Kesabaran yang bagaimana?

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” — ‭‭Efesus‬ ‭4‬:‭2‬‬

Ada ungkapan lama yang berbunyi “sabar itu subur”. Orang sabar, kata orang, dapat digambarkan seperti pepohonan. Dipangkas cabang daunnya berkali-kali seperti pohon lamtoro gung, di musim hujan ia akan bersemi kembali. Dikurangi akarnya, seperti pohon kelengkeng yang lama tak berbuah, ia akhirnya berbunga dan berbuah lebat. Kesabaran akan menghasilkan kesuksesan. Benarkah ini?

Kesabaran di Alkitab PB pada umumnya dikaitkan dengan kasih, bukan keberhasilan. Sebagai orang Kristen kita menghadapi berbagai tantangan dan masalah kehidupan. Mungkin dalam pekerjaan, sekolah, keluarga, gereja dan negara. Dalam hal ini, orang Kristen dipanggil untuk tetap rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Sekalipun penyelesaian masalah belum ada, tetapi ketekunan membuat kita tetap percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencana Tuhan.

Efesus 4:1–10 adalah deskripsi Paulus yang meyakinkan tentang kesatuan umat Kristen. Setiap orang percaya yang diselamatkan, terlepas dari bakat atau keterampilannya, Yahudi atau non-Yahudi, pria atau wanita, diselamatkan oleh iman yang sama kepada Allah yang sama. Oleh karena itu, setiap orang Kristen adalah bagian dari satu keluarga universal umat beriman di dalam Yesus Kristus.

Pada saat yang sama, Allah memberikan karunia yang berbeda kepada setiap orang, agar mereka dapat menjalankan berbagai peran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-Nya di bumi. Alih-alih mengkhawatirkan karunia apa yang mungkin kurang, setiap orang Kristen dapat bersukacita dalam kesatuan kita, dan berfokus untuk melayani Allah sebaik mungkin dengan apa yang kita miliki.

Hidup dengan cara yang layak bagi panggilan Kristus (Efesus 4:1) mencakup empat sifat yang dijelaskan dalam ayat di atas.

Pertama, jemaat Efesus—dan semua orang Kristen—harus hidup dalam kerendahan hati. Kristus memanggil orang lain untuk hidup dengan kerendahan hati seperti anak kecil (Matius 18:4) dan menyatakan bahwa:

“.. barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:12).

Kedua, orang percaya harus hidup dengan lemah lembut. Bersikap lemah lembut adalah bagian dari buah Roh (Galatia 5:23) dan penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Sifat ini tidak hanya membantu menghindari konflik yang tidak perlu, tetapi juga menunjukkan kasih yang seharusnya kita tunjukkan setiap saat:

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”(Yohanes 13:34-35)

Ketiga, orang percaya harus menunjukkan kesabaran. Kesabaran adalah bagian lain dari buah Roh (Galatia 5:22) dan juga suatu keharusan jika kita ingin menunjukkan kasih kepada sesama. Di tempat lain, Paulus mengingatkan orang percaya bahwa:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (1 Korintus 13:4).

Keempat, orang percaya harus hidup dengan kasih terhadap satu sama lain. Paulus menyatakan bahwa karunia Allah yang terbesar adalah kasih. Sebagaimana digunakan dalam Perjanjian Baru, “kasih” bukan sekadar perasaan atau emosi. Kasih berarti melakukan tindakan yang bermanfaat bagi orang lain. Perasaan yang tidak menghasilkan tindakan bukanlah “kasih” yang alkitabiah.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13:13

Lalu dalam praktik sehari-hari, bagaimana kita menerapkan prinsip kesabaran dalam kasih?

Kesabaran Kristen yang pragmatis adalah kemampuan untuk bertindak dengan kebijaksanaan praktis dan daya tahan yang langgeng dalam menghadapi situasi sulit, serta mengakui perlunya pendekatan yang realistis sambil tetap berakar pada iman.

Ini melibatkan kepercayaan pada waktunya Tuhan, memperkuat karakter seseorang melalui cobaan, memahami kapan harus mengejar prinsip dengan tindakan sabar, dan mengerti kapan harus menunjukkan pengekangan diri dan berokus pada membangun hubungan antar manusia. Ini adalah alat untuk pertumbuhan spiritual, membantu orang percaya menanggapi kesulitan dengan rahmat daripada frustrasi.

Aspek kunci dari kesabaran Kristen pragmatis:

  • Percaya pada waktunya Tuhan: Menunggu dengan sabar rencana dan waktu Tuhan, seperti seorang petani menunggu hujan yang tepat untuk membawa panen, adalah landasan kesabaran Kristen.
  • Kebajikan untuk pertumbuhan spiritual: Kesabaran, sering kali merupakan produk dari Roh Kudus, membangun karakter yang matang dan lengkap, membantu seseorang bertahan dalam kesulitan dan menjadi “tidak kekurangan apa-apa”.
  • Respon terhadap oposisi: Kesabaran diperlukan ketika menghadapi kesulitan, dan itu bisa menjadi pengekangan yang diberikan Tuhan dalam menghadapi oposisi atau penindasan.
  • Alat untuk kebijaksanaan: Kesabaran pragmatis berarti mengenali kapan harus bersabar daripada konfrontatif. Ini melibatkan membedakan apakah suatu hal menyangkut prinsip utama, atau hanya sesuatu yang tidak terlalu penting.
  • Kesabaran dengan diri sendiri: Ini juga berarti memiliki kesabaran dengan ketidaksempurnaan Anda sendiri dan tetap berusaha meningkatkan diri setiap hari.

Bagaimana cara melatih kesabaran pragmatis:

  • Pakailah pendekatan yang realistis: Pahami bahwa selama hidup di dunia akan ada hal-hal yang tidak nyaman. Alih-alih melawan ini, belajarlah untuk menanggungnya dengan penerimaan rendah hati terhadap apa yang tidak dapat Anda kendalikan.
  • Berdoalah lebih giat: Di saat-saat sulit, terutama dalam hubungan, berdoalah untuk bimbingan dan pengendalian diri sebelum berbicara di saat yang panas.
  • Bertindak dengan kebijaksanaan: Ketika sebuah masalah bergantung pada rencana yang jelas untuk bergerak menuju kesetiaan kepada Tuhan yang lebih besar, akan lebih bijaksana untuk menggunakan kesabaran untuk membiarkan rencana itu terungkap daripada terburu-buru maju.
  • Fokus pada rahmat Tuhan: Ingatlah pengampunan besar yang telah Anda terima dari Tuhan. Hal ini dapat mencegah Anda menjadi orang yang tidak bisa mengerti kelemahan orang lain.

Pagi ini kita belajar bahwa bagi umat Kristen, kesabaran belum tentu membawa hasil atau kesuksesan seperti yang kita harapkan, tetapi akan membawa kedamaian secara pribadi maupun kolektif jika itu dilandaskan kasih.

Jika hari ini Anda merasa sulit untuk bersabar dalam menghadapi tantangan hidup, ada baiknya Anda mengingat Doa Ketenangan (Serenity Prayer) yang merupakan doa terkenal yang dapat diterapkan secara luas kepada banyak orang Kristen yang menghadapi masalah. Doa ini umumnya dikaitkan dengan teolog Reinhold Niebuhr. Doa ini biasanya berbunyi:

“Tuhan, berikanlah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah; keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah; dan kebijaksanaan untuk membedakannya.”

Semoga kita bisa selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar, serta menunjukkan kasih kita kepada semua orang dalam menghadapi setiap persoalan.

Tinggalkan komentar