Mengenal Tuhan, Melihat Alam,dan Hidup dalam Syukur

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Mazmur 19:2

Saya teringat bahwa pada waktu saya masih kecil, saya bertanya kepada ayah saya bagaimana beliau bisa yakin bahwa dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Beliau menjawab bahwa karena segala benda yang kita gunakan sehari-hari pasti ada penciptanya, begitu pula alam semesta yang indah ini pasti ada Penciptanya. Jawaban ayah saya ini terdengar cukup masuk akal pada saat itu, tetapi sesudah saya dewasa terasa kurang memuaskan. Mengapa? Karena saya melihat bahwa ada banyak orang yang kagum atas keindahan alam dan sadar betapa besarnya alam semesta ini, tetapi mereka tidak percaya bahwa semua itu diciptakan oleh Tuhan. Bahkan ada agama tertentu yang mengajarkan adanya Tuhan, tetapi menyatakan bahwa alam semesta ini ada begitu saja dari awal sampai akhirnya.

Alkitab menunjukkan bahwa sekadar melihat keindahan alam tidak serta merta menuntun setiap orang kepada Tuhan. Sebaliknya, banyak orang berhenti pada kekaguman kepada alam itu sendiri, tanpa pernah mengenal Pencipta yang sejati. Bahkan, ada yang menjadikan alam sebagai objek penyembahan. Inilah yang Paulus tegaskan dalam Roma 1:25: “Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja serta menyembah makhluk dengan melupakan Sang Pencipta yang harus dipuji selama-lamanya.”

Oleh karena itu, lebih tepat bila kita berkata: “Jika kita percaya kepada Tuhan, kita akan selalu bersyukur atas keindahan ciptaan-Nya.” Iman mendahului syukur. Tanpa iman, keindahan alam bisa membuat orang terpesona tetapi tetap kosong secara rohani. Dengan iman, kita melihat keindahan itu sebagai bukti kasih setia Allah, dan hati kita terdorong untuk bersyukur. Jadi yang paling penting adalah pernyataan Alkitab: Iman datang dari Tuhan.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9

Mazmur 19:2 di atas berkata: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Pemazmur yang percaya kepada Allah melihat langit sebagai saksi bisu yang berkhotbah tanpa suara, namun menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang kebesaran Allah.

Keindahan alam memang seperti sebuah “kitab terbuka” yang dapat dibaca siapa saja. Daun yang berfotosintesis, burung yang bernyanyi di pagi hari, atau pelangi yang muncul setelah hujan—semuanya adalah tanda kebesaran Pencipta. Bahkan Yesus sendiri mengajak murid-murid-Nya untuk belajar dari alam: “Perhatikanlah bunga bakung di ladang, … perhatikanlah burung di udara” (Matius 6:26–28). Namun, masalahnya bukan pada “kitab alam”, melainkan pada “pembacanya”. Tanpa iman, manusia bisa salah membaca. Alam yang seharusnya menunjuk kepada Tuhan, malah dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Inilah yang terjadi dalam penyembahan berhala di sepanjang sejarah manusia. Alam dipuja, tetapi Sang Pencipta dilupakan.

Banyak orang modern yang kagum akan alam, tetapi tidak mengenal Tuhan. Mereka bisa mengagumi matahari terbenam di Bali, pegunungan Alpen yang megah, atau terumbu karang di Raja Ampat. Mereka bahkan bisa menulis puisi dan melukis karya seni dari kekaguman itu. Namun, kekaguman semacam ini belum tentu membawa mereka kepada Allah.

Seorang ilmuwan astronomi bisa mempelajari jutaan galaksi dan mengagumi keteraturannya, tetapi tetap berkata, “Semua ini terjadi karena kebetulan kosmik.” Seorang naturalis bisa menulis tentang keindahan hutan tropis, tetapi tetap percaya bahwa kehidupan hanyalah hasil evolusi buta. Tanpa iman, keindahan alam memang bisa disalahartikan. Alam dilihat hanya sebagai objek eksploitasi, atau malah dipuja sebagai “ibu bumi”. Akibatnya, manusia berhenti pada ciptaan dan peran manusia, bukan Sang Pencipta.

Sebaliknya, orang yang percaya kepada Tuhan memandang alam dengan kacamata yang berbeda. Ia tidak hanya melihat pohon, laut, atau gunung sebagai fenomena alamiah, melainkan sebagai karya kasih Allah. Keindahan alam bukan tujuan akhir, tetapi jendela yang menyingkapkan wajah Sang Pencipta. Ketika seorang percaya melihat matahari terbit, ia berkata dalam hatinya: “Inilah karya Allah yang setia, yang membuat matahari terbit bagi orang baik maupun orang jahat.” (Matius 5:45). Ketika ia mendengar kicau burung, ia teringat akan janji Allah: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.” (Matius 10:29).

Iman menuntun kita untuk menghubungkan setiap keindahan dengan Allah. Dari sinilah lahir syukur yang sejati. Syukur bukan hanya karena “indahnya pemandangan”, tetapi karena “Allah yang setia” yang mengizinkan kita menikmatinya. Rasa syukur bukan sekadar ucapan spontan ketika kita melihat sesuatu yang indah. Syukur adalah sikap hidup yang terus-menerus. Paulus berkata: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Artinya, syukur tidak hanya muncul ketika langit cerah atau bunga bermekaran, tetapi juga ketika hidup menghadapi badai. Orang percaya tetap dapat bersyukur, sebab ia tahu bahwa di balik segala sesuatu, ada Allah yang berdaulat. Orang yang percaya kepada Tuhan dapat tetap bersyukur, karena ia yakin Allah hadir di tengah kekacauan itu. Syukur tidak bergantung pada situasi, tetapi pada iman akan kasih Allah.

Bagaimana kita bisa melatih diri untuk melihat alam dengan iman? Kita harus merenungkan Firman ketika melihat alam. Misalnya, saat melihat langit malam, bacalah Mazmur 8:4: “Jika aku melihat langit-Mu, … apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya?” Kita juga bisa berdoa singkat di tengah kekaguman. Saat melihat pelangi, ucapkan doa singkat: “Terima kasih Tuhan, Engkau setia pada janji-Mu.” Kita juga harus tetap mengajarkan Firman kepada anak-cucu. Ketika bersama cucu di taman, ajak mereka berkata: “Tuhan yang menciptakan bunga ini begitu indah.” Dengan demikian, generasi berikutnya belajar menghubungkan alam dengan Tuhan.

Keindahan alam memang mempesona, tetapi tidak otomatis membawa orang kepada Tuhan. Tanpa iman, kekaguman kepada alam bisa berhenti pada ciptaan, atau bahkan berubah menjadi penyembahan berhala atau kesombongan atas kemampuan manusia. Karena itu, mari kita terus melatih diri melihat alam dengan mata iman. Mari kita bersyukur bukan hanya karena alam itu indah, tetapi karena Allah yang penuh kasih hadir melalui ciptaan-Nya. Sehingga setiap kali kita melihat langit biru, bunga mekar, atau matahari terbit, hati kita berkata: “Terima kasih Tuhan, Engkau baik, dan kasih setia-Mu nyata dalam segala ciptaan.”

Doa Penutup:

Tuhan, ajarilah kami untuk melihat alam dengan mata iman. Jangan biarkan kami berhenti hanya pada kekaguman, tetapi tuntunlah kami kepada syukur dan pujian bagi-Mu. Terima kasih atas keindahan ciptaan-Mu yang mengingatkan kami pada kasih setia-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar