pengharapan

Jadi, bolehkah kita pesimis? Ya, terhadap sistem manusia. Tetapi kita tidak boleh putus asa. Karena iman Kristen tidak berdiri di atas kesempurnaan pemimpin dunia, melainkan pada Kristus yang adil. Kita boleh kecewa dengan keadaan sekarang, tetapi kita harus tetap optimis kepada Allah. Mazmur 94 menutup dengan indah: “Tetapi TUHAN adalah tempat perlindunganku, Allahku adalah gunung batu keselamatanku.”

Inilah pegangan kita. Meski bangsa ini lemah, kita memiliki Allah yang kuat. Meski hukum manusia gagal, hukum Allah tidak pernah gagal. Meski pemimpin mengecewakan, Allah tetap Raja atas segala raja.

Doa Penutup:

“Tuhan, kami melihat berbagai kekacauan dan hati kami sering pesimis. Hukum lemah, korupsi merajalela, rakyat kecil menderita. Tetapi kami percaya Engkau tidak merestui apa yang jahat. Engkau tetap Raja, Hakim yang adil, dan Gunung Batu keselamatan kami. Tolong kami untuk hidup benar, menjadi garam dan terang, dan selalu menaruh pengharapan pada-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.”

Tinggalkan komentar