“Suatu waktu Yesus berada di suatu kota di mana seorang yang sangat sakit tinggal. Tubuhnya ditutupi dengan penyakit kulit yang mengerikan (kusta). Ketika ia melihat Yesus, ia sujud menyembah Yesus dan memohon kepada-Nya, “Tuhan, Engkau berkuasa untuk menyembuhkan aku, jika Engkau mau.” Lukas 5:12 (AMD)

Ada seorang teman yang baru-baru ini bertanya apakah saya percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas (free will). Saya menjawab bahwa kenyataan hidup dan bahkan Alkitab sendiri jelas-jelas menunjukkan bahwa manusia bisa dan bebas untuk memilih apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, ini buka berarti bahwa manusia akan selalu mendapatkan apa yang diingininya karena hanya apa yang sesuai dengan kehendak Tuhanlah yang akan terjadi.
Kisah Lukas tentang Yesus yang menyembuhkan orang yang sakit kusta menarik karena beberapa hal yang berkaitan dengan ayat ini. Matius mengatakan orang itu mendekati Yesus ketika Ia “turun dari gunung” (Matius 8:1) dan Markus tidak menyebutkan lokasi lain selain Galilea (Markus 1:39), sementara Lukas mengatakan mereka berada di sebuah kota. Dengan demikian, orang itu pasti sudah memikirkan, merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Itu adalah kehendak bebasnya karena ia tidak dipaksa orang lain untuk melakukan hal itu.
Mengingat peraturan ketat yang diberlakukan bagi penderita kusta dalam hukum Musa, hal ini terdengar penuh risiko. Imamat 13:45-46 mengatakan, “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” Meskipun beberapa sejarawan kuno mengklaim Musa melarang penderita kusta memasuki kota mana pun, kitab Talmud hanya melarang mereka memasuki kota-kota bertembok. Hanya ada sedikit informasi tentang kota mana, jika ada, di Galilea yang dikelilingi tembok. Walaupun demikian, jelas bahwa kehendak bebas penderita kusta itu memiliki risiko yang harus ditanggungnya.
Catatan kedua yang unik untuk Lukas adalah bahwa orang itu “penuh kusta.” Para ahli mengatakan bahwa sebagai seorang dokter (Kolose 4:14), Lukas akan lebih tepat dalam deskripsinya tentang kondisi medis. Jika ini adalah penyakit kusta yang sekarang dikenal sebagai “penyakit Hansen”, ini menyiratkan stadium lanjut yang hampir mematikan. Penderita kusta dapat mengalami luka dan borok di wajah, tangan, dan tubuh mereka. Hal ini akan mengakibatkan stigma sosial yang besar, serta banyak penderitaan pribadi bagi si penderita.
Penyakit Hansen adalah infeksi bakteri kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang terutama menyerang kulit dan saraf. Gejalanya, selain meliputi lesi kulit (bintik dan benjolan pucat, merah, atau mati rasa), juga termasuk kerusakan saraf (kehilangan sensasi, kelumpuhan), dan potensi efek kerusakan pada mata, hidung, dan testis. Di zaman sekarang, penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan antibiotik jangka panjang, yang biasanya berlangsung selama satu hingga dua tahun.
Poin ketiga dalam ayat ini tercatat dalam ketiga Injil. Orang yang sakit kusta beriman bahwa Yesus dapat menyembuhkannya tetapi tidak yakin apakah Yesus mau. Ia tahu bahwa sebesar apapun keinginannya, ia tidak dapat memaksa Yesus untuk melakukannya. Tetapi Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: ”Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Orang kusta itu tentunya terkejut bahwa Yesus menjawabnya dengan cara yang sangat berlawanan dengan budaya saat itu: Ia menjamah orang najis ini (Lukas 5:13). Yesus tidak takut akan penyakit kusta!
Lukas 5:12 menghadirkan sebuah gambaran yang sangat indah tentang hubungan antara kehendak bebas manusia dan kehendak Allah. Seorang penderita kusta—yang secara sosial, rohani, dan fisik terbuang—datang kepada Yesus dengan sebuah keputusan sadar. Tidak ada yang memaksanya. Ia melangkah mendekat karena pilihan iman. Tindakannya memohon, “Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku,” adalah pernyataan kehendak bebas: ia memilih untuk percaya, memilih untuk mendekat, memilih untuk berserah.
Permohonannya agar Yesus “menjadikannya tahir” bukan sekadar permintaan pemulihan fisik. Baginya, itu adalah ungkapan kerinduan akan pemulihan rohani. Ia ingin bukan hanya sembuh, tetapi dipulihkan—dibersihkan, dikembalikan ke hadapan Allah dan komunitas. Inilah inti dari kehendak bebas dalam konteks Alkitab: kemampuan untuk merespons Allah, untuk memilih datang kepada-Nya dalam iman.
Namun, tindakan iman itu selalu disertai kesadaran yang benar tentang siapa Yesus. Di balik permintaannya, ada kerendahan hati yang menakjubkan. Ia tidak menuntut, tidak memerintah, tidak memaksa karya ilahi. Ia berkata: “jika Engkau mau.” Dalam satu kalimat ini, kita melihat keseimbangan teologis yang dalam: Manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk datang kepada Tuhan, tetapi manusia juga harus mengakui bahwa segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah.
Inilah relasi iman yang sehat—kehendak bebas yang tunduk kepada kehendak ilahi. Sang penderita kusta secara bebas memilih untuk percaya, tetapi ia juga berserah kepada rencana dan otoritas Tuhan. Iman yang sejati bukan hanya keberanian untuk meminta, tetapi juga kerelaan menerima apa pun yang Tuhan kehendaki.
Respons Yesus memperlihatkan bahwa kehendak Allah bukanlah musuh bagi kehendak bebas manusia, tetapi justru kasih karunia yang mempertemukan keduanya. Yesus menjawab, “Aku mau, jadilah engkau tahir!” Manusia berseru; Allah menjawab. Manusia memilih untuk datang; Allah memilih untuk memulihkan.
Cerita ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah pasivitas, melainkan tindakan sadar untuk datang kepada Kristus. Tetapi pada saat yang sama, iman juga adalah penyerahan penuh kepada kehendak Allah yang baik. Dua unsur ini—kehendak bebas dan kedaulatan Allah—berjalan berdampingan, bukan saling meniadakan.
Dengan demikian, Lukas 5:12 tidak hanya menceritakan kesembuhan seorang penderita kusta, tetapi juga mengajarkan dinamika indah antara pilihan manusia dan rencana Allah. Dalam iman, kita datang; dalam kasih-Nya, Ia melakukan apa yang benar dan baik bagi kita.
Jika dilihat lebih dalam, kisah itu bukan hanya tentang manusia yang menggunakan kehendak bebasnya, tetapi juga tentang anugerah Allah yang memungkinkan manusia untuk bisa beriman. Dalam perspektif iman Kristen, terutama dalam pemahaman yang dekat dengan tradisi Reformed, tindakan si orang kusta itu tidak berdiri sendiri.
Ia mendekat, berpikir dengan benar, merendahkan diri, dan mengucapkan kata-kata iman—karena Allah terlebih dahulu bekerja dalam dirinya. Dengan kata lain: Ia bisa melihat bahwa Yesus adalah harapan — karena Tuhan yang membuka matanya. Ia bisa percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan — karena Tuhan yang menumbuhkan iman itu. Ia bisa merendahkan diri dan berkata dengan tepat — karena Roh Kudus memampukannya. Ia bisa melangkah mendekat — karena kasih karunia menariknya kepada Kristus.
- Di sisi manusia, tampak seperti ia “memilih” untuk beriman.
- Di sisi Allah, itu adalah karya kasih karunia yang lembut dan mendalam.
Itulah harmoni indah antara: Kehendak bebas manusia yang nyata dan Karya Allah yang mendahului, menopang, dan menyempurnakan.
- Manusia bertindak — tetapi Allah yang memberi kemampuan untuk bertindak dalam iman.
- Manusia berkata — tetapi Allah yang menuntun hati agar berkata benar.
- Manusia mendekat — tetapi Allah yang terlebih dahulu menarik.
Itulah sebabnya, tindakan orang kusta itu bukan sekadar pilihan moral atau tekad pribadi. Itu adalah respons terhadap kasih karunia yang sudah lebih dulu bekerja dalam dirinya, memampukannya untuk datang kepada Yesus dengan kata-kata yang tepat:
“Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Kisah ini pada akhirnya bukan memuliakan kehendak manusia, tetapi memuliakan karya Yesus yang bekerja sebelum, selama, dan sesudah tindakan iman itu. Inilah panggilan kita selaku aorang Kristen, agar menggunakan kehendak bebas kita untuk melakukan apa yang baik karena Tuhan sudah memberi kita kemampuan untuk itu. Kita harus yakin bahwa Dia mau menopang kita jika kita mau memilih jalan yang benar menurut kehendak-Nya.