Tetap Menyala Sampai Garis Akhir

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Roma 12:11

Banyak orang Kristen percaya bahwa seiring bertambahnya usia, seseorang akan secara alami menjadi lebih rohani. Mereka membayangkan masa tua sebagai masa keemasan dalam iman, masa di mana hidup menjadi tenang, damai, dan dipenuhi kesadaran akan hadirat Tuhan. Namun dalam kenyataannya, hal ini sering kali berbeda.

Pertambahan usia tidak secara otomatis membuat seseorang semakin dekat dengan Tuhan. Pertambahan usia hanya membuat tubuh menjadi semakin lemah, pengalaman hidup semakin banyak, dan waktu semakin sedikit. Sementara itu, perjuangan iman tidak berhenti. Bahkan pada banyak orang, justru di masa-masa menjelang garis akhir kehidupan, api iman mulai meredup oleh kejemuan rohani.

Keadaan ini sering terjadi secara perlahan. Orang yang dahulu bersemangat melayani, rajin berdoa dan membaca Alkitab, bisa saja menjadi lebih pasif. Mereka merasa telah “melakukan bagian mereka” di masa muda: sudah ikut paduan suara, sudah mengajar Sekolah Minggu, sudah menjadi penatua, sudah membangun banyak hal untuk gereja. Ketika usia semakin lanjut, muncul pikiran seperti, “Biarlah yang muda yang melayani.” Lalu perlahan-lahan, semangat melayani Tuhan menjadi kendor, bahkan nyaris padam. Mereka mungkin yakin bahwa “Sekali selamat, tetap selamat”.

Paulus berkata dengan tegas: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11). Kata “menyala-nyala” dalam bahasa aslinya berarti mendidih, berapi-api, penuh semangat. Ini bukan gambaran iman yang pasif, tetapi iman yang hidup, yang terus berkobar sekalipun tubuh sudah tidak sekuat dahulu. Semangat melayani Tuhan tidak boleh padam hanya karena usia bertambah. Justru pada masa-masa inilah, kesaksian iman menjadi sangat berharga tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Itu karena keluar dari hidup yang telah mengalami begitu banyak suka dan duka bersama Tuhan.

Perlu dicatat bahwa kepada jemaat Filipi, Paulus juga berkata: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Filipi‬ ‭2‬:‭12‬‬).

“Kerjakan keselamatanmu” berarti menjalankan kehidupan yang saleh dan taat sesuai dengan ajaran Firman, bukan untuk mendapatkan keselamatan, melainkan untuk mengamalkan keselamatan yang telah diterima secara cuma-cuma. Ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (“takut dan gentar”) dan konsisten, baik di depan orang lain maupun ketika sendirian, sebagai wujud syukur atas anugerah Tuhan yang memberikan iman dan kekuatan untuk melakukannya.

Kita perlu menyadari bahwa garis akhir bukan tempat beristirahat sebelum waktunya. Dalam dunia olahraga, banyak pelari yang justru tersandung pada kilometer terakhir karena kehilangan fokus. Mereka kehabisan tenaga atau menganggap kemenangan sudah di depan mata, sehingga lengah. Dalam hidup iman pun demikian. Ketika seseorang merasa “sudah cukup” dalam perjalanan rohaninya, justru pada saat itulah iblis sering datang dengan godaan yang halus. Godaan untuk menyerah, menjadi apatis, tidak lagi peduli, atau merasa semua sudah lewat. Padahal Iblis tidak pernah pensiun. Karena itu, selama kita masih hidup di dunia ini, perjuangan rohani tetap berjalan.

Usia lanjut sering membawa tantangan tersendiri: tubuh yang tidak sekuat dahulu, kesehatan yang menurun, teman-teman seangkatan yang satu per satu dipanggil pulang, dan rasa kesepian yang kadang menyelinap di antara kesibukan anak cucu. Dalam keadaan seperti itu, semangat rohani sangat mudah merosot bila tidak dipelihara. Kejemuan rohani dapat menyusup dalam bentuk rasa bosan berdoa, kehilangan gairah membaca firman, malas ke gereja, atau kehilangan makna dalam pelayanan. Mungkin sebagian orang bisa saja tetap datang ke gereja setiap minggu, tetapi tanpa lagi memiliki api semangat yang sama seperti dahulu.

Karena itulah, iman harus terus dipelihara seperti api dalam perapian. Jika dibiarkan tanpa kayu bakar, api itu akan padam. Namun jika terus diberi kayu — dalam bentuk doa, firman, dan persekutuan — api itu tetap menyala, bahkan memberi kehangatan bagi orang lain. Doa pribadi yang konsisten bukan sekadar kebiasaan rohani, tetapi persekutuan yang intim dengan Tuhan. Membaca Alkitab setiap hari bukan hanya mengulang cerita-cerita lama, melainkan merenungkan karya Tuhan yang terus hidup dan berbicara pada setiap musim kehidupan. Pelayanan tidak selalu berarti aktivitas fisik yang besar. Bagi banyak orang lanjut usia, pelayanan terbaik dapat berupa doa syafaat bagi keluarga, gereja, bangsa, dan orang-orang muda yang akan melanjutkan tongkat estafet iman. Setiap doa, sekecil apa pun, menjadi bagian dari pelayanan yang menyala.

Selain itu, ucapan syukur yang tulus menjadi bahan bakar rohani yang penting. Semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang dapat disyukuri. Mungkin tidak semua pengalaman itu manis. Ada luka, kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Namun ketika semua itu dipandang dalam terang kasih Tuhan, hati menjadi penuh ucapan syukur. Ucapan syukur membuat hati tetap hangat, tidak pahit, tidak letih dalam perjalanan iman. Dengan bersyukur, kita tetap dapat berkata seperti Daud, “Sekalipun rambutku memutih, ya Allah, janganlah Engkau meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” (Mazmur 71:18).

Persekutuan dengan sesama orang percaya juga menjadi penopang yang sangat penting. Banyak orang lanjut usia mulai menarik diri dari komunitas rohani dengan alasan kelelahan atau merasa tidak relevan lagi. Sebagian lagi mungkin lebih senang berjumpa dengan teman di media sosial untuk “cakap angin”. Padahal, hal sedemikian justru membuat iman makin mudah padam. Bersekutu dengan sesama orang percaya, saling menguatkan dan saling mendoakan, menyalakan kembali api semangat yang mungkin hampir padam.

Tuhan sering memberi kesempatan kepada orang-orang percaya lanjut usia untuk menjadi teladan iman bagi generasi berikut. Seperti Paulus yang berkata menjelang akhir hidupnya: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7). Ini bukan kata-kata orang yang hanya berdiam diri menunggu akhir hidup, tetapi suara seorang pejuang iman yang tetap menyala sampai akhir.

Saat mendekati garis finish dalam kehidupan Kristen bukan waktu untuk berhenti. Itu adalah saat untuk berlari lebih teguh, dengan mata tertuju kepada Yesus, Sang Pemimpin dan Penyempurna iman kita. Semakin mendekati garis akhir, seharusnya api itu menyala semakin terang. Bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kasih karunia Tuhan yang menopang dari awal hingga akhir.

Karena itu, jangan biarkan kerajinan Anda menjadi kendor. Jangan biarkan kejemuan rohani mencuri semangat Anda. Bila tubuh melemah, biarkan roh Anda semakin menyala. Bila dunia menjadi sunyi, biarkan doa menjadi nyanyian yang tidak pernah padam. Bila banyak hal berubah, ingatlah bahwa kasih Tuhan tetap sama. Dan bila garis akhir mulai terlihat di kejauhan, janganlah takut. Tetaplah berlari kencang dengan mata tertuju kepada Yesus!

Doa Penutup:

Tuhan yang setia, terima kasih karena Engkau menyertai aku sejak masa mudaku hingga kini. Tolong aku untuk tidak menyerah dalam iman, bahkan ketika tubuhku menjadi lemah dan hari-hariku semakin singkat. Nyalakan kembali api kasih dan pelayanan dalam hatiku. Jadikan hidupku teladan iman bagi anak-anakku, cucu-cucuku, dan banyak orang di sekitarku. Aku ingin tetap berlari sampai garis akhir, bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan dengan kasih karunia-Mu yang cukup. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar